Beberapa hari setelah konsultasi pertamanya, Kristin duduk di dalam mobil dengan tas di pangkuan. Di sebelahnya, pengacara yang mendampinginya menanyakan apakah ia ingin mengulang sesuatu sebelum masuk.
Kristin menggeleng, lalu mengangguk.
Ia sendiri tidak tahu jawaban mana yang benar.
Pertemuan hari itu telah diatur setelah pembicaraan lanjutan dengan pendampingnya. Ia tidak sedang menuju rumah keluarga Ramsey. Tidak ada janji bahwa seseorang akan memaafkan atau membiarkannya pulang hanya karena ia akhirnya bersedia datang.
Di seberang kaca, orang-orang berjalan seperti biasa. Kristin merasa tersinggung pada ketenangan dunia, kemudian malu karena sempat mengharapkan semua orang menyadari ketakutannya.
"Aku masih bisa takut, kan?" tanyanya.
Pengacaranya memandangnya. "Tentu."
Jawaban sederhana itu membuat matanya panas.
Ia membuka pintu sebelum menangis lagi.
***
Ruangan tempat keterangannya diambil tidak menyerupai apa yang dibayangkannya semalam. Tidak ada keluarga korban menunggu di belakang kursi, tidak ada Robie yang dapat menawarkan pernikahan sebagai jalan keluar.
Justru karena itulah, Kristin merasa tidak mempunyai siapa pun untuk disalahkan ketika sulit menjawab.
Identitasnya ditanyakan. Ia menyebut nama yang selama ini digunakan, kemudian memberikan bahan yang dibawa. Pengacaranya tetap berada di dekatnya saat pembicaraan bergerak menuju nama lain.
"Apakah Anda pernah dikenal sebagai Joana?"
Kristin menatap meja.
Ia teringat betapa mudah nama itu diucapkannya dahulu, sebelum setiap huruf terasa seperti sesuatu yang dapat menjerat lehernya. Ia pernah memperkenalkan diri dengan nama itu sambil tersenyum. Pernah menoleh tanpa takut ketika seseorang memanggilnya dari seberang ruangan.
"Iya."
Ia diminta menjelaskan jawaban tersebut.
"Joana. Itu nama yang pernah kupakai."
Sesudah kalimat itu, ruangan tidak berubah. Lampu tetap menyala. Pena masih bergerak di atas kertas. Hanya Kristin yang merasa salah satu tembok di dalam dirinya akhirnya runtuh.
Sebuah foto lama diperlihatkan.
Ia tidak lagi mengatakan tidak mengenal wanita itu.
"Itu aku."
***
Pertanyaan berikutnya tidak berhenti pada wajah.
Kristin diminta menjelaskan bagian riwayat hidup yang dapat diperiksa, masa ketika nama itu dipakai, dan hubungannya dengan orang-orang yang disebut. Ada hal yang dijawabnya, ada bagian yang membuatnya meminta waktu untuk berbicara dengan pengacaranya.
Ketika nama Karina dan George terdengar, tangannya mulai gemetar lagi.
"Aku mengenal mereka," katanya.
Ia hampir menambahkan bahwa dirinya tidak bermaksud membuat mereka meninggal. Kalimat itu telah terlalu sering digunakan dalam kepalanya sebagai jalan pintas melewati apa yang sebenarnya dilakukan.
Kali ini pengacaranya meminta waktu agar pembicaraan dapat dilanjutkan dengan jelas. Kristin menutup mata dan mencoba mengatur napas.
Ia tidak dapat menyelesaikan dua puluh enam tahun dengan satu alasan.
Pengakuan tentang nama dan foto tidak menjelaskan seluruh kejadian, tetapi mengubah dasar percakapan hari itu. Wanita yang selama ini dicari bukan lagi sekadar seseorang yang dikatakan mirip oleh Robie.
Kristin sendiri telah berhenti menyangkal wajahnya.
Setelah jeda, mereka kembali membahas bahan dan keterangan yang diperlukan. Tidak ada pernyataan bahwa seluruh perkara selesai. Justru jumlah pertanyaan terasa semakin banyak ketika kebohongan pertama disingkirkan.
Kristin duduk lebih tegak. Untuk pertama kali, ia menyadari betapa sedikit kendalinya atas apa yang akan terjadi setelah semua orang lain memperoleh kesempatan memeriksa ceritanya.
***
Tristan sedang berada di kantor ketika Jason meminta waktu berbicara. Finn baru selesai menerangkan perubahan sebuah rapat dan masih memegang tablet.
"Aku perlu ruangan ini sebentar," kata Tristan.
Finn mengangguk dan keluar, menutup pintu tanpa tergesa-gesa.
Kabar yang diberikan Jason tidak panjang, tetapi Tristan meminta satu bagian diulang. Melalui perkembangan yang dapat disampaikan kepadanya, Kristin telah mengakui pernah menggunakan nama Joana dan mengenali dirinya dalam foto lama.
Keterangan itu masih harus dicocokkan dengan bahan lain. Perkara kematian orang tuanya belum menghasilkan kesimpulan akhir.
Tristan mendengar penjelasannya. Namun pada beberapa detik pertama, yang dapat dipahaminya hanya bahwa nama yang selama ini berada di foto akhirnya mempunyai suara.
"Dia mengatakan itu sendiri?"
"Iya."
Tristan meletakkan tangan di atas meja. Ia sudah membayangkan kemarahan yang besar, dorongan untuk berdiri dan menuntut bertemu. Yang datang lebih dahulu justru rasa dingin.
"Apa Nenek sudah tahu?"
"Belum dari saya. Saya akan menghubungi beliau sesuai pembaruan yang sama."
"Aku juga akan meneleponnya."
Sebelum panggilan berakhir, Jason mengingatkan bahwa belum semua rincian dapat dibagikan. Tristan tidak memperdebatkannya. Ia hanya meminta agar tidak diberi kesimpulan yang lebih jauh daripada perkembangan sebenarnya.
Setelah itu ia duduk tanpa bergerak sampai terdengar ketukan Finn.
***
"Saya bisa memindahkan rapat berikutnya," kata sekretarisnya ketika dipersilakan masuk.
Tristan melihat jadwal. "Pindahkan kalau memungkinkan. Kalau tidak, minta mereka melanjutkan bagian yang tidak membutuhkan keputusanku."
"Baik."
Finn tidak menanyakan apakah kabarnya baik. Tristan bersyukur karena ia sendiri tidak tahu.
Ia menelepon Margaret sesudah memastikan neneknya dapat berbicara. Suara Ester terdengar sebentar sebelum telepon diserahkan.
Ketika Tristan menjelaskan kabar itu, Margaret menangis pelan.
"Setelah selama ini," katanya.
Tristan memejamkan mata. Ia ingin ikut merasa lega, tetapi belum dapat menemukannya.
"Aku belum tahu apa yang kurasakan, Nek."
"Tidak apa-apa."
"Dan aku masih ingin tahu apa yang Nenek ketahui sejak dulu. Sekarang bukan hanya tentang menemukannya."
Margaret terdiam.
Dahulu ia mungkin akan mengatakan cucunya sebaiknya beristirahat dahulu, bahwa ada hal yang tidak perlu diingat lagi. Kali ini ia tidak mengucapkannya.
"Kita akan membicarakannya," jawabnya. "Nenek akan menyiapkan yang masih Nenek simpan."
Tristan tidak meminta janji lebih besar. Ia mencatat waktu mereka dapat berbicara dengan tenang, lalu menanyakan keadaan neneknya sebelum menutup telepon.
***
Caramella menerima kabar langsung dari Tristan sore itu. Pesannya membedakan pengakuan identitas dari kepastian mengenai kematian orang tuanya.
Ia duduk di tepi ranjang setelah membacanya.
Kristin adalah nama yang telah dipanggilnya selama bertahun-tahun. Joana adalah nama yang baru dikenalnya beberapa hari, tetapi ternyata tidak merujuk pada orang asing.
Ia membalas bahwa ia telah membaca kabar itu dan membutuhkan waktu. Tristan menjawab singkat, tanpa meminta Caramella menghiburnya.
Susan mengetuk ketika melihat pintu kamar terbuka.
"Sudah ada perkembangan?"
Caramella mengangguk. "Dia mengaku nama itu pernah dipakainya. Foto itu juga dirinya."
Ibunya duduk di kursi dekat jendela.
Tidak ada yang mengatakan semua tanda seharusnya terlihat sejak awal. Mereka berbicara tentang apa yang perlu dilakukan besok, termasuk mengabarkan perkembangan kepada pengacara Caramella dan tidak mendesak Derick memberikan jawaban yang tidak diketahuinya.
Sesudah Susan keluar, Caramella mengambil buku catatan. Ia menulis satu kalimat tentang pengakuan identitas itu, lalu berhenti.
Ia tidak ingin mengisi halaman berikutnya dengan dugaan.
***
Di apartemennya, Tristan menemukan balasan atas permintaan konsultasi pribadi yang dikirimnya. Tersedia waktu pada pekan berikutnya.
Ia mengonfirmasi.
Kabar tentang Kristin tidak membuat alasan kedatangannya hilang. Ia masih harus membicarakan kemarahannya sendiri, caranya memperlakukan Caramella, dan ketakutan yang sering disamarkannya sebagai keinginan melindungi.
Di sebelah ponsel terletak foto Karina. Tristan mengambilnya, lalu duduk di sofa.
"Aku sudah tahu namanya sekarang," ucapnya kepada ruangan kosong.
Kalimat itu terdengar kecil. Ia tidak menghidupkan ibunya, tidak mengembalikan ayahnya, dan tidak menjelaskan mengapa begitu banyak orang memilih diam.
Namun kali ini, ketika memandang wajah yang tertawa dalam foto, Tristan tidak sedang menunggu seseorang berjanji bahwa semuanya akan segera baik-baik saja.
Ia hanya ingin pembicaraan berikutnya dimulai dengan kebenaran.