Margaret meminta Ester membuka tirai sebelum panggilan dimulai. Cahaya pagi masuk ke ruangan, jatuh pada sebuah map coklat yang sudah diletakkan di meja.
"Letakkan di dekatku saja," katanya ketika putrinya hendak merapikan kertas.
Ester menurut. Biasanya ia akan mengatakan ibunya tidak perlu melelahkan diri. Pagi itu ia menahan kalimat tersebut.
Di London, Tristan sudah menunggu di depan layar. Ia memilih berbicara dari apartemen agar tidak harus menghentikan percakapan karena seseorang mengetuk pintu kantor. Segelas air berdiri di samping buku catatannya.
Ketika wajah Margaret muncul, ia melihat neneknya tampak lebih kecil daripada yang diingat.
Ia tetap mengucapkan pertanyaan yang telah disiapkan.
"Bagaimana Ibu mengenal Joana?"
Margaret memegang tepi map.
"Dia pernah membantu ibumu menyiapkan sebuah pameran amal. Pekerjaannya tidak lama. Karina membutuhkan orang untuk mencatat barang dan membantu beberapa urusan selama persiapan."
Tristan menunduk untuk menulis. Hubungan yang selama ini terasa seperti bayangan akhirnya mempunyai bentuk sederhana: pekerjaan, sebuah kegiatan, orang yang diperbolehkan masuk.
"Jadi dia bukan anggota keluarga?"
"Bukan."
"Aku pernah bertemu dengannya?"
"Mungkin pernah berpapasan. Nenek tidak bisa memastikan. Kamu lebih banyak bersama Nenek saat persiapannya."
Tristan mengangguk. Ia tidak mencoba memaksa sebuah wajah muncul dari masa kecilnya.
***
Margaret mengeluarkan salinan daftar lama. Sebagian tulisannya sudah pudar, tetapi nama Joana masih terbaca di antara beberapa nama lain. Ia menjelaskan dari mana kertas itu berasal dan kapan ia menyimpannya.
"Bahan seperti ini sudah diberikan untuk pemeriksaan dahulu," katanya. "Ini salinan yang tetap ada pada Nenek."
"Kenapa pencariannya berhenti?"
"Nenek tidak tahu seluruh keputusan orang yang menangani perkara. Yang kami ketahui, Joana tidak ditemukan. Waktu berlalu, dan kabar yang datang semakin sedikit."
Ester membantu membacakan catatan tanggal tanpa menambahkan apa yang tidak tertulis. Tristan mendengarkan, lalu menanyakan peristiwa yang selama ini disebut kecelakaan.
Margaret menarik napas panjang.
"Mobil orang tuamu mengalami tabrakan. Mereka meninggal setelah itu."
Tristan memejamkan mata. Bagian tersebut telah dikenalnya sejak kecil, tetapi mendengarnya kembali tetap membuat dadanya sakit.
"Dan Joana?"
"Ada keterangan yang menghubungkannya dengan kendaraan lain dalam kejadian itu. Sesudahnya dia menghilang. Tetapi Nenek tidak berada di jalan itu. Nenek tidak melihat siapa yang mengemudi atau bagaimana tabrakannya terjadi."
"Keterangan siapa?"
Margaret menunjuk map. Ia menyebut bagian dari catatan lama yang dapat dibacanya, kemudian mengatakan pertanyaan tentang keterangan resmi perlu dibahas bersama pihak yang memegang berkas lengkap.
Tristan menahan keinginan menuntut kesimpulan saat itu juga. Ia menulis satu kalimat: Nenek tidak menyaksikan kejadian.
Kalimat itu tidak mengurangi dukanya. Ia hanya menjaganya agar tidak berubah menjadi ingatan yang bukan miliknya.
***
"Apa yang terjadi sebelum mereka meninggal?" tanyanya.
Margaret memandang Ester sebentar.
"Karina mengatakan ada persoalan dengan uang kegiatan. Ada catatan yang tidak sesuai. Itu yang Nenek dengar darinya. Nenek tidak tahu jumlah atau siapa yang sudah ditanyai."
"Kenapa baru sekarang aku mendengar semua ini?"
Pertanyaan itu tidak lagi diucapkan dengan tenang.
Margaret merapatkan kedua tangan. "Awalnya kamu masih kecil. Kamu terus menanyakan kapan mereka pulang. Nenek tidak sanggup menambahkan sesuatu yang juga belum Nenek pahami."
"Aku tidak terus berumur tujuh tahun."
"Nenek tahu."
"Setiap tahun Nenek punya kesempatan."
Air mata Margaret jatuh, tetapi ia tidak meminta Tristan berhenti. Ester bergerak hendak meraih bahunya, kemudian membiarkan ibunya menjawab.
"Lalu Nenek takut kamu akan mencarinya sendiri. Takut kamu tumbuh hanya memikirkan orang yang mengambil mereka. Setelah itu, Nenek takut kamu membenci Nenek karena sudah diam terlalu lama."
Tristan menatap layar.
Alasan terakhir terasa paling jujur dan paling menyakitkan. Ia dapat memahami ketakutan seorang nenek yang kehilangan putri, tetapi ia juga dapat melihat bagaimana ketakutan itu mengambil keputusan atas hidupnya selama bertahun-tahun.
"Aku berduka untuk mereka dengan cerita yang kalian pilih."
"Iya," kata Margaret.
Tidak ada pembelaan sesudahnya.
***
Ester akhirnya berbicara. Ia mengakui bahwa dirinya ikut mempertahankan penjelasan itu bahkan ketika Tristan sudah dewasa.
"Bibi selalu menunggu keadaan yang lebih tenang. Lalu keadaan itu tidak pernah terasa cukup tenang."
Tristan mengusap wajah. Ia ingat makan malam, liburan, percakapan tentang pekerjaan, hari ketika ia memberitahu keluarga bahwa pernikahannya dengan Sherly tidak berjalan baik. Semua waktu itu tersedia, tetapi tidak seorang pun menganggap ia berhak mengetahui bagian lain dari kematian orang tuanya.
"Aku perlu berhenti sebentar."
Margaret mengangguk.
Tristan meninggalkan layar tanpa menutup panggilan. Di dapur, ia berdiri dengan tangan bertumpu pada meja. Ia menarik napas, menunggu sampai keinginannya mengatakan sesuatu yang kejam mereda.
Ketika kembali, neneknya masih duduk di tempat yang sama.
"Aku akan meminta salinannya," katanya. "Dan aku ingin bertanya lagi nanti. Aku belum bisa mengatakan kita baik-baik saja."
"Nenek mengerti."
Ia tidak yakin Margaret sungguh mengerti seluruhnya. Namun untuk saat itu, ia membutuhkan kesediaannya mendengar tanpa meminta pengampunan.
***
Ester mengangkat beberapa lembar ke arah kamera dan menyebut urutannya. Tristan meminta agar seluruh sisi dipindai, termasuk bagian kosong dan catatan di belakang, supaya ia mengetahui bentuk bahan yang diterimanya.
"Bibi akan kirim setelah ini."
"Jangan pilih hanya halaman yang menurut Bibi bisa kuterima."
Ester menurunkan kertas perlahan. "Tidak. Bibi akan mengirim yang ada."
Tristan tidak menambahkan teguran. Ia mendengar perubahan kecil pada suara bibinya: kali ini tidak ada penjelasan panjang tentang betapa sulit menjadi orang yang menjaga keluarga. Untuk beberapa menit, mereka hanya mengurus salinan. Urusan sederhana itu memberinya kesempatan berbicara tanpa kembali meninggikan suara.
Sesudah pembicaraan tentang berkas selesai, Tristan tidak langsung menutup panggilan. Ada pertanyaan kecil yang tiba-tiba terasa lebih sulit daripada semua yang telah diucapkannya.
"Apa Ibu senang mengerjakan pameran itu?"
Margaret mengangkat wajah.
"Senang. Dia mengeluh karena ada yang salah mengirim ukuran meja, tetapi dia senang."
Ester tertawa pelan di antara sisa tangisnya. "Dia membuat kami mengukur ulang ruang makan. Padahal pamerannya bukan di sana. Dia ingin membayangkan letaknya."
Tristan hampir tersenyum.
Margaret menceritakan Karina yang memindahkan kursi, sementara George berpura-pura menjadi tamu yang selalu menghalangi jalan. Kenangan itu tidak menerangkan kematian mereka, tetapi mengembalikan sedikit kehidupan ke dalam percakapan.
"Kirimi aku cerita seperti itu juga," kata Tristan.
"Akan Nenek tuliskan kalau ingat."
Kali ini ia percaya pada janji yang kecil tersebut.
***
Setelah panggilan berakhir, Tristan duduk memandangi catatannya. Ia membuat dua bagian: hal yang disebut dalam bahan lama dan hal yang diingat keluarganya.
Di bagian terakhir, ia menulis meja yang salah ukuran.
Ia tidak ingin melupakan bahwa ibunya pernah merasa kesal pada urusan biasa. Bahwa ayahnya pernah membuat orang tertawa tanpa mengetahui suatu hari gerakannya akan dicari dalam kenangan.
Tristan mengirim pertanyaan mengenai berkas kepada Jason. Sesudah itu ia membuka kalender dan memastikan jadwal konsultasinya masih tercatat.
Hari tersebut tidak memberinya pengampunan bagi Margaret. Tidak juga jawaban lengkap tentang Joana.
Namun satu kebohongan yang bertahan selama masa kecilnya akhirnya berhenti diperlakukan sebagai sesuatu yang harus terus dilindungi.