Saat Renji membuka mata, ia merasakan tubuhnya terikat di kursi logam dingin.
Cahaya redup menyilaukan matanya. Bau logam bercampur darah memenuhi udara. Ia mencoba bergerak, tapi lengannya dikunci dengan borgol besi tebal.
"Lihat siapa yang sudah bangun."
Renji menoleh. The Warlord berdiri di depannya, menatapnya dari balik topeng.
"Apa yang kau inginkan?" Renji mendesis.
The Warlord tertawa kecil. "Kau spesial, bocah. Aku sudah mendengar tentangmu. Kau kebal terhadap virus, bukan?"
Renji diam.
The Warlord mendekat, menekan belati ke leher Renji. "Aku tidak suka mengulang pertanyaan."
Renji menahan napas. Ia tahu, kalau dia mengaku, maka nasibnya akan lebih buruk.
Namun sebelum ia bisa menjawab, seorang ilmuwan dengan jas putih masuk ke ruangan.
"Tuanku, kita harus segera mulai uji coba."
The Warlord mengangguk. "Baiklah. Mari kita lihat sejauh mana kemampuan bocah ini."
Tiba-tiba, ilmuwan itu menusukkan jarum ke lengan Renji.
"DASAR b******n! APA YANG KAU LAKUKAN?!" Renji mengerang saat cairan hitam masuk ke tubuhnya.
Detik berikutnya, rasa panas menjalar ke seluruh tubuhnya.
Jantungnya berdegup lebih cepat. Telinganya berdenging. Penglihatannya menjadi merah.
Dan tiba-tiba—
Borgol besi di tangannya hancur seketika.
Renji berdiri, tubuhnya bergetar hebat, urat-urat hitam menyebar di bawah kulitnya.
Matanya berubah merah menyala.
"Apa yang kau lakukan padaku…?" suaranya berubah lebih dalam, hampir seperti geraman binatang.
Ilmuwan itu mundur dengan wajah ketakutan. "Ini... ini luar biasa! Tubuhnya menerima serum mutasi dengan sempurna!"
The Warlord tersenyum puas. "Jadi, kau benar-benar bukan manusia biasa."
Namun Renji tidak lagi mendengar kata-kata mereka.
Yang ada di pikirannya hanyalah satu hal:
Darah.
Dan detik berikutnya, dia mengamuk.