Ilmuwan itu mundur dengan wajah ketakutan. "Ini... ini luar biasa! Tubuhnya menerima serum mutasi dengan sempurna!"
The Warlord tersenyum puas. "Jadi, kau benar-benar bukan manusia biasa."
Namun Renji tidak lagi mendengar kata-kata mereka.
Yang ada di pikirannya hanyalah satu hal:
Darah.
Dan detik berikutnya, dia mengamuk.
Renji tidak bisa mengendalikan tubuhnya.
Dia menerjang ke depan dengan kecepatan yang bahkan dia sendiri tak percaya.
Dalam sekejap, ia sudah meremukkan kepala salah satu prajurit The Warlord dengan tangan kosong.
Darah muncrat ke mana-mana.
"TEMBAK DIA!" salah satu prajurit berteriak.
DOR! DOR! DOR!
Peluru-peluru menghantam tubuh Renji… tapi dia tidak merasakan sakit.
Lukanya sembuh dalam hitungan detik.
"Apa-apaan ini…?" Ilmuwan di sudut ruangan bergumam ketakutan.
The Warlord tetap tenang, mengamati Renji dengan tatapan penuh rasa ingin tahu.
"Menarik," katanya. "Tapi apakah kau bisa mengendalikan kekuatan barumu?"
Renji mencoba berpikir jernih, tapi tubuhnya bergerak sendiri. Tangan dan kakinya bertindak seperti binatang buas, mencabik-cabik musuh di sekitarnya.
Hingga akhirnya—
BUUUM!
Ledakan keras mengguncang ruangan.
Renji tersentak, lalu jatuh berlutut. Kesadarannya kembali sedikit demi sedikit.
Di ambang pintu yang hancur, Kenta dan Aoi berdiri dengan senjata di tangan.
"Kami datang tepat waktu," kata Kenta sambil mengokang pistolnya.
"Renji, kau masih bersamaku?!" Aoi berlari ke arahnya.
Renji menatap tangannya yang berlumuran darah. "Aku… aku hampir kehilangan kendali."
The Warlord tertawa kecil. "Ternyata kau masih punya kesadaran. Hebat."
Tapi sebelum mereka bisa bereaksi lebih jauh, The Warlord menekan sesuatu di lengannya—sebuah pemicu kecil.
"Kalau begitu, ayo buat pertarungan ini semakin menarik."
PIP. PIP. PIP.
Dari koridor belakang, suara pintu terbuka terdengar.
Dan keluar dari sana…
Puluhan zombie berevolusi dengan mata merah dan tubuh yang membesar.
Renji dan teman-temannya terdiam.
"Dua pilihan," kata The Warlord. "Melawanku… atau melawan mereka."
Renji mengepalkan tinjunya.
"Kalau begitu…"
Ia mengangkat kepalanya, matanya kembali bersinar merah.
"AKU AKAN MELAWAN KALIAN SEMUA."