Memandang langit biru yang menyejukkan mata, tanpa panas yang membakar, dan dengan sekotak s**u strawberry di genggaman, nyatanya sudah cukup membuat suasana hati Starla dalam mood yang sangat baik.
Mengalihkan pandangannya ke arah lapangan, dimana teman-teman sekelasnya tengah saling mengoper bola basket dengan diiringi suara heboh para perempuan yang tak terima saat bolanya dikuasai oleh tim lawan, serta gema tawa dari para anak laki-laki yang menonton di pinggir lapangan memenuhi area itu.
Bukan apa-apa! Melihat para anak perempuan yang saling mengeluarkan tatapan peperangan dengan perdebatan luar biasa yang sebabnya hanya karena bola basket itu adalah suatu kejadian yang amat menghibur bagi mereka. Apalagi, kalau sudah ada adegan jambak-menjambak... beuh! Serunya bukan main untuk para anak laki-laki yang suka kegaduhan.
"Ayo, Agatha! Lempar bolanya!"
Hampir seluruh pasang mata di sana--bukan hanya teman-teman sekelasnya--langsung menatap pada satu objek; Starla. Sementara gadis yang ditatap oleh banyaknya pasang mata itu hanya memasang wajah cuek tak peduli dan memilih menyesap habis s**u kotaknya yang tinggal setengah.
Starla tak mengikuti pelajaran olahraga karena saat hendak memasukkan bola ke dalam ring, tubuhnya seketika limbung dan nyaris jatuh kalau saja Agatha tak menahannya. Melihat itu, pak Damar selaku guru olahraga langsung menyuruh agar Starla pergi ke UKS atau istirahat saja di dalam kelas. Tapi Starla menolak. Dia tak ingin berada di kelas seorang diri. Seram saja bawaan nya.
Dan ya... jadilah Starla duduk di sini, bangku panjang di bawah pohon yang terletak lumayan jauh dari lapangan utama. Alasannya? Pak Damar bilang, kalau dia duduk di pinggir lapangan, takutnya nanti bola basket nyasar ke arahnya dan dia mimisan seperti waktu itu.
"Lemah," ejek seseorang yang baru saja datang dan berdiri di sampingnya dengan wajah menyebalkan. Starla lantas mendengus dan membuang pandangannya ke arah lain.
"Tali sepatu gue lepas," kata cowok itu menunjuk sepatunya.
Starla mengangkat sebelah alisnya. "Terus? Gue harus bilang WOW, gitu?"
"Lo iketin, lah!"
"Siapa lo berani ngatur-ngatur gue?" seru Starla tak terima.
"Babunya Arganta udah songong sekarang, ya."
Starla berdiri, lalu tanpa aba-aba melempar s**u kotak yang sudah tak berbentuk ke wajah cowok itu.
"Lo punya masalah apa, sih, sama gue? Gue punya salah apa sama lo, Bar?" Starla menatap Akbar dengan gurat kemarahan.
"Perlu gue ingetin? Lo udah ngancurin hidup gue!" bentak Akbar. Matanya tajam, tapi tak membuat nyali Starla menciut. Sebaliknya, Starla malah semakin ingin menghajar cowok itu.
"Maksud lo apa? Akbar, gue bener-bener gak ngerti apa yang lagi lo omongin. Gue--aw!"
Akbar mencengkeram pergelangan tangan Starla kencang. Dia harap, setelah ini Starla akan merasa takut padanya. Namun, sayang sekali hal itu tak terjadi. Sebab, Starla malah menendang kaki Akbar dengan sekuat tenaga hingga cengkeraman pada tangannya reflek terlepas.
"Gak usah macem-macem sama gue, ya!" Starla langsung melangkahkan kakinya meninggalkan Akbar.
Harusnya Akbar tahu, Starla bukan hanya gadis mungil berwajah menggemaskan yang sering berteriak. Faktanya, gadis itu cukup jago bela diri. Harusnya Akbar juga sadar, hanya dengan melihat Azka yang sering memenangkan turnamen pencak silat dari berbagai tingkat itu, dia tahu... Starla juga punya kemampuan bela diri yang setingkat.
***
Gerutuan kesal terus Starla lantunkan sejak dia melangkahkan kaki. Mood yang semula bagus itu kini sudah hilang karena kedatangan setan tak diundang bernama Akbar. Benar-benar menyebalkan! Namun, sepersekian detik kemudian wajahnya berubah sumringah. Dia berjalan riang mendekati sosok jangkung yang tengah memegang sebuah buku dengan earphone yang menyumpal kedua telinganya.
"Hai, Angkasa!" sapa Starla. Angkasa tak bergeming.
"Pagi, Angkasa..." sapa Starla sekali lagi. Namun, Angkasa masih diam tak bergeming.
Kesal, akhirnya Starla menarik kabel earphone milik Angkasa hingga cowok itu menatapnya tajam dengan wajah tak bersahabat.
"Apa?"
Starla mendongak untuk melihat wajah Angkasa. "Apa? Engga, kok. Orang nyapa doang."
"Jangan ikutin!" titah Angkasa dengan nada tak ingin dibantah. Tapi memang dasarnya usil, Starla malah menanyakan jawaban yang sudah ada di depan mata.
"Jangan ikutin apa?"
Angkasa berdecih tak suka. Sementara Starla mengulum bibirnya, merasa terhibur saat Angkasa mengeluarkan decihan seperti itu. Anggaplah Starla aneh karena berpikiran demikian. Habisnya, Starla pernah sekali melihat bagaimana raut wajah Angkasa saat berdecih dengan dahi mengerut, alis menukik, dan bibir berkedut.
so cute!
Sayangnya, pemandangan itu hanya ia lihat sekali saja. Itu juga hanya sepersekian detik! Makanya, setelah itu Starla selalu memperhatikan saat Angkasa mengeluarkan decihan atau dengusan, tapi sayangnya tak ada raut berarti di sana. Hanya dahinya saja yang mengerut samar.
"Angkasa, jangan ikutin apa?" Starla menarik ujung seragam Angkasa hingga cowok itu menunduk, memberikan tatapan tajam padanya. "Sana balik kelas!" suruhnya diiringi dengusan.
"Gak mau, ah." Starla ngeyel. Tetap mengekori Angkasa di sepanjang koridor.
Beberapa siswi yang melewati mereka nampak menatap Angkasa dengan pandangan memuja, sementara menatap dirinya dengan penuh permusuhan. Tapi Starla tak peduli.
"Angkasa... mau ke mana, sih?"
"Bukan urusan lo!"
"Dih, galak!" cibir Starla. Dia mulai mengoceh panjang lebar, "mau ke rooftop, ya? Atau ke perpustakaan? Tapi, kan, hari ini kita gak ada jadwal belajar bareng. Kenapa gak ke kantin aja bareng temen-temen lo?"
"Lo dimusuhin?" tebak Starla. Angkasa masih tetap diam tak menjawab. Mungkin kepalanya sudah pening mendengar suara gadis itu yang sejak tadi berceloteh ria.
"Tapi, mana mungkin mereka musuhin lo. Iyakan, Angkasa?"
"Angkasa?"
"Angkasa, halo...?"
Kesal. Starla menghentakkan kakinya--masih mengekor--dan membuat wajah konyol di belakang Angkasa. Berharap, dengan itu kekesalannya dapat hilang.
"Mulut lo itu fungsinya buat makan doang, ya? Kalo orang nanya, tuh, jawab kek! Hobi banget bikin orang kesel! Gara-gara lo gue jadi pengen ngomel, nih!" oceh Starla.
Angkasa menghentikan langkahnya. Dia berbalik menghadap Starla. Memegang bahu gadis itu dengan satu tangannya, lalu memutarnya hingga kini tubuh Starla berhadapan dengan tembok koridor.
"Mau ngomel, kan?" Starla mengerjap bingung. Tak mengerti apa yang dimaksud cowok itu.
"Maksud lo?"
"Ngomel aja sama tembok. Dia gak bakal sakit kepala denger suara cempreng lo."
Starla melotot.
"Siapa bilang suara gue cempreng?!" ujar Starla tak terima. Biarpun samar, tapi Starla bisa melihat bagaimana Angkasa menyeringai padanya.
"Lo senyum?!"
Angkasa hanya mengedikkan bahunya singkat, kemudian berjalan meninggalkan Starla yang masih terdiam menghadap tembok. Kali ini Starla tak mengekori Angkasa seperti yang sebelum-sebelumnya.
"Gara-gara lo!" omel Starla menunjuk tembok di hadapannya. Starla baru tahu, ternyata Angkasa pandai menjahili orang seperti ini.
Tembok s****n! Angkasa s****n!