"Istirahat berapa menit lagi, sih?"
Starla menghela napas panjang lalu menjatuhkan kepalanya pada kedua tangan yang bertumpu di atas meja.
Gadis dengan rambut gaya ponytail itu tak peduli pada materi yang terpampang jelas di papan tulis, yang harusnya segera ia catat seperti yang dilakukan orang-orang di dalam kelas. Untungnya, guru yang mengajar sedang keluar, dan Starla jadi tak perlu takut kena marah.
"Nara, istirahat berapa lama lagi?"
"Cukup, La. Ini udah yang ke lima belas kalinya lo nanyain istirahat!" Nara meletakkan pulpennya ke atas meja dengan keras hingga menimbulkan suara yang lumayan nyaring.
"Tau! Kenapa, sih, lo? Laper? Kebelet banget pengen istirahat," timpal Agatha.
Kepala Starla yang semula terkubur di antara kedua tangan itu langsung terangkat cepat saat suara bel istirahat berbunyi. "Yesss!" lalu berdiri dan menyambar kotak makan serta buku di atas meja.
"Eh, La! Lo mau ke mana?" tanya Agatha.
"Mau belajar, dong! Anak teladan!" Starla mengacungkan kepalan tangannya ke udara, kemudian berlari meninggalkan kelas dan dua sahabatnya yang memandang cengo.
"Tumben banget dia semangat belajar."
Dengan kotak makan di tangan kanan, dan buku tulis di tangan kiri, Starla bersendung kecil melantunkan soundtrack dari drama kesukaannya. Ucapan 'hai' terus keluar dari bibir mungilnya saat berpapasan dengan para murid yang berlalu-lalang di sepanjang koridor, baik yang dia kenal, maupun yang tak dia kenal.
Berhenti di depan pintu perpustakaan, Starla berdehem seraya menyentuh tenggorokannya memastikan bahwa suaranya masih terdengar baik. Tanpa ada keanggunan sedikit pun, Starla membuka pintu itu dengan keras dan masuk ke dalam sana, disambut pelototan galak dari Bu Rini—penjaga perpustakaan.
Starla menyengir kikuk, "hehe .. damai, Bu." Mengangkat jari telunjuk dan tengahnya, kemudian berjalan cepat dengan mata meneliti seluruh penjuru perpustakaan, mencari keberadaan Angkasa yang ternyata sudah duduk nyaman di bangku paling pojok yang jarang terjamah murid lain. Starla menepuk dahinya. Harusnya dia tahu, pojokan adalah tempat keramatnya seorang Angkasa.
"Hai, Angkasaaa!" sapanya ceria.
Angkasa menoleh sekilas, lalu kembali memusatkan perhatian pada buku di tangannya. Starla mengerucutkan bibir, sebal karena sapaannya tak disambut baik oleh Angkasa. Lagian, apa yang Starla harapkan, sih? Angkasa itu pelit ngomong, dan cueknya gak bisa diganggu gugat. Harusnya Starla emang gausah berharap yang terdengar mustahil.
Starla duduk di hadapan Angkasa, dan tak sengaja membaca sampul buku yang berada di tangan cowok itu. Starla merendahkan kepalanya, memperjelas penglihatannya.
Harry Potter And The Order Of The Phoenix.
Matanya langsung membulat dengan raut wajah tak percaya. Jadi, Angkasa suka Harry Potter, ya?
"Daebak!" Starla berujar keras. "Lo udah baca yang series The Cursed Child? Gue berharap banget novelnya cepet difilmkan. Penasaran sama anaknya Harry. Siapa namanya? Albus Severus Potter, ya? Iya itu! Ganteng banget ya ampun! Mukanya ganteng-ganteng imut! Sayang banget dia munculnya di menit-menit terakhir doang. Gue belum baca yang itu, sih. Sibuk belajar sama lo soalnya! Eh, selain Harry Potter lo suka apa lagi? Gue misalnya?" Menaik turunkan alisnya menggoda. Kemudian tawa kecil dia keluarkan.
"Canda!" kekeh Starla seraya menatap Angkasa yang berhenti menggeser halaman.
"Percy Jackson juga seru, tuh! Lo harus banget nonton! Ceritanya se—"
"Kerjain. Nanti gue periksa," potong Angkasa, menyerahkan selembar kertas yang penuh dengan angka-angka dan rumus, yang seketika membuat kepala Starla panas detik itu juga.
Duh, belajar lagi!
***
"Lo pernah jatuh cinta?"
Satu detik...
Dua detik...
Tiga detik...
"DEMEN SAMA SIAPA LO?!" teriak Azka nyaring.
Cowok dengan bandana merah muda yang menghalau helaian rambut di dahinya itu berdiri, lalu menatap sang kembaran yang sedang mengaduk-aduk masker dalam wadah kecil, berisi alpukan serta madu yang sudah halus dan dicampurkan.
Starla menarik tangan Azka. Memaksanya untuk duduk manis di bangku yang sudah ia siapkan. "Santai aja kali! Ga usah ngegas! Lagian, gue, kan, nanya! Masa, lo nanya balik!"
"Serius, Kei. Siapa yang lo demenin?" tanya Azka kembali.
Decakan sebal dia keluarkan. Starla menggerutu kecil, lalu melanjutkan kegiatannya—mengolesi wajah Azka dengan kuas.
"Lo rebahan aja, deh! Biar maskernya gak jatuh kemana-mana." Azka pasrah saja saat Starla kembali menarik tangannya dan menyuruhnya rebahan di atas kasur bergambar Doraemon itu.
Hanya karena satu butir jerawat di pipi, Starla langsung heboh dan memaksanya untuk maskeran—seperti sekarang. Awalnya Azka merasa terharu karena sang kembaran perhatian padanya hingga begitu. Ternyata eh ternyata, alasannya benar-benar di luar nalar.
"Jerawat lo harus cepet musnah. Gue gak mau ya nanti jerawatnya nular ke gue! Inget, kita itu kembar dan kemungkinan buat tertularnya adalah sembilan puluh sembilan persen!" begitu katanya. Gak masuk akal banget, kan? Mana ada jerawat nular!
Starla emang aneh. Azka paham, Azka paham.
"Gue gak demenin siapa pun, kok." Starla menjawab setelah menyelesaikan kegiatannya pada wajah Azka yang kini sudah dipenuhi warna hijau.
"Tapi, kayaknya gue suka sama Angkasa, deh!" ujar Starla santai.
"APA?!"
"Jangan bangun-bangun, pele!" omel Starla. "IH! TUH, KAN! KENA KASUR GUE JADINYA!" Starla berteriak murka. Dia memegang jari manis Azka, lalu tanpa aba-aba menekuknya yang langsung disambut pekikan kencang dari sang empu.
"SAKIT, ANJIR!"
"Gak peduli!" seru Starla.
"Udah boleh dibilas belum ini?"
"Belum, lah! Baru juga lima menit!"
Azka mendengus, dan kembali merebahkan dirinya di atas kasur. "Sejak kapan lo suka sama dia? Biasanya juga kan, lo maki-maki dia."
Starla mengetuk-ngetukkan jarinya di dagu dengan gaya berpikir. "Sejak kapan, ya? Kayaknya sejak dia gendong gue pas di toilet, deh."
"Cuma gara-gara itu? Baperan banget, anjir! Masa cuma karena itu lo langsung suka sama dia?" Azka menggeleng samar dengan alis menukik.
"Lo tau, kan, dia gimana? Dingin, ketus, hatinya keras, susah buat mencair. Lo juga bukannya anti sama cowok cuek sejenis Angkasa?" ujar Azka lagi.
Anggukan kecil Starla berikan. "Iya, tapi sekarang engga."
"Kenapa gitu?"
"Soalnya, dari buku yang gue baca dan dari drama yang gue tonton, cowok cuek itu kalo udah bucin bakal ngalahin romantisme cowok buaya yang romantis dan manis pas lagi pdkt doang," jawab Starla.
"Lo pikir, bikin Angkasa jadi bucin segampang masukin jari ke idung? Gak segampang itu, oneng!" Rasanya, Azka mau menempeleng kepala gadis itu sekarang.
"Apa sih yang gak bisa dilakuin sama seorang Starla?" Mengangkat dagunya percaya diri.
"Nilai matematika diatas empat puluh aja gak bisa!" ujar Azka.
"Beda cerita. Itu mah udah bawaan dari lahir, ya!" protes Starla.
"Pantes mikirnya kayak gitu, udah b**o jadi tambah b**o makanya elu!"
"Bawel banget. Gue pelintir juga tuh bibir!"
"Lo sama Angkasa itu berbanding terbalik!"
"Hebat, kan?"
Azka memutar bola matanya jengah. Sementara Starla mendudukkan dirinya di bangku depan cermin, mengoleskan masker ke wajahnya sendiri.
Dia dan Angkasa gak beda-beda banget, kok. Buktinya, mereka punya satu kesamaan: sama-sama suka Harry Potter. Lagian, berbeda itu gak selalu buruk.
Justru, perbedaan ada untuk saling melengkapi. Seperti magnet yang memiliki kutub Utara dan Selatan. Kutub yang sama saling menolak, sementara kutub yang berbeda? Saling tarik-menarik, kan? Karena itu, Starla yakin kalau dirinya dan Angkasa sebenarnya memang cocok.