"Hati seseorang semakin kuat saat telah melewati banyak rasa kehilangan, hingga dia terbiasa dengan yang namanya kesendirian."
Angkasa menutup buku bersampul biru tua dengan judul 'Pemimpi dari Gurun' yang berada di tangannya. Menatap buku itu sesaat, sebelum meletakkannya di atas rak kecil samping ranjang. Raut wajahnya datar, namun, tak ada yang tahu apa yang sebenarnya tengah ia rasakan.
Laki-laki dengan celana hitam selutut, dan kaos abu-abu lengan pendek itu perlahan melangkahkan kaki, mendekati jendela yang terbalut tirai putih polos berbahansifon yang terkibar-kibar angin karena jendela masih terbuka sedikit, dan menyisakan ruang untuk masuknya udara luar. Bukan tanpa kesengajaan juga jendela itu terbuka, Angkasalah yang sengaja tak menutupnya.
Suara gorden terkibar, embusan angin yang menerpa kulit saat ia berdiri di depan jendela, suara ranting-ranting pohon yang saling bersentuhan, dan pemandangan langit malam yang terkadang bertebaran bintang, atau kadang tak menampakkan sedikitpun sinarnya.
Angkasa menyukainya.
Menarik napas dalam-dalam, lalu menengadahkan kepala dengan mata yang terpejam sudah cukup memperlihatkan bahwa Angkasa benar-benar menikmati kegiatannya itu.
Ting!
Getaran di saku celananya membuat Angkasa membuka kelopak mata, dan mengambil benda persegi panjang itu untuk melihat siapa yang mengiriminya pesan malam-malam begini. Mungkin ... teman-temannya yang kurang kerjaan. Setidaknya, itulah yang Angkasa pikirkan. Namun, saat melihat nama yang tercantum di sana, perempatan di dahi Angkasa berkerut heran.
Starlaa
Ekhem
Angkasa?
Udah tidur?
Kerutan di dahinya semakin menjadi saat membaca pesan dari sang gadis.
Semenit kemudian, bunyi pesan masuk kembali terdengar. Masih dari pengirim yang sama.
Starla
Seragam kemarin gratis kan?
Angkasa?
Hellooowwww!
Mas Frozen?
Unyu-unyu ^^
Setelah menggeleng singkat dan berkata 'bodoh' dengan suara pelan, Angkasa menggerakkan jarinya.
Angkasa
Hn
Mengabaikan Starla yang mulai mengetik balasan, Angkasa memilih menutup jendela kamarnya, menarik tirai abu-abu itu hingga pemandangan di luar sana sudah tak nampak lagi.
Bunyi pesan masuk lagi-lagi terdengar, dan Angkasa tak ada niatan untuk membukanya, alih-alih meletakkan ponsel dan merebahkan tubuhnya di atas kasur. Belum ada 5 menit, benda pipih berwarna silver itu kini bergetar tanda ada panggilan masuk. 'Ck! Pasti tuh cewek!' pikir Angkasa.
Ternyata, nama yang tertera di sana adalah 'Azka'. Takut ada hal penting yang mau disampaikan padanya, Angkasa segera menggeser tombol hijau di atas layar.
'ANGKASAAAA!'
Sontak orang yang dipanggil namanya itu langsung menjauhkan ponsel dari telinganya yang sudah berdengung.
Bukan, itu bukan suara Azka. Sejak kapan cowok itu punya suara melengking yang super duper kencang? Jawabannya jelas ... Starla Keina Fazwa!
Ck! Suara gadis itu benar-benar akan merusak gendang telinganya kalau begini!
'Berisik!' Angkasa bisa mendengar gerutuan orang di seberang sana.
'Galak banget! Orang tuh kalo disapa nyaut 'iya kenapa Starla?' gitu kek! Ini kok malah marah-marah!'
'...'
'Angkasa! Lo dengerin gak, sih?'
'...'
'Sumpah demi kolornya si Kai! Lo ngeselin banget!'
'Gue matiin.'
'JANGAN! Bentar dulu! Gue belum ngomong ini teh!'
'Cepet.'
'Iya, iya! Seragam yang lo kasih itu gratis, kan? Tapi, walaupun lo bilang gak gratis juga gue gak akan mau bayar, ya!'
Angkasa mendengus. Tinggal bilang dia mau barang gratisan aja berbelit-belit banget!
'Oke, Angkasa?'
'Hn.'
'JANGAN DIMATIIN DULU!'
'...'
'Besok belajarnya libur dulu boleh, ya? Pulang sekolah nanti gue mau nonton sama Agatha sama Nara. Ya, ya, ya?'
'Gak.'
'Angkasa.. please.. sekali ini aja liburnya. Boleh, dong!'
'Istrahat. Taman belakang.'
'Ah, lo, mah! Gak asik! Yaudah, sih. Gue tinggal bolos sehari aja terus-'
'Dateng besok kalo gak mau kena remedial lagi.'
'Tap-'
Tut.
Setelah memutuskan sambungan telepon secara sepihak, Angkasa mematikan daya ponselnya sebagai antisipasi jika Starla kembali menghubungi. Angkasa tak mau waktu istirahatnya diganggu oleh siapapun dan apapun yang bersifat merepotkan.
Khususnya, gadis yang bernama Starla Keina Fazwa.
Kalau bukan karena permintaan tante Hana yang sangat ia hormati, Angkasa tak akan mau repot-repot berurusan dengan Starla yang suaranya memekakkan telinga itu. Belum lagi, tingkah kekanakannya yang selalu bikin repot.
Ya ... berdoa saja semoga Angkasa kuat menghadapi cobaan itu, setidaknya ... hanya sampai kenaikan kelas nanti.
"Yang ini bener, gak?"
"Gak."
Mendengar jawaban yang berulang kali sama, Starla tak bisa untuk tak mengeluarkan dengusan kesal. Dia menggembungkan kedua pipinya dengan bibir mencebik.
"Dari dua puluh soal, gue cuma bener satu biji doang?! Coba lo koreksi lagi, Angkasa..!" rengek Starla.
"Kerjain ulang!" titah Angkasa setengah berdecak. Padahal, Angkasa yakin soal yang tadi dia berikan itu adalah materi paling dasar yang sudah sering dipelajari saat SMP. Tapi, tetap saja ... gadis itu tak bisa menyelesaikannya dengan baik. Dari 20 soal hanya 1 yang jawabannya tepat, itupun hasil capcipcup.
Angkasa melirik Starla yang tengah menghela napas panjang sambil menatap kotak bekal di sampingnya.
"Laper?"
"Engga!" sergah Starla. Namun belum lama bibirnya tertutup, perutnya sudah berbunyi nyaring. Seketika wajah Starla merona menahan malu.
Lebih memalukannya lagi, perutnya kembali berbunyi dengan kurang ajar. Starla menyembunyikan wajah di balik telapak tangannya, menutupi rona merah yang semakin menjalar di kedua pipinya.
"Lima menit."
Starla mendongak, menatap Angkasa penuh tanya. "Hah?"
"Istrahat."
Starla memiringkan kepala dengan wajah yang masih bingung. Sepersekian detik kemudian, kedua alisnya terangkat gembira.
Starla mengacungkan dua jempolnya ke arah Angkasa. "Emang, deh! Angkasa, tuh, cowok peka! Mantap!"
"Lima menit!"
"Okeeey!" Setelah memberikan cengiran khasnya, gadis dengan rambut ala ponytail itu segera mengambil dan membuka kotak bekal yang sejak tadi mencuri perhatiannya.
Nasi yang disusun membentuk kepala beruang, rumput laut yang membentuk alis, mata, hidung, dan mulut. Lalu ada empat buah nugget dengan beberapa potong sosis berbentuk bunga, juga brokoli serta tomat sebagai hiasan. Dan terakhir, sekotak s**u rasa strawberry di dalamnya.
Benar-benar 4 sehat 5 sempurna.
Angkasa melirik Starla sekilas, lalu menggeleng samar. Dilihat dari manapun, gadis itu lebih seperti anak SD yang memakai seragam SMA. Tubuh mungil, sifat kekanak-kanakan, berisik, dan merepotkan. Empat hal itu saja sudah cukup membuat Angkasa hampir berpikir Starla bukanlah murid SMA tulen. Ya ... kalau bukan karena fakta bahwa gadis itu adalah saudara kembar sahabatnya, Angkasa pasti akan berpikir demikian.
Sebelum menyuapkan sesendok nasi goreng ke dalam mulutnya, Starla menyempatkan diri untuk menawari Angkasa yang dibalas gelengan tegas dari cowok itu. Namun, memang dasarnya Starla jail, dia terus menyodorkan suapan itu pada Angkasa yang sibuk membolak-balikkan buku di tangannya.
"Angkasa ... aaaaaaa..." Angkasa memalingkan wajahnya menghindari suapan Starla.
Gadis itu tak menyerah. Dia tetap bersikukuh membuat Angkasa mau mencicipi nasi goreng spesial buatannya dengan berbagai cara. Seperti.. menatap Angkasa galak, mencubit pinggangnya, merengek, dan berteriak."Ayo, ish! Satu suap doang!"
Lelah mendengar suara melengking itu, akhirnya Angkasa mengalah, membiarkan Starla menyuapinya. Meskipun... dia punya firasat buruk sih.
"Gimana? Gimana? Enak, kan?" tanya Starla penuh harap.
Setelah berhasil menelan makanan dalam mulutnya dengan susah payah, Angkasa segera menyambar botol minum terdekat, lalu menegaknya hingga tersisa setengah.
Starla jelas bingung. Untuk menghilangkan rasa penasarannya, dia menyuapkan nasi goreng itu ke dalam mulutnya. "Gak enak."
Starla meringis. Ternyata dia salah memasukkan bumbu, sampai-sampai rasa nasi gorengnya jadi terlalu manis seperti ini.
"Buruk," komentar Angkasa.
Starla meringis pelan, "tak sesuai sam-lho? Kok, minum gue tinggal segini?" Starla menatap botol minum di tangannya dan Angkasa secara bergantian.
"Lo yang minum?"
"Hn."
Starla terkesiap, lalu memukul-mukul tubuh Angkasa dengan wajah semerah tomat. "Lo sembarangan banget, sih!" amuknya.
Angkasa menahan tangan Starla, mengunci pergerakan gadis itu.
"Kenapa?"
Starla melotot. Kenapa? Kenapa katanya?! Masa, dia gak tahu artinya?!
"Lo itu minum di botol punya gue! Bekas gue, Angkasa! Masa lo gak tau artinya! Secara gak langsung kit-"
"Gue gak minum langsung dari botol lo." Angkasa menarik botol itu dari tangan Starla. Dia membuka tutupnya, dan mendongakkan kepala. Mengangkat benda itu hingga ujung botol berjarak beberapa senti dari mulutnya. Selanjutnya, tatapan cengo Starla mengiringi kegiatan Angkasa itu.
"Liat? Ini...," menunjuk mulut botol.
"Sama ini...," menunjuk bibirnya sendiri. "Gak nempel. Paham, Starla Keina Fazwa?" Angkasa menatap Starla yang wajahnya sudah memerah hebat itu dengan sedikit kehehan geli.
Orang mana yang percaya pada teori 'drinking in the same bottle means an indirect kiss' hah! Jangan bercanda! Bagi Angkasa, itu hanyalah teori tak masuk akal belaka.
Tak tahu harus bereaksi seperti apa, Starla hanya bisa memalingkan wajah dari Angkasa. Tak sering bicara, tapi sekalinya membuka suara langsung bikin lawan bicaranya kicep. Waw!
"Ngeselin," gumam Starla pelan, namun masih dapat Angkasa dengar dengan sangat jelas.
'Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, selamat siang. Perhatian kepada seluruh siswa dan siswi untuk segera berkumpul di lapangan. Terimakasih, wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.'
Setelah pengumuman yang berasal dari pengeras suara itu tak terdengar lagi, Starla segera menutup kotak bekal, dan membereskan buku-bukunya. Dia mencuri-curi pandang ke arah Angkasa yang sudah melangkahkan kaki, meninggalkannya tanpa ada kalimat pamitan sama sekali.
"Dingin banget! Bikin orang makin semangat buat mencairkan aja!"