"Angkasa?"
Starla menarik-narik kecil ujung seragam Angkasa sambil menyeka air mata. "Angkasa..."
Angkasa menoleh ke belakang, dan menempelkan jari telunjuknya di depan bibir, mengisyaratkan Starla untuk segera diam.
Mengapa juga tadi dia menarik tangan Starla masuk ke sini? Padahal, Angkasa merasa, dia tak memiliki kewajiban untuk melindungi gadis itu. Karena gadis itu juga, Angkasa jadi terjebak dalam situasi ini.
Sudah dia bilang kan? Starla itu gadis yang merepotkan.
"Angkasa, coba lo intip. Mungkin aja mereka udah pergi," bisik Starla.
Angkasa mendengus. "Lo bisa diem, gak?"
"Iya, iya!"
Meskipun menjawab demikian, tapi dengan jiwa kekepoan yang sangat tinggi, Starla nekat menaiki toilet yang tertutup itu untuk memastikan keadaan di luar sana. Sesuai dugaannya, dua cowok itu masih mengecek satu persatu bilik toilet, dan sebentar lagi mereka akan sampai di depan pintu ini.
Starla tersenyum usil. Dia melepaskan ikatan rambutnya hingga kini tergerai. Kemudian, rambutnya ia posisikan ke depan hingga menutupi seluruh wajahnya.
"Tinggal itu doang yang belum kita cek," ujar salah satu cowok.
Starla memiringkan kepalanya, dan mulai mengeluarkam suara ala-ala kuntilanak yang ada di dalam sinetron.
"Hi hi hi hi hi hi!"
Salah satu cowok mendongak, dan detik itu juga matanya membulat sempurna. Dia menepuk bahu teman di sebelahnya dengan gemetar. Namun sayang, cowok di sebelahnya itu ternyata punya reflek yang tinggi hingga begitu dia mendongak, kakinya langsung berlari cepat keluar dari sana, meninggalkannya.
"T-tungguin, a-anjir!" Kemudian berlari terbirit-b***t.
Starla langsung menyemburkan tawanya hingga memegang perutnya yang sakit karena terpingkal.
"Cemen! Hahahaha!"
Starla berkacang pinggang. "Angkasa, gimana? Gue keren, kan?" tanyanya.
Tanpa mau repot-repot menoleh, Angkasa langsung membuka pintu dan berjalan keluar dari bilik itu.
Mendapat respon seperti itu, Starla mencebik dan menggerakkan kakinya turun dari toilet. Namun, permukaan di bawah kakinya licin hingga membuat kakinya bergerak diluar kendali.
Bunyi 'gedubrak' langsung terdengar nyaring di seisi ruangan itu, hingga Angkasa yang sudah hendak meraih gagang pintu pun seketika menoleh, dan bergegas menghampiri sumber suara.
Masih di bilik yang sama, Angkasa menemukan Starla yang jatuh terduduk di atas lantai sambil memegangi kepala. Seragam gadis itu sudah basah, terlebih lagi pada bagian roknya.
Starla mendongak. Dia tertawa namun setengah meringis. "Angkasa, tolong bangunin gu-"
"Mana yang sakit?"
Starla terdiam saat suara berat cowok itu bertanya demikian. Bahkan sekarang, satu tanganya mengusap lembut kepala Starla yang tadi terbentur. Hingga Starla rasa, sakit di kepalanya perlahan mulai mereda hanya dengan usapan tangan Angkasa.
Ketika menegakkan badannya, Starla meringis dan nyaris berteriak kalau saja dia tak ingat saat ini masih ada Angkasa di sampingnya. Sungguh, pinggangnya benar-benar butuh pertolongan!
Angkasa mengerutkan keningnya. Setelah menatap mata Starla beberapa detik, dia memegang dan melingkarkan kedua tangan Starla di lehernya. Heran, entah sudah berapa kali dia menyaksikan Starla yang bertindak ceroboh begini. Apa gadis itu memang punya hobi jatuh, ya?
"Kita ke UKS," putus Angkasa, lalu mengangkat tubuh Starla ala bridal style dan berjalan keluar dari ruangan itu.
Angkasa terlalu fokus pada jalan di depannya, hingga tak melihat bagaimana Starla sudah tersenyum-senyum aneh dengan segala kehaluan yang mulai terputar cemerlang di kepalanya.
***
"Ayo, Kak. Pake salepnya dulu."
Anggota PMR yang hari ini tengah berjaga di UKS itu berdiri di samping Starla dengan salep pereda nyeri di tangannya.
"Salep ini bisa ngurangin rasa sakit di pinggang. Rasanya juga anget di kulit. Bagus banget buat ngeredain nyeri. Nanti salep ini Kakak bawa pulang, ya. Terus dipakai sehari 2 kali, bangun tidur sama sebelum tidur," ujarnya panjang lebar.
Starla mengangguk-angguk mengerti sambil mengulurkan tangan kanannya.
"Saya pake sendiri-"
"Gapapa. Biar saya aja," ujarnya yang terkesan memaksa. Akhirnya, Starla hanya mengangguk kaku sebagai balasan.
Matanya masih sangat sehat untuk melihat binar centil yang terpancar nyata di kedua bola mata anggota PMR yang Starla tahu adalah adik kelasnya. Dia juga menyadari gelagat aneh dari gadis itu seperti, mencuri-curi pandang ke arah Angkasa, merapihkan rambutnya, serta terus memasang senyuman di wajahnya.
Starla rasa, gadis itu tengah mencari perhatian Angkasa. Atau Starla berlebihan?
"Nih." Angkasa menyerahkan segelas air mineral yang sudah ia tusukkan sedotan di atasnya pada Starla yang memicingkan mata.
"Kok, baik?" tanyanya curiga. Tapi, dia tetap mengambil air itu dan langsung menyesapnya hingga tersisa setengah. Kebetulan sekali tenggorokannya memang sudah kering.
"Kak Angkasa mau minum ju-"
Ucapan gadis itu terhenti, karena Angkasa sudah lebih dulu melangkahkan kakinya meninggalkan UKS tanpa mengucap sepatah kata.
"Jangan dipikirin. Dia orangnya emang gitu," hibur Starla.
Sebenarnya, dia cukup prihatin juga melihat gadis itu menundukkan kepala dengan wajah sedih. Tapi, semua orang kan juga tahu kalau Angkasa Dhananjaya itu memang sulit diajak berinteraksi oleh orang lain, apalagi dengan lawan jenis.
"Sini, salepnya biar saya pake sendiri aja."
"Ah, iya. Ini, Kak." Perempuan itu menyerahkan salep yang semula di genggamannya kepada Starla, dan melangkahkan kaki ke sisi UKS yang lain untuk memeriksa perlengkapan dan obat-obatan di dalam kotak P3K.
Merasa tak akan ada yang memperhatikannya lagi, Starla mulai membuka tutup salep dan mengeluarkan isinya hingga sebesar biji jagung. Saat hendak mengoleskannya di pinggang, pintu UKS mendadak terbuka yang sontak saja membuat Starla kembali menurunkan seragamnya dengan cepat.
Dia bernapas lega karena orang itu tak menatap ke arahnya. "Angkasa, lo ... ngapain ke sini lagi?" tanyanya pada sosok Angkasa yang berjalan mendekat, namun dengan tatapan yang terus tertuju pada kantong plastik di tangannya. Entah ada apa di dalamnya.
Tanpa menjawab pertanyaan Starla, Angkasa meletakkan kantong plastik itu di pangkuan Starla, dan langsung melangkahkan kakinya keluar dari sana dengan cuek. Tanpa sapaan, tanpa penjelasan, dan tanpa ucapan apapun.
Ya ... benar-benar tipikal Angkasa sekali.
Starla terus memperhatikan pundak lebar cowok itu sampai menghilang di balik pintu UKS.
Decakan dan gelengan kepala dia keluarkan sebagai bentuk ketidakpahaman atas perilaku Angkasa tadi.
"Apaan, sih. Gajelas banget!" Starla mendumel seraya membuka isi kantong itu.
Setelah ia buka, ternyata isinya adalah baju dan rok yang sama dengan yang saat ini Starla pakai. Meskipun mengernyit heran, Starla tetap mengangkat seragam itu dan menyamakan dengan tubuhnya. Dia membulatkan bibirnya berdecak kagum, "wah, keren! Ukurannya pas banget sama gue!"
Seragam yang Angkasa berikan ini, sudah pasti untuknya kan? Inner-nya tentu saja langsung berteriak nyaring 'ya iyalah bodoh! Kalo bukan gitu, buat apa Angkasa repot-repot balik ke sini?!'
"Punya hati juga ternyata dia," gumamnya.
Setelah Starla pikir-pikir, ternyata Angkasa peka juga ya jadi cowok.