Starla duduk di kasur, bersandar pada kepala ranjang dengan ponsel di tangannya. Terkadang, dia mengeluarkan decakan kagum, terkadang mendengus sebal, lalu tersenyum-senyum sendiri dengan apa yang dia lihat di benda pipih itu.
Sudah sekitar satu jam lebih, dia habiskan hanya untuk menatap satu persatu postingan i********: dengan akun yang memiliki profile picture siluet seorang cowok yang diambil dari samping.
Tak banyak postingan di dalamnya, hanya ada tiga foto yang diunggah. Foto pemandangan langit senja, foto sebuah skateboard, dan terakhir foto siluet si cowok yang tengah memegang kamera.
Tak ada bio menarik yang terpampang di sana. Hanya ada satu kalimat yang tak bisa Starla mengerti. Benar-benar cerminan dari sang pemilik. Yang Starla herankan, meskipun postingannya sedikit, dan bionya sulit dimengerti, tapi akun itu mempunyai followers yang banyak.
Mungkin, segala sesuatu yang menyangkut Angkasa Dhananjaya memang sangat menarik untuk orang-orang.
“Dih! Yang komen hampir cewek semua!” decak Starla, mencebikkan bibirnya. Dia menggerakkan jari dengan lincah, dan berhenti di foto terakhir.
Brak!
Pintu kamarnya terbuka lebar. Menampilkan sosok Azka yang menyengir dan mulai berjalan ke arahnya. Azka merentangkan kedua tangan dan menggerakkannya bergelombang. Sementara Starla, memutar bola matanya malas.
Gabutnya Azka itu jelek semua. Salah satunya ya begini. Mendatangi kamar Starla tanpa tujuan, lalu mengganggunya dengan tingkah-tingkah yang memancing emosi.
"Ngetuk pintu kamar orang apa susahnya, sih?!"
Starla mendengus jengkel, lalu melempar bantal merah muda berbentuk hati ke arah Azka dengan sekuat tenaga yang nyatanya bisa dihindari cowok itu dengan mudah.
"Kayak lo ngetuk pintu aja kalo masuk ke kamar gue!" balas Azka. Dia sudah mendudukan dirinya di pinggir ranjang berwarna putih gading milik Starla.
"Ngapain ke sini?" tanya Starla mengangkat dagunya.
"Gapapa. Gabut aja."
Starla kembali mendengus, tuhkan! Kelakuan kembarannya itu memang akhlakless sekali. Starla kemudian menundukkan kepala, dan sepersekian detik setelahnya-
"AAAAAA!"
-sebuah teriakan memenuhi ruangan itu.
Menghadapi perempuan itu sulit, menghadapi orang yang tengah badmood juga sulit. Dan saat ini, Azka harus menghadapi kedua hal itu,
“Maaf, ya?” Azka memasang wajah semelas mungkin.
"Gamau! Gara-gara lo! Jari gue jadi keseleo terus ngelike fotonya si anu! Salah lo pokoknya!" kesal Starla. Dia bersedekap d**a dengan bibir mencebik sebal.
Mendapat respon yang demikian, Azka mengeluarkan helaan napas panjang.
“Emang apa salahnya ngelike foto si Ang-eh maksudnya si anu?"
Starla menarik bantal kecil dan melemparkannya ke arah Azka yang sukses mengenai kepala cowok itu, karena Azka memang sengaja tak menghindar.
"Lo gatau! Misi stalking itu kalo udah kepencet like namanya gatot alias gagal total! Belum lagi kalo si anunya nyadar, ah! Malu banget!" sungut Starla.
"Kalo masuk ke kamar orang itu ngetuk dulu!"
"Iya." Azka mengangguk kecil. "Kalo inget," lanjutnya.
"Tuh, kan! Kai! Lo mah!" kesal Starla setengah merengek.
"Ya ... kalo guenya lupa, terus mau diapain?"
"Tau, ah! Males!" gerutu Starla.
Setelah menggaruk tengkuknya, Azka menghela napas kembali. "Maafin gue. Ntar gue beliin es krim plus kentang goreng kesukaan lo."
Starla mengetuk-ngetukkan jarinya di dagu dengan wajah berpikir. Dia menimbang-nimbang penawaran Azka yang sebenarnya menguntungkannya. Starla hanya perlu memaafkan, dan dia bisa dapat es krim dan kentang goreng secara gratis. Kapan lagi coba, Azka mau mentraktirnya dengan cuma-cuma begini.
"Oke!" jawab Starla pada akhirnya.
Azka hendak kembali ke kamarnya namun, dia ingat sesuatu.
"Bentar, lo kenapa kepoin akunnya si Angkasa?" tanyanya dengan mata memicing curiga.
"Iseng aja," balas Starla, kemudian mendorong tubuh tegap Azka keluar dari kamarnya sebelum cowok itu bertanya lebih lanjut.
"Gak sopan lo sama yang lebih tua!" sungut Azka yang dibalas kekeh kecil dari Starla.
"Iya, maafkan aku ya abangku sayang." Starla tersenyum manis.
"Lo--"
Brak!
Belum sempat membalas ucapan Starla, pintu kamar itu sudah tertutup rapat. Azka hanya bisa menggerutu kesal karenanya.
***
"HEI! IBU BILANG BERHENTI!"
Dua murid yang tengah dikejar itu terus berlari di sepanjang koridor sekolah dengan keringat yang bercucuran mulai dari dahi, hingga pelipis.
Karena gerbang sekolah sudah ditutup rapat, mereka berdua terpaksa masuk lewar pagar belakang sekolah yang sudah biasa mereka panjat. Namun sayang, aksi mereka itu terciduk oleh bu Banu.
"Masih ngejar?" tanya Azka disela-sela larinya.
Starla menoleh ke belakang untuk memastikan. "Masih!"
"AWAS YA KALIAN BERDUA!"
Mereka kompak menoleh, dan terbelalak saat dilihat bu Banu mulai melepas sebelah sepatunya. Mereka saling bertatapan. Seakan dapat membaca pikiran satu sama lain, keduanya langsung berbelok ke arah yang berlawanan. Azka ke kanan, sementara Starla ke kiri. Tujuan utamanya adalah menghindar serangan sepatu milik bu Banu.
"STARLA!"
Namun sepertinya, hari ini keberuntungan tak berpihak pada Starla. Bu Banu yang ia harapkan mengejar Azka itu malah mengejar dirinya. Sangat yakin, guru itu pasti punya dendam tersembunyi padanya.
Starla kembali menoleh, dan bu Banu masih belum muncul dari belokan koridor itu.
Tanpa pikir panjang, Starla langsung masuk ke toilet di sebelahnya.
Dia menumpukan tangannya pada kedua lutut sambil mengatur napas.
"Akhirnya selam-AAAA! LO NGAPAIN DI SINI?!" Starla berteriak nyaring sambil menunjuk sang tersangka dengan wajah curiga.
"Angkasa! Ngapain lo di toilet cewek? Mau m***m, ya?!" tuduh Starla menatap Angkasa tajam.
Angkasa mengerutkan kening, dan menggeleng samar. "Aneh!" katanya. Angkasa Hendak melewati Starla, namun gadis itu langsung mencekal tangannya.
"Angkasa!" panggil Starla.
Angkasa tak langsung menjawan. Dia terlebih dahulu melepaskan cekalan Starla di tangannya. "Ini toilet cowok," ujar Angkasa.
To the point.
"Hah?" Starla langsung menatap sekelilingnya. Beberapa detik kemudian, wajahnya memerah begitu hebat. Dia bahkan sampai tak bisa menutup mulutnya karena baru menyadari bahwa saat ini dia berada di toilet laki-laki. Toilet laki-laki. Tolong garis bawahi, toilet laki-laki!
"KOK, LO GAK BILANG?!" protes Starla, menatap Angkasa dengan mata berkaca-kaca.
Entah sudah berapa banyak tingkah memalukannya disaksikan oleh Angkasa. Belum lagi, insiden stalking itu terus terputar di kepala Starla. Namun sepertinya, Angkasa tak menyadari hal itu, atau memang dia tak peduli?
Tapi, Starla cukup bersyukur karena setidaknya, Angkasa tak akan menceritakan kejadian-kejadian itu pada siapa pun. Coba kalo orang lain, pasti beda lagi ceritanya. Tapi, tetap saja itu hal yang benar-benar memalukan.
"Lo denger suara cewek dari sini juga, gak?"
"Denger. Ayo kita periksa."
Angkasa dan Starla saling berpandangan.
Selama beberapa detik, suara-suara itu sudah tak terdengar lagi. Starla bernapas lega. Sepertinya, mereka sudah pergi dari-
Cklek!
-sini.