Sudah lewat tiga hari sejak insiden kakinya terluka, selama itu pula pergerakan Starla terus dibatasi. Ulah siapa lagi kalau bukan Azka Kaino Putra. Kakak yang lebih tua tiga menit darinya itu memang terkadang menjadi orang yang super protektif.
Starla mulai menggerakkan pergelangan kakinya perlahan. Ia sudah gatal ingin berlarian seperti biasa.
"Eh? Gak sakit. Kaki gue ... kaki gue udah sembuh! Yes, yes, yes!"
"Ck."
Gadis berkepang dua yang semula melompat-lompat riang di tengah koridor itu sontak membalikkan badannya, dimana sosok Angkasa dengan sebuah buku di genggamannya dan satu tangan di dalam saku tengah berjalan ke arahnya.
Starla memicingkan mata. "Apa liat-liat? Naksir?" Ia mengangkat dagunya percaya diri.
Angkasa hanya meliriknya datar dan berjalan melewati Starla tanpa mengucapkan sepatah kata. Jujur saja, menjadi tutor gadis itu sudah membuatnya cukup repot, dan Angkasa tak ingin hidupnya menjadi tambah repot lagi. Ia hanya ingin hidupnya tentram, damai, dan nyaman tanpa gangguan makhluk berisik seperti Starla.
"Eitss! Mau ke mana?" sosor Starla kemudian merentangkan kedua tangannya di hadapan Angkasa.
"Lo gak boleh pergi. Balikin dulu gelang gue!" Angkasa menaikkan sebelah alisnya pertanda tak mengerti.
"Iya! Gelang! Gue yakin lo yang ambil. Pasti waktu gue kepaduk di deket pohon itu lo ambil gelang gue diem-diem, kan? Ngaku!" tuduh Starla menunjuk Angkasa dengan sorot penuh curiga.
"Angkasa, jawab!" tuntut Starla tak sabaran. Hari ini dia baru sadar kalau gelang yang sejak jaman SMP terus melingkar di pergelangan tangannya itu hilang entah di mana. Tapi ia ingat, sebelum pertemuannya dengan Angkasa di parkiran sekolah, gelangnya itu masih ada.
"Angkasa!"
"Diem. Suara lo ngerusak gendang telinga."
Starla membuka mulutnya dengan mata membulat. Sumpah, Angkasa itu irit ngomong, tapi sekalinya ngomong jleb. Kalimatnya nusuk. Dan herannya, hampir semua gadis di sekolah begitu memujanya.
"Balikin dulu!" Starla mengulurkan tangannya ala tukang palak dan berujar, "kalo enggak ... nanti gue bakal--"
"Bakal apa?" potong Angkasa cepat. Dia mensejajarkan tubuhnya dengan Starla dan mendekatkan wajahnya ke arah gadis yang sudah menahan napas itu.
Dari jarak sedekat ini, Starla dapat mencium aroma cowok itu. Aroma leather yang sangat khas bercampur dengan wangi mint perlahan menguar di indra penciumannya. Sedetik kemudian, Starla mengerutkan kening saat samar-samar bau tembakau tercium hidungnya. Aneh, padahal yang Starla tahu Angkasa itu bukan laki-laki yang suka merokok.
"Angkasa, lo ... ngerokok?" tanya Starla ragu. Ia tahu, jaman sekarang mustahil rasanya masih ada laki-laki yang tak pernah merokok. Namun, dipikirkan bagaimanapun juga rasanya Starla masih tak percaya mengingat image Angkasa yang jauh dari cowok nakal.
"Bukan urusan lo!" balas Angkasa ketus. Dia meletakkan tangannya di salah satu bahu Starla dengan tatapan penuh intimidasi.
"Jangan ikut campur urusan orang," tekannya pada Starla.
"Ngerti .. cewek bawel?"
Seharusnya Starla merasa takut karena ditatap demikian. Namun, entah bagaimana ia malah merasakan irama jantungnya yang berdetak dengan sangat cepat. Rasanya seperti ada kupu-kupu yang berterbangan dan menggelitik perutnya. Mirip seperti saat Starla berdiri di atas podium dengan banyak orang yang memperhatikan. Tapi rasanya juga sedikit berbeda. Apa, ya. Jauh lebih mendebarkan.
Setelah sadar akan situasinya saat ini, Starla langsung melangkah mundur. Dia menatap Angkasa sengit lalu berteriak, 'ANGKASA TEGA!'
Sambil memperhatikan Starla yang berlari kencang lalu menghilang di balik pintu bertuliskan XI MIPA-4, Angkasa kembali melanjutkan langkahnya dengan sebuah senyum samar yang menghiasi wajahnya. Teramat samar, bahkan nyaris tak terlihat oleh mata.
Satu fakta yang kini Angkasa dapat, perilaku suka menantang dan sok berani gadis itu ternyata hanyalah sebuah kedok. Baru seperti itu saja pipinya sudah semerah tomat, tapi berani-beraninya dia mengajak dirinya menikah di depan semua orang?
"Konyol."
"Temen lo kenapa, tuh?" Nara menyenggol lengan Agatha yang duduk di sebelahnya dengan pandangan penasaran mengarah pada Starla.
Gadis berkepang dua itu sedang menumpukan kedua tangannya di atas meja dan menjatuhkan kepalanya di sana. Kakinya ia hentak-hentakan bergantian dengan gerakan yang cepat. Mungkin ini hanya perasaannya saja, tapi Nara merasa sahabatnya itu seperti tengah salah tingkah.
"Dia kenapa, sih?"
Agatha mengangkat bahunya tak acuh sambil menjawab dengan asal, "kesambet kali."
Nara bergumam 'mungkin' sebelum kembali melanjutkan acara perdrakoran-nya. Dia tak akan ambil pusing dengan tingkah aneh Starla yang satu itu. Sebab, masih banyak tingkah Starla lainnya yang jauh lebih aneh hingga tak masuk di nalurnya.
Pernah sekali, saat itu pelajaran sejarah dan kelompok mereka yang mendapat giliran presentasi malah lupa dengan hal itu. Mereka sama sekali tak membawa bahan presentasi. Dan demi tak dihukum, Starla nekat menyetel musik di ponselnya dengan suara super keras yang jelas-jelas dilarang saat pelajaran berlangsung.
Bukan itu saja, dia juga menarik tangan sang guru untuk berjoget riang dengannya. Beruntung, bukannya marah guru itu malah memberikan jam kosong di kelas mereka dengan alasan 'Abis joget, patah hati ibu jadi berkurang. Jadi khusus hari ini di pelajaran ibu, kalian free class.' begitulah katanya.
Tiba-tiba Starla mengangkat kepalanya dengan senyum misterius, membuat Agatha yang kebetulan sedang menoleh ke arahnya itu langsung mengucap istighfar. Agatha punya firasat buruk, dan sejauh ini firasatnya belum pernah melesat. Maka dari itu, Agatha buru-buru pamit ke toilet untuk menghindarinya.
"Ra!" panggil Starla pada Nara yang hanya bergumam tanpa mengalihkan pandangannya dari layar ponsel.
Dengan tak sabaran, Starla merebut ponsel Nara hingga gadis itu menatapnya kesal. Starla tak peduli dan malah menatap mata Nara tanpa berkedip.
"Apa sih, La!" delik Nara karena Starla terus saja menatapnya tanpa mengucapkan apa-apa. Sedetik kemudian dia bernapas lega setelah Starla menghentikan tatap-menatap itu.
Starla memegang dadanya yang masih berdetak normal itu dengan kerutan di dahinya.
"Kenapa gak berhasil, ya?" monolognya. Aneh, padahal saat tadi bersama Angkasa dengan jarak seperti ini sudah berhasil membuat jantungnya berdetak tak karuan.
Dia mengetuk-ngetukkan telunjuknya di dagu dengan gaya berpikir. "Mungkin, karena si Nara cewek," gumamnya.
"LO PIKIR GUE APA?!" protes Nara tak terima.
Starla menempatkan jari telunjuknya di depan bibir. "Berisik, Ra," ujarnya kalem. Nara mendelikkan matanya kesal.
"Selanjutnya siapa, ya?" Dengan tiga kata itu Starla segera berbalik dan melangkahkan kakinya keluar kelas.
***
Starla berjalan riang sambil bersenandung kecil. Dia memperhatikan setiap murid laki-laki yang ditangkap netranya. Menimbang-nimbang dari mana akan memulai misinya.
Saat berbelok di koridor, Starla menemukan Alden yang berdiri di sebelah loker, tengah mengikatkan dasi di kepalanya. Sepertinya cowok itu habis menjahili orang seperti biasa.
"Target pertama ditemukan, bigboss!"
Setelah menurunkan tangannya, Starla segera berlari menghampiri Alden. Dan tanpa babibu, dia langsung menarik tangan cowok itu lalu memegangnya.
"Anjir! Kaget gue!" Alden mengelus dadanya. u*****n yang hendak keluar dari mulutnya tertahan begitu saja di kerongkongan. Pundaknya seketika menegang saat menyadari tatapan Starla terus tertuju padanya.
Setelah sekitar 5 detik menatap Alden tanpa berkedip, Starla segera menarik tangannya dan menghela napas panjang.
"Gak berhasil juga," gumamnya. Dia menoleh pada Alden yang sedang mengangkat dagunya dengan pandangan bertanya.
"Kenapa?"
Starla menggelengkan kepalanya cepat. "Gue lagi mastiin, ternyata beda sama yang itu." Dia menepuk bahu Alden sekali, dan kembali melangkahkan kakinya. "Makasih tangannya! Gue duluan, dah!"
Alden membalas lambaian tangan itu dan berjalan ke arah yang berlawanan dengan Starla.
Dia menggaruk tengkuknya, lalu menatap tangan yang baru saja digenggam oleh Starla.
"Harus pake hand sanitizer, nih!"