"La! Lo kebanjiran?" tanya Agatha heboh. Semua orang yang ada di kelas pun sontak memandangi Starla yang baru saja tiba.
"Perasaan kemaren gak ujan," komentar salah seorang siswa.
"Bukan kebanjiran. Kaki gue lagi sakit. Makanya, pake sendal," jelas Starla. Dia meletakkan tasnya di atas meja dan menoleh ke samping, "Tumben banget si Nara belum dateng," ujarnya.
"Macet kali," balas Agatha.
Belum ada semenit mereka membicarakan Nara, gadis itu sudah muncul dengan rambut berantakan dan gagang sapu di tangannya.
Agatha dan Starla saling berpandangan, lalu menghela napas dengan kompak.
"Si Alden?" tebak Starla.
Nara mengangguk cepat. Berjalan ke mejanya sambil terus merapihkan tatanan rambutnya yang tadi dirusak Alden. Nara tak tahu sejak kapan cowok narsis itu mulai menjahilinya dengan berbagai tingkah menyebalkan. Padahal, Nara tak pernah merasa punya salah pada Alden. Sebaliknya, mungkin cowok itu punya dendam terpendam.
"Udah gue bilang, makhluk itu punya perasaan sama lo." Agatha menguncir rambut Nara saat gadis itu memberikan karet padanya.
"Jadian aja, Nar. Gue dukung seratus persen! Jadian! Jadian! Jadian! Jadi-"
"La!" seru Nara galak.
Starla hanya mencebikkan bibirnya sekilas. Kapal Alden-Nara harus berlabuh! Starla itu shipper mereka garis keras. Ditambah, Azka menjanjikannya sesuatu kalau sampai Alden dan Nara benar-benar jadian. Kebalikan dari Starla, Azka meyakini kalau Alden hanya main-main pada Nara seperti yang dilakukan cowok itu ke gadis-gadis lainnya. Jangan lupa, julukan Alden itu playboy original cap badak.
"Lo aja sana yang jadian sama dia!" sungut Nara.
"Maaf bund, saya sudah punya pujaan hati." Starla tersenyum sambil menggerakkan jarinya membentuk hati.
"Angkasa pasti!" tuduh Agatha.
"Kalian gak perlu tau. Ini rahasia gue sama pujaan hati gue."
"Idih!"
"Udah, jangan berisik. Gue ngantuk, mau tidur." Starla menjatuhkan kepalanya ke meja. Kalau ibunya tak mengancam akan memotong uang jajannya, Starla pasti masih nyaman rebahan di kasur. Ia kira kakinya bisa menjadi alasan untuk libur sekolah, tapi kenyataannya tidak.
"Kenapa pake sendal?"
Starla tak menyahut. Ia tahu suara siapa itu, dan Starla sama sekali tak berniat untuk meladeninya.
"Kakinya lagi sakit," jawab Nara mewakili.
"Separah apa emang sampe gak bisa pake sepatu?" Cowok itu memandang kaki Starla dan tertawa sinis. "Kaki lo diamputasi? Jangan lebih parah dari ini, ya. Ntar kayak si Ar-"
Brak!
Semua orang di sana sontak terkejut bukan main karena gebrakan meja yang tiba-tiba itu. Mereka langsung berbondong-bondong mendekat dengan wajah penasaran. Meskipun bukan hal tabu lagi kalau Starla dan cowok itu bertengkar.
"b******k! Lo bebas ngomong apapun tentang gue, tapi jangan pernah bawa-bawa dia!" Matanya memerah, Starla mengepalkan tangannya erat.
"Heran gue. Lo masih aja belain dia. Bahkan, sampe sekarang."
"Cuma orang gila yang ngomong kayak gitu! Lo sadar gak, sih? Omongan lo itu bisa bikin orang sakit hati!"
"Terserah gue! Mulut-mulut gue!" Cowok itu mengangkat dagunya, menatap Starla remeh.
Tanpa aba-aba, Starla menendang tulang keringnya hingga pekikan pun terdengar nyaring.
"Jangan ngomong seakan lo tau segalanya. Lo gak tau apa-apa!" Setelah mengucapkan kalimat itu Starla bergegas keluar kelas. Nyeri di kakinya tak berarti apapun jika dibandingkan dengan nyeri hatinya.
"Keterlaluan lo, Bar!" geram Agatha sebelum berlari menyusul Starla diikuti Nara.
Rooftop adalah tujuannya. Tempat paling tepat saat membutuhkan ketenangan. Sebab, tak akan ada orang lain yang datang ke sini. Kecuali jika orang itu penyendiri atau butuh ketenangan.
Ia melipat kedua tangannya di atas pembatas besi. Memandang langit sambil menikmati embusan angin yang menerpa. Perkataan Akbar terus terngiang di kepalanya. Membuat ruang di dadanya penuh akan sesak.
Sepersekian detik kemudian, Starla menutup wajahnya dengan bahu yang bergetar hebat. Awalnya hanya isakan kecil, tapi lama-lama isakannya mengencang, dan berubah menjadi raungan ketika mengingat perkataan Akbar yang membuat kepingan-kepingan memori itu terus berdatangan.
Starla tak pernah mengerti. Bagaimana orang-orang bisa mengatakan hal yang buruk tanpa tahu kebenarannya, tanpa tahu seperti apa orang yang mereka hina. Ia terus berpikir, apa mereka harus mengalami hal serupa dulu baru paham?
"Dia ngomong gitu karena gak kenal kamu, kan, Ar?" Monolog Starla.
5 menit dia habiskan hanya untuk melamun dan menatap langit. Setelah merasa puas mengeluarkan emosi, Starla mengusap air matanya. Menghirup napas dalam-dalam dan mengembuskannya pelan.
Menangis bukan karena orang itu cengeng. Tapi karena dia tahu, menangis adalah cara mengeluarkan amarah dan emosi tanpa harus melukai orang lain.
Dengan mata yang masih sedikit memerah, Starla mengeluarkan ponselnya, membuka kamera. Ia mengangkat jari tengah dan telunjuknya, lalu tersenyum lebar di depan kamera. Saat bunyi 'cekrek' terdengar, ia buru-buru mengecek hasil fotonya.
"Untung gak keliatan abis nangis." Setelah memasukkan ponselnya ke dalam saku, Starla membalikkan badan.
"ANGKASA?!" pekik Starla menatap cowok yang tengah bersandar di sana dengan mata terbelalak. Ia berdehem gugup, "Sejak kapan lo di sini?"
Angkasa meliriknya sekilas. "Baru," jawabnya.
Starla mendesah lega. Untunglah cowok itu baru saja tiba. Starla tak bisa membayangkan kalau orang lain melihatnya menangis kencang seperti tadi.
"Yaudah, ya. Gue duluan. Selamat menikmati." Starla menepuk bahu Angkasa sekali, dan melangkahkan kaki meninggalkan rooftop.
"Konyol."
Angkasa menarik sudut bibirnya. Mungkin hanya Starla, orang yang setelah menangis masih sempat-sempatnya berfoto ria.
"Eh, biang singa! Ngapain lo ke sini? Kangen gue, ya?" ujar Alden narsis. Dia menyugar rambutnya ke belakang dengan gaya tengil, yang mengundang tatapan malas dari teman-temannya.
"Najis!" sungut Nara melotot galak pada Alden. Tatapannya beralih ke arah Azka yang sedang menyalin tugas Angkasa.
"Azka," panggil Nara. Cowok itu hanya menjawab 'apa' tanpa mengalihkan pandangannya dari buku.
"Starla--"
"Starla?" sambar Azka. Dia sudah meninggalkan kegiatannya dan menatap Nara penuh tanya. "Starla kenapa? Dia kambuh?" Azka langsung berdiri dari duduknya dengan wajah panik.
"Eh, engga! Gue cuma mau nanya, Starla tadi ke sini?" tanya Nara kikuk. Ia terlalu kaget pada respon Azka yang seperti itu.
"Engga." Azka menoleh ke arah teman-temannya, "Pas gue ke kantin, si Starla ke sini, gak?"
"Ngomongin gue, ya?" Starla tiba-tiba muncul di tengah-tengah Agatha dan Nara.
"Starla! Lo dari mana aja, sih?" omel Agatha.
"Toilet. Lagian, ngapain pake acara cari-carian segala? Gue gak bakal ilang kali. Tapi makasih loh perhatiannya."
"Gausah ge'er! Bu Ami ngamuk di kelas gara-gara lo." Nara diam-diam memberikan jempolnya pada Agatha.
"Oh, gitu. Cal! Temen gue suka sama lo, nih!" teriak Starla yang langsung ditarik Agatha keluar kelas.
"Oy! Jangan dipaksa, kakinya masih sakit itu!"
Setelah mendengar ucapan penuh penekanan dari Azka, Agatha langsung melepaskan cekalannya di tangan Starla. Ia baru sadar, ternyata Starla punya saudara kembar yang amat protektif padanya. Agatha jadi iba pada teman satunya itu.
"Acii-cieee! Hajar lah, Cal! Cepet ditembak sebelum diambil orang."
"Calvin otw sold out, bund!"
"Berisik lo pada!"
Ralat, Agatha tarik kembali ucapannya beberapa detik lalu. Ia tak jadi iba pada Starla. Gadis itu benar-benar membuatnya malu, terlebih lagi pada Calvin.
"Lo mah, La!"
"Semoga kapal Alden-Nara dan Calvin-Agatha cepet berlabuh."
"STARLA!"