Jam di tangannya menunjukkan pukul setengah lima sore saat Angkasa sudah duduk di atas motor-- bersiap pulang, sebelum kedatangan tiba-tiba dari orang yang saat ini merentangkan tangan di depan motornya membuat Angkasa mendengus jengkel.
"ANGKASA! GUE NEBENG, YA?!"
Di dunia ini ada ada tiga hal yang paling tak ia suka. Keramaian, kerepotan, kebisingan. Dan mulai saat ini, nama Starla Keina Fazwa akan masuk dalam daftarnya di urutan paling atas.
Angkasa sudah mengenal gadis itu cukup lama. Berisik, dramatis, dan merepotkan adalah penilaian mutlak yang Angkasa sematkan. Intinya, berurusan dengan Starla adalah suatu musibah. Dan sialnya, Angkasa tak pernah bisa menghindar.
"Gue nebeng, ya?" pinta Starla.
Dengan wajah dingin tanpa ekspresi, Angkasa menggerakkan kepala-- menginterupsi agar Starla segera menyingkir.
"Gak mau."
Starla menggeleng dan berjalan mendekat. Ia memegang bagian depan motor Angkasa erat. Takut kalau cowok itu melajukan motornya.
Bagi Starla, Angkasa adalah definisi cowok ganteng tak punya hati yang suka merayu perempuan dengan tampangnya. Meskipun Angkasa tak pernah menggombal seperti Alden, sih. Tapi tetap saja, cowok itu selalu dikelilingi perempuan di manapun dia berada.
Dasar kanebo playboy!
"Angkasa, anterin gue pulang, ya?" Starla tersenyum manis pada Angkasa, kontras dengan hatinya yang teramat dongkol ingin memaki.
"Minggir."
Wajah memelas yang Starla tampilkan sedemikian rupa tak bisa membuat hati Angkasa tergerak sedikit pun.
Tak ingin membuang waktu lebih lama lagi, Angkasa menutup kaca helmnya dan bersiap menancap gas.
"Sekarang gimana?" tantang Starla tersenyum puas dengan kunci motor yang ia gerakkan ke kanan dan kiri. Tak peduli pada Angkasa yang sudah menelisik tajam kedua matanya.
"Gue balikin. Tapi lo harus anterin gue pulang dulu. Lo tau, kan? Si Kai udah pulang dari tadi, orang rumah juga gak ada yang bisa jemput. Terus gue mau pesen ojek, tapi baterai gue habis. Mau naik angkot, eh, lupa! Uang jajan gue ternyata udah habis buat beli batagor. Terus ta--"
Angkasa segera membekap mulut Starla dengan tangannya. Tak mau mendengar lebih lanjut ocehan panjang lebar yang akan gadis itu layangkan. Benar-benar menusuk gendang telinga.
"Jadi, boleh?" tanya Starla setelah berhasil menyingkirkan tangan Angkasa dari mulutnya.
"Angkasa! Boleh, gak?"
"Hn."
Starla langsung berjingkrak girang. Di telinganya, jawaban berupa deheman singkat itu terdengar seperti kalimat 'Iya boleh, naik aja'. Lagipula, apapun jawaban Angkasa, Starla akan tetap memaksa ikut.
"Tunggu di sini, ok? Gue mau ke sana dulu." Menunjuk pohon yang menjulang tinggi di seberangnya. Dan tanpa menunggu balasan Starla langsung berlari pergi.
Sampai di depan pohon, Starla berjinjit, lalu melompat-lompat berusaha menggapai sepatu yang menggantung di dahan.
Starla selalu merasa kalau tingginya dan Azka itu tak jauh berbeda. Ia hanya 3 menit lebih muda dari Azka. Namun, sekarang Starla baru sadar sebesar apa perbedaan tinggi mereka.
Entah bagaimana juga sepatunya bisa tersangkut di sana. Yang Starla ingat, selepas menjemur kaus kakinya yang basah, ia menyimpan sepatunya di dalam loker. Setau Starla juga tak ada murid lain selain dirinya dan Angkasa yang masih berada di sekolah. Jadi, kira-kira siapa? Masa...
"Angkasa! Sini bentar, deh!" panggil
Starla seraya melambaikan tangannya. Starla mendecakkan lidah saat perkataannya diabaikan begitu saja.
"Angkasa! Ini darurat banget! Masa lo tega?!"
Gantian, kini Angkasa yang mendecakkan lidahnya. Meskipun begitu, ia tetap melangkahkan kaki ke arah Starla yang diam-diam tersenyum puas.
"Jangan buang-buang waktu!" desis Angkasa.
Starla mendelik. Lalu menoleh ke kanan dan kiri memastikan keadaan sekitar, sebelum kembali menatap Angkasa.
"Lo .. tau sejarah sekolahan kita, gak?"
Angkasa berdecak jengah.
"Ini yang dimaksud darurat?"
Starla memajukan wajahnya ke Angkasa, "Sekolah ini bukan bekas rumah sakit apalagi kuburan, kan?" bisiknya.
"Bodoh!" tukas Angkasa sambil mendorong kening Starla dengan telunjuknya.
Sekarang ia tahu, inilah alasan sahabatnya selalu khawatir berlebihan pada Starla. Karena gadis itu amat mudah dibohongi.
"Kalo masih ngomong hal gak berguna lagi gue duluan."
"Iya, iya! Makanya bantuin! Cepet selesai 'kan cepet pulang!" cetus Starla.
Gadis pecinta es krim itu menatap Angkasa yang sedang memungut batu dan melemparnya ke arah dahan tempat dimana sepatu Starla tersangkut.
"Gak bakal bisa, Angkasa. Kalau itu berhasil pasti udah gue lakuin dari tadi. Percaya, deh. Cara itu gak akan berhasil!" Starla memutar bola matanya saat Angkasa kembali mengambil batu dan berniat melemparnya.
"Gue bilang gak bakal bi--"
Pluk!
"--sa."
Starla membulatkan matanya dengan mulut menganga. Sepatunya benar-benar terjatuh karena lemparan barusan. Ia langsung menoleh, menatap Angkasa dan sepatunya bergantian.
"Bodoh!" ketus Angkasa sambil berjalan menjauh.
Namun, baru beberapa kali melangkahkan kaki, Angkasa berhenti begitu mendengar suara benda jatuh diikuti suara melengking dari belakangnya. Saat menoleh, ia langsung disuguhi pemandangan Starla yang jatuh terduduk di atas tanah dengan wajah menahan tangis. Hidung memerah, dan matanya berkaca-kaca.
Menghela napas sejenak. Angkasa akhirnya berbalik badan menghampiri Starla. Kalau bisa, ia ingin mengabaikan gadis itu dan segera pulang. Namun, hari sudah semakin sore dan Angkasa tak mau bertanggung jawab kalau terjadi sesuatu pada Starla karena ia meninggalkannya. Itu akan semakinmerepotkan untuknya.
Angkasa mengulurkan tangannya yang langsung disambut oleh Starla.
"Ayo! Gue baik-baik aja," ucap Starla meyakinkan. Kontras dengan wajahnya.
Starla tak memakai alas apapun di kakinya. Bukan hanya terkilir, tapi juga tergores pecahan kaca dengan luka yang cukup lebar.
Angkasa menjentikkan jarinya di dahi Starla. "Ceroboh!"
"Mending jangan ngomong deh kalo yang keluar cuma sari-sari boncabe!" gerutu Starla seraya mengusap dahinya dengan wajah sebal.
Sepersekian detik kemudian raut wajahnya berubah kaget.
Tanpa peringatan, Angkasa berlutut di depan Starla. Memegang pergelangan kaki Starla dan mengucurkan air di atas lukanya. Setelah sudah tak ada sisa tanah dan bercak darah, Angkasa membalutnya dengan sapu tangan untuk menghindari debu saat mereka berkendara nanti.
"Pulang langsung obatin." Angkasa mengangkat kepalanya, menatap Starla yang juga tengah menatapnya.
Pandangan mereka bertemu, dan Starla tak bisa untuk tak berdebar. Biasanya Angkasa selalu mengucapkan kalimat bernada ketus yang mengundang emosi. Tapi, hari ini cowok itu 'sedikit' berbeda. Kalau Starla tak cukup lama mengenal Angkasa, sudah pasti dia akan mengira kalau cowok itu adalah orang yang romantis dengan sejuta keramahan.
"Bisa jalan?"
Starla menggeleng, tapi tak lama kemudian ia mengangguk dengan sangat cepat-- gugup.
"Bisa, kok. Hahaha. Bisa banget!" Starla menepuk-nepuk bahu Angkasa sambil tertawa kikuk. "Cuma gini doang mah bukan apa-apa!"
"Yakin?"
Starla mengangguk mantap. "Iya, gapapa. Paling cama nyut-nyutan!"
lanjutnya dalam hati
Angkasa memutuskan untuk mendekati Starla. Gadis itu berjalan terlalu lama-- seperti siput. Dan Angkasa tak mau membuang-buang waktunya lebih banyak lagi.
"Bawa dasi, ga?" Starla mengerutkan keningnya.
"Dasi? Eum .. kayanya ada di tas gue. Se--"
"Sebelah mana?" potong Angkasa.
"Yang paling depan." Starla terus bertanya-tanya dalam hati. Mengapa dasi?
"Jangan ngok ke belakang," titah Angkasa sebelum berjalan melewati Starla dengan dasi di tangannya yang membuat tingkat kekepoan Starla semakin tinggi.
Tiba-tiba otaknya dipenuhi oleh rangkaian adegan dalam drama yang sering ia tonton. Starla langsung merapatkan matanya saat mendengar derap langkah yang semakin mendekat.
"Lo tidur?"
"Apa? Engga!" bantah Starla. Matanya sudah terbuka lebar bahkan nyaris melotot ketika Angkasa menyerahkan batang pohon setinggi pinggangnya, dengan dasi yang dililitkan di atasnya.
Mendapati Starla yang mengerutkan kening tak mengerti, Angkasa mempraktikkannya dengan memegang bagian yang terlilit dasi seperti memegang sebuah tongkat jalan.
"Nih." Angkasa menyerahkannya pada Starla yang menatapnya tak percaya.
Tak mempedulikan bagaimana gadis itu berekspresi, Angkasa segera berjalan ke motornya.
"Cepet naik."
"..."
"Mau ditinggal?"
"EH! JANGAN! Iya, nih! Gue naik." Starla buru-buru melangkahkan kakinya, dibantu tongkat buatan Angkasa.
Walaupun kesal karena dikecewakan oleh ekspetasinya sendiri, Starla juga patut mengucap syukur karena tongkat itu cukup membantunya berjalan. Ya .. meskipun ia masih berharap lebih, sih.
Realita memang tak seindah ekspetasi. Harapannya digendong ala-ala cerita dalam novel pun lenyap sudah.
Amat mustahil memang kalau seorang Angkasa yang stoick itu bisa bersikap romantis.