"Keren!"
Suara penuh kekaguman yang pertama kali terdengar itu adalah suara Alden, diikuti pekikan histeris dari para siswi yang membuat keadaan langsung berubah setelah tadi keheningan mendadak menyelimuti mereka.
"Wah, gila! Kembaran lo nyalinya emang patut diacungi jempol, Ka!" puji Dion.
Menatap sang kembaran yang masih berdiri di atas bangku dengan kertas bertuliskan 'Angkasa nikahi aku', Azka memijit pelipisnya sendiri. Ternyata, ini ya yang juga Starla rasakan setiap kali dirinya bertingkah konyol di depan umum? Benar-benar memalukan.
Sementara itu, sang pelaku tengah asik mengamati sekeliling dan berhenti pada sosok Angkasa yang menatapnya tajam. Kalau tatapan bisa membunuh, mungkin sekarang Starla sudah tergeletak tak berdaya.
Biarpun begitu, hari ini Starla benar-benar terhibur dengan raut wajah Angkasa. Terlihat sangar, tapi juga mempesona di saat yang bersamaan. Kalau saja cowok itu humoris atau paling tidak sedikit lebih hangat, bisa dipastikan Starla juga akan mendambakannya seperti para gadis di luar sana.
"Dari sekian banyaknya cewek yang nembak lo, baru kali ini doang cara nembaknya ajaib. Berani banget anjir!"
Dito tertawa renyah sembari melirik Angkasa yang sedang berdecak. Jujur saja, Dito berencana memotret ekspresi kesal sahabatnya yang sangat langka itu. Tapi ponselnya entah ada dimana sekarang. Bukan apa-apa, Angkasa memang sering kesal, tapi ini pertama kalinya dia berekspresi dengan terang-terangan, dan tentu saja harusnya Dito memotretnya untuk dijadikan kenang-kenangan.
"Starla bukan kaleng-kaleng!" seru Alden mengacungkan dua jempolnya ke depan.
Starla mengibaskan rambutnya ala iklan shampo lengkap dengan senyum bangganya. "Iya, dong!"
Angkasa menatap tak suka ke arah Starla. Baginya, gadis itu sangat mengganggu dan menyebalkan. Selalu berbuat semaunya tanpa pikir panjang. Dan sialnya, semua itu selalu berujung hal-hal merepotkan untuknya. Angkasa ingin menghindar. Tapi sekali lagi, perempuan dan kata merepotkan memang tak bisa dipisahkan, sulit. Dan akan menjadi mustahil saat menyangkut dengan Starla Keina Fazwa.
"Udah, bocil! Turun lo! Ntar kalo udah jatuh gue juga yang kena getahnya. Turun!" perintah Azka. Namun Starla mengabaikannya dan malah menatap Angkasa lekat.
"Angkasa, gue suka sama lo! Mau gak jadi pacar gue?"
Rasanya, detik itu juga keadaan di sekitar langsung membeku tanpa ada suara apapun.
"-Tapi boong! Lo kena prank! HAHAHA!"
Starla terbahak-bahak, dan para penonton membulatkan matanya dengan mulut menganga. Hari ini, sudah dua kali Starla membuat mereka kehabisan kata-kata saking takjubnya.
Tangannya mengepal. Angkasa berjalan menghampiri Starla yang masih terbahak di atas bangku.
Dengan mata berkilat marah, Angkasa meletakkan kedua tangannya di pinggang Starla membuat gadis itu menundukkan kepala. Tapi Angkasa tak memberinya kesempatan untuk bicara. Ia langsung mengangkat tubuh Starla dari atas bangku dan menariknya menjauhi area kantin.
"ANGKASA APAAN, SIH?!" protes Starla.
Seakan tuli, Angkasa terus berjalan tanpa mengindahkan segala makian di belakangnya. Saat ini Angkasa benar-benar kesal. Ia paling tak suka saat ada orang yang mempermainkannya atau menganggapnya sebagai lelucon. Dan Starla melakukan hal itu.
"Ih, lepasin! Angkasa! Lo mau bawa gue ke mana?!" ujar Starla sambil terus berontak meskipun percuma, karena tenaganya tak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan Angkasa.
"ANGKASAAAAA!" teriak Starla.
"Tch!" umpat Angkasa dengan kesal. Ia sedikit menoleh dan melirik ke arah Starla. "Perpus."
"Ngapain?"
"Hukum lo."
Starla melotot.
"GAK MAU! KAI TOLONGIN GUE HUAA!"
"ANGKASA MAU KRTD TOLONG!" teriak Starla histeris.
"KDRT!" Angkasa meralat.
"KAN KITA BELUM KAWIN!" kilah Starla.
Angkasa memutar bola matanya jengah. Benar kata orang, penyesalan memang datang terlambat. Dan Angkasa menyesal telah bersedia menjadi tutor Starla. Terlalu dramatis, berisik, dan suka bikin repot. Benar-benar membuat kepalanya pusing. Dan yang terpenting, hidup tentramnya juga jadi kacau balau hanya karena seorang gadis.
"Angkasa lepasin, gak?!"
"Gak."
"TOLONGG!"
Angkasa menarik Starla masuk ke dalam perpustakaan.
Tiba-tiba kepala Starla menyembul dari balik pintu hingga membuat siswi yang lewat memegang dadanya karena kaget.
"To--"
Angkasa lagi-lagi menarik Starla masuk. Tapi, belum ada dua detik, kepala Starla kembali menyembul membuat siswi yang baru menetralkan detak jantungnya itu kembali memegang dadanya.
"Long!"
Berdecak jengkel, Angkasa kini melepaskan cekalan tangannya pada Starla. Dia melipat kedua tangannya dengan aura dan tatapan mengintimidasi menatap Starla.
"Masuk atau ..."
Starla lantas mengacungkan jari tengahnya dan berteriak 'f**k off!' Kesal dengan ancaman Angkasa. Kemudian ia menonjok perut Angkasa sekuat tenaga.
Sayang sekali peristiwa tadi hanya terjadi di benak sang gadis berkuncir kuda. Kenyataannya, Starla memasang senyum patuh yang dipaksakan lalu menutup pintu perpustakaan dan berjalan masuk tanpa suara. Karena siapa sih yang berani protes kalau udah ditatap seperti itu? Gak bakal ada!
"Eh, tadi kalian lihat Starla, gak?" tanya Nara pada lima cowok di depannya.
Lima cowok itu terus-menerus saling melirik satu sama lain dan kembali melamun seperti sedang memikirkan sesuatu yang sangat berat. Setelah perlakuan Angkasa pada Starla yang menimbulkan teriakan dan pekikan di seisi kantin itu, tentu saja menjadi pertanyaan besar bagi mereka.
"Yang tadi beneran Angkasa? Angkasa yang itu? Yang temen kita itu?" oceh Alden dijawab dengan anggukan serempak.
Azka menopang dagunya.
"Mungkin gak, sih? Dia makan makanan kadaluarsa makanya jadi kek gitu?"
Alden, Calvin, Dito dan Dion menggelengkan kepalanya serempak.
"Gak mungkin."
"Lo lupa makanan di rumah si Angkasa baru-baru semua? Mana ada yang kadaluarsa!"
Mereka terdiam sejenak dan mengangguk dengan kompak menyetujui ucapan Dion.
"Woy! Kalian lihat Starla, gak?!" tanya Agatha kesal. Mereka itu tampangnya aja yang keren, tapi kelakuannya bikin jrenggg.
"Tadi kayaknya dibawa Angkasa ke perpus," jawab Calvin.
Agatha dan Nara saling berpandangan dan langsung ber-high five dengan wajah puas.
"Yes!!" sorak mereka kompak.
Agatha dan Nara, sedikit dari banyaknya orang yang memiliki hubungan baik dengan Starla. Singkatnya, mereka berdua adalah sahabat Starla sejak masa ospek.
"Ini rencana kalian, kan?" tanya Calvin yang dijawab anggukan dari keduanya.
Sebelum ke kantin tadi, Starla, Agatha, dan Nara memainkan Truth Or Dare. Saat botol yang diputar berhenti pada Starla, mereka berdua langsung merencanakan ini karena tahu kalau Starla pasti akan menjatuhkan pilihannya ke tantangan.
Selain untuk mengerjai Starla, mereka juga bermaksud membuat pandangan Starla terhadap sosok Angkasa akan berubah. Mereka hanya bosan mendengar keluhan Starla perihal Angkasa. Entah saat baru sampai di kelas, saat istirahat, jam kosong, bahkan saat pulang sekolah. Starla tak ada habisnya menggerutu tentang sikap Angkasa yang menurutnya sangat kejam dan galak itu.
"Nara! Ada kecoa di rambut lo!" pekik Alden.
Nara berjingkrak kaget dengan wajah ketakutan. "DIMANA?!"
"Dimana-mana hatiku senang," balas Alden sambil menyemburkan tawanya. Namun tiba-tiba dia memekik kencang.
"RASAIN! DASAR ALDEN SETAN!" Nara menarik jambul kebanggaan Alden dengan kekuatan penuh.
Sambil memegang kepala, Alden melotot ke arah teman-temannya yang bukannya menolong, malah pura-pura sibuk. Seperti Calvin yang menggeser random layar ponselnya, Azka yang mengajak bicara kursi kosong di sebelahnya, lalu Dito dan Dion yang mendadak saling merangkul dan tertawa bersama padahal biasanya mereka tak pernah akur.
"HEH b***k! BANTUIN GUE!" sembur Alden yang tak diindahkancowok-cowok itu.
"Nara!" panggil Azka dengan wajah sangar.
Alden langsung bernapas lega karena tahu masih ada temen waras di sekitarnya.
"Ini baru tem--"
"Bagus, Nar. Lanjutkan!" Azka memberikan dua jempolnya pada Nara sebentar, lalu berlari meninggalkan kantin dengan kecepatan kilat.
"AZKA s****n! MODAR AJA LO MODAR!"