Starla mendesah berat. Satu telapak tangannya menyangga dagu, sedangkan matanya melirik Angkasa yang sedang khusyuk membaca buku. Hari ini jam kosong, sebab para guru tengah rapat dari mulainya jam pertama sampai jam istirahat selesai.
Biasanya, saat ada momen jamkos seperti ini Starla akan konser di kelas bersama teman-temannya atau main benteng di lapangan sekolah. Tapi Angkasa menghalangi semua rencana itu dengan mengiriminya pesan untuk segera datang ke perpustakaan.
“Eum ... ngerjainnya lanjut nanti aja, ya? Lagian juga sebentar lagi jam istirahat.” Starla mengetukkan jarinya di atas meja saat Angkasa tak kunjung membuka suara.
“Kerjain sekarang,” balas Angkasa tanpa mempedulikan bagaimana gadis di depannya mengerucutkan bibir dengan tatapan yang err ... bagaimana Angkasa menyebutnya ya? Semacam tatapan anak kucing atau apalah itu sebutannya.
“Ah, pelit!” gerutu Starla. Beberapa detik setelahnya ia berbinar, sebab bel istirahat berbunyi nyaring seperti yang ia harapkan.
Starla segera merapihkan lembaran soal beserta alat tulisnya, sementara Angkasa meletakkan buku yang tadi ia baca ke dalam rak seperti semula.
“Babay, Angkasa. Gue duluan.”
Starla berdiri dan hendak melangkahkan kaki ketika tiba-tiba lengannya ditahan dari belakang oleh Angkasa.
“Kenapa?” tanya Starla.
Angkasa tak langsung menjawab, melainkan memalingkan wajahnya sambil berdehem kikuk. Ini pertama kalinya ia melihat pemandangan seperti itu, dan Angkasa bingung bagaimana cara mengatakannya pada Starla.
Setelah berdehem, akhirnya Angkasa mengeluarkan suara. “Rok lo,” katanya.
“Rok gue kenapa?” tanya Starla mengerutkan keningnya heran.
“Angkasa, heloww??? Rok gue kenapa? Sobek? Kotor? Atau ... jangan-jangan belum disletingin, lo ngintip, ya?!” tuduh Starla.
“Ck! Rok lo berdarah!” balas Angkasa kesal. Bisa-bisanya gadis itu menuduhnya yang engga-engga. Ngintip katanya? Emang dia cowok apaan!
Setelah terdiam sejenak, Starla buru-buru mengecek ponselnya dan membuka kalender. Dalam beberapa detik, matanya berkaca-kaca. Starla berjongkok dan menutup wajahnya dengan kedua tangan. Malu! Bisa-bisanya hal seperti ini terjadi dan disaksikan oleh orang lain. Mungkin akan biasa aja kalau yang melihatnya perempuan, tapi ini Angkasa. Apalagi kemarin cowok itu juga yang melihat tingkah memalukannya.
“Bodoh!” maki Angkasa.
“DIEM!” amuk Starla menatap Angkasa kesal.
Cowok itu hanya melirik sekilas dengan decakan malas. Baginya, Starla itu terlalu dramatis—suka melebih-lebihkan hal kecil yang sebenarnya tidak penting. Tak ubahnya seperti titik pusat dari segala hal-hal yang merepotkan.
Dan sekali lagi, Angkasa benci direpotkan.
“Huaaa! Terus ini gimana?” rengek Starla.
Menghela napas jengkel. Sebelum melangkahkan kakinya menjauh, Angkasa membuka jaket yang ia kenakan dan melemparnya ke arah Starla.
“Balikin besok!” titah Angkasa.
Starla terdiam sejenak. Setelah Angkasa hilang dari pandangannya, barulah ia berdiri dan mengikat jaket abu-abu itu ke pinggangnya.
“Dasar GGS. Ganteng-ganteng s***s!”
Alden misuh-misuh di tempat duduknya, membuat suasana kantin yang sudah ramai jadi bertambah ramai karenanya.
“Kenapa lo tolak makanannya anjir?! Kan bisa lo kasih ke gue! Masih terbayang-bayang banget wangi tuh kotak makan,” cerocos Alden dengan hidung kembang kempis. Ia masih ingat jelas bagaimana wanginya kotak makan yang tadi dibawa oleh salah seorang siswi kelas sepuluh. Tapi kalimat penolakan dari Angkasa memupuskan segala harapan Alden untuk mencicipi makanan itu.
“Kenapa lo tolak, sih? Setidaknya kasih ke gue kek!” protes Alden masih tak terima.
Angkasa hanya meliriknya malas dalam keheningan. Heran, kenapa juga ia harus repot-repot menerima sesuatu dari orang yang bahkan tak dikenalnya.
“Kalo lo suka kenapa gak lo aja yang ambil dah?” Calvin yang sedang mengunyah permen karet angkat bicara.
“Malu-malu t*i kebo emang ge!” hina Azka, diam-diam menyomot gorengan milik Dion yang sedang sibuk memainkan ponsel di sampingnya.
Enam cowok yang populer di sekolah itu tengah berkumpul di kantin—tepatnya di warung bi Entom yang letaknya paling pojok, untuk mengisi perut atau hanya sekedar nongkrong sampai jam istirahat selesai.
“Jaga image, lah! Siapa tau ada yang nyantol.” Alden menyugar rambutnya ke belakang dengan gaya tengil.
Dito mencibir pelan sambil memasang wajah jengkel. “Apa kabar sama cewek yang kemaren lu baperin? Tanggung jawab lu!” katanya.
“Gak gue apa-apain elah!” ujar Alden tak terima.
“Lu baperin, pea!” sungut Dito.
Alden mengedikan bahunya tak acuh seraya kembali mengupas kuaci di tangannya, “Siapa suruh dia baper? Lagian kemaren cuma gabut doang.”
“Gabutnya jelek,” beo Calvin.
“Emang gabutnya si Alden ada yang cakep? Engga, lah!” hardik Dion.
“Jangan keseringan gitu. Lo kan gak tau efek kedianya gimana. Kalo ternyata cewek yang lo mainin itu abis ngalamin hal-hal yang berat, atau korban broken home, lo mau apa?”
Suasana mendadak hening setelah Azka berujar dengan nada yang terbilang cukup sarkas. Bukan hal tabu lagi kalau cowok bermata sipit itu sedikit sensitif akan topik yang satu ini mengingat saudarinya sempat mengalami hal serupa.
Dalam hati Angkasa juga menyetujui ucapan Azka. Laki-laki seharusnya melindungi perempuan, bukan malah menyakitinya.
“Lah, sepi!” seru Azka setelah tiba-tiba menggebrak meja. “Santai aja kali. Gue cuma peringatin doang, selagi gak bawa-bawa si Starla mah gue santuy. Lagian ogah banget urusin hidup lo!” ketusnya.
“Yeuh, si anjir!” sewot Alden. Padahal ia sudah ketar-ketir di tempat takut Azka menghajarnya, ternyata dan untungnya itu hanya sekedar pikiran yang berlebihan. Mungkin banyak yang belum tau, Azka emang kelihatan kayak cowok yang friendly parah, tapi kalau dia udah marah ... jangan ditanya seremnya kayak apa.
“Nanti kalo udah tau gimana rasanya diterbangin sampe melayang terus dijatohin pas lagi bucin-bucinnya, baru tau rasa dah lo!” maki Dion sembari mengambil gorengan yang ia yakini jumlahnya berkurang dari sebelumnya. Cowok itu melirik tajam Azka yang pura-pura sibuk dengan segelas es tejus di tangannya.
“Gak bakal,” kekeh Alden.
“Kena azab baru nyaho maneh tah!” beo Calvin.
“Hati-hati wahai buaya.” Dito ikut menimpali.
“Harusnya doain yang baik-baik. Ini malah doain gue yang engga-engga! Kalian itu temen gue bukan, sih?!” sungut Alden.
“Bukan,” balas Angkasa cepat.
“HAHAHA MAMPUS!” ujar Azka, Calvin, Dito, dan Dion bersamaan menatap Alden yang sedang memegang dadanya seperti orang sakit hati.
Angkasa hanya menggelengkan kepalanya samar. Mendadak saja suara keributan terdengar nyaring. Angkasa menoleh ke asal suara, dimana kerumunan orang yang membentuk lingkaran seperti tengah menyoraki satu objek yang entah siapa.
Angkasa ingin mengabaikannya, tapi banyaknya pasang mata yang menatap ke arahnya membuat Angkasa mau tak mau sedikit terganggu.
Rasa penasarannya langsung terjawab saat sosok yang tadi dikerumuni kini naik ke atas bangku kantin dengan selembar kertas yang diangkat tinggi-tinggi. Mengerutkan keningnya heran, Angkasa tak tahu mengapa orang itu menatap ke arahnya. Tapi satu yang pasti, ia amat mengenali jaket itu.
Satu kalimat meluncur, diikuti pekikan histeris yang terdengar nyaring di seisi kantin. Kalimat--
“ANGKASA! GUE SUKA SAMA LO!”
--yang belum pernah diungkapkan secara terang-terangan oleh siapapun.