"Mending yang lain aja, Bun. Yang penting jangan Angkasa. Ya, ya, ya?" rengek Starla pada sang ibu yang tampak cuek dan tetap fokus dengan ritualnya, yakni menonton sinetron di salah satu channel tv favoritnya yang memutar kisah para wanita tersakiti. Saking seringnya, orang-orang di rumah ini sampai hafal semua backsound sinetron itu.
"Bunda ..."
"Gak bisa, Kei. Keputusan Bunda udah gak bisa diganggu gugat."
Starla cemberut. Ibunya yang berkata dengan mata tertuju ke tv itu amat membuatnya jengkel.
"Nanti pasti istrinya nampar dia terus minta cerai," gumam Starla setengah mencibir. Hana menatap sang putri tajam, lalu kembali menatap ke depan.
"Nah! Tampar aja! Lelaki kayak gitu gak usah dipertahanin! Bikin polusi hati aja bisanya!" teriak Hana saat tokoh wanita menampar pipi si laki-laki yang tengah bergandengan mesra dengan selingkuhannya di dalam mall.
"Tuhkan! Bener kataku ju- ADUH! Sakit, Bunda!"
Mengusap lengannya yang tadi dicubit oleh sang ibu, Starla mencebikkan bibir. "Daripada nontonin orang terdzolimi mulu mending juga nonton Spongebob."
"Daripada nyinyir mulu mending juga belajar," kata Hana menirukan ucapan Starla.
Gadis berpipi bulat itu berdiri dan diam sejenak memandang layar tv. Tinggal tunggu sampai--
"KU MENANGIS! MEMBAYANGKAN! BETAPA KEJAMNYA--"
"STARLA KEINA!" teriak Hana murka.
Sambil tertawa nyaring, Starla segera mengambil seribu langkah untuk kabur sebelum sang ibu melempar vas bunga ke arahnya. Bisa gawat kalau sampai kejadian.
Starla bersenandung riang sambil berlari-lari kecil menaiki anak tangga. Ia berhenti di depan pintu kamar bercat cokelat, mengetuknya dengan kencang dan berulang-ulang.
Cklek!
Azka membuka pintu dengan celana jeans selutut dan kaus oblong polos. Cowok itu memasang wajah jengkel menatap Starla.
"Kamar lo ada di sebelah sana kalo lo lupa."
Starla mengabaikannya dan mendorong tubuh tegap Azka yang menghalangi pintu kamar.
"Mau ngapain, sih?" kata Azka jengkel. Ia kira yang mengetuk pintu kamarnya adalah sang ibu. Tapi sebuah kesalahan besar mengira demikian.
Starla berjalan mengitari kamar. Melihat kaca di depannya, ia langsung tersenyum seraya mengacungkan jari tengah dan telunjuknya di depan pipi, membuat cowok di belakang sana menjulurkan lidah dengan gaya ingin muntah.
"Dasar narsis!" cibir Azka. "Mau ngapain lo ke sini? AC kamar lo mati?"
Starla menggeleng cepat.
"Memastikan aja. Takutnya lo berbuat yang anu-anu kan jadi anu," ucapnya, melirik Azka yang hendak membuka suara. "Berantakin kasur." Starla melanjutkan.
"Udah sana! Balik ke habitat lo!" usir Azka sambil mendorong tubuh Starla keluar kamar, lalu buru-buru mengunci pintu.
"Dasar pelit!" teriak Starla.
"Emang!"
Jengkel, Starla berjalan ke kamarnya setelah menendang pintu kamar Azka dengan kencang. Niatnya bikin sang kembaran kesal, malah dia yang dibuat kesal.
Starla menjatuhkan dirinya di atas ranjang. Kamar yang didominasi warna pink-putih beserta dekorasi dan boneka lucu di beberapa sudutnya itu memang gak cocok untuk ukuran anak SMA. Tapi ia tak peduli, toh ini kamarnya.
Mengubah posisi menjadi duduk bersila, Starla membuka laptop, dan memutar drama Korea yang baru tayang beberapa hari lalu. Kata temannya, ini adalah salah satu drakor terbaik yang wajib ditonton.
Dua jam berlalu. Kamarnya yang semula bersih kini penuh dengan tisu yang berserakan. Starla menutup laptopnya dan berjalan ke arah kamar mandi. Menatap wajahnya di cermin, mengangkat jarinya membentuk huruf V seraya tersenyum sekilas.
"Sumpah! Muka lo mirip banget Ariana Grande!" pujinya sambil menunjuk cermin. Starla selalu berasa cakep banget kalau habis nangis terus ngaca, seperti mendapat cahaya ilahi.
Puas memandangi wajahnya, Starla berjalan menuruni anak tangga untuk mengisi perut, tak mempedulikan rambutnya yang awut-awutan, mata sembab, serta lengan baju yang robek.
"BUNDAAA ... KEI LAPAR. BUNDAAA ... topi ... saya. Kalau ... tidak, bundar. Bu-"
Ucapannya terhenti, Starla melotot. Mungkin kalau di film-film kartun mata Starla sudah keluar dari tempat dengan gaya dramatis. Ia tengah menggaruk ketiaknya yang tiba-tiba gatal, dan sialnya hal memalukan itu dilihat oleh orang lain- Angkasa, calon tutornya yang entah bagaimana bisa ada di sini.
"Kesian, mana masih muda."
Azka muncul dari arah dapur, membawa segelas air dingin dan beberapa camilan di tangannya. Ia menatap Starla prihatin, walaupun lebih didominasi oleh tatapan puas yang tak bisa ditutupi.
Starla masih membatu tak bisa berkata-kata. Setelah Azka menyentil keningnya pelan, barulah ia tersadar dari pikirannya. Starla menoleh pada sosok Angkasa yang mengusap hidungnya dengan sedikit menunduk. Tapi ia tahu, cowok itu pasti tengah menahan tawa.
"AAAAAA!"
Selepas kejadian memalukan tadi, Starla tak henti-hentinya mengalihkan pandangan setiap kali matanya beradu pandang dengan Angkasa tanpa ia kehendaki. Starla ingin kembali ke kamar walaupun perutnya harus menahan lapar lebih lama. Setidaknya, itu lebih baik ketimbang duduk berhadapan dengan Angkasa seperti sekarang. Tapi lagi-lagi ibunya membuat semua hal menjadi mustahil. Bukan hanya itu, kedatangan Angkasa yang tiba-tiba juga ternyata sudah direncanakan oleh sang ibu.
"Maklumin ya, Sa. Anak Tante yang satu ini tingkahnya emang begitu." Hana berujar sambil mencubit paha sang putri yang duduk di sampingnya.
"Ih! Sakit, Bunda!" sungut Starla.
"Sebelumnya, Tante mau bilang makasih Angkasa udah mau jadi tutor Starla," ujar Hana seraya tersenyum pada Angkasa yang mengangguk kecil.
"Lah? Tutor belajarnya si Angkasa?" tanya Azka bingung. Pasalnya, ia hanya tahu perihal Starla yang nyaris dikeluarkan dari sekolah dan tentang pertutoran. Tapi Azka sama sekali tak tahu menahu soal siapa yang menjadi tutor Starla.
"Kamu pikir siapa lagi yang bisa bantuin si Kei? Guru-guru aja nyerah ngajarinya."
"Ya ... iya, sih," ringis Azka, menggaruk tengkuknya.
"Emang Kei sebodoh itu apa!" Starla memberenggut kesal.
"Kei gak bodoh, cuma susah diatur aja," ucap sang Ibu memberi pengertian.
"Iya, iya! Jadi, belajarnya mulai kapan?" Starla menatap Angkasa bertanya. Bagus, malu saat bertatapan dengan Angkasa perlahan mulai menghilang. Starla jadi bangga pada dirinya sendiri.
"Secepatnya lebih baik. Besok kalian bisa, kan?"
Bukan Angkasa, tapi Hana yang menjawab pertanyaan itu. Kalau menunggu salah satu dari Starla dan Angkasa mengambil keputusan, dijamin sampai besok juga gak akan selesai. Hana tahu, karena dua remaja itu melakukannya atas paksaan dan keharusan.
"Kei mah tergantung Angkasanya. Kan, dia yang harus nyiapin materi," kata Starla menatap Angkasa. "Gimana?"
"Besok aja," putus Angkasa. Lebih cepat lebih baik, semakin cepat gadis itu paham, semakin cepat juga hal merepotkan ini akan selesai. Kalau bukan karena udah berteman lama sama Azka, dan udah mengenal keluarganya, Angkasa gak akan mau membuang waktunya hanya untuk hal merepotkan seperti ini.
"Kalo gitu saya pamit, Tante."
Angkasa menyalimi tangan Hana sopan, membuat ibu empat anak itu tersenyum hangat sambil menatap Angkasa kagum. Coba aja Angkasa jadi menantunya, pasti- mustahil. Mana mungkin dia jatuh cinta pada putrinya yang urakan itu.
"Hati-hati," pesan Hana.
"Loh? Mau kemana kamu?" Hana memandang sang putra yang bangkit dari duduknya dan menyambar jaket yang ada di sandaran sofa.
"Main dong, Bun. Boleh, kan?"
"Boleh, asal inget waktu."
Azka menganggukkan kepala paham. "Mau ikut gak lo?" tanyanya pada Starla yang tengah mencuri-curi pandang ke arah Angkasa. Selang beberapa detik, Starla menggelengkan kepalanya.
"Mbung, mending rebahan."
"Rebahan teross!" cibir Azka. Ia menyalimi tangan Hana seraya melangkahkan kakinya menyusul Angkasa membuat Starla dapat bernapas lega.
"Fyuhh ... akhirnya jantung gue terselamatkan."