Luna meninggalkan Kalan dan Tara berdua. Sesekali ia menoleh ke belakang memastikan apa yang sedang terjadi antara mereka. Luna bisa menangkap binar mata Tara serta senyumnya yang tulus pada Kalan. Dan begitu pula Kalan. Ada perih yang menjalar di hatinya melihat senyum Kalan itu. Luna bersedih untuknya dan juga untuk Kalan, cowok yang mampu tersenyum dengan tulus meski sudah diperlakukan dengan kejam oleh cewek di depannya.
Sudah hampir lima belas menit Luna menunggu dengan gelisah di teras kamarnya. Namun Tara belum juga muncul, jantungnya mulai berdegup gelisah. Ia memandang ponselnya dan teringat kalau Kalan belum menyimpan nomornya, kakinya bergerak cepat ke depan namun terlambat Kalan sudah tidak ada. Ia berpapasan dengan Tara dekat gerbang, dan Luna bisa menangkap sisa ekspresi tak percaya di wajah Tara.
"Mas Kalan udah pulang?"
"Barusan." Ada rasa kecewa yang besar di hati Luna. "Mas Kalan beda banget." Tara kembali buka suara dan menyadarkan Luna yang sempat tenggelam dalam kekecewaannya.
"Iya.." Luna dan Tara melangkah bersama kembali ke kamar.
"Aneh..." Tara menghentikan langkahnya dan memandang Luna tajam. "..aneh kan Lun?" ia bertanya untuk memastikan pendapatnya barusan.
"Menurutku sih wajar. Enam bulan di sana bisa mengubah pandangannya, salah satu ya penampilannya itu." Luna mencoba berpikir cepat mencari alasan yang sekiranya masuk akal untuk diterima logika.
"Bukan itu sih.." keduanya tiba di kamar Luna. Tara langsung duduk bersila di atas ranjang Luna sambil memeluk Ulil sedang Luna yang semangatnya sudah menurun drastis memilih duduk di atas karpet dan bersandar di tembok.
"Maksud gue apa mungkin Mas Kalan merubah penampilannya karena dia masih suka sama gue? Gimana menurut lo?" Tara berkata penuh percaya diri dan kata-kata itu cukup mengusik rasa percaya diri Luna sendiri. Mengingat betapa adore-nya Kalan pada Tara. Luna pun mulai menyadari satu hal bahwa bisa saja saat ini Tara akhirnya bisa membuka matanya lebar-lebar dan melihat keberadaan Kalan. Dan bagaimana kalau Tara...? Luna langsung menggeleng cepat berusaha menyingkirkan konsep 'bagaimana kalau'-nya.
"Terus kalau dia merubah penampilannya bukan buat gue trus kenapa tiba-tiba dia berubah?" Tanya Tara lagi, ia mengira aksi geleng Luna tadi adalah jawaban dari pertanyaannya sebelumnya.
"Orang bisa saja berubah karena dirinya sendiri, Ra. Bukan karena orang lain." Luna mencoba mencegah rasa percaya diri Tara untuk melambung lebih tinggi lagi.
"Masa sih?" cibir Tara. "Gue yakin dia pasti berubah karena gue." Tara tersenyum bangga. Ada rasa kesal yang muncul di hati Luna saat mendengar betapa jumawanya Tara saat ini. Tapi bisa jadi Tara benar. Bisa jadi Kalan berubah karena Tara tapi bukan berarti Kalan berubah untuk Tara. Itu berbeda. Luna mencoba menghibur dirinya.
"Kamu ngapain ke sini? Bukannya tadi bête banget dan pengen pulang?" Luna mencoba mengalihkan topik.
"Iya sih maunya pulang tapi tiba-tiba gue merasa kesepian dan nggak mau sendiri. Makanya gue balik ke sini. Gue minta maaf karena jutek sama lo tadi. Maafin gue ya Lun." Tara memasang tampak sedihnya. "Luna sahabat gue yang paling baiiiiiikkkk." Sambungnya lagi dengan wajah yang ditekuk-tekuk sok imut.
"Iya aku maafin, lagian aku nggak pernah marah sama kamu. Aku ngerti perasaan kamu. Tapi janji ya..bicara sama Mas Bintang. Masalah nggak akan selesai kalau kalian memegang gengsi masing-masing."
"Iyaaaaa Lunaaaaa. Aku udah WA Mas Bintang, kita ketemuan ntar malam di rumah gue."
Luna menarik napas lega.
***
Luna tak mengira rasa kecewanya pada Mas Kalan benar-benar mempengaruhi moodnya. Sejak Tara meninggalkan kosnya, Luna hanya berbaring di atas ranjang dan tak punya niat untuk turun meski malam mulai merambat. Kamarnya perlahan ditelan kegelapan karena ia enggan menyalakan lampu kamarnya. Namun matanya mendadak silau saat ponsel di dekatnya menyala. Ada sebuah pesan masuk.
From: xxxx
Luna, ini aku Kalan. Sori tadi siang aku nggak pamit sama kamu. Kamu pasti mengerti alasannya. Pertemuan dengan Tara di luar perkiraan dan suasana jadi serba canggung untukku. Dan setelah sampai di rumah aku nyesel nggak sempat nanya no tlpnmu. Karena itu dengan segala daya upaya hehehe...aku berhasil.
Luna langsung bangkit dan turun dari ranjangnya. Tangannya menjangkau saklar untuk menyalakan lampu. Rasanya ia masih belum percaya dengan tulisan yang ia baca di layar ponselnya dan masih butuh penerangan agar lebih jelas. Ia terus tersenyum dan ujung-ujungnya ia bersenandung kecil dengan gembira.Ia menarik Ulil dan memeluk boneka itu erat-erat sambil berjingkrak sendiri.
Setelah puas mengekspresikan rasa leganya yang tak terkira, Luna mengetikan balasan untuk Kalan. Setelah itu ia kembali tertawa kecil sendiri lalu menarik selimut dan menutupi tubuhnya. Sebuah balasan kembali masuk, dan terus dan terus hingga mereka sama-sama tidak tahu cara mengakhirinya.
Oke, lusa jam 5 ya. Aku jemput kamu. Sekarang kamu ngerjain tugas dl gih. Sori jadi ganggu waktu kamu.
Dan semangat yang sempat hilang tadi kini kembali muncul bahkan jauh melesat melebihi batas maksimal. Tugas Miss. Claire jadi terasa mudah, dan jemari Luna tak lelah menari di atas keyboard laptopnya. Tugas lima halaman itu pun hanya butuh waktu tidak lebih dari dua jam dengan kadar fokus otak di titik sempurna, seratus persen. Luna tersenyum puas, menguap beberapa kali, kemudian melangkah ke kamar mandi. Kalau bisa ia berharap hari besok tak perlu ada, seandainya bisa di-skip ia ingin bangun dan membuka mata tepat di lusa pagi. Luna mulai menyadari dirinya telah jatuh cinta, pada Kalan!
***
Ketika sedang jatuh cinta, hatimu pasti ingin selalu tahu dimana dia berada. Begitu pula yang terjadi pada Luna. Ketika ia tiba di kampus, di antara keramaian itu, mata dan hatinya terus mencari keberadaannya. Hal itu yang membuat ia tidak fokus dengan obrolan Tara dan Sheila.
"La, lo udah tahu kalau Mas Kalan udah balik?" Tara tiba-tiba membuka topik tentang Kalan. Luna menoleh cepat pada Sheila dan sahabatnya itu mengangguk dan sempat memberi tanda pada Luna dengan lirikannya. Semalam Luna sudah cerita semua yang terjadi kemarin pada Sheila lewat telepon.
"Kok kamu jadi peduli sama Mas Kalan? Bukannya waktu dia pergi dulu kamu malah ngamuk-ngamuk nerima surat dari dia." Kata Sheila cuek, meski ia tahu kata-katanya itu seperti tamparan halus bagi Tara.
"Gue juga ketemunya di depan kos Luna kok, jadi nggak sengaja juga." Balas Tara dengan nada ketus. Ia rupanya tersinggung dengan ucapan Sheila.
"Ya sudah kalau begitu berarti kamu udah nggak benci kan sama dia? Dia udah nggak ngejar kamu loh." Sheila masih mencoba menyindir Tara.
"Dia berubah. Dan gue bilang sama Luna, kalau dia berubah bisa jadi gue lah alasannya." Sheila menelan ludahnya mencoba menelan rasa kesalnya namun tangan Luna diam-diam menepuk paha Sheila, mengingatkan cewek itu untuk tidak terus menyindir Tara.
"Kenapa kamu masih mengira Mas Kalan masih suka sama kamu? Bisa jadi dia berubah karena orang lain? Kamu nggak sadar kalau kamu itu kejam banget sama dia? Buang suratnya ditempat sampah lah, ngatain dia jadul, mendengus waktu papasan sama dia. Kamu kira dengan semua sikap itu, dia masih adore sama kamu?" rupanya Sheila tidak bisa menyembunyikan rasa kesalnya. Tapi sebenarnya semua kata-kata Sheila tadi bisa Luna jawab dengan pasti bahwa, Ya Kalan masih menganggumi Tara meski Tara sudah melakukan hal-hal kejam itu. Luna teringat kata-kata dalam surat Kalan pada Tara waktu itu.
"Kok lo jadi marah sama gue sih? Kenapa sih kalau sudah menyangkut Kalan gue selalu yang jadi korban amukan lo. Emang ada hubungan apa lo sama Kalan?" Tara mulai emosi. Luna jadi serba salah berada di antara Tara dan Sheila yang sedang diliputi amarah saat ini.
"Hubungannya? Kamu mau tahu hubungannya?" suara Sheila ikut meninggi. Tubuh Luna menegang mendengar kata-kata Sheila. Ia takut sahabatnya itu keceplosan mengatakan hubungannya dengan Kalan. Ia tidak mau Tara tahu dengan cara seperti ini.
"Jangan berantem dong. Sheila udah lah." Luna coba membujuk. Suasana kantin cukup ramai dan Luna tidak mau pertengkaran ini jadi konsumsi umum.
"Apa? Apa?" tantang Tara.
"Karena aku dan Kalan sama-sama manusia. Itu hubungannya. Jadi kami tahu cara memperlakukan orang lain seperti manusia. Jangan merasa kamu itu dewi, malaikat, atau apalah...yang mengira semua orang aku menganggumi kamu." Sheila berkata sangat tajam dan menohok. Tara mengepalkan tangannya kencang dan matanya yang tajam memandang Sheila perlahan mengabur dan berakhir dengan tetesan air yang mengalir ke pipinya.
"Gue salah apa sih sama lo La? Kok kata-kata lo kejam banget sama gue." Tara tercekat. Luna mematung bingung tak tahu harus berada di pihak siapa. Namun melihat air mata Tara yang terus mengalir, Luna pun tahu apa yang harus ia lakukan. Ia mengelus punggung Tara pelan.
"Ra, udah dong jangan nangis." Bisik Luna. Sedang di depannya Sheila hanya terduduk diam tanpa melakukan apa-apa, matanya melihat ke satu arah tanpa berkedip dan napasnya sedikit memburu menahan emosi yang tadi kebablasan. Tara masih terisak pelan. Untung saja mereka menempati meja di pojok kantin yang tidak terlalu menarik banyak pasang mata. Luna mencoba berkomunikasi dengan Sheila dengan tatapan mata namun sahabatnya yang emosian itu masih membuang pandangannya ke satu titik, ia pasti sedang berusaha meredam amarahnya dan mengembalikan otaknya ke kondisi normal untuk berpikir. Sheila adalah sahabat yang bijaksana dalam standar persahabatan Luna. Ia biasanya paling pengertian bila dijadikan tempat curahan hati, pendengar yang baik dan advisor yang cukup bijaksana. Dalam hal ini Sheila sangat dipengaruhi oleh situasi Luna. Ia tahu sahabatnya itu sedang 'membela'nya di depan Tara. Tara yang pernah 'mengambil' Bintang dari Luna. Tara yang pernah 'membuang' Kalan dan sekarang Tara yang masih punya kepercayaan diri tinggi bahwa Kalan masih menyimpan rasa untuknya.
Melihat Tara yang bersedih saat ini karena kata-kata keras yang keluar dari Sheila membuat Luna ikut bersedih. Meski Tara terlihat jahat di mata mereka, namun bukan salah Tara kalau dia berpikir seperti itu. Kalau saja Tara tahu Luna punya rasa suka pada Bintang mungkin saja Tara tidak berniat mengejar Bintang. Kalau saja Tara tahu Luna berhubungan baik dengan Kalan dalam enam bulan terakhir ini mungkin saja Tara tidak akan terus memelihara kejumawaannya tentang Kalan. Ini bukan salah Tara. Dan sebaiknya Luna berkata sejujurnya pada Tara.
"Aku minta maaaf." Tiba-tiba Sheila bersuara. "Aku hanya..." Ia menghela napas mencari kata-kata yang tepat untuk menggambarkan perasaan yang sebenarnya pada Tara tanpa harus memicu pertengkaran lagi.
"Beberapa bulan terakhir ini gue ngerasa lo menjauh dari gue, La. Lo lebih dekat sama Luna. Apa karena gue udah punya pacar jadi lo ngerasa gue udah nggak care sama persahabatan kita?" Tara mengangkat wajahnya yang sembab memandang Sheila. Luna juga ikut memandang Sheila menunggu jawaban darinya.
"Bukan itu, Ra." Sheila menarik teh botolnya lebih dekat ke arahnya dan menyesapnya pelan. "Aku bingung gimana harus ngejelasin tapi ketika kamu sedang menginginkan sesuatu kamu jadi sangat egois. Kamu nggak peduli orang lain di sekelilingmu, termasuk sahabatmu."
Tara mengernyit tak mengerti. Kepalanya bergerak menoleh ke arah Luna kemudian kembali bergerak menghadap Sheila.
"Maksudnya? Kapan aku seperti itu?"
"Ketika kamu sangat menginginkan Bintang."
Jantung Luna berdebar saat Sheila menyebut nama Bintang.
"Ke..kenapa sama Bintang? Apa yang aku nggak tahu?" Tara terbata. Luna memandang Sheila dan memberi tanda padanya untuk tidak meneruskan kata-katanya.
"Kamu merengek terus pada Luna untuk ngenalin Bintang sama kamu. Ketika kalian jadian kamu hampir nggak pernah ngabisin waktu kamu sama kita tapi ketika kamu bermasalah sama Bintang kamu terus nangis dan berkeluh sama kita menuntut waktu dari kita berdua. Itu yang namanya egois." Sheila berkata tegas pada Tara meski Luna tahu bukan itu yang dimaksud Sheila sebenarnya. Luna menarik napas lega.
"OKe, aku minta maaf. Aku memang egois." Tara menunduk.
Kantin masih ramai dengan suara piring yang beradu, obrolan antar teman yang masih dalam kadar kesopanan hingga sampai pada aksi jerit-jerit ala hutan mirip Tarzan dan simpansenya. Hingga mata Luna tertumbuk pada seseorang yang sedang berjalan masuk ke kantin. Ia tidak sendiri, ada beberapa teman bersamanya. Hati Luna berdebar pelan melihat Kalan, yang sukses melepas image kemeja kotak-kotak kedodorannya dengan kemeja hijau army berukuran normal untuk tubuhnya, sedang menikmati dunianya. Mata Luna enggan lepas darinya. Kalan asyik tersenyum, tertawa, berceloteh dengan gembira. Luna tidak melepaskan pandangannya, dan sepertinya cowok itu merasa ada sepasang mata yang mengintainya sejak tadi. Ia mengangkat wajahnya dan kedua mata mereka bertemu. Mata Luna membulat kaget tetapi cowok itu memberikan senyum termanisnya, hanya beberapa detik sebelum ia kembali masuk dalam obrolan bersama teman-temannya. Luna membeku.
"Ke kelas yuk," Sheila menepuk tangan Luna dan cukup ampuh membangunkannya dari angannya yang sesaat tadi. Tara dengan cepat menyeka wajahnya dari bekas air mata dan berjalan mengiringi Sheila dan Luna. Ketika mereka melewati meja Kalan, sekali lagi cowok itu mengangkat wajahnya tersenyum ke arah mereka. Luna tahu senyum itu untuknya tapi ia tidak tahu kalau Tara yang berjalan di sebelahnya merasa bahwa senyum itu juga untuknya.
***
Luna duduk berhadap-hadapan dengan Sheila, tak ada suara, keduanya hanya saling memandang dan membiarkan mata mereka yang berkomunikasi. Luna tentu saja menyalahkan emosi Sheila saat di kantin tadi sedang Sheila menganggap bahwa Luna terlalu lemah pada Tara. Kamar Sheila yang besar dan lengang itu, karena kamar seluas empat kali lima meter itu hanya di isi sebuah ranjang ukuran single dengan sebuah lemari dua pintu dan satu TV berukuran 22 inchi, terasa kosong dan hening. Tak ada tumpukan boneka tipikal kamar cewek atau barisan poster idola di dinding kamar. Warna cat dindingnya pun putih membuat kamar Sheila terkesan simpel dan plain. Hanya ada satu poster ukuran close up yang menempel di salah satu pintu lemarinya, foto wajah Matthew Gray Gubler, pemeran Dr. Reed, idola Sheila dari serial Criminal Minds.
"Aku tahu! Aku nyesel sudah bersikap kasar kemarin." Sheila bicara setelah terus ditodong dengan tatapan tajam Luna.
"Aku memang berniat bicara pada Tara tentang Mas Kalan. Mengenai rasa sukaku pada Mas Bintang biarlah itu jadi rahasia kita aja karena sudah tidak penting lagi apalagi kalau nanti hubungan Tara dan Mas Bintang membaik. Tetapi nggak dengan Mas Kalan." Luna bertekad. Kali ini ia akan melepaskan semua konsep 'bagaimana kalau' yang melekat di dirinya sebelum menjadi sifat yang membantu kalau tidak segera disingkirkan. Luna tak mau kehilangan Kalan.
"Apa kamu mengira kali ini Tara akan mencoba membuka hatinya untuk Mas Kalan?" Tanya Sheila hati-hati.
"Aku nggak mau berpikir jelek tentang Tara, tapi dengan sedang renggangnya hubungannya dengan Mas Bintang saat ini, apapun bisa terjadi La." Luna berkata dengan nada setengah putus asa.
"Mas Kalan mungkin bodoh waktu jatuh cinta setengah mati sama Tara. Tapi itu dulu, sekarang ia berbeda bukan hanya penampilannya saja tapi tentu hatinya juga." Sheila membesarkan hati Luna.
"Jam berapa kamu janjian?"
Luna melirik jam tangannya.
"Jam 5. Kalau gitu aku pulang dulu ya.." Luna bangkit dan menyambar tasnya.
"Happy dating Luna." seru Sheila sambil melambai dan membuat Luna tersenyum hampir menabrak pintu karena berusaha menutupi wajahnya yang bersemu.
***
Berkali-kali Luna mematut dirinya di depan cermin, memastikan kalau ia cukup cantik sore ini. Meski hanya atasan kaus loose neck berprint dan jeans, tapi Luna sudah merasa sempurna. Tak lupa ia menghiasi rambut panjang sebahunya dengan bando pink oleh-oleh Sheila dari Surabaya. Masih sekitar sepuluh menit lagi menuju jam lima, Luna meraih remote dari atas meja dan menyalakan TV meski matanya lebih fokus pada ponselnya.
Dan tidak sampai lima menit kemudian ponselnya berbunyi, Luna cepat-cepa mematikan TV-nya, menyambar tasnya dan mengenakan flat shoesnya. Saat kakinya sudah melangkah keluar, ia tiba-tiba berhenti.
"Ngapain sih buru-buru," omelnya pada dirinya sendiri. Ia meraih tisu dari dalam tasnya dan menyeka keringat tipis di sekitar kening dan di atas bibirnya. Ia menarik napas panjang. Kalau kata majalah sih biasanya cowok tiba lima menit lebih cepat dari waktu janjian dengan asumsi si cewek akan membutuhkan waktu lima menit sebelum bertemu cowoknya.
"Pelan-pelan saja Luna," bisiknya lagi. Ia merapikan kembali bajunya, berdehem kecil dan melangkah anggun ke luar.
Kalan melambai dari atas motor matiknya. Saat Luna semakin dekat, ia turun dari motornya dan menyodorkan sebuah helm ke arah Luna. Bagi Luna naik motor tidak masalah asal tidak ketahuan Ibu. Ya, sejak kecelakaan yang dialami Luna dan Mas Andra beberapa tahun lalu, Luna memang selalu dilarang naik motor oleh Ibu walau sebenarnya rasa trauma itu sendiri sudah lama menghilang.
"Kamu nggak apa-apa naik motor kan?"
Luna menggeleng. Kalan tersenyum lega. Dalam hati Luna memuji sosok Kalan yang ada di depannya sekarang. Waktu enam bulan di Boston telah benar-benar merubah penampilan Mas Kalan. Tidak drastis sih, hanya saja semua bentuk 'kejadulan' yang disematkan Tara sudah tidak tampak lagi. Kalan memang hanya mengenakan t-shirt dan jean, yang membuat ia terlihat jauh lebih santai dan tampak muda sesuai usianya yang baru 21 tahun.
Ini pengalaman naik motornya setelah sekian lama ia tidak merasakannya lagi. Terakhir kali saat kelas tiga SMA, saat Luna diam-diam dibonceng Sheila ke festival band di SMA khusus cowok namun dengan catatan itu adalah pertama dan terakhir kali ia naik motor karena rasanya tidak baik bila melanggar aturan orang tua. Namun kali ini Luna membuat pengecualian. Setelah dipikir-pikir lagi, tak ada salahnya Luna kembali bersahabat dengan motor toh kalau ia berhati-hati tentu saja hal terburuk tidak akan terjadi.
Luna menepati janjinya pada Kalan untuk membawanya ke Arena Seafood. Keduanya asyik memilih ikan dan kepiting segar untuk menu mereka. Sambil menunggu hidangan mereka jadi, Luna dan Kalan mulai asyik ngobrol. Kalan menceritakan semua pengalamannya selama di Boston, sejak awal ia tiba hingga saat kepulangannya beberapa hari lalu. Tak lupa ia juga menceritakan tentang pasangan David dan Krystal yang banyak berjasa untuknya.
"Aku bersyukur bisa ke sana lewat jalur ini Lun, meski hanya enam bulan tapi pengalaman yang kudapat sangat hebat," Kalan berkata dengan serius, tipikal Kalan yang Luna kenal dulu. "Tapi aku nggak hanya sebatas masuk gratis di museum Boston loh, Lun. Aku sempat jalan-jalan ke Cape Cod trus ke D.C masuk ke Capitol Buildingnya bahkan sampai ke New York. Amazing. Nggak banyak yang aku cerita ke kamu lewat email." Kalan tertawa kecil, ada rasa bangga sekaligus malu yang tergambar jelas di wajahnya. Dan saat melihat wajah Kalan sedekat ini Luna pun bisa lebih dekat melihat mata cowok itu. Dalam dan teduh persis mata Josh Hartnett, aktor Hollywood yang dipuja setengan mati sama Mbak Sita. Setiap kali Luna main ke kamarnya, ia pasti di sambut poster Josh segede pintu.
"Lun," sapa Kalan saat ditinggal jeda beberapa lama karena tak ada yang bicara. "Kamu pasti heran kenapa aku berubah seperti ini?" Luna menjawabanya dengan sebuah anggukan kecil.
"Ketika kamu email aku atas nama Tara, aku mulai berpikir bahwa ternyata penampilan itu penting bahkan untuk seorang cowok. Oke aku akui aku terlau narrow minded, hanya mengira penampilan itu hanya penting untuk cewek. Ternyata setelah aku mau sedikit membuka pikiranku, membuat diriku sedikit lebih flesikbel, toh nggak ada ruginya untuk aku. Krystal terus mengatakannya itu padaku," Kalan tertawa kecil.
"Itu yang membuat aku juga kembali berpikir bahwa kalau aku mau membuka mata dan hatiku sedikit lebih lebar, aku pasti akan melihat jauh lebih jelas." Kalan terdiam dan matanya yang teduh itu justru sangat ironis saat ini karena tatapannya seperti mengalirkan hawa panas yang jauh lebih kuat ketimbang nyala lilin di atas meja mereka saat ini.
Luna menelan ludahnya dan dalam hati berharap kalau hidangan makan malam mereka segera tiba.
"Seperti sekarang," tubuh Luna membeku. "Kamu di depanku Lun. Sangat jelas." Kalan tersenyum lembut. Dan Luna masih belum mengerti apa arti semua kata-kata Kalan tadi. Langkah kaki mendekat dan Luna menghela napas lega saat melihat hidangan ikan laut dan kepiting dihidangkan di meja di hadapan mereka.
Ketika ikan dan kepiting jadi batas di antara mereka saat ini, mendadak Kalan tidak seserius tadi. Luna merasa suasana menjadi santai persis saat mereka syik memilih ikan dan kepiting dari akuarium tadi. Keduanya sibuk makan meski Luna tak bisa memungkiri hatinya yang terus bertanya apa maksud kata-kata Kalan tadi.
Meja yang berantakan dengan tulang ikan dan cangkang kepiting yang berserakan serta aroma bawang dan teman-temannya sama sekali bukan atmosfir yang romantis yang bisa membawa mereka kembali pada pembicaraan serius sebelumnya.