Matahari cukup ramah hari ini, ia tidak segarang biasanya. Luna berjalan lebih santai dan tak terburu-buru seperti biasanya berusaha menghindari panas mentari meski baru pukul 9 pagi. Ia tahu Mas Kalan sudah semakin jarang ke kampus karena memang ia sedang disibukan dengan skripsinya tapi bagi Luna melihat kampus dan berharap mendapati Kalan ada di satu sudut akan memberikan sensasi indah di hatinya.
Dan harapannya benar benar terwujud saat matanya menangkap sosok Kalan yang sedang berdiri dan berbincang akrab dengan Pak Radit di depan kantor bapak Kajur sekaligus dosen pembimbingnya itu. Luna melambatkan langkahnya dengan mata yang tak lepas dari sosok Kalan. Ketika Pak Radit kembali masuk ke ruangannya, Kalan pun berbalik siap pergi namun satu sosok menghadang langkahnya. Kaki Luna terpaku di tempatnya.
Tara mendekati Kalan dan mereka terlibat obrolan, tetapi dari penglihatan Luna mereka justru tidak mengobrol karena Tara lebih menguasai pembicaraan dibanding Kalan yang hanya menanggapinya dengan senyum dan anggukan. Pelan-pelan Luna berbalik dan memutuskan untuk tidak menjadi pengintai Tara dan Kalan. Sepuluh menit kemudian Tara masuk ke kelas dan melempar begitu saja tasnya ke atas meja dekat tempat duduk Luna.
"Dari mana?" Tanya Luna pendek, ia tak memandang Tara dan memilih lebih fokus pada buku yang ada di tangannya.
"Tadi ngobrol sebentar sama Mas Kalan,"
Luna menurunkan bukunya dan meletakkannya di atas meja, ia menggerakkan tubuhnya sedikit agar bisa berhadapan dengan Tara yang duduk di sebelahnya.
"Kamu sudah bicara dengan Mas Bintang?" Tanya Luna.
"Sudah," jawab Tara pendek. Luna belum mau mengalihkan pandangannya dari Tara dan sahabatnya itu paham kalau Luna sedang berharap mendengar informasi yang lebih dari itu. "Penjelasan Mas Bintang nggak ada bedanya seperti yang pernah lo bilang itu. Sama aja." Tara berkata dengan nada setengah enggan.
"Terus?"
"Ya sudah, karena dia bilang dia masih sayang sama gue dan janji mengenyahkan semua jejak Mitha dari hidupnya ya gue percaya." Tara masih terdengar malas-malasan. Luna tak menemukan keantusiasan yang sering Tara perlihatkan bila berkaitan dengan Bintang.
"Jadi kalian baik-baik saja. Syukurlah." Luna menggerakkan tubuhnya kembali ke posisi semula. Perasaannya jadi tak enak melihat Tara yang tidak bersemangat dengan usainya masalah antara dirinya dan Mas Bintang.
"Lun..." panggil Tara. Namun belum sempat ia melanjutkan kata-katanya, Bu Lani sudah masuk ke kelas dan segenap isi kelas langsung hening. Bu dosen yang usianya diawal empat puluh itu sepertinya punya energi yang berlebih untuk ia salurkan ke satu-satunya hobi yang ia punya, yaitu marah-marah. Gara-gara dosen satu ini mata kuliah Pengantar Lingusitik jadi mata kuliah yang tidak difavoritkan Luna dan Tara.
"Kumpulkan tugas kalian." Suara dingin Bu Lani membekukan siang yang mulai panas itu.
***
Tara berlari-lari kecil mengejar langkah-langkah panjang Luna dan langsung merangkul sahabatnya itu dan membuat Luna terlonjak kaget.
"Kamu dari mana?" Tanya Luna heran saat mendapati Tara masih di kampus padahal sejam yang lalu setelah kelas Pangantar Linguistik, Tara sudah pamit untuk pulang terlebih dahulu.
"Dari kampus Ekonomi, tadi ketemu Fandy dan ngobrol lama di kantin." Jelas Tara. Luna yang tadi cukup lega saat tahu Tara berpamitan untuk pulang lebih dulu saat ini mulai terserang dilema. Luna janjian dengan Kalan bertemu di depan kampus setelah Kalan kembali dari perpustakaan, karena itu setelah kuliah tadi Luna menghabiskan waktu di Spot Hall. Dan sekarang dengan adanya Tara di sini, apa yang harus Luna lakukan?
"Tumben Lun," seru Tara dan menghentikan langkah keduanya. "Lo kok pulang lewat depan, biasanya lo lewat gerbang samping."
"Iseng aja," jawab Luna tanpa berpikir.
"Oh ya Ra." Luna berbalik menghadap Tara. "Tadi sebelum kelas PL kamu sepertinya mau bilang sesuatu ke aku."
Tara tampak berpikir dan bergumam sendiri. "Iya ya? Mau ngomong apa ya?" Keningnya berkernyit. Namun bagi Luna ini sebuah tanda tanya besar, dan ia sempat berpikir lama dan menduga-duga saat sedang sendiri di Spot Hall tadi.
"Oh aku ingat," langkah mereka kembali terhenti. "Tentang Mas Kalan." Sambungnya lagi dan membuat Luna gugup. Ia melirik jam di pergelangan tangannya, sebelah tangannya menarik keluar ponselnya dan memastikan belum ada pesan yang masuk.
"Mas Kalan? Kenapa?"
"Hmmm...."
"Ada apa dengan dia," Luna semakin tak sabar. Tara menghela napas seperti enggan melanjutkan apa yang ingin ia katakana. "Tara..!"
"Mas Kalan berubah. Bukan hanya penampilan luarnya saja tapi..." bibir Tara mengerut. Lehernya bergerak ke sana kemari memantau sepanjang salasar. "Sheila nggak masuk ya hari ini?" Tara tiba-tiba mengalihkan topik dan membuat Luna geram.
"Tara! Bukannya kamu tahu Sheila emang ijin hari ini."
"Iya...gue hanya mastiin karena gue malas ngomong tentang Mas Kalan kalau ada Sheila, pasti kata-katanya nyebelin banget." Tara cemberut.
"Kembali ke Mas Kalan," lanjut Luna.
"Mas Kalan jadi dingin sama gue. Iya gue tahu..." katanya seolah paham arti tatapan tajam Luna padanya. "..gue tahu gue emang pantas digituin. Gue emang udah jahat ma dia." Ada rasa sesal yang terpanjar dari wajah cantik Tara.
"Gue senang dia berubah. Sebenarnya sejak dulu, sejak dia ngejar-ngejar gue," Tara menunduk dan membuat Luna semakin gelisah. "..gue pernah berharap dia tahu apa keinginan gue. Gue pengen dia nggak pake kemeja-kemeja katronya itu, gue pengen rambutnya nggak perlu klimis kayak bokap gue, gue pengen dia kayak cowok-cowok yang gue suka."
Luna terdiam dan tetap menanti informasi apa lagi yang akan ia dengar dari mulut Tara. Bagi Luna Tara seperti sedang mengibarkan bendera putih terhadap ketidaksukaannya pada Kalan.
"Seandainya dulu dia seperti sekarang, cowok itu akan jadi pacar yang sempurna buat gue." Tara tersenyum tipis dan ada semburat merah yang terbias di kedua belah pipinya tapi sebaliknya justru membuat Luna sedikit syok.
"Tapi kamu nggak suka puisi-puisinya."
Tara terdiam. Ia memandang Luna dan memberikan pandangan 'lo harusnya tahu kenapa'. Luna mundur dan tangannya mencari-cari tempat untuk mengistirahatkan kakinya yang tiba-tiba terasa lunglai. Ia duduk di bangku panjang yang diletakkan di depan lab bahasa. Tara mengikutinya dan duduk di sebelahnya.
Luna melirik Tara dan ia mengerti bahwa intinya adalah si cantik Tara tidak suka dengan cowok berpenampilan katro di matanya meski ia terpesona pada pribadi cowok tersebut. Jadi Tara diam-diam mengagumi Mas Kalan namun merasa bahwa cowok itu tidak kompatibel untuknya. Kalan is out of her league. Kalan bukan termasuk kelasnya.
"Kamu serius Ra? Kamu pernah..." Luna tak bisa melanjutkan kata-katanya.
"Iya, gue pernah punya rasa itu tapi gue berkali-kali mikir apa kata dunia kalau gue jalan sama Mas Kalan."
Kepala Luna mendadak pening.
"Tapi kamu punya Mas Bintang," Luna berkata pelan.
"Tenang aja gue nggak akan ngejar Mas Kalan. Hanya saja gue penasaran cewek kayak apa yang bakalan dapetin Mas Kalan." Kata Tara dengan mata menerawang dan salah satu ujung bibirnya membentuk senyum yang bisa dibaca Luna sebagai senyum jumawa, Tara pasti mengira Kalan tidak akan mendapatkan cewek yang lebih cantik darinya. Jantung Luna berdegup tak karuan. Apa nanti jadinya saat Tara tahu kalau cewek yang sekarang dekat dengan Kalan adalah Luna. Seharusnya Tara bisa menerima dengan lapang d**a. Luna mulai mencoba menghibur dirinya bahwa hubungannya dengan Mas Kalan bukan jadi hal besar lagi untuk dijelaskan pada Tara. Seharusnya Luna lega mendengar semua ini dari Tara tapi entah kenapa perasaan Luna malah sebaliknya, ia merasa terbebani. Mungkin saja terbebani karena Luna dan Tara bersahabat.
Ponsel di tangan Luna bergetar, diam-diam Luna membaca pesan Mas Kalan di sana. Otak Luna berpikir cepat untuk mengusir Tara sebelum Mas Kalan tiba.
"Kamu belum mau pulang juga?"
"Bentar lagi. Kalau mau barengan ayuk gue antar," tawar Tara yang langsung disambut gelengan kepala Luna. Tara mengernyit dan memandang Luna lurus-lurus.
"Lo kayaknya lagi sembunyiin sesuatu dari gue. Lo nggak lagi pacaran diam-diam kan?" Wajah Luna seketika memanas mendengar tuduhan Tara yang sangat jitu, benar adanya.
"Apaan sih?" Luna bergumamm sendiri dan disambut tawa Tara.
"Ya deh...gue pulang. Hmmm...kayaknya bener deh ada sesuatu yang lo sembunyiin tapi ya udah gue kasih lo privacy tapi kalau sudah saatnya lo harus cerita ke gue, oke sob!" Tara menyikut Luna yang masih belum berani memandang Tara.
"Bye..." Tara melambai dan mengedip centil ke arah Luna yang hanya bisa memberikan senyum kaku ke arah Tara. Setelah bayangan Tara lenyap Luna menarik napas lega namun perasaannya tak sepenuhnya plong. Sitruasi ini benar-benar menguras energinya, Luna mengeluh. Dia bangkit dan berjalan pelan ke depan.
Sepanjang Luna duduk di boncengan motor Kalan perasaan campur aduk mulai ia rasakan. Ia senang berada di posisinya sekarang ini, berada sangat dekat dengan Mas Kalan, menghirup aroma tubuhnya yang lembut namun tidak berkesan feminin melainkan sangat gallant, entah Mas Kalan memakai parfum apa tapi penciuman Luna mulai terbiasa dengan aroma ini. Sesekali wangi yang tersapu angin itu tertangkap penciumannya dan membuat hatinya berdesir. Namun kadang perasaan itu berganti seperti perasaan berkhianat, entahlah namun Luna yang polos itu merasa ia telah mengkhianati Tara, sahabatnya, dengan tidak mengatakan padanya bahwa dialah cewek yang sedang dekat dengan Kalan sekarang ini. Tapi suara lain di sudut hati Luna berseru bahwa Luna tidak melakukan kesalahan apapun, dan bukan sebuah kewajiban untuk mengatakan hubungannya dengan Mas Kalan pada Tara.
Motor Mas Kalan berhenti di sebuah bangunan seperti rumah tinggal dengan halaman cukup luas. Tapi Luna yakin dengan melihat beberapa orang hilir mudik masuk dan keluar dari bangunan mungil itu bahwa itu bukan rumah tinggal. Kalan tiba-tiba meraih tangan Luna dan menggandengnya, cewek itu cukup terkejut namun senyum tercipta diam-diam di bibirnya. Kalan menyapa seorang laki-laki yang berdiri di belakang semacam meja konter.
"Kalan!" laki-laki itu berseru dengan senyum lebar menghiasi wajahnya. Ia keluar dari balik meja dan menyalami Kalan serta setengah merangkulnya.
"Kapan pulang?" Tanya laki-laki itu. Dan untuk beberapa menit kemudian keduanya berbincang dan meninggalkan Luna dengan mata yang terus memindai semua yang ada di ruangan itu. Tangan kanan Luna masih dalam genggaman erat Kalan, dan bagi Luna itu sudah cukup baginya untuk merasa terlibat dalam obrolan mereka. Ia tidak merasa diacuhkan.
Ruangan depan itu cukup kecil selain meja konter yang dihuni teman Kalan, ada sebuah lemari kaca tinggi berisi buku-buku besar dan tebal semacam ensiklopedia. Ada beberapa novel berbahasa Inggris dan kalau tidak salah sih ada yang berbahasa Perancis. Ada pintu dekat meja konter dan sejauh yang bisa ditangkap Luna di dalam sana ada barisan meja dan kursi seperti di perpustakaan, dan dikelilingi rak-rak buku besar. Tidak salah lagi semacam perpustakaan.
"Oh ya kenalin Mas, ini Luna," Kalan memperkenalkan Luna dengan lelaki itu.
"Adam." Ia menyambut uluran tangan Luna.
"Mas Adam ini yang punya tempat ini. Kita masuk aja nanti biar kamu tahu ini tempat apa." jelas Kalan, sedang di depannya Mas Adam tersenyum penuh arti ke arah Luna dan Kalan.
Dan benar seperti yang sudah diduga Luna, tempat ini semacam perpustakaan namun atmosfernya jauh lebih santai karena di halaman belakang ada semacam open café dimana ada rak-rak buku kecil yang membatasi meja-mejanya. Luna terperangah senang.
Kalan membawanya ke halaman belakang dan mereka duduk di meja pojok. Luna terlihat antusias saat melihat rak kecil di sampingnya dipenuhi buku-buku klasik favoritnya. Koleksi Enid Blyton. Dari Lima Sekawan hingga kisah Darrel Rivers di sekolah khusus cewek The Malory Towers. Luna sudah sulit menemukan koleksi lengkap novel-novel ini.
"Nemu harta karun?" Kalan tersenyum.
"Rasanya seperti itu." Luna asyik meneliti setiap buku-buku yang sudah mulai terlihat kuno itu tapi masih terpelihara baik. "Aku pernah cerita sama Mas Kalan ya?"
"Kamu lupa?"
Luna terkekeh kecil.
"Kamu bilang pengen jadi novelis seperti Enid."
"Oh ya?" Luna tersenyum malu.
Tak lama kemudian seseorang mendekati mereka, seorang pelayan yang membawa dua cangkir macchiato ke hadapan Luna dan Kalan. Setelah pelayan itu pergi Luna memandang Kalan penuh arti.
"Aku nggak lupa," jawabnya seakan tahu arti tatapan Luna. "Mas Adam pintar banget meramu kopi-kopian gitu." Tambah Kalan. Luna masih memandang cangkir berisis macchiato-nya.
"Kapan Mas Kalan pesan?" Luna mengangkat kepalanya.
"Saat kamu sedang asyik melihat buku-buku Enid."
Setelah kejutan machiatto, Kalan kembali membuat Luna tidak bisa berkomentar saat cheese cake blueberry terhidang di mejanya. Luna kembali tertawa tapi tentu saja penuh arti.
Setelah machiatto tinggal seperempat cangkir, saat cheese cake bluberry masih tertinggal setengah, saat Luna asyik meneliti dan membaca setiap koleksi klasik Enid Blyton, Kalan tiba-tiba mengubah suasana menjadi lebih serius.
"Luna," panggilnya. Luna melirik Kalan di antara novel yang sedang ia baca di tangannya. Melihat tatapan serius Kalan, Luna meletakan novel ke atas meja.
"Mungkin baru sebatas ini aku mengenal kamu. Membawa kamu ke tempat di mana semua yang kamu suka ada. Selama enam bulan ini kamu sudah membuat aku jadi cowok yang berbeda." Kalan terdiam. Luna menunggu dengan tegang. Keheningan di antara mereka terisi dengan canda dan tawa dari meja di belakang mereka, alunan saxofon Kenny G yang mengisi ruang terbuka ini, serta tentu saja detak jantung Kalan dan Luna yang berlomba.
"Aku suka kamu Luna." Wajah Kalan terlihat tegang dan bibirnya sedikit bergetar saat mengucapkan kata-kata tadi.
"Aku sudah pernah ditolak. Berkali-kali dari orang yang sama." Kalan tersenyum. Ia mencoba mencairkan suasana namun Luna tidak melihat usahanya mendapatkan simpati dengan kata-katanya itu.
"Apapun perasaanmu sama aku, aku akan terima Lun. Meskipun jawaban yang sangat tidak kuharapkan. Ingat, kita akan tetap berteman. Aku nggak mau kehilangan kamu sebagai teman kalau kamu nggak punya..." bicara Kalan semakin melebar kemana-mana. Luna tahu ia sangat gugup.
"Aku juga suka Mas Kalan." Potong Luna cepat sebelum membuat cowok di depannya semakin salah tingkah dan bicaranya semakin tidak fokus. Cewek itu berusaha menyembunyikan senyum malu-malunya.
"Kamu juga punya perasaan yang sama? Ah..." Kalan menarik napas lega.
Luna mengangguk pelan. Keduanya saling memandang dan berakhir dengan tertawa malu. Kecanggungan sejenak tercipta namun tidak lama kemudian keduanya mulai bisa menguasai perasaan mereka.
***
Luna menolak ajakan Tara untuk jalan-jalan bertiga sore ini. Sheila tentu saja tahu alasan penolakan Luna, karena sejak ditembak Kalan sore itu Luna langsung menelepon Sheila dan menceritakan semuanya termasuk kejutan kecil yang dibawa Tara sebelumnya.
Kalan dan Luna punya kencan nonton Cloud Atlas dan ini kencan mereka setelah sama-sama tahu perasaan masing-masing, singkatnya ini kencan resmi pertama mereka sebagai pasangan kekasih. Luna tertawa sendiri saat menyebut Kalan sebagai pacarnya. Ia tidak menyangka sekitar tujuh bulan lalu ia menyapa Kalan sebagai orang yang ia kenal, tak lebih, tak istimewa, bahkan lebih buruk dari itu ia menyapa Kalan karena ia adalah cowok yang dibenci sahabatnya. Ia dekat dengan cowok itu karena rasa iba, berempati padanya karena mereka punya pengalaman yang hampir sama. Dan sekarang, ia ada di sini, di depan cermin sedang berdandan untuk cowok itu.
Kalan berdiri di dekat gerbang di samping motornya dengan senyum andalannya. Jaket varsity hitam bertuliskan True Religion di bagian d**a kirinya yang membalut kaus putih di dalamnya membuat Luna tak bisa berhenti menatap cowoknya itu.
Kalan menggandeng tangan Luna erat sejak mereka memasuki Mal menuju studio 21. Setelah mendapatkan tiket dengan posisi tempat duduk favorit Luna, yaitu di bagian tengah di barisan paling belakang keduanya memutuskan untuk mengisi perut dulu di AW.
"Luna," Seseorang berdiri tepat di depan Luna dan Kalan dan menghentikan langkah mereka. Kelopak mata Luna melebar saat melihat Bintang dan Putra di depannya entah apa yang ada di otak Luna, tiba-tiba saja ia menarik tangannya dari genggaman Kalan.
"Mas Bintang," seru Luna. Kalan mengangguk samar dan mengerti kenapa Luna melepaskan tangannya tadi.
"Apa kabar?" sapa Bintang pada Luna yang terlihat sedikit gugup. Beberapa kali mata Bintang berpindah pada Kalan.
"Baik..Mas Bintang nggak sama Tara?" dalam hati Luna memaki dirinya sendiri karena tiba-tiba menyebut nama Tara.
"Nggak. Uhm..." Sekali lagi Bintang melirik Kalan.
"Oh...iya...kenalin Mas...ini Mas Kalan," Luna mencoba tersenyum dengan santai meski sebenarnya ada gemuruh dalam dadanya. Entah kenapa ia begitu gugup saat ini, entah kenapa ia jadi gelisah di depan Bintang padahal ada Kalan di sisinya, seharusnya ia berdiri dengan penuh percaya diri mengenalkan Kalan pada Bintang.
"Kalan." Bintang menyambut uluran tangan Kalan.
"Oke kalau gitu, sampai ketemu ya Lun. Oke Lan," Bintang tersenyum kecil pada Kalan sebelum ia melangkah. Luna dan Kalan pun kembali melangkah namun dalam situasi yang canggung. Kalan menyelipkan kedua tangannya ke dalam kantung jaketnya sedang di sebelahnya Luna terus menunduk. Terbersit rasa bersalah yang besar di hati Luna karena telah memperlakukan Kalan seperti tadi, melepaskan genggaman tangannya ketika Bintang di depannya.
Kecanggungan masih terus melingkupi mereka saat mereka sudah duduk bersisian di AW.
"Dia Bintang?" Kalan membuka suara. Luna mengangguk.
"Kamu masih menyukainya?" Tanya Kalan lagi dan langsung dijawab dengan gelengan kepala Luna.
"Aku minta maaf Mas, tadi hanya...aku nggak tahu kenapa aku seperti itu tadi. Tapi beneran aku udah nggak punya rasa sama Mas Bintang. Aku minta maaf." Luna berkata dengan posisi kepala tetap menunduk.
"Kamu malu jalan sama aku?"
"Ya Tuhan!" Luna mengangkat wajahnya dengan ekspresi sedih tak tergambarkan. "Nggak benar Mas. Aku nggak malu jalan sama Mas Kalan tadi itu hanya...aku juga nggak tahu kenapa aku bersikap sebodoh itu tadi." Air mata Luna menggenang. Tangan Kalan cepat-cepat meraih tangannya.
"Maaf. Aku hanya cemburu Lun. Aku minta maaf, aku ngerti. Kamu nggak perlu jelasin apa-apa." Kalan tersenyum penuh pengertian, tangannya meraih wajah Luna mencoba menyeka matanya yang agak basah.
"Maafkan aku ya? Jangan rusak sore ini Oke?" Luna mengangguk.