Luna masih betah di tempat tidur meski suara Adam Levine dari kamar Mbak Sita menembus mulus ke kamarnya yang masih tertutup rapat. Ia melirik jam di atas meja dan dengan sekali gerak ia sudah bangkit duduk di atas ranjangnya. Cewek itu menguap berkali-kali, mengucek matanya yang masih perih, dan dengan sempoyongan turun dari ranjangnya.
Setelah menghabiskan waktu hampir sepuluh menit di kamar mandi, Luna kembali ke ranjangnya dan merebahkan lagi tubuhnya. Baru beberapa menit ia kembali jatuh tertidur namun ia segera kembali membuka kelopak matanya saat ada gedoran di pintu kamarnya.
"Luna? Lo di dalam?"
Itu suara Tara. Butuh waktu beberapa detik bagi Luna untuk kembali mengumpulkan semua nyawanya lalu berjalan ke pintu.
Tara langsung menghambur masuk saat Luna baru saja membuka pintunya beberapa senti, cewek itu agak terjengkang ke belakang saat Tara berlalu di depannya.
"Lo ya...lo..." Tara mengacungkan jarinya di depan Luna. "Lo pengkhianat!" sambungnya lagi. Luna yang masih belum pulih kesadarannya butuh waktu beberapa detik untuk mencerna kata-kata Tara.
"Lo...dan Mas Kalan?" jerit Tara tertahan. Keningnya berlipat tanda bahwa ia masih tidak percaya dengan apa yang baru dikatakannya.
"Aku...ada apa sih Ra?" Luna mulai sadar apa yang terjadi. Ya, Tara tahu hubungannya dengan Kalan dan entah dari siapa tapi kalau memang Tara sudah ada di sini sekarang maka memang sudah saatnya Luna berterus terang.
"Jangan bohong lo ya. Lo dan Mas Kalan? Gue..gue..." Tara menyeka keningnya berkali-kali artinya dia masih belum percaya dengan apa yang sudah diketahuinya.
"Iya Ra, apapun yang kamu dengar tentang aku dan Mas Kalan punya hubungan. Itu semua..."
"Harusnya gue dengar dari lo sendiri!" potong Tara marah.
"Aku tahu. Aku minta maaf. Kamu tahu nggak? Butuh waktu lama buat aku mikir tentang hal ini. Untuk jujur sama kamu mengenai Mas Kalan..aku.."
"Dan gue tahu dari Mas Bintang!" jerit Tara. Matanya masih memandang marah ke arah Luna. "Dan semalaman Mas Bintang terus ngomongin lo. Luna beginilah. Luna begitulah. Seakan-akan dia cemburu sama hubungan lo."
Luna duduk di atas ranjangnya dengan perasaan bercampur aduk. Bingung, marah dan bersalah.
"Lo dan Mas Bintang..." Tara menelan ludahnya."jangan bilang kalian pernah punya hubungan." Tatapan menuduh Tara tak lepas menghujam Luna yang hanya bisa menunduk.
"Tara...plisss.." Luna berkata setengah berbisik.
"Jawab gue. Jujur sama gue!"
Luna menarik napas berat, beberapa detik berpikir, dan kalimat yang berat sekali ia ucapkan dan sudah lama ia tahan itu akhirnya terucap.
"Aku dulu suka sama Mas Bintang."
"Gue nggak percaya." Tara menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
"Dengerin aku dulu Tara."
"Gue nggak mau dengar. Selama ini lo terus bohong sama gue."
"Aku nggak pernah bohong sama kamu. Aku suka Mas Bintang tapi dia suka sama kamu dan kamu juga suka dia."
"Kenapa lo nggak pernah bilang tentang perasaan lo itu. Kita sahabat kan?"
"Karena kamu nggak pernah nanya. Dan karena itu nggak penting. Karena kalian saling suka jadi buat apa orang tahu perasaanku."
"Selama ini lo pasti pernah benci gue..."
"Cukup Tara! Demi Tuhan aku nggak pernah benci kamu." Semua emosi Luna terbias di wajahnya yang mulai memanas. "Karena aku mengerti! Saat kamu jatuh cinta pada Mas Bintang ada perasaan lain yang terluka, jauh lebih terluka dari aku. Aku coba buat dia paham bahwa cinta nggak bisa dipaksain."
"Maksud lo Mas Kalan?"
Luna terdiam.
"Jadi lo manfaatin gue untuk dekat sama Mas Kalan?"
"Tara plis, jangan picik kayak gitu. Aku tahu kamu nggak seperti itu."
"Nggak tahu Lun, bagi gue sekarang lo bukan Luna yang dulu. Luna sahabat gue." Air mata Tara mengalir turun.
"Aku jatuh cinta sama Mas Kalan. Aku jatuh cinta sama dia saat dia masih menyimpan cinta sama kamu." Luna menyeka mata dan hidungnya. "Dan sekarang dia juga cinta sama aku. Aku bahagia Ra. Aku sering ngomong sama diri sendiri ooh..begini ya rasanya cinta yang terbalas." Suara Luna begetar menahan tangis yang kembali hendak pecah.
"Selama ini lo buat gue jadi orang jahat Lun. Di mata Sheila khususnya. Sekarang gue ngerti kenapa Sheila selalu jahat sama gue." Hati Tara sama sekali tak tergugah dengan kata-kata Luna. Luna mengeluh dalam hati. Sahabatnya itu lebih senang menyalahkannya dari pada melihat dirinya sendiri, melihat apa yang sudah ia lakukan.
"Ra, aku hanya minta bisa nggak kamu berbahagia untuk aku. Kamu sudah punya Mas Bintang." Luna mencoba mengingatkan Tara bahwa ia sudah memiliki cowok yang dicintainya. Berharap Tara mau lebih paham dengan situasi dan perasaan Luna.
"Tapi semalam saat Mas Bintang terus ngomongin lo, gue mulai merasa kehilangan dia. Dan pada akhirnya nanti gue nggak punya siapa-siapa Lun. Semua kesalahan lo. Jadi maaf kalau gue nggak bisa berbahagia buat lo. Gue kecewa sama lo, seandainya lo jujur sejak awal sama gue, mungkin gue nggak akan kehilangan Mas Bintang." Tara melangkah ke luar dan meninggalkan Luna dengan amarah dan rasa bersalah. Tara mungkin benar, seharusnya Luna jujur sejak awal. Seharusnya Luna lebih berani mengatakan perasaannya. Kalau bisa Luna harus bisa egois seperti Tara. Dia mendesah kesal.
"Aku nggak bisa. Aku dan Tara berbeda." Bisiknya kemudian menelungkupkan tubuhnya ke ranjang dan menangis.
***
Tara menepati kata-kata yang ia ucapkan kemarin. Ia sama sekali tidak mau menyapa Luna saat di kampus. Tara terlihat akrab dengan geng Vidia, entah apa yang sedang mereka obrolkan namun tawa mereka benar-benar menusuk perasaan Luna.
"Luna sayang," Sheila muncul dan langsung duduk di sebelah Luna. Cewek itu paham saat melihat wajah kusut Luna. Kedua matanya yang sembab masih tampak saat melihat wajahnya dari dekat seperti sekarang.
"Kamu udah lihat Tara di luar?"
"Hmmm...dan kamu dengar cara dia tertawa? Buat-buat banget." Sheila terkikik dan menoleh pada Luna mencoba membuat sahabatnya itu setidaknya tersenyum. Luna memang tersenyum namun kabut kesedihan masih menggelayut erat di wajahnya.
"Lun, kita udah menduga hal ini akan terjadi. Percaya deh, meski menyebalkan Tara nggak akan bertahan tanpa kita berdua. Kita kenal dia. Ini hanya bentuk marah dan protesnya. Kita tunggu saja." Sheila coba menghibur Luna.
Tara benar-benar menganggap Luna dan Sheila orang asing, meski begitu Sheila percaya dalam hatinya Tara sangat tersiksa bersikap seperti itu. Seperti saat ini Sheila sempat melihat Tara mencuri pandang ke meja mereka namun ia cepat-cepat melengos saat Sheila menangkap matanya. Luna mengernyit heran melihat sikap Tara yang begitu antusias dan sepertinya ingin menjadi pusat perhatian semua kepala yang berkumpul di meja tersebut.
"Kamu kayak nggak kenal Tara aja," Sheila membubuhkan sambal ke dalam mangkuk baksonya. "Dia pengen nunjukin ke kita dia bisa lebih bahagia tanpa kita." Sambung Sheila lagi dengan wajah meringis kepedesan saat mengecap kuah baksonya.
Luna menyesap teh botolnya tanpa punya niat untuk mencicipi salah satu menu di kantin. Wajah Sheila yang putih di depannya mulai tampak kemerahan, titi-titik peluh memeuhi keningnya. Ia mengecap kepedasan dan menenggak es jeruknya hingga tandas.
"Lun...lihat siapa yang datang." Sheila memberi tanda dengan matanya agar Luna menoleh ke belakang. Dan saat Luna memutar kepalanya matanya menangkap sosok Kalan yang berjalan ke arah mereka. Saat cowok itu tiba di meja mereka ia menyapa Sheila dengan hangat dan tangannya langsung mengelus kepala Luna sebelum ia duduk di dekatnya.
"Kamu nggak makan Lun?"
Luna menggeleng.
"Mas Kalan dari mana?" Tanya Sheila masih dengan wajahnya yang memerah. Ia sibuk menyeka keringatnya dengan tisu.
"Ketemu Pak Radit."
"Kayaknya udah tanda-tanda mau ujian nih."
Kalan tertawa kecil.
"Doakan deh."
Sheila sepertinya paham dengan perasaan Luna, sejak tadi ia terus mengajak Mas Kalan ngobrol. Sedang Luna hanya sekali-sekali ikut berkomentar dan menimpali, mata Luna tak bisa berhenti mengarah ke meja Tara dan sahabatnya yang sedang marah itu sesekali memberikan tatapan menghujam ke arah Luna sejak kehadiran Kalan di meja mereka.
Sheila dan Kalan ngobrol semakin akrab, mereka bahkan bisa saling meledek. Pemandangan seperti ini yang selalu diimpikan Luna melihat pacarnya bisa dekat dan akrab dengan sahabatnya. Seharusnya Tara ada di sini bersama mereka. Luna melirik Kalan saat cowok itu tertawa cukup keras gara-gara komentar Sheila mengenai Bu Lani. Luna mulai bertanya dalam hati kenapa Kalan tidak bertanya tentang Tara? Tentang Tara yang tidak duduk di meja yang sama dengan mereka? Bukankah Kalan tahu kalau Tara sahabat Luna? Bahkan dulu Kalan menitipkan surat terakhirnya untuk Tara melalui Luna?
"Udah yuk pulang. Aku tahu kalian pasti mau barengan." Cibir Sheila sambil mencangklong tasnya. Kalan hanya tersenyum penuh arti.
"Kita keluarnya barengan aja," Luna berdiri dan bersiap untuk pergi juga dan Kalan pun ikut berdiri. Ketiganya melangkah bersama dan melintasi meja yang ditempati Tara. Luna sempat melihat Tara menyikut pelan Vidia di sampingnya dan tak lama Vidia langsung berdiri dan memanggil Kalan. Dengan memasang ekpresi manis di wajah cantiknya Vidia mendekati Kalan yang sedang bersama Luna dan Sheila.
"Mas, aku mau bicara bentar." Katanya. Matanya mengarah ke Luna dan Sheila.
"Aku pinjam Mas Kalannya dulu ya teman-teman," katanya lagi sambil menarik tangan Kalan. Luna dan Sheila hanya menatap bengong pada Kalan yang langsung digeret Vidia.
"Lun, tunggu aku di depan ya," seru Kalan. Luna dan Sheila hanya saling memandang kemudian kembali melangkah. Setahu Luna, Kalan memang sejak dulu dekat dengan adik-adik tingkat. Karena memang dia sering dijadikan tempat bertanya tentang beberapa mata kuliah yang sulit. Dan meskipun penampilan Kalan dulu tidak sesantai sekarang, pribadi dan kecerdasan Kalan sangat dibutuhkan dalam kepengurusan senat. Jadi bisa dibilang Kalan cukup popular karena hal ini.
Ada rasa cemburu yang besar yang Luna rasakan saat ini. Bukan hanya karena betapa mudahnya Vidia menggandeng tangan Kalan di depannya tetapi juga saat matanya menangkap Tara memberi tanda pada Vidia untuk melakukan hal itu saat Kalan melintasi meja mereka tadi.
"Apa maunya sih si Tara. Tega banget sih sama teman sendiri." Omel Sheila kesal. "Aku kira dia nggak akan bertindak sejauh ini untuk nyakitin kamu." Katanya lagi. Sheila mungkin juga melihat apa yang dilakukan Tara tadi pada Vidia.
"Sudahlah La. Aku percaya sama Mas Kalan. Terserah apa yang mau Tara lakukan." Kata Luna pasrah.
Lima menit kemudian Kalan muncul.
"Si Vidia mau ngomong apaan sih Mas?" semprot Sheila saat Kalan sudah ada di depan mereka.
"Hanya masalah mata kuliahnya Pak Radit." Tapi Sheila seperti tidak puas dengan jawaban Kalan. Dengan matanya yang tajam Sheila tahu pasti ada sesuatu yang terjadi yang berusaha disembunyikan Kalan dan itu pasti berkaitan dengan Tara. Sheila bia melihat gerak tubuh Kalan yang agak gelisah saat diberondong pertanyaannya tadi, bahkan Kalan tidak mampu memandang matanya apalagi Luna.
Setelah Sheila pergi dengan motornya, Kalan mengantar Luna pulang ke kosnya.
"Mampir nggak?" tawar Luna.
"Nggak bisa sekarang Lun. Aku ada janji." Luna hanya mengangguk dan ia punya keinginan besar untuk bertanya dengan siapa Kalan membuat janji, namun ia mengurungkan niatnya. Ia ingin Kalan yang memberitahukannya tanpa ditanya, ia mau Kalan mudah terbuka padanya. Luna menilai dirinya sendiri bukanlah cewek yang cemburuan tanpa alasan. Kalau memang Kalan punya janji dengan seorang cewek lain berkaitan dengan kuliahnya, kerjaanya, urusan keluarga atau apapun yang masih punya batas kewajaran, Luna akan pahami itu.
Luna tahu kalau Kalan bekerja sambil kuliah. Kalan adalah pengajar Bahasa Indonesia untuk warga asing di sebuah lembaga bahasa yang cukup terkenal di Yogya. Kalan melakukannya itu sejak semester 3, dan Kalan dengan bangga bercerita bahwa motor yang ia gunakan saat ini adalah hasil dari tabungannya selama mengajar.
"Mungkin aku harus kasih dia waktu." Bisik Luna sekaligus mencoba menghibur dirinya sendiri. Masih terlalu awal untuk berharap Kalan mengungkapkan semua kehidupannya pada Luna. Meski Luna tahu sekelumit kisah haru tentang latar belakang Kalan dari Sheila, ia tetap menanti saat Kalan mau bercerita sendiri tentang semuanya itu, khususnya tentang ibunya.
***
Ibu memeluk Luna erat-erat saat melihat putri bungsungnya itu muncul di depan pintu. Luna hanya bisa pasrah.
"Anak nakal! Kenapa lama banget sih nggak pulang," omel Ibu sambil memukul sayang p****t Luna yang bersiap melangkah ke kamarnya.
"Luna punya pacar tuh bu," sambung Ayah tiba-tiba. Kaki Luna langsung terpaku dan tubuhnya bergerak mencari-cari Ayahnya yang ternyata sedang berjongkok di depan TV mengutak atik sesuatu di sana.
"Beneran Luna punya pacar?" Tanya Ibu antusias. Wajah Luna memanas. Bagaimana bisa tanpa angin dan hujan orangtuanya bisa tahu kalau dia punya pacar?
"Ayah..ta..tau dari mana?" Tanya Luna tergagap.
"Loh jadi benar?" Ayah berbalik dan menangkap wajah Luna yang malu luar biasa ternyata dia telah masuk perangkap Ayah.
"Cerita dong sama Ayah dan Ibu," Ibu menarik Luna duduk di sebelahnya. Cewek itu hanya mengerutkan bibirnya dengan ekspresi malu-malu. Ayah ikut duduk di sebelahnya.
"Malu ah..." Luna menghentak-hentakkan kakinya.
"Kenapa malu? Seumur kamu dulu Ibu udah nikah sama Ayah."
Luna berdesis pada kata-kata Ibunya itu karena Luna sudah bosan dengan informasi itu.
"Siapa namanya," Tanya ibu dengan nada menggoda.
"Kalan," jawab Luna pendek tanpa melihat kedua orangtuanya.
"Nama panjangnya?"
"Ih ibu, kayak petugas kelurahan aja." Omel Luna. "Nama lengkapnya Kalana Lazuardi. Bagus kan Yah?" Luna meminta persetujuan Ayahnya. Pria itu mengangguk-angguk.
"Kalan artinya langit dalam bahasa Hawaii," beritahu Ayah tanpa ditanya.
"Oh ya? Ohhh pantesan ada Lazuardinya. Artinya kan Langit juga kan Yah? Keren emang." Luna berkata sendiri. Ayah dan Ibu saling memandang dan tersenyum.
Setelah itu mengalirlah kisah tentang Kalan dari mulut Luna. Tapi tentu saja Luna tidak mengait-ngaitkan nama Tara saat bercerita tentang awal hubungannya dengan Kalan.
"Sepertinya anaknya baik ya Yah?"
"Kapan diajak ke sini?" Tanya Ayah dan membuat Luna langsung cemberut.
"Nanti aja ah...malu. Masa pacaran belum seminggu udah ngajak-ngajak ke rumah." Protes Luna.
"Emangnya kalau diajak ke rumah berari kamu dilamar?" sindir Ibu.
"Bukaaaaan Buuu...udah ah malu ngomongin ini. Nanti deh minggu depan Luna ajak ke sini." Luna bangkit dan berjalan cepat menaiki tangga menuju kamarnya.
Tanpa berganti baju Luna menghempaskan tubuhnya di atas ranjang, terdengar sayup-sayup suara Ayah dan Ibu dari ruang bawah sedang berkaraoke ria. Lagu Kangen Dewa 19 jadi lagu wajib mereka karena menurut legenda cinta Ayah dan Ibu, lagu itu adalah lagu kenangan mereka saat Ibu mengandung Luna, anak perempuan yang ditunggu-tunggu setelah bertahun-tahun. Luna menutup kedua kupingnya dengan bantal.
Luna ketiduran hingga menjelang pukul lima. Cewek itu menuruni tangga dengan wajah kusut dan rambut berantakan, sesekali ia menguap dan mengucak kedua matanya. Perutnya terasa lapar dan berharap menemukan sesuatu di meja makan.
"Martabak keju Lun." Ibu mengacungkan kantong plastik berisi kotak martabak. Senyum langsung merekah di wajah Luna. Ia menarik kursi dan membuka kotak martabak yang masih hangat. Luna menghabiskan empat potong martabak dan sebotol air es, setelah itu ia mengelus perutnya kekenyangan. Ibu hanya geleng-geleng kepala melihat Luna.
"Cewek kalau udah punya pacar biasanya suka ngerem nafsu makannya, tapi lihat dong anak Ibu. Martabak satu kotak mau dihabisin sendiri." Ibu mengelus kepala Luna.
"Ah...Ibu! Gitu deh jadi suka godain, tahu gitu Luna pacaran diam-diam aja." Jerit Luna sambil manyun.
"Eh ada Mas Bintang. Masuk Bin." Panggil Ibu. Luna yang sedang duduk dengan posisi kekenyangan langsung menegakkan tubuhnya. Ia menoleh dan melihat Bintang berjalan masuk.
"Sore tante. Hai Lun." Sapa Bintang dan refleks tangan Luna bergerak ke kepalanya dan merapikan rambutnya yang acak-acakkan sebisanya. Ibu menyuruh Bintang duduk dan ia sendiri kemudian menyusul Ayah ke halaman depan. Sore seperti ini Ayah memang paling suka mengurus bonsai-bonsainya.
Luna mendorong kotak martabak ke hadapan Bintang. Cowok itu tersenyum kemudian mengambil sepotong dan mulai mengunyahnya. Luna memperhatikan Bintang di depannya. Meski rasa itu sudah tidak ada tetapi entah kenapa ia masih belum bisa bersikap jauh lebih santai di depan Bintang. Mungkin ini perasaan yang wajar dan waktu akan membuat keadaan menjadi seperti yang ia harapkan.
"Jadi Om dan Tante udah tahu kamu punya pacaran sekarang?" Tanya Bintang tanpa memandang Luna, ia sibuk menyeka tangannya yang berminyak dengan tisu. Luna cukup kaget dengan pertanyaannya tapi bisa jadi Bintang mendengar jeritannya tadi saat digoda ibunya.
"Uhm..."
"Tara bilang.." Bintang terdiam sejenak. "cowok itu, Kalan, pernah menyukainya?"
Perasaan Luna tidak enak saat Bintang mulai menyinggung Tara dan Kalan.
"Mas, aku nggak mau ngomong masalah ini."
"Lun, cowok itu begitu terobsesi pada Tara sebelumnya, apa kamu nggak terlalu cepat menerimanya?" Bintang memandang Luna lurus-lurus. "Aku nggak mau kamu tersakiti, Lun." Bintang coba memberikan alasan mengapa ia bicara masalah ini.
"Aku percaya sama Mas Kalan. Iya memang benar dulu Mas Kalan begitu menyukai Tara tapi hati orang bisa berubah kan? Mas Kalan bukan cowok bodoh yang akan terus setia pada cewek yang nggak hanya benci pada sosoknya bahkan bayangannya. Tara sudah kejam memperlakukan Mas Kalan." Luna berkata pelan namun terdengar tajam dan tegas.
"Kamu kasihan padanya?"
"Bukan kasihan. Aku jatuh cinta sama Mas Kalan." Luna berkata dengan berani.
"Maafkan aku Lun. Kamu mungkin merasa aku lancang karena sudah mencampuri urusan pribadi kamu. Tapi sebagai orang yang dekat dengan kamu aku hanya ingin kamu nggak terluka."
Luna hanya diam. Kedua tangannya saling meremas mencoba mengusir gelisah dan amarah yang bercampur jadi satu.
"Dan kamu bilang hati orang akan berubah. Sekarang aku mengerti. Terimakasih ya Lun karena kamu pernah menyukaiku dan aku harap yang terbaik untuk kamu dan Kalan."
Luna mengangkat wajahnya pelan dan memandang Bintang, sekarang dia mengerti Bintang sebenarnya hanya ingin tahu apakah perasaan Luna padanya masih ada atau memang sudah berubah dan Bintang mendapatkan jawabannya. Luna benar-benar tidak mengerti dengan cowok di depannya ini. Mengapa dia selalu muncul dengan tanda-tanda yang membingungkan di saat Luna sudah belajar dan berhasil lulus melupakannya.
"Bagaimana hubungan Mas Bintang dan Tara? Aku harap kalian baik-baik saja."
"Aku berharap seperti itu." Jawab Bintang dengan wajah lesu tak berharapan. Ini yang semakin membuat Luna bingung dia sama sekali tidak bisa membaca apa arti nada bicara Bintang dan semua yang tergambar lewat ekspresi wajahnya. Suara Ayah dan Ibu memenuhi ruang tamu dan tak lama mereka muncul di depan Luna dan Bintang. Namun sepertinya mereka mengerti kalau Luna dan Bintang butuh ruang privasi karena itu mereka segera naik ke lantai dua meninggalkan Bintang dan Luna.
"Bagaimana dengan tawaran pekerjaannya?" Luna mencoba mengalihkan topik.
"Aku tolak karena Papa menawarkan aku untuk sekolah lagi di Singapura."
"Oh ya?"
Bintang mengangguk.
Tiba-tiba ada sebuah pikiran melintas, ya Luna teringat saat Tara datang ke kosnya dan mengamuk di sana. Tara berkali-kali mengatakan bahwa Bintang terus membicarakan Luna saat mereka bertengkar. Dan bahkan Tara sampai mengeluarkan kata-kata bahwa ia merasa sudah kehilangan Bintang. Apa mereka baik-baik saja?