Sudah hampir seminggu Tara tidak bertegur sapa dengan Luna dan Sheila, dia masih setia berteman dengan geng Vidia. Dan sampai sekarang juga Luna belum tahu pasti apa yang dibicarakan Vidia dengan Kalan saat itu, karena bukan hanya Sheila yang paham kalau ada yang berusaha disembunyikan Kalan dari Luna, tapi sebagai pacarnya tentu Luna sangat tahu ekspresi Kalan saat ia jujur atau tidak. Tapi tentu saja Luna percaya Kalan mungkin berbohong demi kebaikan bukan berbohong yang berarti berkhianat. Mungkin saja karena Kalan tahu Luna dan Tara bersahabat, ia tidak mau merusak hubungan itu.
Oke, Kalan tahu Luna dan Tara bersahabat, lalu kenapa Kalan harus berbohong demi kebaikan Luna? Apa benar Tara sudah mulai melakukan aksi balas dendamnya pada Luna? Apa benar Tara mencoba menyakiti Luna dengan mendekati Kalan? Tapi Luna menolak untuk percaya kalau Tara akan berbuat sejauh itu.
Luna menepuk jidatnya keras-keras agar segala pikiran ini tidak terus bercokol di otaknya dan berujung membuatnya gila. Kehilangan Tara saja sudah menyiksa perasaan Luna, apalagi bila berpikir bahwa Tara, sahabatnya, yang selama ini sangat baik kepadanya, membencinya. Ini situasi yang serba sulit bagi Luna dan ia harusnya sudah bisa menduga hal seperti ini akan terjadi, benar kata Tara seandainya saja sejak awal ia coba memberanikan diri untuk berkata jujur dan tidak menunda-nunda pasti situasinya tidak akan seburuk ini.
Meski udara cukup panas siang ini, angin yang berhembus di antara pepohonan di depan kamar Luna memberi sensasi sejuk yang membuat Luna cukup betah duduk di teras kamarnya dan menyelesaikan novel Kelas Lima di Malory Towers milik Enid Blyton. Dengan membaca kisah kocak murid-murid cewek di sekolah khusus perempuan itu sedikit banyak membuat Luna terhibur di antara pikirannya yang beragam.
Mbak Sita tiba-tiba muncul di depan Luna, cewek itu memberitahukan kalau ada yang mencari Luna. Baru saja Mbak Sita kembali ke kamarnya seseorang yang lain sudah muncul di depan Luna.
"Mas Kalan?" Luna tersenyum sumringah saat melihat Kalan ada di depannya.
"Ngapain?"
"Nih baca yang kemarin." Jawab Luna sambil mengacungkan novel yang di tangannya. Kalan langsung duduk di sebelah Luna.
"Katanya nggak bisa kesini?" Luna berkata setengah cemberut. Sejak pagi tadi Luna mengira ia tidak akan bertemu Kalan karena pacarnya itu mengatakan ia akan bertemu pimpinan Lembaga Bahasa tempat ia mengajar karena rencananya mereka mengingingkan Kalan kembali mengajar di sana dan hal-hal lain yang tidak Kalan ceritakan secara detil pada Luna. Intinya hari ini Kalan tidak bisa bertemu Luna namun ini jadi sebuah kejutan saat Kalan tiba-tiba muncul tanpa kabar.
"Maaf. Kamu marah ya?" Kalan mengelus kepala Luna. Luna masih memasang tampang cemberut.
"Kan aku udah di sini. Udah makan belum? Makan yuk. Aku lapar nih." Kalan memandang Luna dengan ekspresi usilnya agar membuat Luna tertawa. Wajah Luna yang masih cemberut perlahan tersenyum. Cewek itu segera bangkit dan melesat ke kamar untuk berganti pakaian.
Dalam perjalanan, otak Luna terus bekerja,berpikir keras. Ia ingin sekali menanyakan pada Kalan tentang Tara. Tentang bagaimana perasaan Kalan saat ini pada Tara. Bagaimanapun Kalan tahu Luna dan Tara bersahabat tapi Luna belum pernah mendengar sepatah katapun tentang pendapat Kalan mengenai Tara. Bahkan saat Kalan menyatakan sukanya pada Luna, ia tidak pernah menanyakan perasaan Luna bagaimana nanti kalau Tara tahu mereka pacaran. Ini terasa janggal buat Luna, dan ia ingin sekali menanyakan semua ini pada Kalan.
Luna menatap Kalan diam-diam saat cowoknya itu masih sibuk menghabiskan tempe goreng teman makan sotonya siang ini. Ia sedang memberanikan dirinya untuk melakukan niatnya. Kepalanya bergerak ke seantero ruangan yang tidak terlalu padat pengunjung. Dari sekitar sepuluh meja di ruangan ini hanya tiga meja yang terisi. Sayup-sayup terdengar suara Didi Kempot mengalun lewat speaker buluk di sudut ruangan dan beberapa menit kemudian berganti suara penyiar radio perempuan yang terkesan genit. Bagi Luna suasana ini tidak buruk juga tapi tidak sepenuhnya mendukung pembicaraan mereka nantinya. Tapi bila Luna tidak bicara sekarang mungkin satu jam kemudian keberanian itu menguap. Dia mulai bingung sendiri.
"Kok nggak dihabisin Lun?" dengan gerakan dagunya Kalan menunjuk mangkuk Luna yang masih menyisakan separuh soto.
"Tadi pagi udah sarapan roti banyak, jadi masih kenyang." Luna beralasan, padahal sebenarnya dia sedang tidak bernafsu makan karena terus dihantui niatnya untuk bicara pada Kalan.
"Huh bohong pasti kamu nggak doyan sama sotonya kan?"
"Nggak.."
"Oke, besok kalau aku nanya kita mau makan dimana kamu bisa bilang tempat favorit kamu."
"Tapi aku taunya tempat makan yang jualannya malam aja. Kalau tempat sarapan kayak gini aku nggak punya referensi. Tara tuh yang paling ngerti tempat sarapan enak." Tanpa sadar Luna menyebut nama Tara dan reaksi Kalan, dia hanya tersenyum tipis dan mengangguk.
"Mas.." panggil Luna. Kebetulan nama Tara tersebut sebaiknya Luna meneruskan niatnya saja. "Gimana perasaan Mas Kalan sekarang sama Tara?" kedua alis Kalan naik saat pertanyaan itu keluar dari mulut Luna. Ia berdehem kemudian menenggak es jeruknya.
"Biasa aja." Jawabnya pendek tanpa melihat Luna.
"Kamu...kamu nggak pernah nanyain perasaanku saat kamu nembak aku saat itu."
"Perasaan apa?" wajah Kalan menegang.
"Bagaimana perasaanku saat perasaanmu berubah menyukaiku meski selama hampir satu tahun lebih kamu menyukai Tara. Padahal kamu tahu aku dan Tara bersahabat. Kamu nggak pernah nanyain bagaimana sikap Tara padaku saat dia tahu kamu dan aku pacaran. Kamu nggak pernah ngomong sesuatu sama aku setelah kamu bertemu dengan Tara waktu itu bahkan seolah kamu nyembunyiin sesuatu dari aku tentang Vidia hari itu." Entah kenapa kata-kata yang tersimpan jauh di lubuk hati Luna meluncur mulus lewat bibirnya. Ada lega yang menjalar cepat dalam hatinya ketika semua perasaan yang cukup menyiksanya akhir-akhir ini terkuak keluar.
Di depannya Kalan terdiam lama. Luna menunggu reaksinya dengan gelisah. Dalam jeda itu telinga mereka kembali disapa dengan lagu Mulan berjudul Wonder Woman dengan versi dangdut koplo.
"Lun, maaf kalau aku mengecewakan kamu. Bukannya aku nggak mau peduli sama perasaan kamu aku hanya terlalu takut membuat kamu terluka kalau aku menyinggung Tara. Aku tahu bagaimanapun aku nggak bisa menghindar karena Tara dan kamu bersahabat. Aku...sungguh aku sudah nggak punya perasaan itu pada Tara. Nggak ada sama sekali. Ketika aku kembali melihatnya di depan kosmu hari itu, nggak ada perasaan apa-apa, mungkin ada kecanggungan tapi itu hanya karena kami belum pernah berhadap-hadapan lagi sejak ia memutuskan untuk nggak mengenal aku."
Kalan menatap Luna dalam-dalam.
"Percaya sama aku ya...dan mengenai Vidia.."
"Ada hubungannya dengan Tara kan? Kamu nggak usah bohong Mas. Aku nggak nyalahi kamu, kamu bohong karena kamu nggak ingin aku punya masalah dengan Tara. Sejujurnya Tara sedang mendiamkan aku. Ia marah sama aku karena aku nggak jujur kalau aku berhubungan sama kamu sejak kamu ke Amerika."
Kalan mengangguk, tangannya perlahan meraih jemari Luna dan menggenggamnya.
"Dan Tara marah karena aku pernah menyimpan perasaan untuk pacarnya...karena aku nggak pernah jujur padanya kalau aku pernah menyukai Mas Bintang."
"Tunggu.." potong Kalan. "Bintang yang kamu ceritakan itu? Dia pacar Tara?" mata Kalan membulat kaget. Luna pun sadar bahwa selama ini ia tidak pernah menceritakan kalau Tara dan Bintang pacaran. Berarti saat di Mal waktu itu Kalan tak pernah berpikir bahwa nama Tara yang tersebut adalah Tara yang sama yang pernah membuatnya patah hati.
"Aku..aku lupa cerita ke kamu mas," Luna menggigit bibirnya pelan.
"Lun..." panggil Kalan. "Kamu merelakan Bintang untuk Tara?"
"Apa itu kata yang tepat? Merelakan? Nggak lah mas kedengarannya aku seperti malaikat aja." Luna tersenyum "Mas Bintang nggak cinta sama aku jadi aku tentu harus membiarkan dia bersama dengan orang yang dia cintai, iya kan?"
Kalan tersenyum. "Kamu benar."
Keduanya sama-sama tersenyum. Ada kelegaan yang terpancar di kedua wajah mereka.
"Kamu dan Tara sekarang nggak berteman lagi?"
"Tara yang keras kepala. Ya...dia maunya gitu tapi kata Sheila, Tara nggak akan bertahan lama jauh dari kami jadi tinggal tunggu waktu aja dia akan kembali. Aku tahu aku juga salah jadi aku nggak bisa menganggap dia egois."
"Maaf ya Lun, kamu jadi susah seperti ini. Mulai sekarang aku akan selalu jujur sama kamu. Aku minta maaf bukan karena aku nggak mau jujur dengan situasi di sekelilingku hanya saja aku terlalu hati-hati dengan hubungan kita. Pada akhirnya malah kehati-hatianku itu justru jadi masalah. Sekai lagi maafin aku ya..."
"Iya mas..udah cukup minta maafnya. Sekali lagi kamu minta maaf pasti dapat piring cantik deh," Luna coba bercanda dan langsung dibalas cubitan sayang Kalan ke pipi cewek itu. Beban seperti terlepas dari pundaknya, terus berpikir dan menduga memang sangat melelahkan karena kebenaran itu penting meski itu pahit sekalipun. Ya, Luna pernah mengira kebenaran yang akan ia ketahui dari Kalan bisa saja sangat pahit tapi ternyata semua dugaannya salah dan sekarang ia sangat percaya pada Kalan.
***
Sengatan matahari siang ini benar-benar membuat Luna ingin sekali terjun ke kolam bening dan berenang sepuasnya hingga keangkuhan sang surya tertelan langit. Karena tak punya kolam renang akhirnya Luna berakhir dengan bergulingan di lantai kamarnya yang cukup mampu mengurangi gerah tubuhnya.
"Luna!" Sheila menghambur masuk ke dalam kamar Luna. Wajahnya terlihat kesal dan tak hanya itu saja, ia melempar tasnya jauh-jauh hingga terpental sampai sudut kamar. Luna keget hingga memaksa tubuhnya yang sudah nyaman berbaring terlonjak duduk.
"Ada apa La? Kok ngamuk?"
"Itu si tupai nekad datang ke Yogya!" serunya kesal bahkan saking marahnya air matanya sampai menggenang.
"Tupai siapa?" Luna bingung, bola matanya berputar mencoba mengingat-ingat apa yang mungkin sudah dilewatkannya. Tupai? Luna mengernyit karena merasa tak mengingat apapun yang berkaitan dengan hewan itu.
"Ko Hendry! Si tupai itu!" jerit Sheila lagi kali ini jauh lebih keras sebagai efek protes atas kebebalan Luna.
"Oalah!" Luna menepok jidatnya. Dia lupa kalau Sheila memang menjuluki Ko Hendry dengan tupai. Sheila memang menganggap Ko Hendry persis tupai, secara fisik Ko Hendry tidak jelek dan tidak terlalu tinggi tapi orangnya sangat energik. Di mata Sheila ia melihat cowok itu persis tupai yang senang meloncat-loncat, yang menggigit buah kenari dengan kecepatan gergaji mesin. Intinya Sheila suka cowok kalem, yang tidak banyak bicara dengan mulut tetapi lebih ekpresif dengan indera yang lain.
"Jangan oalah aja dong, mikir sesuatu Luna! Aiiihhh aku udah nggak bisa mikir nih." Sheila menepuk-nepuk kepalanya. Luna yang masih belum bisa diajak berpikir hanya bisa menggaruk-garuk kepalanya bingung.
"Ya kenapa kamu nggak temuin aja dulu, La. Ngomong yang jujur ke dia kalau kamu nggak suka sama dia. Gimana sih? Seorang Sheila gitu lohhhh." Luna bicara tak kalah keras.
"Ahhhhh nggak segampang itu! Ko Hendry itu orangnya ngeyel, keras kepala, percaya diri tinggi, dan semangatnya itu loh...ya ampun laut seduniapun nggak mungkin bisa mademin itu gairah." Seru Sheila lagi. Dan tiba-tiba saja Luna tertawa ngakak. Bagaimana bisa Sheila menggunakan kata gairah, ini benar-benar pertanda kalau Sheila sudah kehilangan akal.
"Gairah? Sheila...Sheila kata-kata kamu itu loh.." Luna masih tertawa.
"Habis aku udah nggak bis mikir Lun. Udah jelas –jelas aku tolak eh tebak apa katanya?"
"Apa?"
"Kita ketemu sekali aja dulu baru kamu ngambil keputusan. Tapi aku yakin kok kamu pasti akan merubah keputusanmu yang sekarang." Luna menganga sebentar dan sedetik kemudian tawanya meledak.
"Coba lihat deh tinggi banget tuh percaya dirinya. Siapa yang nggak kesal."
"Dia emang tupai, La. Jelas-jelas tupai." Kata Luna di sela sisa-sisa tawanya. Ia bahkan sampai menyeka matanya yang berair gara-gara kebanyakan tertawa.
"Karena itu aku harus tumpahkan kekesalanku dulu baru bisa dengan lapang hati menemui si energizer itu."
Luna mengelus-ngelus punggung Sheila.
"Kalau aku nggak marah-marah sekarang aku nggak bisa bayangin deh bisa meledak aku nanti." Sheila menyisir rambutnya dengan tangannya. Luna beranjak ke dapur untuk mengambilkan segelas air dingin untuk sahabatnya yang sedang berusaha meredam emosi.
"Kapan ketemunya?" Luna menyodorkan gelas ke hadapan Sheila.
"Sore ini." Cewek itu menenggak tandas isi gelasnya.
"Berarti kamu sudah siap kan? Marah-marahnya udah kelar kan? Udah plong?" Luna mendekatkan wajahnya ke wajah Sheila mencoba merasakan apakah dengusan api naganya masih tersisa namun sepertinya marah-marah serta segelas air es tadi cukup ampuh meredam emosinya.
"Gimana kabar hubungan kamu sama Mas Kalan?" Sheila mengalihkan topik. Oke, meski ini terdengar jahat tapi hal inilah yang membedakan Sheila dan Tara. Saat Sheila punya masalah ia tidak akan berlarut-larut tenggelam untuk terus membicarakan masalah itu, beda dengan Tara. Sahabat Luna yang satu itu lebih suka tenggelam dalam beberapa waktu dengan masalah itu dan berharap semua sahabatnya ikut juga galau seperti dirinya. Tapi sifat semua orang memang berbeda, dan perbedaan itulah yang merekatkan ketiganya. Sheila lebih rasional karena itu ia lebih ahli dalam memberi pendapat namun keceplas-ceplosannya sering membuat ia tampak tidak sensitif padahal sebenarnya ia orang yang sangat peduli pada teman. Tara si Drama Queen yang suka mendramatisir segala hal khususnya masalah yang berkaitan langsung dengan dirinya, tapi Tara bisa jauh lebih sensitif dibanding Sheila saat ada teman yang bermasalah (tapi tentu saja tidak berlaku bila cewek ini sedang marah, egonya akan menghempas semua kesensitivannya itu). Sedang Luna? Luna justru over sensitive, terlalu perasa, segala hal dipikir pake perasaan dan dia lupa fungsi otaknya untuk apa, namun karena sisi inilah Luna menjadi sosok penyayang dan sulit marah pada sahabat-sahabatnya. Kelemahan seseorang bisa jadi kekuatannya demikian sebaliknya.
"Baik." Setelah itu meluncurlah cerita dari mulut Luna tentang konfrontasinya dengan Kalan kemarin. Sheila menatap kagum pada Luna.
"Good job. Mungkin sifat kalian yang hampir mirip itu yang bisa membuat kalian jadi salah paham. Jadi salah satu dari kalian harus lebih berani." Sheila menepuk pundak Luna persis seperti seorang atasan yang baru saja memberi kredit pada karyawan teladannya.
"Ntar setelah habis kencan ceritain hasilnya ya, La." Luna tersenyum menggoda Sheila dan membuat sahabatnya itu langsung menjitak kepalanya cukup keras hingga membuat ia menjerit.
"Tega amat sih Sheila!" keluh Luna sambil mengelus-elus kepalanya.
"Eh terus gimana tuh si teman kita, Tara?" Sheila merebahkan tubuhnya ke lantai, ia menarik bantal dari ranjang Luna dan meletakkan di bawah kepalanya.
"Bagaimana bagaimana?" Luna ikut-ikutan rebah di samping Sheila.
"Sampai kapan dia mau diamin kita?"
"Tau deh." Luna menyahut pelan. "La.."
"Hmmm...."
"Apa mungkin Tara bisa berbuat sejauh yang aku kira?"
"Emang apa yang kamu kira?" Luna menggerakan tubuhnya menghadap Sheila.
"Mencoba mendapatkan Mas Kalan?"
Kali ini tubuh Sheila yang bergerak menghadap Luna. Keduanya berbaring sambil berhadapan, mata mereka bertemu, dan pikiran mereka berkelana.
"Nggak mungkin lah...nggak usah dipikirin! Kok bisa sih aku tega mikir Tara kayak gitu?" Luna menggeleng-geleng mencoba mengenyahkan pikirannya.
"Ya Tara nggak mungkin kayak gitu." Sheila yang rasionalpun berpikir hal yang sama.
"Tapi bagaimana kalau hubungannya dengan Mas Bintang memburuk? Karena aku terus kepikiran sama kata-katanya waktu itu. Dia seperti ingin bilang kalau dia akan putus dari Mas Bintang karena akulah penyebabnya."
Sheila mengernyit.
"Mas Bintang bertemu aku dan Mas Kalan di Mal, malamnya Mas Bintang dan Tara bertengkar dan kata Tara.." Luna mendengus pelan. "Mas Bintang terus membicarakan aku...Luna ginilah Luna gitulah...dan itu membuat Tara semakin marah dan tentunya cemburu. Tara nggak suka dibandingkan, kamu tahu itu kan, La?"
"Ya."
"Aku kangen Tara, La." Bisik Luna. "Aku kangen kita bertiga. Meski aku marah dan kesal sama dia tapi aku juga tahu aku ikut andil dalam masalah ini. Aku dan ketidakberanianku. Aku dan ketidakjujuranku." Luna menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Matanya memanas dan akhirnya ada air hangat mengalir dari sudut-sudutnya.
"Kamu nangis?" Sheila mengangkat separuh tubuh bagian atasnya agar bisa dengan jelas melihat Luna.
"Aku nggak pernah berpikir kalau cinta akan merusak persahabatan. Kukira itu cuma ada di novel dan film-film itu. Bukan di kehidupan nyata." Kata Luna masih dengan kedua tangan di depan wajahnya.
"Heiiii...cengeng banget sih kamu Lun. Udah dong, kamu nggak usah terlalu mikir yang rumit-rumit. Sebenarnya nggak ada masalah yang terlalu serius kalau Tara mau sedikit berlapang d**a, mau sedikit berkorban perasaan demi melihat sahabatnya bahagia. Toh sebenarnya nggak ada perasaan yang ia korbankan bukannya dia memang nggak cinta sama Mas Kalan?"
"Tapi aku bisa ngerti perasaannya La. Susah memang dijelaskan secara logika tapi aku bisa paham."
"Ada satu hal yang kamu lupa ceritakan ke aku?"
"Apa?"
Sheila menyipitkan matanya dengan pandangan sok tahunya.
"Apa Mas Bintang suka sama kamu?"
"Ha?" Luna terlonjak. Ia menyeka matanya yang basah dan berusaha lebih jelas melihat Sheila.
"Beneran? Dia juga suka sama kamu?"
"Nggak Sheila...aku nggak bisa menyimpulkan seperti itu." Luna mengibas-ngibaskan tangannya berusaha membantah teori Sheila.
"Nggak bisa menyimpulkan seperti itu? Berarti ada tanda-tanda dari dia?"
Luna terdiam. Ini sulit sekali dijelaskan tapi rasanya perlu juga menceritakannya pada Sheila tapi ia perlu mencari kata-kata yang tepat. Luna mulai menceritakan makna kata-kata Bintang yang agak ambigu saat ia curhat tentang Tara, atau saat di mobil waktu Bintang mengantarnya pulang, saat cowok itu mencoba membuat posisi Luna tidak sulit di antara ia dan Tara. Bukannya Luna tidak tahu kalau Bintang cukup lama memandangnya diam-diam waktu itu. Luna juga mengatakan tentang semburat cemburu yang muncul di wajah Bintang saat mereka berdebat tentang Kalan. Dan puncaknya saat Bintang terus membandingkan Tara dan Luna saat ia bertengkar dengan Tara.
"Cowok itu aneh banget sih?" omel Sheila.
"Jadi pendapat kamu?"
"Entahlah aku nggak mau berpendapat." Sheila bersedekap.
"Kok gitu?"
"Trus gimana? Kalau aku berpendapat bisa-bisa kita akan kehilangan Tara selamanya."
Luna menganga dan langsung membekap mulutnya dengan salah satu tangannya.
"Udahlah nggak usah dipikirin si Bintang itu. Kamu sudah punya Kalan dan Bintang hanya masa lalu. Ingat itu Luna, kalau kamu nyakitin Kalan kamu akan kehilangan aku juga." Ancam Sheila tidak main-main. Luna langsung cemberut.
"Jahat amat sih."
Sheila tersenyum.
"Oke aku percaya sama kamu. Dan kamu nggak akan pernah kehilangan aku." Sheila mencolek hidung Luna yang bangir itu.
"Mampus! Udah jam berapa nih? Wahhhh ntar si tupai jadi merasa pria paling gentleman karena rela menunggu lama. Nggak akan aku biarin dia berpikir seperti itu." Geram Sheila. Ia berdiri menarik tasnya yang tadi jatuh ke kolong meja belajar Luna.
"Pulang ya...wish me luck!" Sheila melambai dan langsung melesat keluar.
"Good Luck, Sheila!"