Luna menempati bangku depan kelas sambil menunggu Sheila, berkali-kali ia melirik jam di pergelangan tangannya. Sekarang sudah mendekati pukul sepuluh pagi seharusnya Sheila sudah tiba di kampus karena satu jam lagi kelas Bahasa Perancis dimulai itu kalau Pak Ryan yang seksi itu tidak telat lagi seperti biasa, maklum dia dosen pinjaman dari sebuah universitas negeri di Yogya. Selain itu tentu saja Luna sudah tidak sabar mendengar cerita sahabatnya itu tentang pertemuannya dengan Ko Hendry. Pasti ada kisah menarik yang terjadi kemarin dan satu jam adalah waktu yang cukup untuk tertawa dengan semua cerita Sheila.
"Hei Lun," Caca, salah satu teman kelasnya, menghampirinya. Ia duduk di sebelah Luna dan melirik buku yang ada di tangan Luna.
"Ada apa Ca?" Luna mengerti dari ekspresi Caca kalau cewek itu menyimpan sebuah rasa ingin tahu. Tapi tentu saja Caca bukan ingin tahu tentang isi buku yang sedang Luna pegang saat ini.
"Kamu sama Tara kok nggak pernah barengan lagi?" Luna menoleh dan mendapati wajah Caca yang imut itu masih kental dengan ekspresi penasarannya. Tentu saja banyak teman kelasnya pasti yang merasa aneh melihat hampir seminggu ini Tara lebih banyak menghabiskan waktu dengan Vidia beserta gengnya ketimbang bersama Luna dan Sheila sahabatnya sejak semester satu.
"Masa sih? Nggak juga ah, kebetulan aja pas kamu ketemu Tara pas Tara nggak lagi barengan aku sama Sheila." Luna mencoba membantah.
"Hmmm...mungkin juga ya, tapi kemarin aku ke kosnya Vidia dan Tara juga ada di sana mereka kayaknya mau ikut pelatihan tutor-nya English Line. Aku heran aja kok Tara sekarang lebih sering sama Vidia sampai mau ikut jadi tutor segala." Untuk beberapa detik Luna tertegun, otaknya bekerja dengan cepat saat mendengar English Line. Bukannya EL itu tempat Mas Kalan mengajar? Memang sih dia sudah tidak seaktif dulu karena memang ia sedang sibuk skripsi tapi mendengar Tara dan EL membuat hati Luna tiba-tiba gundah. Sejak kapan Tara tertarik di bidang mengajar? Dan di EL?
"Bukan apa-apa sih Lun, Vidia itu kan bukan teacher material gitu loh...sejak kapan dia tiba-tiba pengen ngajar. Aneh aja sih..." Caca bergumam dengan ekspresi wajah yang sudah berganti menjadi ekspresi sangsi. Itu bukan hanya pikiran Caca seorang karena Luna pun berpikir demikian, bukan tentang Vidia tetapi Tara.
"Emang EL lagi buka lowongan?"
"Setahuku sih EL lagi buka program pengajaran baru dan lagi butuh tutor-tutor baru. Dan katanya calon tutornya itu harus ngikut pelatihan dulu sebelum direkrut. Pelatihannya setiap weekend. Pernah ada iklannya kan di papan pengumuman." Beritahu Caca dan menyadarkan satu hal pada Luna bahwa ia jarang mengamati papan pengumuman kecuali untuk mencari tahu nilai mata kuliah pilihan.
"Mas Kalan bakal jadi salah satu pendamping pelatihannya. Dia kan udah lama banget di EL." Informasi Caca membuat Luna semakin yakin dengan apa yang ia gundahkan tadi.
"Oh ya Lun, bukannya dulu Mas Kalan ngejar-ngejar Tara ya? Wah bisa jadi sekarang Tara mulai suka tuh sama Mas Kalan. Cowok itu jadi keren setelah pulang dari Boston padahal cuma enam bulan coba kalau lebih lama bisa-bisa dia jadi sekeren Ian Somerhalder." Caca terkikik sepertinya ia sedang membayangkan wajah tampan bintang Vampire Diaries itu.
"Aku nggak tahu." Luna mencoba untuk menghentikan semangat bercerita si Caca. Namun sepertinya Caca sedang butuh telinga untuk mendengarkan semua stok kisahnya.
"Pantas aja Tara mau ikut pelatihan itu." Caca menyimpulkan semua analisanya. "Bener berarti dugaan Dini sama Vita." Caca menyebut nama dua teman kelas mereka. Perut Luna tiba-tiba terasa mulas. Dan di saat genting seperti itu sosok Sheila datang menyelamatkannya.
"La," Luna berdiri dan berlari menyongsong Sheila, meninggalkan Caca dengan segala ceritanya yang tidak ingin Luna dengar. Setelah tiba di depan sahabatnya itu, Luna melirik lagi jam yang melingkar di tangannya. Masih ada waktu lima belas menit.
"La, kita bicara bentar." Luna menarik Sheila ke samping lab bahasa, ada semacam teras yang tidak sering dilewati orang di sana. Bagi Luna itu tempat yang cocok untuk bicara karena tidak terlalu jauh dari kelas karena sebentar lagi kuliah akan dimulai.
"Gimana kemarin?" Luna mengurungkan niatnya sejenak dan memilih menanyakan hal yang memang ingin ia tanyakan sejak semalam. Lupakan dulu Tara dan EL.
Sheila mendengus sangat keras mungkin menyamai kuda yang sering nongkrong di sepanjang jalan Malioboro hanya kurang liurnya saja yang tidak menetes saat ini. Kalau Sheila mendengus sedahsyat ini itu artinya tidak bagus tentu saja.
"Sebenarnya kalau dia nggak getol dan ngeyel datang ke Yogya mungkin poinku sama dia nggak turun. Tapi kemarin sore dia udah bikin aku turun poin gila-gilaan. Kalau ada nilai yang lebih rendah dari minus mungkin itu lebih pantas aku sematkan ke jidatnya tuh orang." Geram Sheila, ia bahkan sesekali berdesis mirip Sanca.
"Emang sebelumnya poin kamu berapa sama dia?" Tanya Luna polos.
Sheila tidak menjawab dan hanya memberi tanda dengan tangannya, ia membentuk angka nol menggunakan telunjuk dan ibu jarinya.
"Ha?"
"Tapi kan nggak minus." Sheila mencoba membela diri.
"Emang dia ngapain kamu?" Tanya Luna prihatin.
"Ngapain? Ih...najis tralala deh..." Sheila bergidik. "Aku kira dia cuma sekedar banyak ngomong eh nggak taunya omongannya juga setinggi langit, bikin kuping sakit dan tangan gatel pengen nampol pake sandal."
"Wow...that's rhyme." Luna ngakak. "Bisa juga ya kamu marah kalimatnya berima gitu."
"Ah Luna..ketawa lagi!" protes Sheila kesal. Luna masih cengengesan, matanya sibuk mengamati ruang kelas Perancis mereka untuk memastikan Pak Ryan sudah tiba tapi ternyata seperti perkiraan, dosen wangi itu belum juga menunjukkan batang hidungnya. Dalam hati Luna berharap Pak Ryan tidak masuk dan ia serta Sheila bisa berakhir di kosnya untuk membahas masalah Tara dan keinginan ajaibnya menjadi guru di EL.
Caca, si biang kerok yang tadi ingin Luna hindari, tiba-tiba melintas di dekat mereka. Meski sudah berusaha menyembunyikan wajahnya agar si biang kepo Caca tidak tahu keberadaannya, Luna tidak bisa membuat sosoknya dan Sheila invisible.
"Luna!" Caca berlari dengan lincahnya menghampiri Sheila dan Luna. "Pak Ryan nggak masuk. Kita hanya disuruh ngambil tugas yang ditaruh di sekretariat. Nih aku udah ambilin buat kalian." Caca mengacungkan dua lembar kertas di tangannya. Luna menggerutu dalam hati, ia merasa Caca berusaha keras untuk dekat dengan Luna dan Sheila. Bukannya Luna atau Sheila jahat sih tapi satu kelas sudah tahu bagaimana sifat Caca. Dia tipe cewek yang bisa memanfaatkan rahasia teman agar bisa masuk ke dalam pergaulan sebuah kelompok.
Luna ingat saat semester awal, Caca sangat dekat dengan Via dan Tiwi, tapi karena ingin sekali masuk dalam gengnya Vidia yang cukup popular di kalangan senior, Caca dengan teganya menjual rahasia Tiwi pada Vidia dan teman-temannya. Setelah itu kabar tentang Tiwi yang jatuh cinta berat pada Rafa, kakak tingkat mereka yang kebetulan sedang didekati Vidia, menjadi topik hangat di seantero kampus bahkan Caca tega membuka rahasia Tiwi yang dengan segala kesederhanaannya telah membelikan sepatu bermerk cukup mahal untuk ia hadiahkan pada Rafa namun ditolak oleh Rafa. Sampai di situ semua orang merasa iba pada Tiwi hingga sampai batas ia malu masuk kelas, tapi ada beberapa cewek yang bersimpati pada Tiwi dan akhirnya mencap Rafa sebagai cowok sombong yang hanya melihat cewek dari penampilannya saja. Padahal kalau kata Sheila yang cukup dekat dengan Rafa, sebenarnya penolakan yang digambarkan oleh rumor yang beredar terlalu berlebihan. Rafa tidak mau menerima hadiah Tiwi karena ia menganggap Tiwi tidak perlu melakukan hal itu. Namun terlanjur rumor sudah menyebar, dan tentu saja yang sangat dirugikan adalah Tiwi karena cewek model Vidia dan antek-anteknya pasti akan mencap Tiwi sebagai cewek nggak tahu diri dan lupa bercermin karena sudah berani-beraninya menyukai Rafa.
"Makasih ya." Sheila langsung menyambar kertas di tangan Caca dan segera menarik tangan Luna pergi meninggalkan Caca yang terbengong-bengong sendiri.
"Dia pikir dia mau gantiin posisi Tara apa ya?" omel Sheila yang bagi Luna suudah mirip mbah dukun karena bisa membaca apa yang ada dalam otak Caca tanpa perlu memakai intermezzo obrolan yang agak sedikit provokatif di depan kelas seperti yang Luna alami tadi. Luna memandang takjub pada Sheila.
"Kenapa?"
"Kamu kok bisa cepat banget baca pikirannya si Caca kepo?" kata Luna masih dengan nada takjub.
"Membaca pikiran orang semacam si Caca kepo mah nggak perlu cerdas-cerdas amat kali." Kata Sheila enteng sambil mencolek pipi Luna. Cewek itu langsung berdesis marah merasa disindir oleh Sheila.
"Tadi si Caca gosipin Tara. Tapi kali ini Caca malah membantu La."
"Membantu gimana?" Sheila menarik karet rambut dari tasnya dan mengikat rambut panjangnya, ia sempat mengipasi belakang lehernya dengan kertas tugas Bahasa Perancis.
"Dia cerita kalau Tara sering ke kosnya Vidia. Caca dan Vidia kan sekos." Beritahu Luna dan membuat Sheila paham. "Katanya..." Luna terdiam sebentar. Kedua alis Sheila naik menanti lanjutan kata-kata Luna.
"Katanya apa?"
Luna pun menceritakan semua yang dikatakan Caca padanya. Satu hal yang perlu dipuji dari Caca adalah kejujurannya terlepas kejujuran itu akan menyakiti orang lain atau merusak hubungan orang lain, yang penting dalam hal ini, Caca itu jujur dan semua kata-kata yang keluar darinya biasanya berdasarkan fakta. Caca bukan tipe cewek yang mengarang-ngarang sesuatu, mungkin fakta yang ia ungkapkan seringnya berakhir jadi berlebihan karena bumbu-bumbu yang menempel selama fakta itu terbang dari satu mulut ke mulut lain. Karena Luna jadi pendengar pertama dari fakta itu maka Luna bisa percaya dengan semua informasi darinya.
"Tara sampai melakukan itu? Apa sih yang ada di otaknya?" Sheila emosi tiba-tiba. "Aku nggak nyangka dia kayak gitu, emang dia nganggap kita berdua apa sih? Tega banget ya! Memangnya pas dia susah dan ngangis-nangis nggak jelas gara-gara cowok, siapa yang hibur dia? Dengerin dia? Nemenin dia? Sumpah ya Lun! Kalau dia sampai melangkah lebih jauh dari apa yang kita duga..sumpah! Aku nggak akan kenal dia lagi!" Napas Sheila memburu, bibirnya bahkan sampai bergetar saking marahnya. Luna takut melihat Sheila yang seperti ini. Ia cepat-cepat mengelus punggung Sheila dan mereka berjalan dalam diam menuju kos Luna.
Keduanya duduk menekuk lutut dan saling berhadapan. Apa yang dilakukan Tara sudah terlalu berlebihan menurut mereka.
"Seberapa besar sih salahku di mata Tara?" Luna bergumam pelan.
"Mungkin sama besarnya dengan niatnya merusak hubungan kamu dengan Kalan."
"Kenapa sulit sekali sih dia menerima hubungan kami toh dia nggak pernah mencintai Mas Kalan."
"Karena dia merasa kamu sudah merusak hubungannya dengan Bintang. Meski Bintang nggak membalas perasaan kamu tapi Tara akan selalu iri dengan kedekatan kamu dengan Bintang. Bahwa kamu yang mengenal dan mencintai Bintang terlebih dahulu. Mungkin bagi kita itu bukan hal besar, silly banget memikirkan siapa yang pertama hadir di hidup cowok itu tapi nggak bagi Tara. Itu hal besar untuknya. Kamu beda dengan Mitha, karena kamu sahabatnya, sedang Mitha hanya seorang yang ia nggak kenal. Begitulah Tara. Sebenarnya kamu sudah tahu itu tapi kamu mengabaikan pemikiran itu karena kamu merasa Tara adalah sahabatmu sendiri, dan itulah kamu, Luna."
"Oke kalau memang benar Tara mau melakukan niatnya, aku harus menghadapinya. Aku percaya Mas Kalan, tapi kalau hal terburuk nanti terjadi aku nggak akan tinggal diam." Luna bertekad. Ia tidak menyangka hubungan persahabatannya dengan Tara berakhir hanya gara-gara cowok.
***
Luna membuka gerbang dengan wajah datar tanpa ekspresi, berbeda dengan Kalan yang terus mengumbar senyum sejak turun dari motornya. Beberapa detik Kalan masih belum menyadari kalau Luna sedang menyimpan kekesalan padanya, karena itu Luna mulai menyentakan kakinya dan beberapa kali berdecak saat langkah mereka mendekati teras kamar Luna.
"Kenapa Lun?"
"Kesal aja."
"Sama aku?"
"Hmmmm..." Luna bersedekap dan tidak mau memandang wajah Kalan. Kalan melepaskan jaketnya dan memajukan duduknya hingga bisa menatap wajah Luna lebih dekat.
"Bilang dong kamu kesal kenapa?" kata Kalan lembut dan membuat Luna justru semakin ingin mencubitnya keras-keras. Kenapa sih cowok sulit sekali peka dengn situasi di sekelilingnya? Gerutu Luna dalam hati.
"EL punya program baru kan?"
"Ya..."
"Tara ikut program itu tapi kenapa Mas Kalan nggak cerita?" Luna mengerutkan bibirnya menahan kesal. Kalan malah tertawa kecil.
Kalan mengulurkan tangannya ke arah Luna dan menyelipkan helaian rambut yang menjuntai ke wajahnya ke belakang kupingnya, lalu kedua tangan Kalan menangkup wajah cewek itu dan memandang matanya dalam-dalam.
"Kamu nggak perlu khawatir, Lun. Tara sudah nggak ada lagi di sini." Kalan menarik sebelah tangannya dan menunjuk dadanya. "Hanya kamu sekarang, Lun. Kamu percaya kan?"
Luna mengangguk pelan kemudian tersenyum.
"Dan kamu nggak perlu khawatir, dia kelihatan serius dengan pelatihannya, dan sepertinya ia bersikap biasa sama aku, nggak ada yang berlebihan."
"Syukurlah." Namun dalam hati Luna masih merasa janggal. Kalau memang benar Tara bersikap biasa dan tak berlebih menarik perhatian Kalan, lalu apa motifnya ikut pelatihan itu? Sekali lagi bukannya Luna tidak percaya Tara punya niat yang mulia untuk dirinya sendiri tapi...ini Tara! Entahlah semuanya membingungkan, seharusnya Luna tak perlu terus berpikir tapi ia tidak bisa melakukannya.
"Minggu depan ulang tahun kamu. Kamu punya rencana sama Sheila?"
"Aku pengen punya rencana sama kamu." Luna tersenyum dan membuat Kalan tak tahan untuk menariknya dalam pelukannya.
"Aku udah janji sama Ayah dan Ibu untuk ngenalin Mas Kalan ke mereka. Bagaimana kalau pas ulang tahunku aja?" Luna mengangkat wajahnya memandang Kalan. "Nggak apa-apa kan?"
"Tentu saja nggak apa-apa, hanya saja..." Kalan menganggutung kata-katanya.
"Hanya saja?"
"Pasti hari itu akan jadi hari paling mendebarkan." Kalan tertawa kecil berusaha menutupi kegugupannya yang datang jauh lebih cepat hanya dengan memikirkannya saja.
"Tenang. Ayah dan Ibu adalah orangtua yang paling santai di dunia ini. Mas Kalan nggak perlu khawatir. Atau...kita tunda aja?" tawar Luna.
"Nggak! Jangan! Aku percaya sama kamu." Tukas Kalan dengan penuh percaya diri. Luna kembali menjatuhkan kepalanya ke d**a Kalan. Hanya terdiam dengan posisi seperti ini sudah membuat Luna bahagia. Kalan sibuk mempelajari tugas-tugas yang harus ia lakukan sebagai pendamping pelatihan melalui tablet di tangannya dan Luna hanya diam memandang langit menunggu detik-detik mentari tertelan di langit barat di antara rumah-rumah bertingkat dan menunggu bayangan pucat bulan perlahan memerah saat malam mulai merambat.
***
Genap dua minggu sudah Tara menjauhi Sheila dan Luna. Anehnya beberapa hari terakhir Sheila dan Luna tidak lagi mendapat tatapan dingin Tara, ia memang tidak menyapa namun wajahnya pun tak menampakan ekspresi bermusuhan tidak seperti hari-hari sebelumnya.
"Terasa banget ya nggak ada Tara di antara kita." Tukas Sheila sambil meletakkan bantal di antara dirinya dan sisi ranjangnya. Ia meluruskan kedua kakinya dan menyalakan TV di depannya. Emosi Sheila yang cukup terbakar saat itu sepertinya sudah mereda seiring hari berlalu dan juga tidak tampaknya aksi Tara yang berlebihan yang sempat mereka duga.
"Kamu masih kontak-kontak sama Mas Bintang nggak?" Sheila menoleh pada Luna yang sedang membolak-balikkan majalah Girlfriend edisi terbaru.
"Sejak Tara konfrontasi aku hari itu aku udah nggak pernah kontak Mas Bintang lagi. Sekali dia pernah SMS tapi nggak aku balas. Rasanya nggak enak sih tapi dari pada memicu pertengkaran yang lebih besar mending nggak usah." Luna tak mengalihkan matanya dari majalah yang sedang dibacanya.
Bicara tentang Tara tak akan habisnya jadi Luna dan Sheila memutuskan untuk tidak akan membahas lagi masalah yang sama. Kalau memang Tara akan kembali maka dengan senang hati Sheila dan Luna menyambutnya. Mata Sheila tak beralih dari layar TV sedang Luna di sebelahnya sudah mulai meringis lapar. Perut Luna mulai berorkestra dan berkali-kali ia meneguk ludahnya saat membayangkan bakso perempatan yang tak jauh dari rumah Sheila. Bakso itu sudah menjadi sasaran Luna sejak di kampus tadi hingga ia menunda makan di kantin namun sepertinya Luna harus bersabar sedikit lebih lama karena Sheila tidak bisa diganggu saat sedang menyaksikan Cold Case. Luna melirik jam dan masih setengah jam lagi serial itu tamat, ia menyambar gelas berisi es teh di dekatnya dan menenggaknya hingga tandas untuk sementara mengusir rasa laparnya.
Sheila menyeka matanya yang basah saat muncul adegan terakhir yang diiringi lagu I Wanna Know What Love is milik Foreigners. Luna menahan senyumnya melihat Sheila yang selalu berakhir dengan mata yang basah setiap kali melihat serial ini. Ia menyodorkan kotak tisu ke hadapan Sheila.
"Makan yuk La. Laper. Aku pengen bakso perempatan."
"Ayuk, tapi aku cuci muka dulu." Sheila beranjak ke kamar mandi. Luna menyempatkan untuk rebahan sebentar dan meregangkan tubuhnya. Ia menguap berkali-kali. Ia menatap langit-langit kamar Sheila, dan wajah Kalan dan Tara bergantian muncul di sana. Hari ini Kalan seperti biasa menghabiskan waktu di EL untuk pendampingan dan di sana Tara juga ada. Meski sudah berusaha untuk tidak berpikiran buruk pada Tara dan percaya kepada Kalan tapi tentu saja Luna tidak bisa menahan otaknya untuk berpikir. Ponsel Luna berbunyi di dekat kakinya, cewek itu bangkit dan melihat sebuah pesan masuk.
Lun, apa kabar?
Pesan dari Bintang dan membuat Luna jadi serba salah untuk memutuskan membalasnya atau tidak. Bintang tidak pernah bertanya saat Luna tidak membalas pesannya waktu itu dan kali ini dia mencoba sekali lagi.
Aku ngerti kamu mencoba membuat situasi jadi lebih baik tapi apa aku nggak boleh lagi ngobrol sama kamu?
Luna menghela napas berat seharusnya situasi ini tidak akan rumit seperti ini jika Tara tidak berulah. Tapi rasa ingin tahu dalam hati Luna mengenai hubungan Bintang dan Tara membuat jemarinya bergerak di atas ponselnya. Membuat situasi lebih baik bukan berarti harus menghindar.