Tara berjalan menunduk dengan langkah cepat, ia tak peduli dengan sapaan beberapa temannya. Sesampainya di mobil tangannya yang masih bergetar merogoh tasnya mencari-cari kunci setelah kunci dikeluarkan entah kenapa Tara tak berhasil memasukkan kunci ke lubangnya, sampai-sampai ia berteriak marah dan menyebabkan kuncinya itu terjatuh. Ia berjongkok di samping mobilnya dan sesunggukan. Ia menyesali semua kata-kata yang ia keluarkan tadi pada Luna, ia memang marah tapi ia tak pernah berniat sampai mengeluarkan kata-kata sekasar tadi. Ia cepat-cepat menyeka wajahnya dan membuka pintu mobilnya, lebih baik ia segera pergi dari sini sebelum ada yang melihat tampang kacaunya ini.
Tara langsung mengunci dirinya di kamar, ia mengingat kembali semua kata-kata Luna. Bukannya ia tak memahami apa yang dimaksud Luna hanya saja rasanya berat sekali menerima semua kebenaran itu. Ia tetap menyalahkan Luna karena telah menyembunyikan perasaannya tentang Bintang. Bagi Tara semua yang dilakukan Luna yang katanya tulus itu justru terasa seperti sebuah pengkhianatan. Khususnya pada Kalan, saat Luna diam-diam berhubungan dengannya.
Tara mengingat kembali betapa jahatnya ia dulu pada Kalan dan betapa hatinya bergetar saat melihat Kalan kembali dari Boston dengan semua perubahan yang ada pada cowok itu. Kalan persis seperti kepompong yang buruk rupa yang telah menjelma menjadi kupu-kupu. Tara mulai menyadari bahwa ia dulu terlalu sombong, matanya tertutup oleh keangkuhannya, dan ia tak melihat apa yang dilihat Luna. Itu kesalahannya dan ia tak bisa menyalahkan Luna untuk itu.
Satu per satu pengakuan muncul di dalam dirinya, namun Tara terlalu berat mengungkapkannya keluar. Ia tak sanggup menunjukkan pada dunia bahwa dia salah.
"Aku nggak bisa, tetap aja Luna yang melakukannya terlebih dahulu, dia sudah membohongiku!" jerit Tara dalam hati berusaha terus membenarkan dirinya.
***
Luna membuka pintu kamarnya dan sedikit menyipitkan matanya saat sinar mentari sore menembus masuk melalui tirai bambu yang menutupi bagian depan terasnya dan mengarah langsung ke matanya. Kalan melangkah mendekatinya dan bayangannya mampu menghalau silaunya dan membuat mata Luna kembali normal untuk menangkap sosok yang sudah berdiri di depannya. Baru satu langkah kaki Luna keluar melewati ambang pintu, Kalan langsung memeluknya erat-erat hingga membuat Luna tak mampu bernapas. Ia mendorong tubuh Kalan menjauh. Semua darah di tubuhnya seperti mengalir naik ke wajahnya.
"Mas Kalan apa-apaan sih? Nggak enak lagi kalau ada yang lihat."
"Maaf."
Kalan menggandeng Luna dan membawanya ke kursi panjang di terasnya. Mereka duduk bersisian.
"Aku minta maaf Lun. Kemarin aku benar-benar buru-buru soalnya pelatihannya agak molor." Hati Kalan sedikit berdesir saat mengatakan kebohongan ini. Luna tidak mengangguk atau memberi reaksi apapun, ia hanya diam agar Kalan tahu bahwa pelukan dan permintaan maafnya tidak begitu saja menghapus rasa kesalnya.
"Maafin aku ya...please..." Kalan mencari-cari mata Luna yang enggan ia tunjukkan sebagai aksi ngambeknya. "Ayolah Lun...sayang..." kata terakhir Kalan berhasil membuat Luna mengangkat wajahnya, cowok itu masih tersenyum dan mau tak mau Luna akhirnya luluh dan tersenyum.
"Oh ya Lun, aku juga mau ngajak kamu ketemu ibuku. Tapi sebelum itu..." Kalan berhenti sejenak memandang Luna. "..kamu harus tahu sesuatu tentang keluargaku." Kalan mengatur posisi duduknya agar langsung menghadap Luna.
Dan setelah itu dengan perlahan-lahan dan mencari kata yang benar-benar tepat, Kalan mulai menceritakan tentang latar belakangnya. Secara keseluruhan tak ada bedanya dengan yang sudah dikisahkan Sheila waktu itu. Selama bercerita Kalan terus menunduk dan Luna terus menggenggam tangannya. Luna tahu Kalan pasti cukup berat menceritakan masa lalunya yang pahit, ia cukup berhati-hati dengan setiap kalimatnya sepertinya ia ingin agar Luna tak menaruh iba yang dalam pada kisahnya. Ada rasa hangat yang mengalir di seluruh sudut hatinya saat Luna mendengar cerita Kalan ini. Ia senang Kalan sudah menganggapnya orang yang penting dalam hidupnya yang berhak tahu tentang latar belakangnya.
"Begitulah keluargaku." Kalan mengakhiri kisahnya. Tangannya memainkan jemari Luna dalam genggamannya. "Kamu masih tetap menyukaiku kan?" tanya Kalan hati-hati. Luna tersenyum.
"Wow." Ia berkomentar pendek. "Ibu pasti bangga Mas Kalan bisa tumbuh sehebat sekarang."
"Hebat?" Kalan tertawa kecil, tangannya mengelus kepala Luna penuh sayang. "Sekarang belum hebat Lun. Semoga suatu hari nanti." Mereka tertawa bersama.
"Ah! Aku lupa!" Kalan berdiri dan cepat-cepat keluar. Tak lama ia kembali sambil membawa kantung plastik hitam. Ia mengeluarkan kotak putih dari dalamnya.
"Martabak keju Kota Baru." Ia menyodorkan kotak itu ke hadapan Luna. Cewek itu tertawa senang dan mendaratkan ciuman kilat ke pipi Kalan, mereka sama-sama terkejut dan akhirnya tersipu malu.
"Mas.."
"Hmmm..."
"Bagaimana Tara? Diakan ikut pelatihan itu." Luna menyeka tangannya yang berminyak dengan tisu. Ia berusaha membuat nada suaranya terdengar biasa dan tak terkesan sedang menyelidiki. Padahal di sebelahnya Kalan cukup gugup saat Luna bertanya tentang Tara. Ingin sekali ia jujur pada Luna tentang apa yang terjadi sore itu tapi rasanya ia tak ingin merusak suasana yang sudah terjalin indah ini.
"Lumayan. Aku juga nggak ngira dia tertarik jadi pengajar."
Kalan mencoba lari dari pandangan Luna dengan berpura-pura membersihkan meja dari remah-remah keju yang terjatuh. Melihat Kalan yang tak berusaha memandangnya saat bicara tentang Tara membuat Luna sedih, kata-kata Tara kemarin kembali terngiang.
"Menurut Mas Kalan, Tara bisa lolos jadi salah satu pengajarnya nggak?" Luna kembali bertanya kali ini mencoba melihat apakah Kalan berani memandang matanya saat menjawab pertanyaan ini.
"Aku nggak tau." Kalan menoleh sebentar memandang Luna dan tersenyum kemudian kembali ia mengalihkan pandangannya dari Luna. Bagi Luna jawaban Kalan itu hanya bertujuan untuk membuat Luna tidak bertanya lagi. Luna berusaha keras untuk memahami Kalan, mungkin Kalan butuh waktu untuk membicarakan Tara dengan lebih santai. Baiklah Luna coba memahaminya. Tangannya bergerak meraih tangan Kalan dan menggenggamnya, mencoba mengirimkan sinyal pada cowoknya itu bahwa ia mau memahaminya.
***
Kalan memandang puas kotak mungil berisi parfum yang sudah dibungkus indah dengan kertas kado berwarna pink. Ia membeli parfum itu di Little Italy waktu berkunjung ke New York tentu saja dibantu Krystal. Ia memasukkanya ke dalam tas kertas mungil yang juga berwarna pink. Ia kemudian tertawa sendiri, lebih tepatnya menertawai dirinya sendiri karena sudah begitu peduli dengan hal-hal manis seperti ini. Sepertinya selama enam bulan di Boston, Kalan tidak hanya belajar tentang teori dan kritik sastra tetapi juga belajar mengubah cara pandangnya terhadap sesuatu yang dulu ia benci. Seperti apa yang dilakukan sekarang, membungkus kado dengan kertas serba pink.
Krystal pernah berkata padanya bahwa hobinya menulis puisi sebenarnya termasuk dalam kategori romantis, dan beberapa cowok pun enggan melakukannya. Karena kadang kita melakukan sesuatu bukan untuk memuaskan diri kita tapi untuk orang yang kita sayang, begitulah pesan sakti Krystal yang cukup banyak merubah Kalan. Ia bisa bercermin dari hubungan Krystal dan David yang sudah berjalan hampir tiga tahun dan mereka terlihat rukun meski sifat mereka sangat bertolak belakang.
Kalan memasukkan tas kertas mungil berisi kado ulang tahun Luna dengan sangat hati-hati ke dalam ranselnya. Rencananya nanti setelah dari EL, ia akan menjemput Luna dan sama-sama ke rumahnya menggunakan taksi. Butuh waktu untuk memberi pengertian pada Ibunya Luna kalau Luna pasti akan sering naik motor bersama Kalan. Dan karena hari ini istimewa dan Kalan perlu mendapatkan kesan pertama yang positif, maka Kalan setuju untuk naik taksi.
Kalan masuk ke dalam kelas yang sudah terisi penuh, ia menyapa semua peserta dan dua teman pendamping lainnya. Namun matanya tak menemukan sosok Tara. Ia mencoba fokus ke hal lain dan tak mau terlalu memikirkan cewek itu tapi mengingat ini adalah pertemuan terakhir sebelum tes akhir, ada rasa kecewa yang muncul di hati Kalan.
Pertemuan dua jam itu diakhiri dengan tepuk tangan meriah dan foto bersama. Kalan cukup popular di antara peserta karena banyak peserta cewek yang meminta foto bersamanya. Ia melirik jam di pergelangan tangannya, hatinya mulai berdebar pelan karena tahu sebentar lagi ia akan berhadap-hadapan dengan orang tua Luna. Tak bisa dipungkiri juga bahwa sebagian hatinya juga khawatir pada Tara. Ia menduga pembicaraan mereka minggu lalu adalah penyebab tidak hadirnya Tara saat ini.
Ia bergegas keluar dari ruangan, ia sudah terlambat hampir lima belas menit gara-gara jadi selebriti dadakan tadi, namun langkahnya melambat saat melihat di luar ternyata hujan turun cukup deras. Kalan berdiri di depan kaca besar di dekat tangga sambil berdecak kesal. Kenapa Yogya yang biasanyanya panas menyengat tiba-tiba turun hujan? Benar-benar bukan waktu yang tepat. Ia mengambil ponsel dan mendial nomor Luna.
"Lun, sekarang hujan. Aku stuck di EL, kamu ke sini pake taksi jemput aku nanti motorku biar kutinggal di sini sama Pak Satpamnya. Oke."
Kalan bergegas menuruni tangga. Ia menyapa beberapa peserta yang ia temui di lobi, mereka kebanyakan belum pulang karena menunggu hujan reda. Kalan melongok keluar melalui jendela kaca untuk memastikan hujannya sudah mulai reda, dan matanya tak sengaja melihat mobil yang sangat ia kenal ada di tempat parkir. Apa itu mobil Tara? Kalau iya kenapa tadi ia tidak masuk?
Beberapa peserta yang tadi menunggu, satu per satu mulai meninggalkan lobi.
Kalan membaca pesan Luna yang mengatakan ia sulit sekali mendapatkan taksi, karena itu ia meminta Kalan bersabar. Untuk mengusir rasa bosannya, Kalan berbincang sebentar dengan resepsionis EL dan saat matanya mengarah keluar, mobil putih itu masih ada di tempatnya. Karena penasaran Kalan melangkah keluar dan mencoba mencari tahu apa benar itu mobil Tara. Dan di saat yang sama pintu mobil itu terbuka, Tara turun dari mobilnya dan membuat Kalan terperanjat. Cewek itu berlari kecil sambil melindungi kepalanya dari gerimis.
"Kenapa kamu di sini? Kenapa nggak masuk tadi?" Kalan langsung menyapa Tara dengan pertanyaan saat cewek itu tiba di depannya.
"Aku juga nggak tahu kenapa." Jawab Tara pelan tangannya menyeka rambutnya yang basah. "Aku minta maaf." Sambungnya lagi.
"Lalu kenapa kamu ada di sini?"
"Aku juga nggak tau." Jawaban Tara ini semakin membuat Kalan bingung, dan ia baru menyadari sebentar lagi Luna akan tiba di sini. Ia mulai gelisah. Ponsel di tangannya berbunyi dan rasanya jantungnya hampir berhenti seketika. Untung bukan nama Luna yang tertulis di sana.
"Iya Pak...iya..." tangannya meremas kuat-kuat ponselnya, matanya tiba-tiba berkaca-kaca. "Iya...iya aku segera ke sana."
"Ra, maaf aku harus pergi." Tangan Kalan sedikit bergetar dan wajah pucatnya tak bisa disembunyikan, Tara melihat perubahan yang drastis dari Kalan.
"Ada apa Mas?" tanya Tara khawatir. "Mas.."
"Aku harus ke rumah sakit." Kalan tampak bingung. Ia merogoh tasnya mencari kunci motor namun karena panik ia justru tidak menemukan apa-apa.
"Aku antar...ayo..." Tara menarik tangan Kalan.
"Nggak." Kalan menggeleng. "Aku bisa sendiri."
"Sudahlah Mas, kamu lagi panik biar aku yang antar." Tara menarik tangan Kalan lebih keras dan cowok itu tidak lagi membantah. Di dalam mobil Kalan terus menelepon. Tara pun akhirnya tahu ada sesuatu yang terjadi pada Ibu Kalan. Mobil mengarah menuju Kaliurang, menuju rumah sakit Panti Nugroho. Sesekali Tara melirik Kalan yang begitu larut dengan rasa panik dan sedihnya, Tara tak berani mengeluarkan sepatah katapun. Ia menyetir dalam diam dan membiarkan Kalan terus larut dengan perasaannya. Jalan menuju kaliurang masih basah sepertinya hujan baru saja berhenti. Dan kendaraan yang menuju ke Utara ternyata cukup padat, khususnya kendaraan roda dua.
"Ya Tuhan Luna!" tiba-tiba Kalan berseru dan cukup mengejutkan Tara. Ia mengeluarkan ponsel dari kantungnya dan memeriksa apakah ada telpon atau pesan masuk. Benar ada satu telepon tak terjawab dan satu pesan.
"Lun...Luna..." Kalan berbicara di telepon. "Aku minta maaf, ada hal penting yang harus kuselesaikan. Kamu langsung ke rumah aja nanti aku akan nyusul setelah selesai, oke. Aku minta maaf...Lun..Luna?" Kalan menghela napas berat.
Tara yakin Luna pasti memutuskan teleponnya. Sebagai sahabat Tara tahu ini adalah hari spesial Luna. Sedih juga mengetahui ia tak bisa bersama Luna dan Sheila untuk merayakannya.
"Kenapa Mas Kalan nggak bilang kalau..."
"Nggak. Aku nggak mau Luna khawatir hari ini. Hari ini ulang tahunnya."
Tara mengangguk paham.
Mobil memasuki halaman Panti Nugroho. Tara memberi tanda pada Kalan untuk turun terlebih dahulu dan dia akan menyusul nanti. Kalan berlari secepat kilat saat ia melihat pamannya yang ia panggil bapak berdiri menantinya di depan IGD.
"Ibumu sedang ditangani. Kamu nggak usah panik. Kata dokter dia akan baik-baik saja." Pria berusia lima puluh tahun itu menepuk punggung Kalan.
"Kenapa ibu bisa jatuh? Apa jantungnya kambuh lagi? Bukannya dulu katanya sudah sembuh?" tanya Kalan beruntun.
"Bapak nggak tau persis tapi kata Bu Rita akhir-akhir ini gula ibu juga naik. Mungkin karena itu."
Tara mendekati Kalan dan pamannya, dan langsung memberi salam. Kalan mengenalkan Tara pada pamannya. Selama menunggu berbagai pikiran buruk sempat mengampiri Kalan. Apalagi saat melihat beberapa pasien yang terbaring tak berdaya di atas dipan dorong yang melintas di depan mereka. Kalan mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat mencoba mengusir gelisahnya.
Setelah menunggu hampir setengah jam dokter keluar dari ruangan Ibu dirawat. Ia berbicara sebentar pada Kalan dan pamannya, hasilnya pemeriksaannya menurut dokter, ibu terkena serangan jantung ringan dan memang ada pengaruh kuat dengan kadar gula darahnya yang meningkat.
Kalan mendekati ibunya yang masih terbaring lemah, ia mengurungkan niatnya untuk memeluk wanita itu karena takut akan terjadi apa-apa padanya. Ibu masih belum sadar, namun ia bernapas dengan cukup teratur. Kalan beralih pada Tara yang berdiri diam di dekatnya.
"Ra, kamu pulangah. Ini sudah malam." Tara mengangguk pelan.
"Kalan..." sebuah suara yang sangat lemah memanggil nama Kalan. Ia bergegas mendekati ranjang ibunya saat tahu ibunya sudah sadar.
"Ibu.." Kalan menggenggam tangan ibunya erat-erat. Mata Ibu membuka dan berusaha tersenyum pada putranya. Tak berapa lama mata letih itu beralih pada Tara yang berdiri tak jauh dari Kalan.
"Luna?" Ibu menyebut nama Luna. Kepala Kalan bergerak cepat memandang Tara, cewek itu hanya membalasnya dengan senyum meski ia sudah dikira Luna.
"Ibu istirahat ya...jangan banyak bicara dulu. Aku akan tunggu di sini." Ibu mengangguk lemah dan matanya kembali memejam. Kalan berjalan mendekati Tara.
"Maaf ya..."
"Nggak apa-apa. Aku mengerti." Kalan menemani Tara ke tempat parkiran dan menunggu hingga mobil cewek itu hilang dari pandangannya. Ia mengeluarkan ponselnya dan mencoba menelepon Luna, namun rasa marah dan kecewa Luna telah membuatnya tidak mengaktifkan ponselnya. Kalan mengusap wajahnya dengan kedua tangannya. Ia berjalan kembali ke kamar ibunya.