Jam sudah menunjuk angka delapan dan tidak ada tanda-tanda Kalan akan muncul di depan pintu rumahnya. Ayah dan Ibu berusaha tidak mau mencampuri urusan anak gadisnya karena itu mereka malah asyik berkaraoke di ruang tengah bahkan Mbak Yati ikut-ikutan menyumbangkan suara dengan lagu Sewu Kuto milik Didi Kempot hingga membuat kepala Luna mau pecah. Ini benar-benar ulang tahun terburuk, kalau tahu begini lebih baik ia mengajak Sheila makan sepuasnya di Pizza Hut.
Ia menendang kursi rotan di depannya dengan kekesalan penuh. Ia yakin sekali cewek yang pergi bersama Mas Kalan adalah Tara. Pak Satpam EL sudah menggambarkannya dengan sangat detil.
"Tega banget sih! Apa maunya Mas Kalan? Entar gini esoknya gitu? Dia sayang nggak sih sama aku? Kalau dia masih suka Tara bilang aja!" Luna kembali menendang kursi rotan yang tidak bersalah itu. Dan suara Mbak Yati yang lirih merintih di dalam sana semakin membuat emosi Luna naik berkali-kali lipat.
"Lun?" Ibu muncul dan menatap iba kursi rotannya yang sudah berubah posisi jadi nungging. Ibu dengan sabar mengembalikan kursinya ke posisi semula.
"Pasti urusannya itu penting banget, Nak. Sudahlah besok pasti Kalan akan jelasin semuanya. Kita makan aja yuk, Ayah udah laper tuh." Bujuk ibu sambil menarik tangan Luna. Dengan enggan Luna menuruti langkah ibu. Kalan sudah benar-benar merusak hari bahagianya, dan ia akan sulit memaafkan Kalan untuk hal ini. Pergi dengan Tara? Luna tiba-tiba menghentakkan kakinya ke lantai penuh amarah dan membuat Ibu cukup kaget. Ia pun merangkul putrinya itu mencoba menghiburnya.
Setelah selesai menyantap semua menu favorit Luna yang terhidang di meja, Luna kembali ke teras berharap Kalan akan muncul di sana. Ia sama sekali tidak berselera dengan segala ayam dan sapi olahan Mbak Yati yang paling yummie sekalipun.
Luna duduk sambil menaikkan kedua kakinya di atas kursi. Ia menumpukan kepalanya di atas kedua lututnya, menunggu dan menunggu. Sebuah langkah kaki mendekat, Luna segera mengangkat kepalanya cepat. Namun sosok yang ia kira Kalan ternyata Bintang.
"Mas Bintang?" Luna menurunkan kedua kakinya. Bintang melambai dan berjalan memasuki teras.
"Happy birthday Lun." Bintang mengulurkan tangannya.
"Makasih Mas."
"Oh ya...ini." Bintang mengeluarkan sesuatu dari kantong jaketnya. Sebuah kotak hitam sangat mungil yang terikat pita biru. Luna takjub memandang pemberian Bintang dari bentuk saja sudah mencurigakan. Tapi ia yakin yang diberikan Bintang bukan seperti yang ia pikirkan.
"Bukalah." Bintang menarik kursi yang tadi jadi korban amukan Luna dan duduk di sana. Bintang terus memandang Luna yang sibuk membuka kadonya. Saat kotak itu terbuka tampak sebuah liontin mungil berbentuk kupu-kupu. Mulut Luna menganga takjub, ia yakin liontin ini terbuat dari emas putih asli. Ini pasti mahal.
"Mas...ini..."
"Kamu nggak boleh nolak pemeberian tulus seseorang."
Luna memandang lekat-lekat liontin cantik itu dan ia tiba-tiba dihinggapi perasaan aneh. Ia dan Bintang di sini, sedang Kalan dan Tara sedang bersama di tempat lain. Ini sungguh aneh.
"Mas..."
"Please Lun. Terima aja. Lagian itu hanya liontin tanpa kalung jadi harganya nggak semahal yang kamu pikir." Tambah Bintang lagi. Ia mengulurkan tangannya ke atas punggung tangan kanan Luna dan mendorong tangan itu hingga kotak mungil yang terbuka di atas telapak tangan kiri Luna tertutup. Di saat itu mata Luna menangkap bayangan lain yang muncul tak jauh di depan mereka. Kepala Bintang ikut terarah sejurus mata Luna memandang. Ia segera menarik tangannya dan berdiri.
"Hai," Bintang mengangkat tangannya dan menyapa Kalan yang hanya termangu di sana.
"Lun, aku pulang ya. Sekali lagi selamat ulang tahun." Bintang berjalan keluar dari teras. Setelah Bintang menghilang dari pagar depan rumah Luna, Kalan perlahan mendekati Luna.
"Ngapain ke sini?" napas Luna memburu karena emosi.
"Aku tahu aku salah." Ekspresi Kalan tidak bisa menutupi rasa bersalah dan sesalnya.
"Tega banget Mas Kalan lakuin ini hari ini. Di ulang tahunku."
"Aku tahu...aku ngaku salah. Maaf Luna." Kalan semakin mendekati Luna namun cewek itu malah mundur selangkah.
"Kamu pergi dengan Tara?"
Kalan tidak menjawab. Ia ingin sekali berteriak menjelaskan semuanya namun situasi ini tidak mendukungnya. Luna terlalu marah padanya.
"Aku benar kan?" ia kembali mundur selangkah.
"Ada alasannya Lun, kamu sedang marah saat ini dan aku nggak bisa..."
"Ya aku marah! Marah banget! Kamu ngecewain aku, juga Ayah sama Ibu. Aku nggak tahu apa bisa maafin kamu."
"Tapi kamu bisa dengar penjelasanku."
"Sudah terlambat. Seharusnya Mas jelaskan empat jam yang lalu, bukan sekarang." Kalan menunduk.
"Kalau Mas Kalan masih menyukai Tara, aku nggak apa-apa. Mungkin kali ini aku akan merelakan, aku memang seperti malaikat, iya kan?" sindir Luna.
"Luna, please jangan ngomong seperti itu, aku..."
"Aku nggak mau ketemu kamu dulu, Mas." Luna melangkah masuk dan menutup pintu dengan cukup keras yang mungkin mampu membuat Mbak Yati berteriak latah. Kalan masih terpaku di tempatnya. Ia mengeluarkan hadiah kecilnya dari tas, memandangnya dengan penuh penyesalan. Ia hendak meletakkan kado kecilnya di kursi dan meninggalkannya di sana namun saat matanya terantuk pada kotak mungil hitam yang teringgal di sana, Kalan pun mengurungkan niatnya. Dengan berat hati ia memasukkan kembali kadonya lalu melangkah pulang dengan perasaan kalah.
***
Sekarang pukul sepuluh pagi dan sudah hampir satu jam Sheila menemani Luna yang terus tersedu-sedu di balik selimutnya. Bahkan boneka kelinci jelmaan stiker aplikasi Line, kesukaan Luna, yang dihadiahkan Sheila sama sekali belum diliriknya. Sheila hanya bersandar pasrah di tepi ranjang Luna sambil menunggu sahabatnya itu selesai berkabung bersama hatinya.
Perlahan Luna keluar dari selimutnya dengan wajah dan mata yang sama bengkaknya. Beberapa helai rambutnya menempel di wajahnya karena air mata. Sesekali ia menyeka hidungnya yang berair.
"Sudah lega?"
Pertanyaan Sheila malah membuat Luna kembali terisak.
"Luna...sudah dong." Sheila mengeluarkan boneka kelinci putih dari tas besar yang ia bawa dari rumah.
"Ta-da!" Sheila mengacungkan boneka itu ke hadapan Luna. Meski masih terisak Luna meraih boneka itu dan memeluknya erat.
"Makasih La." Kata Luna dengan suara serak, ia bergeser mendekati Sheila dan memeluk sahabatnya itu. Setelah itu Sheila kembali menunggu Luna untuk cukup tenang agar bisa bercerita apa yang sudah terjadi.
Sheila menghela napas, ada rasa tak percaya, marah, aneh, bingung, semuanya bercampur jadi satu saat mendengar cerita Luna. Ia mencoba berkali-kali mencerna cerita itu dan berusaha menarik kesimpulan dari sudut yang tak biasa, itu pun kalau ada sudut yang lain. Sheila menggeleng tak percaya karena harus dihadapkan dengan masalah serumit ini. Masalah cinta pula! Oh...ini yang membuat Sheila berniat memperpanjang waktunya untuk bisa berkompromi dengan cinta. Mungkin pacaran bukan lagi di usia 21 tetapi 25 dan menikah di usia 30. Hmmm...sepertinya begitu lebih tepat.
"Sheila!" Luna mendorong lengan Sheila dan membuat cewek itu keluar dari lamunan ngaconya.
"Kamu harus dengar penjelasan Mas Kalan. Ini sangat aneh menurutku. Kalian sudah janjian dan tiba-tiba dia harus pergi dengan Tara. Tentu saja ada penjelasan di balik itu Luna! Ayolah, kasih Mas Kalan kesempatan."
Luna menyeka lagi mata dan hidungnya yang masih tak mau mengering.
"Aku akan kasih kesempatan tapi nggak sekarang dan juga besok...entahlah La. Ini benar-benar sesuatu yang lama-lama kurasa...ini semua salah. Salah sejak awal." Rasa percaya diri Luna perlahan menguap begitu saja.
"Lun..jangan gitu dong." Sheila mengelus punggung sahabatnya, ia bisa memahami perasaan Luna.
"Sejak Tara tiba-tiba berniat ikut program di EL dan sejak ia terang-terangan mengatakan bahwa ia akan merebut Mas Kalan, aku yakin bahwa dia nggak akan berhenti. Lalu sampai kapan?" Luna memandang Sheila dengan tatapan memohon jawaban yang tepat.
"Tara hanya bisa menggertak, Lun. Aku yakin dia akan berhenti dan nggak akan sejauh yang kita duga. Ayolah Lun, kamu kenal Tara. Aku memang sangat emosi dan marah saat tahu ia bersikap seperti itu tapi setelah kupikir-pikir lagi aku ngerti kalau semua ancamannya, sindirannya, atau gertakan apapun yang keluar dari mulutnya hanyalah tameng untuk harga dirinya. Ia terlalu malu untuk mengakui, membenarkan, atau lebih dari itu, minta maaf."
Luna terdiam. Ia mencoba memaksa otak dan hatinya untuk mencerna semua kata-kata Sheila.
"Ya, kamu benar. Tara memang patut kusalahkan namun Mas Kalan jauh lebih bersalah."
"Karena itu, Lun, nggak usah nangis lagi. Pasti ada penjelasan yang masuk akal kenapa Mas Kalan melakukannya. Sekarang tenangkan hatimu saja, dan kita rayakan ulang tahunmu yang ketunda. Gimana? Pizza Hut?"
Luna mengangguk bersemangat. Sheila tertawa lega melihat Luna yang mulai tersenyum. Tangannya yang hendak mengambil tasnya dari atas meja tak sengaja menjatuhkan kotak hitam mungil yang sudah sejak tadi ada di sana. Sheila menunduk untuk memungutnya.
"Itu kado dari Mas Bintang." Beritahu Luna saat melihat ekspresi penuh ingin tahu di wajah Sheila.
"Oh ya?" Sheila cepat-cepat membukanya dan mulutnya langsung menganga saat melihat liontin kupu-kupu terbuat dari emas putih asli.
"Sebenarnya bagaimana sih perasaan Mas Bintang ke kamu?" kening Sheila mengerut bingung. Benda kecil di depannya ini terlihat begitu istimewa dan kalau Bintang menghadiahkan sesuatu yang istimewa pada Luna itu artinya sosok Luna cukup istimewa untuk Bintang.
"Aku nggak tahu. Aku juga nggak tahu kelanjutan hubungannya dengan Tara. Aku juga nggak mau cari tahu." Jawab Luna terkesan tak peduli, dan memang ia sudah tidak mau peduli.
"Kalian berempat kok udah kayak tokoh drama Korea tuh yang suka ada di TV. Mami kan candu sama drama Korea, aku sering dipaksa nemenin nonton. Si A suka B, si C suka B, si D mantannya si A, trus pengen ngerebut A dari si B, trus si C cintanya bertepuk sebelah tangan sama si B...haiiiisss pusing aku kalau nonton." Sheila ngomel-ngomel sendiri dan membuat Luna kembali tersenyum dan tertawa kecil pada akhirnya.
"Kok mataku bengkak banget La?" rintih Luna saat melihat wajahnya di cermin.
"Ya iyalah nangis terus semalaman gimana nggak bonyok tuh muka. Sana mandi aja lagi gih!" Sheila mendorong Luna ke kamar mandi.
"Tunggu ya, La."
"Iyaaaa."
***
Kalan duduk memandang nanar ke arah rumput hijau yang terawat rapi di depan ruang perawatan. Hawa sejuk Pakem seharusnya membuat ia merasa nyaman, namun ia sama sekali belum bisa memejamkan mata sejak semalam. Kekhawatirannya pada Ibu membuat ia tidak beranjak semenitpun dari samping ranjangnya. Dan kegelisahan lainnya adalah mencari cara untuk memenangkan hati Luna lagi. Ini jadi dilema terberat untuknya. Ia ingin sekali menemui Luna dan menjelaskan semuanya namun ia tak mau meninggalkan Ibu sendiri. Semalam karena ada Bu Rita, makanya ia bisa menyempatkan diri menemui Luna namun seperti yang sudah ia duga semuanya berakhir kacau.
Seketika ada luka yang besar dan menganga di hatinya, saat ia melihat Bintang dan Luna duduk begitu dekat semalam. Tatapan Bintang pada Luna tadi malam membuat kedua kakinya tak mampu digerakan, padahal ia ingin sekali berlari dan mengempaskan tangan laki-laki itu agar menjauhi kekasihnya. Namun kesalahan yang sudah ia lakukan benar-benar mematahkan semua keberanian itu. Dan menjadikannya sebagai orang yang kalah, ketika kekasihnya itu mengusirnya pergi.
Kalan mulai merasakan isi otaknya bergejolak, ia memijit-mijit sekitar keningnya. Rasa pusing yang sangat terus menderanya dan membuat ia ingin beristirahat sejenak. Ia menyandarkan kepalanya menempel tembok di belakangnya. Tangannya bersedekap dan kakinya ia luruskan jauh ke depan. Beberapa menit kemudian kepalanya mulai berayun-ayun ke depan dan terkulai ke bawah. Ia mendengkur pelan. Kalan terus berada dalam posisi tersebut hingga setengah jam kemudian. Ia tersadar saat seorang perawat membangunkannya.
"Mas Kalan?" Kalan terjaga dan membuka matanya, menegakkan duduknya dan berusaha fokus pada perawat di depannya. "Dicari ibunya." Perawat itu tersenyum ramah lalu meninggalkannya. Kalan bangkit dan memukul pelan bagian belakang lehernya.
"Ada apa, bu?" Kalan menarik kursi mendekati ranjang ibunya.
"Pulang, istirahat. Jangan sampai sakit." Tangan ibu meraih wajah Kalan dan melihat keletihan di sana.
"Sebentar lagi, bu. Ibu istirahat aja."
"Jangan keras kepala. Ibu sudah nggak apa-apa. Sebentar lagi Ibu Rita dan orang-orang Rumah ke sini. Kamu pulanglah, Tidurlah sebentar, ibu tahu semalaman kamu nggak tidur."
Kalan hendak membuka mulutnya namun ibu cepat-cepat memotong.
"Kalana! Pulanglah."
Kalan mengangguk. Ia mencium punggung tangan ibunya, mengenakan jaketnya dan melangkah keluar.
***
Jalanan di perumahan itu sudah tidak seramai satu jam lalu, anak-anak yang biasanya memenuhi lapangan di sudut jalan itu sudah kembali ke rumah masing-masing. Malam sudah mulai merambat sejak beberapa menit lalu, lampu-lampu di sepanjang jalan itu satu per satu mulai bercahaya. Meski begitu Tara tetap enggan untuk keluar dari mobil dan menyusuri jalan yang sudah tidak asing baginya itu.
Ia memarkir mobilnya di dekat lapangan di sudut luar jalan itu, menunggu seseorang. Tara berdiri setengah bersandar ke mobilnya, menatap lurus ke arah lapangan basket di depannya. Di matanya saat ini ia bisa melihat tiga cewek yang berlari ke sana ke mari sambil mengejar dan merebut bola, jauh lebih sering terdengar adalah jeritan mereka ketimbang bunyi bola yang beradu dengan ring.
Tara tersenyum sendiri mengingat awal persahabatan mereka. Hampir setiap week end, Luna pulang ke rumahnya dan memaksa Sheila dan Tara untuk nginap bersamanya. Dan biasanya mereka akan menguasai lapangan ini setelah didominasi oleh kebanyakan anak-anak diwaktu sore.
"Tara." Sebuah langkah kaki mendekat dan memaksa Tara untuk menegakkan tubuhnya. Kepalanya menoleh dan mendapati Bintang berjalan mendekatinya.
"Kenapa kamu di sini? Kenapa nggak di rumah aja?"
Tara mengedikan bahunya.
"Ada apa?"
"Aku datang mau minta maaf." Kata Tara lirih. Bintang menghela napas berat dan berdiri di sebelah Tara dengan sedikit menyenderkan tubuhnya ke mobil.
"Kenapa kita jadi seperti ini?" gumam Bintang.
"Aku yang salah. Karena itu aku minta maaf."
"Aku juga salah."
"Atau bisa dibilang hubungan ini memang salah?" Tara mengangkat wajahnya memandang Bintang. Dan beberapa detik Bintang tidak ingin melepaskan tatapannya dari wajah cantik Tara.
"Entahlah." Bintang menggeleng pelan. Tara kembali membuang pandangannya ke depan.
"Aku ingin bisa berkata seperti ini di depan Luna. Minta maaf sama dia." Tara menunduk. "Aku terbiasa dimengerti, dipahami, didengarkan dan akhirnya aku sulit melakukan itu untuk orang lain, bahkan untuk sahabatku sendiri."
"Luna pasti mau memaafkan kamu, Ra." Perlahan tangan Bintang merangkul bahu Tara dan menarik tubuh Tara lebih merapat ke arahnya.
"Aku tahu, Luna pasti maafin aku. Aku kenal banget siapa Luna."
"Kalau begitu jangan ragu." Tambah Bintang.
"Lalu bagaimana dengan kita?" kembali Bintang bersuara setelah beberapa detik ada hening di antara mereka.
"Mas Bintang sebentar lagi mau berangkat, dan rasanya kita juga memulai hubungan ini terlalu cepat." Tara memandang Bintang lekat-lekat, mencari sesuatu di mata cowok itu, sesuatu seperti sebuah keinginan besar untuk mempertahankan hubungan ini, namun Tara tak menemukannya. Ia tersenyum kemudian mengalihkan matanya dari Bintang.
"Kita bisa jadi sahabat yang baik." Tara mengambil kesimpulan dari apa yang ia lihat barusan, dan Bintang tidak membantah.
"Baiklah, kita akan jadi sahabat yang baik." Ulang Bintang lagi. Tara akhirnya tertawa kecil.
"Tapi nanti kalau ketika kita sudah lebih dewasa lagi dan bertemu di sebuah kesempatan yang berbeda, dengan perasaan yang...." Tara tak sanggup melanjutkan kata-katanya.
"Ya, kita bisa ambil kesempatan itu." Sambung Bintang seakan mengerti maksud kata-kata Tara.
"Baiklah." Tara mengacungkan kelingkingnya ke hadapan Bintang dan Bintang menyambutnya dengan mengaitkan kelingkingnya.
"Mau main?" Bintang berlari kecil ke arah lapangan dan mengambil bola yang tergolek di sudut lapangan, tangannya melambai ke arah Tara meminta cewek itu bergabung bersamanya. Meski enggan tapi Tara tetap melangkah ke sana, Bintang melempar bola ke arahnya dan tangan Tara refleks menyambut lemparan yang cukup tajam itu. Ia menjerit kecil dan Bintang tertawa senang.
"Awas ya!" Tara mendribel bolanya dan dari jarak tiga meter di depan ring, cewek itu melompat dan menembak bolanya dengan kekuatan penuh yang ia miliki hingga bola itu mulus meluncur melalui ring.
"Wow!" teriak Bintang takjub dan memberikan tepuk tangan. Tara yang tidak menyangka ia bisa melakukan lemparan itu langsung melompat kegirangan. Dan ia tiba-tiba jadi bersemangat untuk bermain. Hilang sudah semua resah yang ia simpan selama ini, dengan bekal apa yang dilakukan malam ini pada Bintang, Tara berharap ia bisa datang ke depan Luna dan meminta maaf pada sahabatnya itu dan mengakui bahwa selama ini Luna selalu benar.