Namanya Bintang. Luna tumbuh besar bersama cowok itu karena orangtua mereka bertetangga sudah lebih dari sepuluh tahun. Dan suatu hari saat Luna duduk di bangku SMP kelas dua, ia mulai merasa ada yang tak beres dengan perasaannya setiap kali ada di dekat Bintang. Ia mulai melihat Bintang dengan cara yang berbeda. Jantungnya berdegup dan tubuhnya memanas setiap kali Bintang merangkulnya atau mencubit pipinya. Padahal itu adalah aksi Bintang yang selalu ia lakukan setiap kali bertemu Luna. Ya, hal-hal yang biasa akhirnya menjadi luar biasa. Jarak usia mereka terpaut dua tahun, itulah sebabnya Bintang selalu menanggap Luna sebagai adiknya. Perlakuan Bintang pada Luna tak ada bedanya dengan perlakukan Bintang pada Dinda. Karena itu Luna pun mulai tahu diri dan mencoba menyimpan perasaannya itu rapi di dalam hati. Ia tak mau merusak hubungan manis yang sudah terjalin dengan Bintang selama ini. Ia ikut tersenyum saat Bintang punya kekasih, ia ikut bersedih saat Bintang patah hati. Dan seperti itu adanya hingga waktu terus berlalu dan Bintang memutuskan kuliah di Jakarta. Sekarang setelah hampir 4 tahun Bintang kembali sementara untuk menyelesaikan skripsinya. Ia menjadikan kantor Ayahnya sebagai tempat penelitian. Itu artinya, Bintang akan menghabiskan waktu cukup lama di Yogya.
"Luna!" Tara berlari kecil menghampiri Luna yang sedang asyik dengan laptopnya di student hall, kelas Listening pagi ini hanya dipakai untuk tes dan menghabiskan waktu tidak sampai 30 menit karena itu Luna bisa bebas berwifi hingga menunggu kelas Writing. Luna menoleh sebentar dan menangkap sosok Tara yang semakin dekat. Dalam hati, cewek itu masih menyimpan kesal karena masalah di Mal kemarin, tapi ia tak menyangka Tara akan menghampirinya terlebih dahulu seperti sekarang. Apalagi sekilas Luna lihat tadi, ada senyum ceria di wajah sahabatnya itu dan langkah kakinya pun ringan seakan tanpa beban. Luna tidak percaya dengan keajaiban ini. Tak pernah ada dalam kamus Tara, dia akan melakukan pendekatan terlebih dahulu bila mereka habis bertengkar.
"Luna sayang!" Tara merangkul Luna dari belakang, lebih tepatnya menubruk Luna dari belakang. Luna bahkan hampir terusir dari kursinya sendiri kalau kedua tangannya tak cepat bertumpu pada meja di depannya.
"Maafin gue ya..." Tara, cewek yang selalu ber-lo-gue itu, masih belum melepaskan rangkulannya. "Sumpah! Gue nggak maksud seperti yang lo kira. Beneran!" Kali ini Tara menarik kursi di samping Luna dan mengarahkan duduknya untuk berhadapan langsung dengan Luna.
"Mimpi apa kamu semalam?" sindir Luna. Ia menggeser laptopnya sedikit menjauh.
"Mimpi ketemu cowok cakep." Ujar Tara genit. Ia mengerjap-ngerjapkan matanya mencoba menggoda Luna agar mau tersenyum. Dan berhasil, perlahan senyum tercipta di bibir Luna.
"Asyik! Luna senyum!" Tara berteriak norak dan membuat beberapa kepala di sekitar mereka yang sedang asyik dengan laptop di hadapan masing masing sejenak mengarahkan pandangan mereka pada kedua cewek itu. Luna memang tak bisa lama-lama menyimpan amarah apalagi pada sahabat-sahabatnya, Tara atau Sheila. Dan kejadian hari ini sungguh tak pernah disangka Luna, sejak kapan Tara punya inisiatif untuk mengajak berdamai. Apa ada alasan tertentu? Benarkah Tara berubah atau...
"Oh ya Lun, Mas Bintang itu tetangga lo kan?"
Luna mengangguk.
"Emang udah lulus? Kok di Yogya? Atau lagi liburan aja?" Luna yang sudah kembali bersurfing ria di internet tiba-tiba disadarkan akan sesuatu. Ia menoleh pada Tara.
"Lagi skripsi."
"Berapa lama dia di Yogya?" kejar Tara lagi.
Luna menyipitkan matanya memandang Tara seperti hendak menyelidiki sesuatu. Di depannya, sikap Tara semakin membuat Luna curiga. Cewek itu menggigit bibir bawahnya, kedua alisnya terangkat, ekspresinya benar-benar menampakan seseorang yang sedang penasaran. Dan sekarang Luna mengerti kenapa Tara bersikap tidak seperti dirinya yang biasa. Ternyata Tara tak sabar untuk berdamai dengan Luna karena ingin tahu segala hal tentang Bintang. Tiba-tiba saja ada gemuruh kecil di dalam d**a Luna. Ada rasa aneh yang mengalir di setiap sendi tubuhnya. Matanya dengan cepat meneliti wajah Tara di depannya. Ada semburat merah muda di wajah sahabatnya itu, matanya memancarkan harapan yang tinggi seperti mata anak kecil yang sedang mengucapkan keinginannya di pangkuan sinterklas, bibir tipisnya yang tersapu lipstik merah muda tak hentinya mengulas senyum. Entah kenapa harapan yang Luna bangun sejak berjumpa Bintang kemarin tiba-tiba runtuh setelah melihat semua yang terhampar di hadapannya. Ini sebuah realita.
"Kenapa tiba-tiba kamu tertarik bertanya tentang Mas Bintang?" Luna berkata pelan. Semangatnya seperti tersedot hingga ke titik nol. Tara menarik napas, jari-jarinya bergerak gelisah.
"Lo pasti tau Lun, gue suka banget cowok tipe Mas Bintang gitu." Tara tertawa kecil kali ini tangannya terangkat dan ia mulai memilin-milin ujung rambut sebahunya. Hati Luna semakin kecut. "Lo sahabat gue kan? Bantu gue kenal lebih dekat sama Mas Bintang ya?" sambung Tara dengan nada memohon.
"Tapi..."
"Oh ya, gue lupa nanya? Uhm.... lo nggak ada rasa kan sama Mas Bintang? Lo cuma ngganggap dia kakak kan?" Kedua tangan Tara menggenggam pergelangan tangan Luna. Sungguh Luna tak mengerti dengan pertanyaan Tara ini. Bagi Luna pertanyaan ini seperti memaksanya untuk menjawab sesuai dengan keinginan Tara. Luna seperti diharuskan untuk menjawab, Tidak! Bahwa ia tak ada rasa pada Bintang. Bahwa ia hanya menganggap Bintang sebagai kakaknya.
Dan pada akhirnya Luna kalah. Ia menggeleng dan langsung ditanggapi dengan senyum lebar Tara. Luna mulai menyesali sifatnya yang seperti ini, yang tidak bisa langsung straight to the point, blak-blakkan, ia lebih suka menimbang dan selalu berpikir 'Bagaimana kalau'. Bagaimana kalau Tara menganggapku egois, bagaimana kalau Bintang memang tidak menyukaiku, bagaimana kalau liftnya macet, bagaimana kalau bla dan bla dan bla. Luna rasanya ingin menjedutkan kepalanya ke meja di depannya. Betapa mudahnya menjadi Tara yang tak pernah berpikir, menimbang, atau berandai-andai, ia bisa mendapatkan apa yang ia inginkan. Memang terdengar egois tapi Luna ingin sekali bisa 'seegois' Tara untuk sekali ini saja, untuk mendapatkan Bintang. Menjadi kekasih cowok itu seperti impiannya yang selama ini ia kubur dalam-dalam di hatinya.
"Jadi lo bisa bantu gue kan?" Tara memandang tajam tepat ke manik mata Luna. Dan Luna seperti terhipnotis, kepalanya mengangguk pelan.
"Sejak lo kenalin kita kemarin, jujur aja gue langsung jatuh cinta sama Bintang. Dan waktu lo ngambek terus pergi, kita ketemu Bintang lagi dan dia ramah banget mau nyapa kita. Gue suka banget sama tetangga lo itu, Lun." Tara berkata ringan tanpa beban dan membuat kening Luna berkerut. "Gue udah nggak sabar pengen jadi ceweknya." Satu kerutan lagi bertambah di kening Luna. Tara sudah setahun jadi sahabat Luna, sejak mereka kuliah di Sastra Inggris. Dan selama setahun ini Luna tidak pernah melihat Tara yang begitu antusias dan menunjukkan secara terang terangan rasa sukanya pada cowok.
"Nggak ada cowok sekeren Mas Bintang di Sastra makanya pas ketemu dia kemarin serasa ngeliahat pangeran turun dari khayangan, sudah merasa seperti Joko Tingkir gue." Tara tertawa geli sendiri yang bagi Luna sama sekali tidak lucu. Luna merasa tiba-tiba jadi musuh di depan Tara. Ia ingin sekali Sheila ada bersama mereka agar ia bisa sedikit terbebas dari rasa tersiksanya. Luna ingin sekali cepat-cepat menjauh dari Tara.
"Aku punya rencana ketemu Mas Bintang, nanti aku akan cerita tentang kamu. Dan sekarang aku mau ke perpus." Luna melihat jam di pergelangan tangannya kemudian membereskan laptopnya.
"Beneran?" Tara langsung memeluk Luna erat. Hanya ada senyum miris yang tercipta di bibir Luna. Ia berusaha mengalihkan pandangannya dari Tara, ia ingin menyembunyikan kesedihannya itu pun kalau Tara bisa melihatnya. Tapi Luna yakin dengan segenap keriangan yang berkobar di dalam diri sahabatnya itu, seekor gajah lewat pun pasti tak tertangkap matanya apalagi mengharap ia bisa membaca gurat sedih yang tergambar di wajah Luna.
***
Luna bengong di depan lemarinya yang terbuka lebar. Ia meneliti satu-satu baju yang ada di dalamnya. Di saat seperti ini semua baju bermerek pemberian Tara tampak tidak menarik untuk dikenakan. Cewek itu menarik napas berat dan terduduk di ujung ranjangnya. Akhirnya kaus putih berprint dandelion menjadi pilihannya, bila dipadu dengan sweater rajut kuningnya, ia pasti cukup terlihat cantik. Luna tersenyum lega saat mematut dirinya di depan cermin. Dengan kaus dan sweater kesayangannya yang dihadiahkan Aimi, kakak iparnya, Luna sangat percaya diri untuk bertemu Bintang sore ini.
Luna berdiri gelisah di depan pagar kos-kosannya, tangannya ia sibukkan dengan memencet-mencet blackberrynya. Sesekali matanya melirik kendaraan yang lewat di jalanan gang. Otak Luna mulai dipenuhi pemikiran-pemikiran tentang Tara dan permintaannya. Ini sungguh sebuah dilema baginya, ia sampai menpuk-nepuk jidatnya sendiri karena kesal tidak bisa menolak keinginan Tara hingga suara klakson menyadarkannya, Bintang melambai dari dalam mobilnya. Jantung Luna berdegup pelan saat melangkah menuju mobil dan tidak mau berhenti bahkan bertambah kencang dalam perjalanan mereka menuju Pizza Hut. Luna tak bisa memulai obrolan, ia terlalu gugup. Ia sendiri tak menyangka perasaan yang ia kubur dalam-dalam itu, tiba tiba saja muncul seketika dan rasanya seperti melambung tinggi setelah hampir tiga tahun ia tak bertemu Bintang. Ya, Bintang jarang pulang liburan ke Yogya, biasanya keluarganyalah yang mengunjunginya ke Jakarta, hanya beberapa kali Bintang pulang itu pun cuma sebentar dan selalu tidak pernah berjodoh dengan Luna. Saat Bintang ke Yogya, Luna malah liburan ke Bandung.
"Yogya nggak banyak berubah ya?" Bintang buka suara setelah diam yang cukup lama. Sejak tadi hanya suara penyiar radio Swaragama yang mengisi keheningan di antara mereka. Luna hanya mengangguk dan tersenyum tipis.
"Tapi macetnya sebentar lagi hampir sama kayak Jakarta." Tambah Bintang lagi. Luna membuang pandangannya keluar melihat bagaimana Honda Jazz Bintang terperangkap diantara motor-motor dan bis kota, meski lampu lalu lintas sudah berubah hijau tapi kendaraan di depan mereka seperti tidak bergerak maju.
"Kamu kok jadi pendiam Lun?" Bintang menoleh.
"Oh..." sahut Luna pendek kemudian akhirnya tertawa menutupi rasa kikuknya. "Bingung mau ngomong apa. Habis rasanya lama banget kita nggak ngobrol jadi sekarang...rasanya agak aneh.." Luna berusaha keras mengeluarkan apa yang ia pikirkan. Bintang terkikik menimpali kata-kata Luna.
"Iya juga ya..." Bintang terdiam. "Sebenarnya aku pernah dikasih nomor hpmu sama tante tapi aku lupa naruh kertasnya itu di mana jadinya ya gitu deh aku nggak bisa SMS kamu." Bintang tertawa kecil.
"Mas Bintang pake BB kan?" Luna mencoba lebih berani.
"Iya nanti tukeran pin aja." Bintang tersenyum pada Luna, dan kedua mata mereka sempat bertemu dengan cepat Luna mengalihkan pandangannya. Dan setelah itu, rasa gelisah yang sejak berangkat tadi melingkupi perasaan Luna perlahan memudar. Bintang dan Luna mengenang kembali saat-saat mereka masih kecil, tertawa bersama mengingat kenakalan dan kekonyolan mereka dulu.
"Mas Bintang masih pacaran sama Mbak Mitha?" Kegelisahan Luna seketika kembali menghampirinya saat ia mengajukan pertanyaan ini. Di depannya, Bintang, yang terlihat tampan sore ini dengan kaus hijaunya, hanya mengernyit kecil. Ia masih sibuk mengunyah potongan pizza di mulutnya. Beberapa detik kemudian ia menggeleng.
"Sudah putus setahun lalu." Jawab Bintang dan langsung memberi kelegaan yang besar pada Luna. Senyum tercipta diam-diam di wajahnya sambil menyesap Strawberry Sparkling Tea-nya.
"Kamu? Siapa pacarnya?" Bintang balik bertanya.
"Nggak ada."
"Ah...jangan-jangan kamu masih ngarep si Dylan itu ya?" Tuduh Bintang. Luna hampir tersedak mendengar Bintang menyebut nama Dylan. "Emang nggak ada cowok cakep selain Dylan?" goda Bintang lagi. Luna menggigit pizzanya. Dylan? Luna bahkan hampir lupa kalau pernah menciptakan nama itu. Dylan bukan siapa-siapa, bahkan sosoknya pun tak nyata. Karena bagi Luna yang selalu nyata hanya Bintang. Cowok di depannya ini sama sekali tidak tahu kalau Dylan yang Luna maksud adalah dirinya.
Luna mulai mencerna apa yang baru saja ia dengar sendiri. Bintang bahkan tak pernah lupa dengan nama Dylan, sosok khayalan Luna yang selalu ia curhatkan pada cowok itu sekitar empat tahun lalu. Apakah itu berarti Bintang tak pernah lupa dengan kedekatan mereka dulu? Bahwa setiap kisah yang ia curhatkan padanya selalu ia tanggapi serius? Luna tersenyum samar, sungguh hal ini membuat ia tersentuh.
Obrolan mereka menjalar kemana-mana, sepertinya mereka ingin membayar waktu tiga tahun yang sudah hilang. Bintang bercerita tentang kuliahnya, skripsinya, dan tentu saja dirinya yang sekarang jomblo. Tak banyak yang Luna ceritakan, hanya tentang kuliah dan teman-temannya. Saat ia menyebut nama Tara, seperti ada badai besar yang tiba-tiba ingin menghempasnya. Keinginan Tara seperti jadi bencana di tengah kebahagian Luna. Kini saatnya ia mencoba egois.
Maafkan aku Tara! Bisiknya dalam hati.
Malam itu, setelah selesai makan, mereka ke Gramedia, lalu menyusuri Yogya tanpa ada tujuan pasti. Luna menikmati kebersamaanya dengan Bintang dengan perasaan sukacita, dan tak pernah ada nama Tara disebut di sana. Luna pun memutuskan untuk menginap di rumah, agar bisa pulang bersama Bintang, ia bisa naik taksi ke kampus besok. Dan keesokan paginya, Luna merasa bahwa ia masih belum terbangun dari mimpi karena Bintang tiba-tiba muncul di pintu pagar rumahnya dan siap mengantarkannya ke kampus.
"Kuliah jam 8 kan? Ayo aku antar."
***
Luna turun dari mobil Bintang diiringi lambaian tangan cowok itu. Rasanya ia ingin sekali seluruh isi kampus melihat pemandangan ini. Setelah mobil Bintang menghilang dari pandangannya, Luna tertawa girang sendiri. Kalau bisa diandaikan tubuh Luna persis bola bekel saat ini, melenting-lenting bahagia.
"Luna!" sebuah panggilan menghentikan langkah ringan dan gembiranya. Kalan berlari kecil mendekatinya. Cowok itu terlihat sangat rapi. Kemeja biru langit bergaris putih lengan panjang dan celana pantalon hitam membungkus tubuh tegapnya, meski begitu penampilan yang Kalan tunjukkan saat ini tidak menonjolkan keistimewaan cowok itu. Luna mengerti sekarang kenapa Tara sangat tidak menyukai Kalan. Seandainya cowok di depannya ini mengenakan kemeja yang tidak tampak kedodoran, atau pantalonnya tidak terlalu bergaya kebapak-bapakkan pasti Kalan akan jadi rebutan banyak cewek Sastra.
"Mau kemana Mas? Kok rapi amat?" mata Luna masih lekat meneliti penampilan Kalan, tentu otaknnya masih belum berhenti dengan konsep 'bagaimana kalau'. Bagaimana kalau Kalan sesekali mengenakan jins, bagaimana kalau Kalan mengganti kacamatanya yang berbingkai besi kuning itu dengan kaca mata bergaya nerd yang sedang trendi sekarang seperti kaca mata vintage berbingkai putih yang Bintang kenakan kemarin, bagaimana kalau rambut Kalan tidak ia sisir kebelakang, tapi ia biarkan sedikit berantakan seperti saat ia membasuh wajahnya saat itu. Bagaimana kalau...
"Nanti siang aku mau berangkat."
"Kemana?"
"Boston."
"Boston? Amerika?"
Kalan mengangguk.
"Jadi Mas Kalan yang terpilih untuk pertukaran siswa itu ya?"
Kalan kembali mengangguk. Luna tersenyum penuh kesalutan pada cowok kikuk di depannya ini. Setiap tahun dikampusnya selalu ada kesempatan mengikuti pertukaran siswa dengan universitas-universitas di Negara lain yang berada di bawah satu Yayasan Crossway Internasional. Tahun kemarin, Mbak Sita, dikirim ke Jepang dan tahun ini Kalan mendapat jatah dikirim ke New England College di Boston.
"Aku mau..." Kalan bergerak gelisah, tangannya mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya. Sebuah amplop. "Kamu bisa bantu berikan ini pada Tara." Sambung Kalan lagi, suaranya sedikit bergetar. Luna menerima amplop itu sambil mengangguk.
"Oke Lun, makasih ya. Aku pamit." Kalan mundur kemudian berbalik melangkah.
"Mas Kalan!" Kalan berhenti sebentar dan menoleh. "Sukses ya." Luna tersenyum. Kalan hanya mengangguk, tersenyum kecil, kemudian kembali melangkah. Luna menatap iba cowok yang berjalan menjauh itu. Seandainya Tara lebih mau mengenalnya. Luna menarik napas dalam dalam dan menghembuskannya kencang. Ia melirik jam di pergelangan tangannya dan beberapa detik kemudian meringis saat menyadari ia sudah hampir terlambat masuk kelas.
Seperti sudah diduga, Tara langsung menyerang Luna dengan pertanyaan apakah ia sudah bertemu Bintang. Mata Sheila membulat mengetahui Tara yang begitu gencar ingin mendekati Bintang.
"Kamu serius, Ra?" Sheila tidak jadi memasukkan daging bakso ke dalam mulutnya. Mulutnya tetap mengangga karena masih terkejut dengan niat Tara. Sheila menoleh ke Luna untuk meyakinkan. Ya, Sheila tahu kalau Luna dulu menyukai Bintang, Sheila tahu tentang Dylan, tentang semuanya. Luna akhirnya menunduk dan memilih menyedot es tehnya. Ia tahu arti pandangan Sheila.
"Jadi lo belum ketemuan sama Bintang?" Tara berkata kecewa. "Bukannya kalian udah tukaran nomor hp, dan bukannya Bintang tetangga lo?" sambung Tara lagi.
"Sabar lah Ra!" Sheila berusaha membantu Luna untuk menjawab. "Bintang itu bukan baju atau sepatu yang bisa kamu beli kapan saja. Kamu harus belajar sabar." Sheila berkata cuek namun cukup nyelekit. Wajah Tara langsung memerah, kelihatan sekali ia tidak suka dengan kalimat tajam Sheila barusan. Dan tabiat kekanak-kanakkannya langsung muncul. Ia berdesis marah mendorong mangkuk baksonya jauh-jauh dan meninggalkan meja.
"Ra!" panggil Luna, namun dengan cepat Sheila menyikut Luna dan menggeleng kencang menyuruhnya tak perlu menahan si manja Tara.
"Biarin aja." Sheila menyeka mulutnya dengan tisu, menyedot es jeruknya hingga tandas. "Kamu serius mau bantu Tara dekatin Bintang?" Sheila menatap Luna lekat-lekat. Luna hanya mengedik.
"Aku nggak tahu La. Aku juga nyesal nggak bisa nolak keinginan Tara. Tapi kamu tahu kan kalau sejak dulu aku suka sama Mas Bintang? Ini jadi berat banget buat aku. Sebenarnya, aku sama Mas Bintang sudah ketemuan kemarin dan aku memutuskan untuk mendapatkan Mas Bintang untuk aku sendiri." Luna tak melepaskan pandangannya dari Sheila. "Aku jahat kan, La? Aku egois kan? Seharusnya aku nggak menyanggupi permintaan Tara kan?" Luna menggigit bibirnya.
"Aku mengerti Lun. Nggak apa-apa, kalau kamu mau dapatkan Mas Bintang maka lakukan. Kamu nggak usah terlalu merasa bersalah pada Tara. Aku tahu gimana perasaan kamu sama cowok itu. Makanya aku heran waktu dengar Tara cerita tadi." Sheila tersenyum. Ada beban yang rasanya terlepas dari perasaan Luna. Tanpa ragu ia memeluk Sheila.
"Oh ya, kata Lia, tadi pagi kamu diantar cowok keren. Siapa? Mas Bintang kan?" goda Sheila dan membuat senyum Luna semakin lebar.
"Wow...I am happy for you!" Sheila menepuk punggung Luna.
"Oh ya, La. Tadi pagi aku ketemu Mas Kalan. Kamu tahu nggak kalau Mas.."
"Dia yang dikirim ke Boston kan?"
"Iya, tapi ada masalah lain." Luna langsung menceritakan tentang surat yang Kalan titipkan untuk Tara.
"Aku kasihan sama cowok itu, kalau beruntung Tara mau terima suratnya dan mau membacanya kalau nggak ya surat itu akan berakhir di tempat sampah tanpa sempat dibaca." Sheila berdecak kecil. Luna mengeluarkan amplop berwarna biru dari tasnya dan menatap lama surat malang itu.
Dan seperti yang sudah dikira oleh Luna dan Sheila, Tara yang memang masih kesal dengan Sheila, semakin berang saat Luna memberikan surat beramplop biru titipan Kalan.
"Apaan sih nih cowok? Nggak kapok-kapok juga!" Tara membanting amplop itu ke atas mejanya. Mulutnya tak berhenti berdecak dan berdesis kesal. Luna hanya bisa memandangnya tanpa mengeluarkan sepatah katapun.
"Bodo!" seru Tara tiba-tiba dan keluar dari kelas tanpa membawa surat itu.
"Ra!" Panggil Luna, ia menyambar surat itu dan mengejar langkah Tara.
"Buang ke tempat sampah Lun!" hardik Tara dan langsung membuat langkah kaki Luna berhenti. Ia memang seharusnya tak memaksa Tara, karena ia sudah tahu beginilah yang akan terjadi. Luna akhirnya memutuskan membawa pulang surat Kalanbersamanya. Ponsel di tangannya berbunyi, senyum langsung merekah di bibirnya, pesan dari Bintang. Luna pun melangkah riang kembali ke kos, rasa ibanya padaKalan untuk sementara tersingkir.