Dear Catharine Celia
Aku minta maaf kalau surat ini mungkin akan buat kamu
kesal. Tapi agar kamu tahu, senyum kamu tak pernah hilang
dari benakku, aku memujanya, terus mengharapkan senyum
itu hadir meski itu bukan buat aku...
Luna berheti sesaat, kepalanya menggeleng kencang tak percaya dengan kata-kata yang ditulis Kalan. Apakah di jaman sekarang masih ada yang menulis surat dengan gaya Shakespeare seperti ini? Meski anak Sastra, tapi Luna tak pernah berpikir untuk menulis surat dengan bahasa serba puitis seperti ini. Luna memutuskan untuk tidak meneruskannya. Ini salah, seharusnya ia tidak membaca surat ini tapi ia tidak tega pada Kalan, setidaknya dengan membaca surat ini semua kalimat yang terangkai didalamnya tidak sia-sia. Mata Luna berhenti di bagian akhir surat itu.
Tara yang cantik, kalau suatu saat kamu sudah meredam semua kekesalanmu maukah kamu mengirimiku kabar, setidaknya saat pulang nanti aku bisa melihat senyummu dan sekali saja senyum itu untukku seperti yang pernah kamu berikan padaku dulu. Aku janji akan menyimpan perasaan ini sendiri dan menunggu hingga suatu saat perasaan ini akan pergi...tapi meski rasa itu nanti sudah hilang, seperti namamu aku tetap menganggap kamu bintangku.. selamanya...
With love
Kalana Lazuardi
Luna menggeleng lagi kemudian mendesis tak percaya mengetahui kenyataan bahwa betapa Kalan sangat menyukai Tara. Ada ide yang tiba tiba melintas di otak Luna. Apakah ini akan membantu kedua belah pihak? Tara dan Kalan? Setidaknya Luna bisa membuat Kalan berpikir Tara masih punya hati, dan membuat Kalan tahu kalau isi hatinya sempat dibaca Tara.
***
Butuh waktu satu minggu untuk berpikir dan memutuskan. Dan entah kenapa saat bangun tidur pagi ini, Luna akhirnya memutuskan untuk melakukan apa yang terbersit di otaknya saat berkali-kali membaca surat Kalan. Mengirim email pada cowok itu dan membuat seolah-olah itu dari Tara. Ada hal yang membuat Luna terharu dari surat Kalan, tentang Tara yang akan selalu ia anggap sebagai bintangnya. Luna mulai merasa bahwa Kalan sangat mirip dengan dirinya. Perasaan Kalan pada Tara, mirip perasaannya pada Bintang. Dan seperti kata-kata Kalan, Bintang akan selalu menjadi bintang untuk Luna. Luna berdecak dan tertawa kecil pada apa yang baru saja ia pikirkan. Ia kemudian membuka laptopnya dan mulai mengetik.
Sudah beberapa kali Luna menghapus ketikannya, ia masih merasa ada yang kurang. Email ini harus terbaca seperti email yang pertama dan terakhir kali tapi dengan bahasa yang tidak kasar sekaligus tidak memberi harapan. Luna coba sekali lagi membaca,
Mas Kalan yang baik,
Terimakasih sudah mengerti perasaanku dan aku juga minta maaf dengan sikap kasarku selama ini. Aku juga tak lupa dengan semua bantuan yang Mas Kalan berikan sama aku di awal aku mulai kuliah dulu. Semoga Mas Kalan cepat mendapatkan seseorang yang punya perasaan yang sama atau bahkan lebih dari perasaan Mas Kalan sendiri, karena Mas pantas mendapatkannya. Sukses ya di sana!
Salam
CC
Luna berdecak kecil saat sekali lagi membacanya, seandainya saja kata-kata Tara bisa semanis ini. Luna tersenyum kecil hanya dengan membayangkannya saja. Tara memang selalu menyingkat namanya dengan CC dan itu sudah jadi trademarknya, Kalan pasti langsung tahu email ini pasti dari Tara. Luna akan menggunakan akun Tara, karena Luna yang membuat akun ini tentu saja Luna tahu passwordnya. Ini bukan hal yang melanggar privasi toh Tara hampir tidak pernah menggunakan akun ini. Bagi Tara email mungkin sama kunonya dengan Mas Kalan. Ya, itu memang anggapannya, Tara memang sama sekali belum dewasa. Ia merasa, w******p, f*******:, i********: dan Twitter lebih cocok untuknya. Tara mungkin tak butuh email untuk melamar kerja, toh ia yang akan mewarisi usaha papanya, dan setelah itu ia pasti lebih senang berbisnis dengan kliennya menggunakan w******p atau i********: atau twitter, atau sosial media lain yang jauh lebih canggih yang akan muncul beberapa tahun ke depan? Entahlah!
Luna memejamkan matanya sebentar sebelum meng-klik send. Setelah itu ia menarik napas panjang dan berharap apa yang ia lakukan ini akan mendatangkan hasil yang baik untuk Kalan maupun Tara.
Luna melirik jam di atas meja belajarnya, satu jam lagi ia ada kuliah. Tapi entah kenapa ada rasa malas yang besar yang memaksanya menghempaskan tubuh ke ranjang. Ia meraih ponselnya dan membaca lagi percakapannya dengan Bintang semalam. Hampir dua jam mereka berbalas pesan dan jari-jari Luna sampai hampir mati rasa. Ia berguling-guling di ranjang karena senang mengingat apa yang mereka obrolkan semalam. Bintang tampaknya takjub saat tahu betapa Luna begitu mengenalnya, mengingat semua apa yang ia suka dan tidak suka.
Kalau ada yang nggak tahu pasti kamu dikira cewekku hahahaha...
Satu baris kalimat Bintang itu sempat membuat Luna menahan napas beberapa detik. Dan saat ini, ia jadi menyesal kenapa harus ngekos, tapi ia juga tak bisa buat alasan yang masuk akal pada Ayah dan Ibu agar ia bisa menginap di rumah. Semester 2 adalah semester tersibuk, karena ada jadwal kuliah dari Senin sampai Jumat, dan selalu ada mata kuliah jam 7 atau jam 8 pagi. Luna paling malas bangun pagi, dan kalau misalnya ia masih tinggal bersama orangtuanya di daerah Godean, ia harus menempuh perjalanan cukup panjang ke kampusnya di Gejayan. Sejak kecelakaan motor bersama Mas Andra delapan tahun lalu, dan Luna sempat dirawat dirumah sakit hampir satu bulan, Ibu melarang keras anak perempuan semata wayangnya untuk mengendarai motor, karena itulah pindah ke kos-kosan dekat kampus adalah jalan keluar terbaik.
Seperti sekarang, setengah jam lagi kuliah, Luna baru beranjak ke kamar mandi. Dan saat ia baru saja selesai mandi, cewek itu menjerit kaget melihat seseorang berdiri di depan pintu kamar mandi.
"Taraaaa!!!" Jerit Luna marah. Namun yang dimarahi malah menunjukkan tampang lebih galak. Tara berdiri berkecak pinggang, matanya melotot kesal, dan bibirnya berkerut seperti ada kata-kata yang siap ia tumpahkan.
"Lo bohong sama gue!" seru Tara. Luna mencoba tak peduli dan melangkah cepat ke kamar untuk bersiap-siap. Tara mengikutinya dari belakang.
"Lo udah ketemu kan sama Mas Bintang? Kenapa lo nggak bilang?" kejar Tara, ia ikut melangkah ke dalam kamar. "Luna!!" jerit Tara saat melihat Luna masih tidak peduli dan lebih memilih sibuk menyapukan bedak di wajahnya.
"Kamu tahu dari mana?" Luna merasa ia harus punya jawaban yang tepat, dan lebih dari itu ia ingin sekali berterus terang pada Tara bahwa ia juga menyukai Bintang dan menolak membantu cewek itu.
"Nggak penting. Sekarang gue hanya pengen tahu kenapa lo bohong?" Luna meletakkan kotak bedak di atas meja dan berbalik menghadap Tara.
"Aku nggak maksud bohong sama kamu hanya saja..."Luna terdiam, apakah ini saatnya berterus terang?
"Tetap saja lo udah bohong! Ya sudahlah gue juga merasa nggak butuh bantuan lo lagi. Gue punya cara sendiri untuk dekat sama Bintang." Setelah berkata seperti itu, Tara langsung beranjak keluar dari kamar Luna, meninggalkan cewek itu dengan wajah penuh tanda tanya. Apa maksud kata-kata Tara? Ia punya cara untuk mendekati Bintang? Tapi bagaimana?
Luna terduduk di tepi ranjangnya sambil terus menyesal karena terlalu pengecut dulu. Sekarang semuanya sudah terlambat, menghentikan Tara sama saja mencoba menghentikan angin ribut. Luna mulai merasakan keseriusan Tara pada Bintang, ini bukan lagi hal yang main-main. Selama masa Tara menanti kabar dari Luna tentang Bintang, cewek itu terus uring-uringan, menjadi sangat sensitif, mudah tersinggung dan marah-marah. Luna mulai kehilangan Tara yang ceria. Sheila juga berpendapat yang sama, tak ada lagi Tara yang pecicilan dan suka tebar pesona. Sebegitu besarkan pengaruh Bintang pada Tara? Sebesar itukah rasa suka Tara pada Bintang? Luna mulai ragu dengan segala keputusannya untuk menjadi egois.
***
Luna pulang ke rumah orang tuanya, dan menampik ajakkan Sheila untuk menginap di rumahnya. Bukan Bintang saja alasan ia kembali ke rumah, ia hanya rindu kamarnya, ia ingin bersembunyi di balik selimut, memikirkan kembali kata-kata Tara pagi tadi, serta memutuskan sesuatu untuk dirinya sekaligus untuk masa depan persahabatannya.
Namun pulang ke rumah tentu tak bisa menghindar untuk bertemu Bintang. Luna sangat tahu itu. Meski ia merasa sudah pulang diam-diam, namun Luna tak bisa mencegah Ibu untuk menyebarkan berita tentang kedatangannya pada tante Rana, dan otomatis kabar itu sampai ke telinga Bintang. Seperti sekarang saat Luna sedang sangat tidak ingin diganggu, Ibu menggedor pintu kamarnya.
"Luna, ada Mas Bintang tuh di depan."
Luna memejamkan matanya sambil meringis. Ia bangkit perlahan, turun dari tempat tidur dengan langkah enggan, dan mematut diri di cermin. Lima menit kemudian ia keluar dari kamar dan turun ke ruang tamu. Matanya mencari-cari sosok Bintang dan dari pintu depan yang terbuka, pandangannya terantuk pada tubuh cowok itu yang sedang duduk membelakanginya. Langkah kaki Luna yang berjalan mendekat tidak membuat tubuh itu bergerak berbalik. Luna menghentikan langkahnya menatap punggung Bintang yang lebih suka duduk di lantai teras.
"Hei!" Tiba-tiba Bintang berbalik dan bangkit berdiri. Kedua alisnya terangkat melihat Luna hanya berdiri mematung. "Kamu kenapa?" Ia menatap Luna heran. Cewek itu hanya tersenyum kaku kemudian menggeleng. Luna kembali melangkah dan duduk di sebelah Bintang. Cowok itu akhirnya kembali duduk, keningnya sedikit mengerut melihat wajah Luna yang tidak ceria.
"Kamu sakit?"
Luna kembali menggeleng.
"Oh ya, kamu tahu nggak aku ketemu teman kamu kemarin malam." Bintang sedikit mencondongkan tubuhnya ke depan, kepalanya ia miringkan menghadap Luna.
"Siapa?"
"Tara." Tubuh Luna menegak, seandainya ada lampu sorot di teras rumah ini, Bintang pasti melihat dengan jelas kelopak mata Luna yang membuka semakin lebar. Tara tahu Luna berbohong justru dari Bintang sendiri.
"Awalnya aku lupa kalau pernah ketemu dia." Bintang terkekeh pelan.
"Dimana?"
"Ha? Oh...ketemunya? Di pesta pernikahan teman Papa. Dia datang dengan orangtuanya dan ternyata para orangtua itu saling kenal. Awalnya aku malah lupa sama sekali sama dia." Bintang tersenyum samar. Pandangannya tetap ia buang ke depan ke arah rumpun euphorbia milik Ibu.
"Anaknya asyik ya?" Bintang menoleh. Luna yang sedari tadi hanya diam menatap nanar pijar lampu taman di depannya akhirnya bergerak, ia menatap Bintang sekilas lalu lehernya bergerak ke posisi semula.
"Iya. Tara gampang bergaul." Jemari Luna tak berhenti bergerak meremas tangannya sendiri. Semua cowok pasti langsung terpesona dengan pembawaan Tara yang easy going tapi tidak norak, selain memang cewek itu cantik. Dari komentar Bintang yang pendek tadi, Luna menangkap bahwa Bintang sudah terkena virus yang ditebarkan Tara.
"Kamu kenapa kok nggak bersemangat banget?" Bintang akhirnya bisa membaca situasi Luna. Cewek itu hanya tersenyum tipis dan menggeleng. Tubuh Bintang bergerak sehingga aroma parfum cowok itu tertangkap hidung Luna dan menciptakan getar halus di dadanya.
"Kalau ada masalah cerita dong, Lun. Kali-kali Mas-mu ini bisa bantu." Bintang tersenyum konyol sambil menyenderkan tubuhnya ke pilar teras. Kini posisi duduk Bintang membuat matanya punya akses langsung ke arah Luna dan membuat cewek itu jadi salah tingkah.
"Cuma masalah tugas kuliah." Luna tertawa tawar. Ia tidak berani lama-lama memandang Bintang yang saat ini sedang menatapnya dengan matanya yang setengah menyipit namun cukup tajam hingga mampu membuat jantungnya berdebar lebih kencang. Ini tak bisa dibiarkan lagi, Luna harus cepat mengakhiri obrolan ini. Masalah Tara semakin menekan perasaannya hingga membuat rasanya pada Bintang justru semakin naik ke permukaan dan membuat Luna jadi tidak kuat untuk terus berada di bawah pesona Bintang tanpa tahu bahwa cowok itu punya rasa yang sama dengan dirinya. Ini menyiksa.
"Mas," Luna bangkit berdiri. "aku mau ngerjain tugas, aku masuk dulu ya." Luna pura-pura menekuk wajahnya menampakan sesal, meski dalam hati ada rasa sesal dan kesal yang besar yang tentu saja lebih nyata. Bintang hanya mengernyit kecil kemudian mengangguk.
"Oke, besok mau kuantarin ke kampus nggak?"
Ini benar-benar tawaran yang manis dan akan sangat bodoh bila ditolak Luna. Akhirnya cewek itu mengangguk.
"Maaf ya Mas," kali ini sesal benar benar tercipta di wajahnya.
"Nggak apa-apa." Bintang bangkit dan berdiri di hadapan Luna, tangannya terulur ke kepala cewek itu dan mengacak rambutnya pelan. Luna menahan diri untuk tidak berlari ke pelukan cowok itu. Hanya senyum dan anggukan yang tercipta sebelum Bintang melangkah keluar dari halaman rumahnya.
***
Luna, Sheila dan Tara keluar dari kelas dengan wajah lesu, tes Introduction to English Literature benar-benar bisa bikin rambut jadi keriting seketika. Tara mengacak-acak rambut sebahunya yang dicat light brown dengan kekesalan penuh, Sheila terus berdecak saat mengingat soal-soal tes tadi, sedang Luna hanya berjalan dalam diam tanpa ada aksi protes. Hari masih terlalu pagi untuk bertampang kusut, tapi ITEL memang sudah benar-benar merusak mood.
Sheila membanting tasnya ke atas meja marmer yang berada di tengah-tengah empat bangku marmer yang terlindung di bawah kanopi berwarna hijau daun yang memberi nuansa sejuk dan damai. Taman kanopi yang memiliki enam tenda kanopi dengan bangku dan meja marmer di belakang gedung Sastra ini memang jadi tempat yang tepat untuk membuang rasa kesal.
Ketiganya duduk dalam diam. Kekesalan Tara tampaknya sudah memudar, ia asyik tersenyum-senyum sendiri sambil menatap layar ponselnya. Tiba-tiba Luna seperti menangkap sesuatu yang membuat perasaannya jadi tidak enak.
"Ih nih anak malah sibuk sendiri," Sheila mengomel melihat wajah ceria di wajah Tara. Namun yang disindir malah sama sekali tidak terusik. Luna hanya diam tak ikut berkomentar. Ia mengeluarkan balckberrynya dari dalam tas dan melirik layarnya, ada hela napas kecewa melihat tak ada BBM dari Bintang. Ia kembali memasukkan ponselnya itu dan mengangkat wajahnya mendapati Tara yang masih asyik cengar-cengir sendiri di depan ponselnya. Tiba-tiba Tara tertawa keras dan membuat Sheila langsung meninju pelan lengannya.
"Ini loh...Mas Bintang pintar banget ngejoke," seru Tara di sela tawanya dan langsung membuat Luna terpaku. Ia sudah mengira Tara sedang ngobrol dengan Bintang, namun ia tak menyangka mereka sudah seakrab ini. Sheila memandang Luna dengan sejuta kesan yang dengan mudah terbaca oleh Luna.
"Tuh kan Lun. Gue udah bilang lo nggak perlu susah-susah bantu nyomblangin gue," Tara berkata setengah menyindir namun terselip nada bangga di sana. Luna segera membereskan tasnya dan berdiri.
"Aku ke perpus dulu ya," Sheila mengernyit dan Tara hanya melirik sebentar. Luna tidak tahan harus terus berhadapan dengan Tara yang terus tersenyum bahagia seakan dunia hanya miliknya seorang.
"Aku ikut!" Seru Sheila. Dia melirik Tara.
"Kalian pergi aja," Tara tentu saja tak punya niat untuk mengakhiri obrolannya dengan Bintang.
***
Dear Tara,
Aku nggak menduga kamu mau menyempatkan waktu kamu untuk mengirim email untukku. Tapi...Perlu lima kali untuk membaca dan aku akhirnya mengerti...Ini Luna kan? Aku tahu Lun, Tara nggak akan menulis seperti ini, meski kamu pikir aku gila tapi aku akan dengan sangat percaya diri mengatakan bahwa aku sangat mengenal Tara.
Luna yang baik, terimakasih ya dengan niat baikmu, kamu memang sahabat yang baik. Tara beruntung memilikimu. Dan aku semakin disadarkan untuk tidak terlalu berharap lagi pada Tara, meski hanya untuk sekedar menjadi temannya. Sedih juga mengetahui suratku tidak pernah disentuh Tara, aku memang bodoh. Kamu pasti kasihan kan sama aku?
Sekali lagi terimakasih ya Lun, dan kamu tak perlu merasa kasihan sama aku karena ini resiko yang harus aku tanggung karena menyukai sahabatmu itu.
Air mata Luna menggenang. Ia tidak menyangka Kalan tahu bahwa email yang ia kirim bukanlah dari Tara. Meski ada rasa iba pada cowok itu, tapi Luna menyaluti keberaniannya untuk mengungkapkan isi hatinya. Kalan menyadari resiko yang akan ia tanggung bila ia nekad mengejar Tara, seharusnya Luna bisa belajar dari Kalan. Setidaknya Luna tahu Bintang menyayanginya, peduli padanya, orang yang cukup dekat dengannya, dan kesempatannya untuk mendapatkan cinta Bintang tentu jauh lebih besar.
Dan sebelum hubungan Bintang dan Tara semakin dekat, Luna harus secepatnya mengatakan apa yang ia rasakan pada Bintang. Ia harus melakukannya. Dan akhirnya ada senyum kecil tercipta di bibirnya, dan jemarinya bergerak di atas laptopnya. Ia akan membalas email Kalan dan tentu saja menggunakan akun pribadinya.