Kuliah sore memang paling menyebalkan karena semangat dalam satu hari itu sudah habis tersedot sepanjang pagi hingga siang. Sore hari seharusnya adalah waktu untuk main dan bersenang-senang. Luna menarik tangan Sheila untuk segera keluar dari kelas, ia sudah tidak sabar untuk menceritakan rencananya pada sahabatnya itu dan memperoleh dukungan darinya. Tara sudah pulang lebih dahulu, ia tadi terlihat terburu-buru dan tidak mengatakan alasannya pada Sheila dan Luna. Dan hal itu membuat isi otak Luna jadi menduga yang bukan-bukan dan berakhir membuat hatinya terenyuh sedih.
"Kamu mau ngomong masalah Tara dan Bintang?" tanya Sheila. Luna tidak menjawab hingga langkah mereka tiba di bangku panjang yang diletakkan di depan ruang VI. Kampus sudah sepi dan memilih ngobrol tentang masalah pribadi di salasar kampus seperti ini tentu saja cukup aman.
"Kamu tahu nggak kalau Tara sudah mulai banyak alasan untuk nggak pulang bareng kita lagi?" tanya Sheila lagi. Entah kenapa Luna seperti tak mau menyadari kenyataan itu, kenyataan bahwa Tara sudah jarang pulang bersama mereka lagi. Mungkin karena ia takut menduga bahwa Tara sekarang sudah mulai sering menghabiskan waktu bersama Bintang. Karena memang Bintang sudah jarang menguhubunginya lagi lewat BBM. Dan BBM terakhir Luna cuma dibalas dengan jawaban pendek, iya nih lagi sibuk nyelesaiin skripsi.
"Karena itu aku pengen bilang sama Mas bintang tentang perasaanku." Luna menatap Sheila tajam. "Aku punya kesempatan lebih besar untuk dapetin dia kan, La? Iya kan?" sambung Luna lagi dengan mata penuh harap. Sheila menghela napas dan balas memandang Luna dengan sinar mata lemah. Luna menangkap ada keraguan di sana. Harapan Luna langsung pupus, keberaniannya perlahan layu.
"Sejak tahu Tara mulai tertarik pada Bintang, aku kan udah bilang sama kamu untuk cepat-cepat bilang sama cowok itu, tapi kamu terus ragu dan nyiptain banyak alasan." Kata Sheila yang semakin mempertegas keraguan itu.
"Bukannya aku nyiptain banyak alasan, La. Tapi aku butuh waktu untuk lebih dekat lagi sama dia, membuat koneksi lagi sama dia, dan nggak langsung nembak dia gitu aja." Luna membela diri. Posisi duduknya sedikit melorot, punggungnya bersandar di dinding ruang VI, kakinya ia selonjorkan ke depan, harapannya akan dukungan Sheila sepertinya tidak terkabul.
"Lakukan sebelum terlambat, Lun! Ngomong sama Bintang, sebelum Tara terlalu jauh merebut hatinya." Sheila menyentuh tangan Luna. Cewek itu melirik Sheila, ia menegakkan tubuhnya. "Tapi kamu harus juga siap menerima yang terburuk." Sambung Sheila lagi.
"Ya, aku tahu. Ini resikonya bersaing dengan Tara." Senyum perih muncul di bibir Luna. Sheila mengangguk dan merangkul bahu sahabatnya itu.
"Bagaimanapun Tara adalah sahabat kita, Lun. Kita tahu dia seperti apa, karena itu jangan salahkan dia kalau yang terburuk itu nanti terjadi. Please..." Sheila memegang pipi Luna. Cewek itu tak berkata apapun hanya anggukan yang tercipta. Ya, ia mengenal siapa Tara, dan ini adalah kesalahannya untuk tidak berterus terang pada Tara agar bisa menghentikan langkah sahabatnya itu mengejar Bintang. Luna punya kesempatan itu, tapi tak ia gunakan.
Tak seperti Sheila yang ragu, Luna mendapat dukungan penuh dari Kalan. Mencurahkan isi hatinya pada Kalan seperti dorongan yang tumbuh secara alami dalam dirinya. Entah kenapa Luna merasakan persamaan nasib antara dirinya dan Kalan karena itu tak ada beban baginya untuk berbagi cerita masalah hati ini. Dan dalam balasan emailnya Kalan meyakinkan Luna, kalau Luna hendak melakukan apa yang ia inginkan dan tidak berakhir seperti harapannya maka Luna tak boleh menyesalinya apalagi membenci Bintang.Tentu saja Luna tidak pernah cerita pada Kalan, kalau ada Tara yang terlibat dalam hubungan ini.
***
Luna berjalan berjinjit mendekati pagar rumah Bintang. Hari sebentar lagi gelap, lembayung di ufuk barat perlahan tertelan malam. Jalan beraspal cukup lebar yang membelah perumahan ini mulai sepi, anak-anak yang tadi ramai bermain basket di lapangan pojok perumahan sudah kembali ke rumah masing-masing.
Kepala Luna bergerak mencari-cari kiranya ada satu sosok yang ia temukan didepan rumah, ia berharap melihat Bintang. Tangannya mendorong pintu gerbang dan melangkah masuk.
"Luna." Sebuah tepukan di bahunya hampir membuat jantungnya lepas. Ia berbalik dan mendapati Bintang dan Dinda di belakangnya. Dinda tersenyum lebar, menyapa Luna sebentar dan kemudian berlari kecil ke dalam meninggalkan Bintang dan Luna sendiri.
"Baru nemenin Dinda ke mini market depan," kata Bintang menjawab pertanyaan yang terekspresi di wajah Luna. Dan tanpa ragu cowok itu merangkul bahu Luna dan membawa cewek itu ke teras samping rumah. Berada di bawah rangkulan lengan Bintang membuat tubuh Luna kaku, berkali-kali ia meneguk ludah menenangkan perasaanya. Ketika mereka sudah duduk, keduanya terdiam. Bintang menunggu satu kata keluar dari mulut Luna.
"Kayaknya ada yang penting kan? Habis nggak biasa baca pesan kamu yang singkat kayak kemarin." Bintang mengusik diam Luna. Cewek itu menghela napas panjang mengumpulkan keberanian, mencipta rangkaian kata dalam otaknya untuk membuka pembicaraan ini.
"Mas..." Luna terdiam. Wajah Bintang begitu dekat dengannya saat ini. Luna bahkan bisa melihat dengan jelas hitam bola matanya, tahi lalat kecil dan tipis yang menempel persis di bagian bawah mata kanannya, jerawat kecil di dagunya, serta bulu-bulu halus yang baru tumbuh di sekitar atas bibirnya.
"Hmm..." Bintang membalas panggilan Luna. Kepalanya tidak bergerak menjauh. Bibir Luna bergerak namun tak ada kata yang mampu ia ucapkan. Kalimat-kalimat yang sudah ia rangkai dan ia hafal sejak semalam tiba-tiba buyar.
"Ada apa sih Lun?" telunjuk Bintang terangkat dan mendorong jidat Luna pelan. Itu aksi yang biasa Bintang lakukan kala menggoda Luna. "Kamu bikin aku penasaran." Sambungnya. Tubuh Luna bergerak dan membuang pandangannya ke depan.
"Dari pada kamu nggak ngomong-ngomong mending aku yang ngomong," Bintang bersedekap dan meluruskan kedua kakinya ke depan. Luna menoleh cepat.
"Ngomong?"
"Iya. Dari pada kita diam-diaman kayak gini dan kamu terus bikin aku penasaran," Bintang sedikit mencibir. "Aku mau ngomong tentang Tara." Kata Bintang langi tanpa memberi sedikit kesempatan bagi Luna untuk bicara.
Luna menunduk, ia tahu bahwa Tara tidak patut di salahkan. Dirinyalah yang terlalu pengecut untuk menghadapi resiko ini.
"Sahabatmu itu...." Bintang diam. "dia seperti apa?"
Luna menggigit bibirnya.
"Kenapa?" Luna balas bertanya. "Mas Bintang suka Tara?" Luna berkata tanpa mengangkat wajahnya.
"Sepertinya."
Ada rasa sakit yang menjalar di hati Luna dan perlahan naik ke tenggorokannya. Ia hampir tak bisa menelan ludahnya sendiri. Akhirnya Luna berani mengangkat wajahnya.
"Sebenarnya Tara sudah menyukai Mas Bintang sejak pertama ketemu. Tara memintaku untuk membantunya mendekati Mas Bintang," suara Luna sedikit bergetar. "Tapi aku nggak pernah mengabulkan keinginan Tara."
"Kenapa?"
"Karena..." Luna mengangkat wajahnya sedikit untuk mencegah air matanya turun. "Karena aku juga suka Mas Bintang." Suara yang keluar lebih terdengar seperti bisikan.
"Apa?" Bintang lebih mendekat ke arah Luna.
"Aku juga suka sama Mas Bintang," Luna menunduk dalam-dalam, tangannya cepat menyeka kedua matanya yang basah sebelum ketahuan Bintang kalau dia menangis saat ini.
"Tapi...Luna..."
"Aku tahu...aku tahu....Mas Bintang nggak perlu bilang apa-apa." Luna mengangkat kembali kepalanya, menatap Bintang tajam.
"Aku punya hak untuk menyukai...dan Mas Bintang punya hak untuk menolakku."
"Luna, kapan kamu mulai menyukaiku?" Luna tak mengalihkan pandangannya dari Bintang. Dan cowok di depannya pastinya tahu apa jawabannya.
"Ya Tuhan Luna! Selama ini?" Bintang menggeleng pelan.
"Lun..." panggil Bintang. Tapi entah kenapa tak ada kata lanjutan yang keluar dari bibir Bintang. Banyak hal yang berjejal di otaknya saat melihat wajah Luna di depannya, namun tak ada yang bisa ia ungkapkan. Dia bingung memilih dari beragam pemikiran itu.
"Tara sangat baik, Mas. Dia sangat menyukai Mas Bintang, dan kalau Mas juga suka, aku nggak apa-apa kok." Bintang menghela napas berat. Ia memandang Luna dengan sinar mata iba dan Luna sangat membenci itu. Luna tidak mau dikasihani karena bukan tatapan iba yang harus ia terima, tapi tatapan kesalutan akan apa yang baru saja ia lakukan.
"Aku nggak apa-apa Mas!" Luna berkata tegas sekali lagi dan memaksakan senyum di bibirnya. Tangan Bintang terulur dan menyeka pipi Luna yang lembab, dia tahu Luna menangis meski cewek itu berusaha tegar di depannya.
"Aku minta maaf Lun. Aku sangat menyayangi kamu."
"Aku tahu Mas."
Langit tidak berbintang malam ini, bulanpun tak nampak. Jalanan perumahan tampak lengang padahal waktu belum juga menunjuk angka tujuh. Luna melangkah cepat, bukan karena ketakutan tapi ada sesuatu yang sedang sekuat tenaga ia coba tahan. Ia bahkan tak peduli dengan gonggongan Bumi, si Labrador hitam menyebalkan milik Tante Rien, tetangga rumahnya.
Kedua tangannya mengepal kencang, air matanya menggenang, bibirnya ia gigit kuat kuat, napasnya ia tarik dengan berat, kerongkongannya bergerak naik turun dengan cepat. Kepalanya sedikit ia tengadahkan mencoba untuk tidak menangis. Ia tidak boleh cengeng. Ia harus tegar seperti yang ia perlihatkan di depan Bintang tadi.
Setibanya di kamar, Luna menjatuhkan dirinya di ranjang, menutup kepalanya dengan batal dan membiarkan perlahan air matanya turun membasahi wajahnya. Ia sudah menyangka kalau Bintang sama sekali tidak punya perasaan yang sama sepertinya. Luna hanya bisa menangis dan terus menangis, menghabiskan air matanya agar tak ada lagi tangisan esok hari, saat matahari terbit, meski tetap saja pertanyaan-pertanyaan itu akan muncul, "Kenapa dia?" dan "Kenapa bukan aku?"
***
Dear Luna,
Apa kamu jadi mengatakannya pada Bintang? Semoga kamu
lebih beruntung dari aku, akhirnya mendapatkan Bintang-mu.
Luna tergugu saat membaca email singkat dari Kalan, jemarinya mulai menari di atas keyboard laptopnya. Entah kenapa Luna merasa Kalan jauh lebih memahaminya dari pada Sheila. Ini adalah email tepanjang Luna untuk Kalan dan rasanya Luna tak habis kata untuk ia utarakan pada cowok itu.
Dan setelah ia tandas menuangkan isi hati dan kesedihannya, Luna langsung terlelap. Keesokkan harinya Luna bangun dengan rasa pening yang sangat di kepalanya. Ia melirik jam, sudah pukul enam. Ia turun dari ranjang dan dengan agak tertatih ia keluar dari kamar dan langsung menuju kamar mandi.
Ayah dan Ibu sedang di meja makan menikmati sarapan saat Luna menuruni tangga.
"Nasi goreng, Lun?" Tawar Ibu dan langsung dijawab dengan gelengan. Luna duduk dan mengambil selembar roti tawar, mengoleskannya dengan selai coklat. Ayah sudah siap menenteng tas kerjanya lalu menghampiri Luna dan mengelus kepala putrinya itu.
"Mau ikut ayah dan ibu sekalian?" tawar Ayah, dan sekali Luna menggeleng. Ibu keluar dari kamar dan menghampiri Mbak Yati di dapur untuk memberikan uang belanja.
"Aku kuliah siang, ntar naik bis aja." Jawab Luna.
"Loh, kan bisa diantar ke kos dulu," Ibu muncul dari dapur, menyambar tasnya di kursi, dan membereskan sekali lagi pakaiannya.
"Masih pengen di sini." Jawab Luna lagi. Ibu hanya mengedikkan bahu lalu melangkah ke depan mengikuti ayah. Luna terus mengunyah rotinya meski ia sama sekali tak punya gairah untuk makan. Perutnya memang meronta-ronta minta diisi tapi seluruh indera di tubuhnya seperti mati. Nasi goreng buatan Mbak Yati yang berwarna kemerahan dengan irisan telur dadar di atasnya sama sekali tidak menarik, hidungnya seperti tak mampu menangkap aroma sosis goreng kesukaannya yang menggoda, lidahnya bahkan tak bisa merasakan manis dan legitnya selai coklat favoritnya.
"Ada di dalam. Masuk aja Bin." Samar suara Ibu dari halaman depan mampu dengan jelas ditangkap kuping Luna. Rupanya indera pendengarnya bekerja dengan sangat baik tidak seperti teman-temannya yang lain. Luna menyambar teh hangat di cangkirnya dan meneguknya cepat. Ia hendak bangkit dan melangkah cepat naik kembali ke kamarnya namun panggilan Bintang segera menghentikan aksinya.
"Mau kemana?" Luna terpaku di tempatnya. Langkah kaki Bintang terdengar mendekat. "Kamu mau menghindar?" Bintang berdiri di hadapan Luna. Cewek itu sedikit menunduk, bibirnya berkerut, kedua tangannya saling meremas. Tangan Bintang terulur ke depan meraih pundak Luna, dan perlahan kepala Luna terangkat.
"Lun, aku belum jatuh cinta sama Tara. Aku memang tertarik sama dia tapi hubungan kita belum sejauh yang kamu kira. Aku nggak mau hubungan kamu sama Tara jadi rusak gara-gara aku. Dan aku nggak mau melihat kamu bersedih gara-gara aku."
Mereka berpandangan cukup lama. Luna masih belum paham apa maksud semua kata-kata Bintang barusan. Apa artinya Bintang tidak akan menjadikan Tara kekasihnya? Apakah Bintang sekarang malah mempertimbangkan perasaan Luna karena pengakuannya semalam?
Tubuh Luna bergerak mundur hingga kedua tangan Bintang terlepas dari pundaknya.
"Hubungan kami nggak akan rusak, Mas. Aku nggak akan membiarkan Tara tahu."
"Tapi aku nggak mau melihat kamu sedih,"
Luna tidak bisa membantah kata-kata Bintang ini.
"Aku nggak apa-apa Mas. Beneran." Luna kembali meyakinkan Bintang. Ia tidak mau Bintang berubah pikiran karena cowok itu merasa kasihan padanya, luluh karena air matanya semalam.
"Lun..."
"Tara sangat menyukai Mas Bintang. Dan selama aku bersahabat dengannya, Tara belum pernah merasa sesuka ini pada seorang cowok. Tara memang manja, tapi selebihnya ia cewek yang baik. Sangat baik."
Bintang tak melepas pandangannya dari Luna.
"Baiklah kalau begitu." Bintang menyerah. Ia kemudian melangkah pelan dan berlalu dari hadapan Luna. Ketika terdengar pintu ditutup, air mata perlahan menetes kembali. Luna terisak.