Dua bulan berlalu sejak kedatangan Bintang. Dan tiga minggu lalu, Tara memberi kabar bahwa ia resmi berpacaran dengan cowok itu. Luna menyambut kabar itu dengan senyum yang tentu saja ditangkap dengan berbeda oleh Tara dan Sheila. Tak ada respons yang lebih hebat dari pada senyuman, karena dalam senyuman orang tentu tak bisa melihat yang tersembunyi di baliknya. Kegembiraan yang sesungguhnya ataukah kepedihan yang menyakitkan.
Luna ingin sekali merelakan perasaan ini, merelakan ia pergi bersama waktu, memudar karena jarak, dan mati karena benci. Tapi itu tidak bisa, karena waktu terus menghadirkan sosoknya, karena jarak tak terbentang, dan benci itu tak bisa tumbuh. Di awal mengetahui hubungan Tara dan Bintang, Luna sama sekali kehilangan semangat untuk melakukan apapun. Ayah dan Ibu bahkan terheran-heran saat putri semata wayang mereka tidak mau menginap di rumah saat week end. Akhirnya Ibu yang berkunjung ke kos dan membawakan berbagai macam camilan yang biasanya disiapkan Ibu untuk Luna setiap week end.
Dalam tiga minggu penyiksaan itu, hubungan Luna dan Kalan semakin intens. Mereka semakin sering mengirim email, dan kesamaan nasib semakin mendekatkan mereka lewat tulisan. Seperti malam ini, Luna duduk di depan laptop membaca email terbaru dari Kalan.
Dear Luna,
Nggak terasa sudah dua bulan aku di Boston, dan selama ini aku belum kemana-mana paling ke museum fine art-nya ...hahaha...pasti kamu bilang It's so Mas Kalan deh...museum dan sejenisnya, tapi itu juga karena memang setiap Rabu masuk ke sana gratis hahahaha....eh aku punya cerita buat kamu semoga bisa bikin kamu senyum-senyum sendiri (hope so), aku punya teman cukup dekat di sini namanya David Long,tapi ironisnya orangnya pendek haha ceweknya orang Korea namanya Krystal Kim, anaknya mungil dan cantik banget tapi bawelnya minta ampun. Pernah suatu kali dia maksa nganterin aku belanja, semua baju dia yang milih, aku udah kayak kebo aja cuma bisa nurut, tapi hebatnya dia bisa dapat baju murah sesuai kantungku walapun aku kadang nggak suka sama model yang dia pilih tapi dia bilang, "Kalan, you need to change your style." Hahahaha...apa aku jadul banget ya Lun? Pasti dalam hati kamu bilang, 'Mas Kalan baru nyadar ya?' iya kan?
Luna tersenyum-senyum sendiri, ia tidak menyangka Kalan bisa menulis dengan gaya ngebanyol seperti ini. Dalam tiga minggu ini, email-email Kalan masih berisi kalimat-kalimat hiburan dengan kuot-kuot pemberi semangat. Tapi sekarang Kalan begitu nyaman bercerita dengan gaya yang lebih santai meski masih terlihat usaha kerasnya untuk membuat Luna mengubah pandangannya terhadapnya. Luna memang tidak terang-terangan mengatakan kalau Kalan adalah tipe cowok yang serius dan kaku, tapi Luna pernah menyinggung bahwa Tara tidak menyukai tipe cowok seperti itu agar Kalan sadar bahwa ia termasuk dalam tipe yang tak disukai itu. Dan sekarang, Luna mulai melihat ada perubahan pada Kalan, meski hanya lewat bahasa yang ia tulis di email-emailnya tapi Luna mulai merasa sangat nyaman dengan Kalan, meski itu masih terbatas pada obrolan di dunia maya.
Luna mematikan laptopnya. Hari semakin malam, jam sudah menunjuk pukul delapan dan perut Luna sudah meronta-ronta minta diisi, tapi cewek itu masih berkeras untuk berbaring di ranjang. Tangannya menarik toples nastar yang dibawakan Ibu. Ia mulai mengunyah nastar keju kesukaannya itu dengan tangan yang sibuk mengutak-atik ponselnya. Ada notifikasi mention di twitternya.
Lg sebel sama @blackstar19..!! I need @lunalini118 @mesheila_me @blackstar19 I dunt care!
@blackstar19 whatever!! Terserah! don't call me!
"Sejak kapan Tara jadi norak gini?" Luna berkata pelan. Ia maklum bila orang-orang mengungkapkan rasa cinta atau peduli pada orang yang dia sayang lewat twitter, tapi kalau orang berantem lewat media ini, Luna sama sekali tak habis pikir. Apa sih asyiknya berantem terus diketahui banyak orang? Tapi syukurlah Bintang sama sekali tidak merespons twit Tara, yang banyak merespons justru teman-teman Tara yang sebagian besar tidak Luna kenal, mungkin teman SMA-nya.
Luna memutuskan mengirim pesan untuk Tara lewat WA. Namun setelah setengah jam tidak ada pesan balasan dari Tara. Luna berkali-kali mengecek ponselnya namun masih nihil. Namun tiba-tiba ia dikagetkan dengan satu sosok yang sudah berdiri di depan pintu kamarnya.
"Makan yuk!" Tara berdiri di sana dengan wajah cemberut. Luna turun dari ranjang sambil memegang dadanya karena sisa terkejutnya akibat kemunculan Tara yang tiba-tiba.
"Di status lo bilang lo lagi pengen makan bebek goreng. Ya udah yuk makan di sana," Sambung Tara lagi tapi kali ini kakinya sudah bergerak masuk ke kamar Luna. Ia membuang tasnya ke atas ranjang kemudian membanting tubuhnya ke sana.
"Kamu kenapa sih?" Luna meletakkan toples nastarnya ke atas meja. Ia memandang lurus sahabatnya itu.
"Mas Bintang nyebelin! SMS, w******p, Line nggak dibalas, dicuekin, telepon nggak diangkat, twit sama sekali nggak direspons!" Tara kembali mengomel. Luna menghela napas. Yah, beginilah resiko bersahabat dengan kekasih dari cowok yang kita sukai, saat ia berkeluh kesah adalah saat paling canggung buatmu.
"Kalian berantem?" Luna sebenarnya enggan menanyakan hal ini tapi ia tak mungkin diam saja melihat Tara yang moodnya sedang kacau seperti sekarang. Ia harus bisa menjadi sahabat yang baik, memberi pendapat yang terdengar bijaksana, meski terasa canggung dan dilematis. Setan di sudut tergelap hatinya pasti berharap pertengakaran ini akan terus berlanjut dan pada akhirnya membuat mereka berpisah. Luna cepat-cepat berbalik, menarik kursinya, seolah ingin menyembunyikan wajahnya karena ia merasa pemikiran buruk yang sempat terlintas tadi bisa terbaca dengan mudah oleh Tara.
"Makan aja yuk," Tara menghindar menjawab pertanyaan Luna. Sedang Luna yang baru saja mendaratkan tubuhnya di kursi akhirnya kembali bangkit dan berjalan ke arah cermin untuk merapikan wajahnya.
"Ngajak Sheila nggak?" tanya Luna dengan tangan yang sibuk menyisir rambut sepunggungnya, ia meraih karet rambut dari atas meja lalu mengikat rambutnya, meski sudah malam tapi udara Yogya cukup gerah.
"Sheila lagi ada acara keluarga."
Dan malam itu tak hanya bebek goreng Cak Koting yang tercabik-cabik oleh tangan-tangan para manusia yang kelaparan, tapi perasaan Luna pun juga ikut tercabik seiring Tara berkisah tentang hubungannya dengan Bintang. Daging yang lembut itu terasa sesak melalui kerongkongan Luna, ia perlu berkali kali menyesap es jeruknya agar ia tidak mati tercekik daging bebek.
Luna menghela napas berkali-kali, ingin rasanya ia menjejalkan sambel yang masih tersisa separuh di piringnya ke mulut Tara, meski ia tahu Tara tidak bisa disalahkan. Bagaimana Luna tidak kesal, pertengkaran mereka bila dilihat dari sudut pandang Luna sebenarnya tersulut oleh sikap Tara yang egois. Seandainya tak ada kisah 'cinta ditolak', rasa kesal Luna tak akan berlipat-lipat seperti ini, dan pasti ia akan menyikapi kisah Tara itu dengan hati yang sangat jernih.
"Please deh Ra, kamu kan tahu benar alasan Mas Bintang nggak bisa datang."
"Tapi teman-teman gue juga nggak bisa datang ke Yogya tiap saat, Lun. Kita udah nggak ketemuan enam bulan coba? Dan si Tita yang kuliah di Amrik aja bela-belain main ke Yogya karena pengen ketemu Mas Bintang."
Luna cepat-cepat meraih gelas es jeruknya dan kembali menyesapnya. Benar-benar Tara sudah membuat kesabarannya teruji.
"Tapi kamu kan tahu Mas Bintang di Yogya juga bukan buat main-main, dia lagi ngerjain skripsinya."
"Tapi kan itu kantor bapaknya sendiri, seharusnya dia bisa kapan saja mengambil>"Nggak semudah itu Ra. Pak Hadi yang bantuin Mas Bintang itu nggak bisa setiap saat juga ada di kantor karena dia selalu di lapangan. Mas Bintang apa nggak bilang sama kamu kalau dia juga kadang-kadang harus ke luar kota?"
Tara terdiam. Dia membuang pandangannya ke kanan ke arah barisan meja yang terisi penuh oleh pelanggan.
"Tapi gue pengen banget kenalin Mas Bintang ke teman-teman gue. Pamer ke mereka semua." Tara menunduk dengan wajah cemberut. Luna akhirnya luluh ia tersenyum tipis menanggapi kalimat terakhir Tara. Cewek itu perlahan mengangkat wajahnya memandang Luna dan saat melihat ekspresi Luna yang sedang menahan senyum, ia akhirnya ikut tersenyum.
"Gue terlalu kekanak-kanakkan ya?"
Tanpa ragu Luna mengangguk. Dan akhirnya keduanya tertawa bersama.
"Gue tahu hanya lo yang bisa bikin otak gue kebuka Lun. Dan asal lo tahu aja, gue kadang masih cemburu sama hubungan lo sama Mas Bintang. Kedekatan kalian. Betapa lo banyak tahu tentang Mas Bintang." Tara memandang Luna tanpa berkedip dan hal ini sedikit membuat perasaan Luna agak jengah.
"Lun, apa lo pernah suka sama Mas Bintang?"
Jantung Luna seperti terkena serangan mendadak dengan pertanyaan Tara ini. Ini adalah pertanyaan yang diharapkan Luna keluar dari mulut Tara dua bulan yang lalu. Tapi kenapa baru sekarang?
Luna diam dan mengalihkan matanya dari tatapan Tara.
"Maaf Lun, gue tahu lo dan Mas Bintang udah kayak kakak adik. Seharusnya gue nggak tanya seperti ini. Gue hanya sedang sensitif aja." Luna menepuk punggung tangan Tara, yang sejak pertanyaan tadi muncul ,seperti terpaku di atas meja. Luna hanya membalas dengan senyuman yang teramat tipis.
"Oke deh, gue mau minta maaf sama Mas Bintang lagian gue udah kangen banget dua hari nggak ketemu dia." Tara tersenyum tanpa merasa bersalah (ya karena memang ia tak bersalah) sambil memainkan jemarinya di atas layar ponselnya.
***
Dua minggu ini, Luna, Tara dan Sheila jarang bertemu karena semua sibuk belajar untuk ujian semester. Mereka bertemu sebentar untuk nongkrong di kantin setiap selesai ujian, dan biasanya waktu pertemuan itu dikuasi oleh Tara yang bercerita tentang hubungannya dengan Bintang. Kadang Sheila menyela dengan komentar pedasnya bila ia sudah mulai bosan 'dipaksa' mendengarkan kisah mereka. Dan seperti biasa Tara akan cemberut dan menuduh Sheila cemburu.
"Makanya punya cowok dong, La! Kita udah 19 loh, jaman dulu aja umur segini kita sudah dianggap terlalu tua kalau belum kawin." Balas Tara asal dan membuat Sheila pengen menjitak kepalanya.
"Dan lo Lun, masak nggak pernah ada adegan romantis kejadian di perpus sih? Kayak di film-film gitu? Lo liat-liatan sama cowok di antara barisan buku-buku, trus kenalan, trus jadian deh. Atau emang nggak ada cowok cakep ya di perpus?" dalam situasi seperti ini, kalimat Tara yang memang sudah jadi trademarknya, terdengar lebih menyakitkan. Luna tahu Tara tidak punya maksud apa-apa, itu memang gaya banyolannya, tapi bagi Luna itu terdengar seperti sindiran bahkan lebih buruknya lagi sebuah ejekan.
"Udah pulang aja yuk, biar si centil ini bisa berasyik-masyuk sama Mas Bintangnya." Sheila bangkit dengan wajah kesal. Sheila pasti ikut merasa apa yang dirasakan Luna. Itu adalah aksinya untuk mengehentikan joke Tara yang bisa menyinggung Luna.
"Ih Sheila bahasanya...lagian gue kan hanya becanda, Luna aja nggak marah." protes Tara.
"Siapa bilang Luna nggak marah?" sengit Sheila, Luna langsung mencubit sahabatnya itu untuk menyuruhnya diam.
"Iya iya...maaf. Aku memang bukan teman yang baik." Tara berdiri dan menarik tangan Sheila. "Maafin gue La..." Tara memamerkan wajah sok imutnya untuk mencairkan kekesalan Sheila, sekali lagi Luna diam-diam mencubit Sheila memberi tanda padanya hingga akhirnya cewek itu tersenyum meski terpaksa.
Luna melompat turun dari mobil Tara dan melambai ke arah Tara dan Sheila. Setelah mobil Tara menghilang di ujung gang, Luna berbalik dan ia hampir saja menjatuhkan kamus Oxford tebalnya saat melihat Bintang berdiri hanya beberapa senti di depannya.
"Ya ampunnn! Mas Bintang ngagetin!" keluh Luna. Bintang tersenyum tengil. Beberapa detik kemudian kepala Luna sudah bergerak ke sekelilingnya.
"Nyari apa?" kepala Bintang juga ikut bergerak.
"Mas Bintang naik apa?"
"Tuh!" dagu Bintang bergerak ke arah motor matik putih yang terparkir manis di halaman kos-kosan.
"Tadi..."
"Aku tahu. Aku lihat mobil Tara tadi." Bintang ikut melangkah di belakang Luna yang berjalan menuju kamarnya. Bintang duduk di kursi plastik yang diletakkan di teras kamar sambil menunggu Luna.
"Mau minum apa mas?" tanya Luna dari dalam.
"Emang kamu punya apa?"
"Cuma air putih sih," jawab Luna sambil menahan senyum. Di tangannya ia membawa sebotol air putih dingin. Bintang tertawa kecil dan menyambar gelas yang diulurkan Luna padanya. Luna menuangkan isi botol ke dalamnya.
"Siang panas seperti ini, air es itu jadi terasa mewah loh." Luna berkomentar sambil duduk di kursi sebelah Bintang. Luna memperhatikan Bintang yang sedang minum dan ternyata ia masih merasakan debar halus di dadanya. Ia masih belum bisa sepenuhnya menghilangkan rasanya untuk cowok di depannya ini.
"Tara tau nggak Mas kesini?"
Bintang menggeleng.
"Tapi entah malaikat apa yang lagi ngerasukin dia, tapi katanya selama dia ujian jadwal ngedate cuma berlaku pas malam minggu." Bintang menghela napas. "Tara itu mengejutkan. Ia suka bikin aku terkaget-kaget sendiri." Kata Bintang lagi. Luna mengernyit tak mengerti.
"Maksudku sifat Tara..." kata Bintang pelan. "Tapi kita baru sebulan jadian jadi mungkin ini yang namanya masa penyesuaian." Bintang tersenyum. Luna tidak mengerti arah pembicaraan Bintang.
"Mas, ada apa sih sebenarnya?" selidik Luna.
"Enggak hanya saja...entahlah Lun." Bintang menggeleng kencang, sepertinya ada sesuatu yang hendak ia katakan namun masih ragu ia ungkapkan. "Aku nggak tahu apa kamu adalah orang yang tepat untuk dengerin ini, tapi hanya kamu yang mungkin ngerti, Lun."
Luna semakin bingung.
"Kamu tahu kan, kalau aku pacaran dengan Mitha cukup lama." Bintang memandang Luna dan cewek itu hanya menjawabnya dengan anggukan. "Apa mungkin aku dan Tara terlalu cepat jadian? Sedang aku masih belum sepenuhnya melepaskan Mitha." Lanjut Bintang lagi dengan nada keraguan yang jauh lebih kental.
"Katanya Mas Bintang udah putus dari Mbak Mitha setahun lalu."
"Iya, tapi selama setahun ini kami masih berhubungan, maksudku berteman...kami masih saling ngasih kabar dan..." Bintang menunduk.
"Mas Bintang nggak bermaksud putusin Tara kan?"
"Enggak. Aku sayang banget sama Tara, hanya saja kadang-kadang aku nggak bisa paham dengan jalan pikirannya. Kadang dia manis, tiba-tiba dia ngambek nggak beralasan. Ini yang buat aku berpikir apa aku terlalu terburu-buru dengan hubungan ini." Bintang mengangkat wajahnya lalu memandang Luna lekat-lekat. Dan bagi Luna sendiri, kata-kata Bintang tadi seperti pukulan telak kedua untuknya. Ternyata bukan hanya Tara yang mengalahkannya tapi juga masa lalu Bintang, Mitha. Entah Bintang yakin sepenuhnya atau tidak, tapi ia mengaku masih punya rasa yang tersisa untuk Mitha.
"Mas, jangan sakiti Tara. Dia cinta banget sama Mas Bintang."
"Aku tahu...aku minta maaf Lun. Aku harap kamu nggak berpikir aku jahat karena menceritakan semua ini sama kamu." Bintang menyentuh tangan Luna. "Dengan perasaanmu."
"Aku nggak apa-apa Mas."
"Terimakasih ya Lun, karena nggak menghindar dan menjauhi aku." Luna melirik tangan Bintang yang masih setia menyentuh jemarinya kemudian ia mengangguk dan memberi senyum tulus untuk Bintang.
"Dan aku sama sekali nggak berniat nyakitin Tara dengan hubunganku dengan Mitha, tapi kalau misalnya suatu saat kamu dengar hubungan aku dan Tara tidak berhasil, please itu bukan karena hubungan aku dan Mitha."
"Aku nggak ngerti Mas." Luna perlahan menarik tangannya.
"Sifat Tara yang masih labil sering membuat aku berpikir...dan bisa jadi karena sifat kami yang sering berbenturan, hubungan kami nggak akan pernah bisa berjalan mulus. Itu intinya Lun."
Tetap saja Luna masih tidak mengerti, kalau seandainya Bintang hanya ingin berkeluh tentang sifat Tara, dia pasti tak akan membawa-bawa hubungannya dengan Mitha. Apakah itu artinya Bintang sungguh-sungguh masih ingin kembali pada Mitha? Untuk hal ini Luna mulai merasa iba pada Tara dan membenci Bintang. Mungkin ini akan jadi satu alasan yang akan mengikis perasaannya pada Bintang.