“Aku mendengarnya, Mayor Brandon.”
“Apa?”
Setelah pertemuan mereka di bandara, mereka tidak pernah terlibat pembicaraan selain saat ini. Setelah mereka tiba di rumah perlindungan, setelah James membukakan pintu mobil untuk sang putri. Semua tampak kacau bagi sang putri, tak seorang pun mengerti bahwa ia nyaris kehilangan akal sehat dengan kehidupan yang dicetak orang-orang di sekelilingnya. Tidak ada kebebasan, tidak ada hak untuk melakukan semua kegembiraan hidup. Ia dicetak---dibentuk sesuai keinginan pendampingnya. Apa yang tersisa untuk dinikmati dalam hidupnya yang terkungkung?
Sejak tadi James penasaran apa yang akan dilakukan sang putri ketika mereka hanya berdua. Kemarin ia mengira bahwa ia hanya akan bertugas untuk memastikan tidak ada ancaman khusus untuk keselamatan sang putri, memastikan sang putri aman kapan pun dan dimana pun, tidak tersesat ketika berada dikeramaian. Rasanya kepalanya berdenyut semakin sakit memikirkan fakta bahwa ia tidak hanya menjadi seorang pengawal bagi sang putri melainkan juga seorang pengasuh.
Fatimah mengepalkan tangannya di sisi tubuhnya. “Rasa kesalmu karena kau harus melakukan ini. Kau tidak perlu menuntunku, Mayor Brandon. Katakan saja aku harus ke arah mana dan berapa langkah yang kubutuhkan untuk mencapai pintu.”
James mengertakkan gigi. Apa hati gadis muda ini sedingin ikan makarel dan lidahnya setajam pisau belati?
Apa aku harus mengawali pekerjaanku dengan sikap sinismu, My Lady?” tanya James yang entah mengapa berhasil terdengar meremehkan dan tanpa emosi. “Hadapkan tubuhmu ke arah kiri dan berjalan sebanyak lima belas langkah.”
“Terima kasih. Aku tidak bersikap sinis, Mayor, aku membaca pikiranmu.” Fatimah mengikuti instruksi James.
“Dan apa yang sedang kupikirkan sekarang, My Lady?” James membuntuti Fatimah setelah memberi instruksi kepada Red dan Smith untuk mengamankan bagian luar rumah perlindungan.
“Menikmati bacon panas dengan segelas bir dan ditemani seorang wanita---yang tidak buta.” Fatimah melemaskan kepalan jari-jemarinya di sisi tubuhnya.
“Menyenangkan sekali ketika kau berhasil membaca pikiranku, My Lady. Ulurkan tanganmu untuk menyentuh kenop pintu,” James memberitahu. “Dan jika kau tidak keberatan, aku ingin memperbaiki sedikit---menyantap bacon panas dan bir sambil ditemani ocehan sinismu, My Lady.”
“Well, sepertinya aku mendapat teman yang menyenangkan.”
“Kita tidak berteman, My Lady. Aku pengawalmu.” Suara Mayor Brandon sangat datar.
“Mungkin memang seperti itu,” Fatimah menarik nafas dalam-dalam menghirup udara di sekelilingnya. Kehangatan interior rumah kayu dengan aroma kulit kayu yang menggoda. “Apakah kita berada di daerah pegunungan, Mayor, dengan interior rumah kayu?”
“Tepatnya wilayah pegunungan Catskills, di bagian selatan New York, My Lady.” Mayor Brandon memposisikan dirinya di sebelah sang putri ketika ia memperjelas lokasi mereka.
“Seperti apa warna rumahnya? Apakah semua perabotannya terbuat dari kayu, Mayor?”
“Putih gading. Ya, semua perabotannya terbuat dari kayu, My Lady, selain sofa tebal dengan ukiran indah yang diletakkan di ruang keluarga dan di ruang tamu.”
“Aku pikir itu sangat indah, Mayor.”
“Seperti yang kau pikirkan, My Lady.”
Fatimah mengerutkan hidungnya, “Bisakah kau menunjukkan padaku dimana letak kamarku, Mayor Brandon?”
“Berjalan dua belas langkah ke depan. Ada tujuh anak tangga yang harus kau lalui, dan delapan anak tangga berikutnya. Aku akan mengatarkanmu ke kamar agar kau bisa segera memulihkan tenagamu, My Lady.”
“Aku akan melakukannya sendiri,” ucap Fatimah galak. “Aku ingin kau mengetahui dan menyimpan ini dalam kepalamu mayor Brandon---Aku buta bukan lumpuh! Usiaku sembilan belas tahun, cukup jelas bagimu bahwa aku bukan balita yang harus kau tuntun!”
“Apa seseorang pernah memberitahumu bahwa kau sangat terus terang, My Lady?”
“Tidak.”
“Kalau begitu izinkan aku mengambil kesempatan pertama untuk mengatakan hal ini kepadamu, My Lady. Kau orang yang sangat berterus terang.”
“Jelas sekali kau sangat ingin mengatakannya, Mayor Brandon.” Fatimah terlihat kesal dan ia tak merasa perlu untuk menyembunyikannya. “Izinkah aku mengatakan kepadamu, Mayor Brandon, orang-orang senang menyebutku gadis pengganggu, penggerutu dan keras kepala,” lanjutnya lambat-lambat, lalu berjalan meninggalkan sang mayor dengan limbung.
Fatimah meraba-raba pegangan tangga untuk menstabilkan posisi berdirinya, lalu menjulurkan kakinya, mulai menapaki undakan satu demi satu. Meraba-raba dengan ujung kakinya, perlahan dan sangat hati-hati. Ia tak ingin jatuh tersungkur, terseret ke bawah tangga---di depan Mayor Brandon. Di istananya, Sang Raja tak pernah mengizinkannya menggunakan tangga, sebuah lift pribadi siap mengantar ke lantai mana saja sang putri ingin berkunjung. Ia menarik nafas dengan gemetar, semakin tinggi tangga yang dipijaknya, semakin ia merasa gugup.
Mayor?” Fatimah mencengkeram pegangan tangga, merasa pusing dan takut. “Mayor Brandon?” peluang untuk melangkah semakin tidak bagus, tungkainya kaku dan lututnya gemetar. “Jam---
“Aku disini, My Lady,” ucap James dengan suara baritonnya yang tegas. Terasa begitu dekat.
Fatimah memalingkan wajahnya ke belakang, menghirup nafas dan mengembuskannya dengan teratur. “Kau di belakangku?”
Bibir Fatimah sangat dekat di pelipis James. Pria itu bahkan bisa merasakan hembusan nafas hangat sang putri. Tanpa menciptakan suara pergerakan, James turun satu anak tangga. “Ya. Dua tangga di belakangmu. Aku belum meninggalkanmu,” Ia melirik tangan yang terbungkus gloves berwarna putih tulang yang mencengkeram pegangan tangga dengan erat. “Aku tak akan pernah meninggalkanmu, My Lady,” lanjutnya, tenang seperti biasanya.
Perasaan lega membanjiri sang putri. Perlahan cengkeraman tangannya melemah. “Apakah kau memakai sepatu?”
James menautkan alis dengan bingung. “Tentu saja.”
“Pakailah sepatu yang ber-hak sehingga aku bisa mendengar langkah kakimu. Kau bahkan tidak memakai parfum, aku tidak bisa membauimu sama sekali.” Sang Putri menggerutu, mendecakkan lidah dengan kesal. “Tahukah kau, Mayor Brandon---Itu menyebalkan,” bibir bawahnya terdorong ke depan dengan kedua pipi montoknya yang dikembungkan---mengingatkan James kepada keponakannya di Texas. Hal itu tak urung membuat pria itu tersenyum.
“Setidaknya aku memiliki bau keringat, My Lady.”
“Kau sangat konyol, Mayor Brandon. Memangnya siapa yang ingin mengendus keringatmu.” Fatimah terkikik kecil, lalu memalingkan wajahnya dan kembali menapaki anak tangga berikutnya. Kali ini lebih tenang.
James tercengang untuk beberapa waktu, sebelum mengeluarkan desahan berat.
***
“Itu menyebalkan bukan?”
“Apa?” James memindahkan seluruh pakaian Fatimah dari koper ke lemari kayu empat pintu berwarna coklat gelap yang berbaris sejajar dengan kepala ranjang. Kayu mahoni yang diukir dengan keunikan tersendiri sehingga memiliki nilai estetika yang tinggi.
“Mengurus seorang gadis buta.”
James mendesah, persis ketika ia membuka koper berwarna biru dan pemandangan tak biasa itu menyapu matanya. Pakaian pribadi sang putri. Ia mengumpulkan di tangannya dan memindahkan ke lemari paling kiri, menyusun dengan sangat rapi. “Aku hanya tidak mengerti mengapa ayahmu tidak menyiapkan seorang pelayan wanita untukmu.” James tidak berusaha menyembunyikan kekecewaan dalam suaranya.
“Tidak seorang pun boleh mengetahui bahwa aku tidak berada di istana selain panglima perang dan seorang pengasuhku. Semua harus tampak sama. Akhir-akhir ini sangat sulit untuk mempecayai orang-orang di dalam istana.” Fatimah tampak merenungi ucapannya. “Sebaiknya kau tidak membuka koper berwarna biru. Itu--itu barang-barang pribadiku.”
“Di sebelah kiri ranjangmu, maju tiga langkah. Lemari paling kiri. Aku meletakkannya disana. Kau membawa cukup banyak. Aku bahkan harus menyusunnya agar kau tak keliru saat mengenakannya, My Lady.”
Itu sangat mengesalkan sekaligus mengerikan. Mencengkeram kasur, Fatimah memikirkan bagaimana jika ia mengulurkan tangan dan menampar saja muka Sang Mayor. Apalagi pria itu sama sekali tidak terdengar malu saat mengatakannya.
“Kau bisa meninggalkanku sekarang, Mayor Brandon!” ujar Sang Putri, tanpa menyembunyikan nada jengkel dalam suaranya.
James menyeringai menatap wajah merah sang putri, “Jika kau ingin membersihkan tu---
“Tidak!” Sang Putri mendesah keras dan kesadaran akan sesuatu membuat wajah cantiknya sedikit memucat. Ia memikirkan seperti apa wajah sang mayor saat menertawakan dirinya sekarang. “Baiklah, di sebelah mana?”
Sang Mayor mengabaikan sikap murung sang putri, berkata dengan nada datar seperti biasanya. “Turunlah dari sebelah kanan ranjangmu, dan berjalan lima belas langkah. Bungkukkan badanmu dan ulurkan tanganmu. Kau akan menemukan bathup yang diisi air hangat yang bisa kau gunakan untuk membersihkan tubuhmu, My Lady.”
Sang putri bergerak gelisah, memuntir-muntir jari-jemarinya hingga memutih. Ia membuka mulut hendak menggumamkan sesuatu, tetapi menutupnya kembali. Ia bahkan tak bisa mempertimbangkan kata-kata yang tepat untuk saat ini. Mayor James tentu bisa melihatnya. Dalam satu titik, ia tampak konyol dan memalukan. Mendesah, Fatimah tak mungkin menahannya lagi. “Maukah kau mengambilkan pakaian ganti untukku?” suaranya selemah bisikan.
Fatimah berupaya untuk mempelajari Sang Mayor ketika pria itu bekerja. Entah ia orang yang seperti apa. Fatimah sama sekali tak mendengar langkah kaki atau suara lemari yang dibuka ketika Sang Mayor mengejutkannya dengan berbicara di dekat telinganya. “Gaun malam di sebelah kananmu, My Lady.”
Sontak Fatimah menelengkan kepalanya ke samping, alisnya berkerut. Ia dapat mengendus aroma kopi yang kuat dari nafas yang diembuskan ke wajahnya. Apa posisi mereka sangat dekat?
Aroma itu menghilang.
Fatimah mengerutkan wajah. “Terima kasih.”
“Sepasang pakaian dalam sutra tipis berwarna putih di sebelah kirimu, My Lady.”
Seperti apa wajahnya sekarang? Fatimah benar-benar ingin memukul Sang Mayor. “Mayor--kau bersikap tidak sopan!”
James sama sekali tidak merasa terganggu dengan teguran sang putri. “Bathrobe di pangkuanmu, My Lady. Aku keluar untuk menyiapkan makan malammu.”
“Kau kurang ajar.”
“Matahari terbit dari arah kepala ranjangmu, My Lady.” James berkata sambil berlalu. Dan saat melangkah keluar dari kamar Sang Putri, ia mendapati dirinya tertawa tanpa suara.
***
Blaire,”
James akhirnya menghubungi kekasihnya pada tengah malam. Setelah ia merebahkan tubuhnya di sofa untuk mengusir lelah, setelah ia melihat banyaknya panggilan telepon, enam diantaranya merupakan panggilan video.
“Apakah kau terlalu sibuk untuk menjawab panggilanku, Mayor Brandon?!”
Suara menggerutu dari seberang.
James memperhatikan kalimatnya, “Ini hari pertamaku bertugas, sweetheart.”
“Dan kau tidak teralihkan,” katanya, “Bagus untukmu.”
James memijit hidungnya dengan jari telunjuk dan ibu jari. “Maafkan aku.”
“Sangat bisa ditebak bahwa aku akan mudah memaafkanmu.”
James mendengar suara tarikan nafas dan dikeluarkan derngan perlahan dari seberang. Dengan cemberut dan resah ia kembali berkata, “Aku harus memastikan semuanya sesuai dengan keinginan sang putri, Blaire.”
“Apakah dia cantik, James?”
James seorang pria yang jujur. “Ya.”
“Kau tertarik padanya?”
“Usianya sembilan belas tahun, Blaire. Dan dia berdarah bangsawan.”
“Ah, usia naif dan gelar angkuh.”
James tidak mengatakan apa-apa. Ia merasakan putaran asing di ulu hatinya, mata yang lelah dan kedua tangan yang ingin menelungkup di d**a. Ia telah memastikan Red dan Smith berada dalam posisi siaga.
“Aku merindukanmu, James.”
“Kau sudah terbiasa tidak melihatku, sweetheart.”
James mendengar suara desahan panjang, dan ia melarikan pandangannya pada langit-langit rumah. “Kau tidak merindukanku?”
“Kemarin malam aku tidur bersamamu, Blaire.”
“Apakah hubungan kita hanya tentang itu, James? Sebatas bagaimana kau di ranjangku?”
“Sudah malam, Blaire, aku sangat lelah. Bisakah kau menghubungiku besok saja?”
“Kau selalu menghindari hal ini. Baiklah, istirahatlah. Aku akan menghubungimu besok pagi. Makan dengan teratur. Aku mencintaimu, James.”
“Selamat malam, sweetheart.”
***
Seekor kucing hutan mengeong.
Kucing itu menghampiri dan berjalan mengitari pergelangan kaki Fatimah, membatalkan niat sang putri untuk meninggalkan pekarangan. Fatimah membungkuk, meraih kucing itu, lalu mengusap bulunya dan mencetuskan suara-suara menenangkan dengan lembut.
“Hati-hati, Your Highness, kucing itu bisa saja menggigitmu,” suara sersan Red memperingatkan. “Seekor kucing hutan, Your Highness.”
Fatimah mengangkat wajahnya ke asal suara dan tersenyum menawan, “Tidak, sersan Red, aku pikir dia kucing yang manis.” Buta membuat Fatimah sangat cepat mengenali seseorang melalui suaranya. “Seperti apa warnanya?”
“Warna yang khas, Your Highness, kuning kecoklatan dengan belang-belang hitam,” jawab Red. “Sekarang maukah kau memberikan kucing itu padaku, Your Highness? Aku tidak ingin kucing liar itu membuat masalah untukmu.”
“Tidak, sersan Red. Dia kucing yang lucu. Aku mohon biarkan aku menggendongnya sebentar,” katanya pelan. “Tiga puluh lima hari terkurung disini dan aku menemukan kucing ini sebagai satu-satunya hal yang menyenangkan di tempat ini, sersan.” Fatimah menatap Red penuh makna, yang terbukti berhasil walaupun gadis itu buta.
Red mendesah, “Jika kucing itu sampai mencakar atau menggigitmu, Your Highness, aku tidak segan-segan untuk membunuhnya.”
“Tidak, Sersan Red. Kucing ini sangat manis. Jika ada seseorang yang tepat untuk dibunuh saat ini, aku rasa dia komandanmu---Mayor Brandon.” Fatimah mengeluarkan ekspresi
sarkasme.
Red tergelak. “Hati-hati, Your Highness, rumput pun bersedia memberi informasi padanya.”
Fatimah mengerucutkan bibir dengan menggemaskan. “Aku tidak takut padanya. Dia membuat hidupku seperti di neraka---
Keadaan menjadi hening dan Fatimah harus menarik nafas dengan---lelah.
“Well, sersan Red, sepertinya aku akan kembali ke neraka.”
Situasinya jelas untuk sang putri.
Red mengatupkan bibir menahan tawa.
Dengan hati-hati, Fatimah menurunkan kucing hutan itu ke tanah, lalu berdiri dan memaksakan diri memutar tujuh puluh derajat dari posisi awal. Mengabaikan sikap hewan itu yang mengusap pergelangan kakinya dengan hangat. “Selamat sore, Mayor Brandon, kau terlihat sangat tampan sore ini.” Ia sangat berharap bisa menghilang dari situasi ini.
“Menyenangkan sekali kau bisa menilai penampilanku, My Lady,” sahut Mayor Brandon dengan nada yang dirancang kejam seperti biasanya. “Kuberitahukan saja padamu, saat ini aku baru kembali dari berburu di hutan dengan keringat dan kotoran yang menempel di tubuhku sementara tangan kiriku menyeret rusa jantan yang sekarat. Sama sekali tidak tampan.”
Red terkikik kecil, lalu langsung bungkam ketika sang mayor meliriknya.
Fatimah mengerjabkan mata, mengharapkan satu keajaiban kecil---mendapatkan bayangan sang mayor. Secara visual, tentu. Tetapi itu hanya omong kosong---ia hanya dapat melihat sang mayor secara rasional. “Setidaknya kau lebih menarik dari rusa jantan yang sekarat, Mayor.” bantahnya dengan keras kepala dan berdecak. Dia menginginkan perlindungan yang tegas, bukan yang kejam.
“Masuklah. Red akan menyiapkan makan malam untukmu.”
“Aku tidak mau makan daging rusa yang tidak disembelih dengan nama Rabbku!” jeritnya panik. “Itu seperti bangkai untukku, apa kau tidak tahu?!”
“Baiklah, Red akan membuatkan pasta untukmu.” Mayor Brandon menanggapinya dengan tenang dan sabar.
“Aku tidak mau! Oh, astaga---Fatimah nyaris frustasi---satu hari lagi dan aku akan benar-benar gila bersamamu! Kau membuat hidupku seperti di neraka!” Fatimah menggeram dengan tidak pantas. “Ke arah mana, Mayor?!” bentaknya.
Mayor Brandon melirik Red yang menatap serius ke tempat lain. “Arah jam sembilan. Delapan belas langkah menuju tangga.”
Fatimah menarik nafas dalam-dalam dan memaksa jantungnya lebih tenang. Ia memutar tubuhnya dan berjalan dengan tidak anggun. Sampai saat ini ia tak pernah mengalami kesulitan dengan seluruh bagian pondok perlindungan.
“Hati-hati, My Lady, tujuh langkah di depanmu ada tanah tidak rata. Aku harap kau bisa mulai melambatkan langkahmu---sekarang.”
Dan sesungguhnya---karena Mayor Brandon di sisinya.
***