“Apa yang kau masak, Sersan Red? Baunya enak sekali,” sahut Fatimah ketika ia duduk di kursi yang di tarik James.
Seharusnya bukan kain-kain lebar dengan motif bunga tulip itu yang diberikannya untuk dikenakan sang putri malam ini. Gadis muda itu terlalu cantik.
James mengabaikannya.
“Aku pikir kau tidak ingin Red menyiapkan makan malammu kali ini, My Lady.”
“Benarkah? Aku tidak ingat pernah mengatakan hal itu.”
“Penolakanmu sore tadi cukup untuk membangunkan setengah dari penghuni hutan, My Lady.”
Fatimah mengerutkan wajah, “Aku tidak bermaksud seperti itu, Mayor.”
James mengedikkan bahu seolah Fatimah bisa melihatnya. Ia kemudian mengintruksikan arah sendok untuk sang putri.
“Jadi---kau yang menyiapkan makan malam untukku?” dengan hati-hati ujung jari mungil sang putri meraba meja di sebelah kanan piringnya untuk mengambil sendok sesuai instruksi James.
“Setelah kau menolak Red---ya, tentu saja, My Lady.”
Fatimah mengerucutkan bibirnya. “Aku akan meminta maaf padanya.”
“Itu tidak perlu, My Lady.”
“Kenapa?”
“Pria tidak diprogram untuk bersikap sentimentil.”
“Oh, astaga---ya, terutama kau, Mayor,” Fatimah berkata ketus.
James tidak tersinggung.
Fatimah mempermainkan sendok di atas piringnya, “Jadi---apa yang kau masak, Mayor?”
“Aku pikir kau bisa menebak melalui aromanya, My Lady.”
“Oh, aku rasa kau lupa bahwa aku hidup di istana selama sembilan belas tahun, Mayor.”
“Hummus.”
“Hummus?”
“Arab Levantine, My Lady.”
“Oh,” mata cantik di depan James membulat takjub. “Kau bisa membuat masakan Timur Tengah?”
“Lima tahun di Irak, tiga tahun di Afghanistan, dua tahun di Suriah dan delapan bulan di Palestina. Ya, aku bisa membuat beberapa masakan Timur Tengah, My Lady.”
“Kau benar-benar kejam. Kau tidak tahu bagaimana rasanya merindukan masakan dari negerimu sendiri. Kau terus menyuruh sersan Red memasak untukku.” Fatimah menggerutu.
James mengabaikan sikap muram sang putri. Menuangkan hummus di atas piring Fatimah. “Sepuluh tahun di Timur Tengah, aku sangat tahu rasanya merindukan masakan negeri sendiri, My Lady.”
Perut Fatimah mencelus.
James mendorong cangkir porselen berbentuk bulat nyaris menyentuh punggung tangan Sang Putri. “Qishr, My Lady, persis di sebelah tangan kananmu. Gagang cangkir menghadap tepat ke arahmu,” katanya.
Minuman hangat yang terbuat dari campuran kopi, jahe, kapulaga dan kayu manis dengan cita rasa manis yang diperoleh dari buah kurma.
Fatimah menelengkan kepalanya ke arah suara James dengan terpana. “Aku tahu minuman itu. Setiap akhir pekan aku akan duduk di taman istana dan menikmati secangkir Qishr. Mari kita lihat, apakah kau membuat Qishr sebaik pelayan istana,” ia menyeringai dengan menggemaskan, lalu memalingkan wajahnya dengan sikap santai dan mulai meraba posisi cangkirnya. Gagang cangkir membentur ringan buku jemari sang putri.
James menahan nafas untuk beberapa detik, lalu berpaling. Bibirnya menekuk sinis pada ketololannya sendiri.
“Ini luar biasa, Mayor. Qishr terbaik yang pernah kuminum. Aku rasa aku akan menyesal karena tidak dapat menikmati Qishr buatan tanganmu untuk waktu yang lama,” komentar Fatimah sambil tangan kirinya meraba-raba untuk menemukan tatakan dan meletakkan cangkir di atasnya dengan sangat hati-hati. Ketika tangan mungil itu meninggalkan cangkir, tangan besar James meluruskan posisi cangkir bulat tersebut di atas tatakannya.
“Terimakasih, My Lady,” sahut James. “Tapi kau tidak perlu menyakiti hatimu dengan perkataan yang tidak kau inginkan.”
Fatimah menarik nafas dan membuangnya dengan keras. “Aku serius dengan perkataanku, Mayor!” bentaknya kejam. “Hatimu beku, Mayor. Sangat beku.”
James tidak tersinggung.
“Apakah kau akan makan denganku, Mayor?”
Bukankah terlalu intim jika mereka makan berdua?
“Jika kau menginginkannya, My Lady.”
Wajah Fatimah tampak ceria. “Tentu saja. Aku rasa kita bisa melakukan gencatan senjata dan memulai hubungan pertemanan yang masuk akal,” katanya kalem. “Kita lupakan saja tiga puluh lima hari yang tidak menyenangkan,” Fatimah terdiam sejenak, sebelum melanjutkan. “Aku rasa kita telah mengawali perkenalan kita dengan cara yang salah, dan mungkin kita bisa---
“Aku pengawalmu, My Lady. Seseorang yang disewa ayahmu untuk memastikan keamananmu, tidak untuk selain hal itu,” potong James dengan nada sedingin es.
Fatimah membeku. Untuk sesaat ia memikirkan apa yang mungkin disiratkan oleh kata-kata yang sama berulang kali dan nadanya dalam konteks yang berbeda. Ia mengerutkan hidung, mendongak dari piringnya. Terserah melihat ke arah mana, sang putri tak terlalu peduli. “Tahukah kau, Mayor, aku mulai sedikit tidak menyukaimu.”
“Terimakasih karena hanya sedikit, My Lady.” Ekspresinya kaku seperti dipahat dari batu granit.
Fatimah mendengar suara kursi digeser, persis di depannya. Jadi mereka duduk berseberangan. Sesaat Fatimah mendengar suara makanan di sendok di atas piring. “Berapa umurmu, Mayor?”
“Sangat tidak sopan menanyakan umur seorang pria setelah kau memintanya untuk makan bersamamu, My Lady.”
“Apakah kau setua jembatan Brooklyn atau sedikit lebih muda dari sungai East?”
“Maaf, My Lady?”
“Kau sangat kaku dan menyebalkan.”
“Apa itu sanjungan?”
“Apa kau sudah menikah?”
“Apa aku sedang menjalani sesi wawancara?”
“Kekasih?”
“My Lady---
“Ah, jelas kau tidak memiliki keduanya.”
“Aku bertunangan, My Lady,” sergah James dengan nada sekeras besi. Ia melirik cincin perak di jari manis sebelah kiri dan mendesah.
“Benarkah?” Fatimah berdecak setelah bungkam selama beberapa menit. “Kau tidak mencintainya, dasar konyol.”
James mengernyitkan alis, “Saya tidak percaya saya sedang duduk dengan seorang cenayang, alih-alih sang putri.”
“Sebaiknya kuberitahukan saja kau dari sekarang. Orang buta sepertiku selalu memiliki insting yang lebih kuat dari orang yang bisa melihat sepertimu.”
James mengedikkan bahu tak peduli, menyingkirkan fakta kebutaan sang putri.
Fatimah mendorong makanan ke mulutnya. “Mengapa melakukannya?”
“Apa?”
“Bertunangan.”
“Apakah ada korelasi yang erat antara pekerjaan mengawalmu dengan statusku, My Lady.”
Fatimah menggantung sendoknya di udara, tampak berpikir, lalu berakhir dengan mengedikkan bahu. “Kau mungkin akan jatuh cinta dengan seseorang suatu hari nanti.” Ia menyuapkan makanan ke mulutnya.
“Aku tidak pernah memikirkannya, My Lady, tapi terima kasih kau sudah memperingatkanku.”
Bibir Fatimah tertarik membentuk senyuman tipis, “Kita berteman.”
Sebelah alis James bergerak naik. “Aku pengawalmu, My Lady.”
Mungkin jika seseorang menyayat kulitnya, itu lebih baik. Fatimah melepas sendok, menarik tangannya dari piring dan mengepal di atas pahanya. Ia meluruskan punggungnya setegak sandaran kursi. Menoleh ke arah James. “Apa kau akan selalu mengulang kata-kata itu, Mayor Brandon?!” Fatimah dibakar oleh rasa frustasi yang lama dan baru, terkumpul kepada Sang Mayor. “Apa begitu sulit untuk memperlakukan aku selayaknya manusia yang hidup?”
“My Lady,” James memperingatkan.
Fatimah mengabaikan.
“Ah, aku lupa, kau orang yang disewa ayahku. Tentu kau akan bersikap seperti para gerombolan itu. Sungguh ironis, aku dibebaskan dari jeruji besi hanya untuk dimasukkan ke dalam jeruji besi yang lain.”
James mengangkat kedua alisnya. “Gerombolan?” nada suaranya terdengar dingin dan asing, bahkan di telinganya sendiri.
“Ya. Gerombolan dengan pedang di pinggang kirinya dan senapan dalam genggamannya, berusaha untuk menjauhkanku dari segala kesenangan hidup, mengurungku, memperlakukanku seperti artefak berharga yang tidak boleh tergores. Tidak boleh melakukan ini dan itu, dan hanya boleh pergi ke tempat yang mereka inginkan.” Fatimah tersengal, nyaris kehabisan nafas.
“My Lady---
“AKU BUKAN ARTEFAK BERHARGA, MAYOR BRANDON!” Fatimah mendorong diri menjauhi meja, meninggalkan kursi dan menghadap ke arah James---tidak tepat---yang spontan berdiri. Kedua tangannya terkepal di sisi tubuhnya. Ia tidak akan bersikap sopan sekarang. “Aku menerima ini, James, hidup bersamamu yang asing bagiku dan berharap kau berbeda dari mereka! Kau akan membiarkanku bermain di bawah hujan, berjalan di atas kerikil, menunggangi kuda, mengendarai sepeda lalu aku akan terjatuh---
“My Lady!”
“MEMANGNYA KENAPA KALAU AKU TERJATUH?!” bentak Fatimah ganas. Ia memaksa dirinya berdiri kuat, tegak, dan tidak gemetar. Di kakinya sendiri. “Aku akan tersandung, aku akan terluka, kuperingatkan saja kau dari sekarang. Tetapi kenapa itu harus menjadi hal yang mengerikan untukku?! Aku akan terjatuh, ya---tapi aku akan kembali berdiri---dengan kakiku sendiri, James, seperti manusia yang hidup! Aku akan terluka, ya---tapi aku akan membalutnya dengan tanganku sendiri! Kau bisa mengajarkan caranya, ya kan?! Untuk itulah kau berada di sisiku! Seharusnya untuk itu! Kau membenci pekerjaan ini, bukan?! Kau membenciku---
“My Lady!”
“Karena aku buta, manja, keras kepala, sinis--
“’Amirat---
---merepotkan, membuatmu muak. Aku adalah beban, ya! Katakan sa---
“FATIMAH!”
James terkejut mendengar dirinya memanggil nama sang putri, sama terkejutnya ketika ia mendengar sang putri memanggil nama depannya.
Fatimah terkesiap.
James berupaya mendisiplinkan pikirannya. Jika dia tahu apa yang sebenarnya terjadi. Jika ia paham dengan situasinya dan tidak hanya diam mengikuti alur. Untuk sesaat James hanya melihat sang putri. Perhatiannya hanya tertuju kepada gadis muda itu seperti tumpukan besi di dekat batu magnet.
Fatimah mengatur nafasnya. Tangannya gemetar ketika mengusap hidung dan matanya. “Kuberitahukan padamu, Mayor, bukan kebutaan yang melumpuhkanku, tapi karena semua orang memutuskan aku tak berhak hidup dalam dunia yang sama seperti mereka. Tidak bisakah kau memahamiku dan berbuatlah yang berbeda.”
James bungkam, menelan ludah yang terasa pahit berbongkah. Ototnya menegang seakan ia ingin menyelamatkan sang putri dari takdir yang memenjarakan sang putri dalam kegelapan abadi. Angin bergerak, menerobos dalam keheningan melalui jendela-jendela kayu yang ia biarkan terbuka. James bergeser untuk mendekati sang putri. Kedua tangannya terkepal di sisi tubuhnya.
Karena hati James tidak beku. Sama sekali tidak beku.
“Kau cantik, My Lady. Demi Tuhan---kesedihan bukan milikmu.”
James akan terkutuk jika menarik sang putri ke dalam pelukannya dan berupaya keras untuk tidak memperhatikan aroma manis dari sang putri. Aroma yang mengingatkannya pada mawar eksotis yang mekar di musim semi. “Kau akan baik-baik saja, My Lady. Dan akan hidup dengan bahagia.”
Terjadi momen hening tanpa akhir dan James memikirkan apa yang ada dalam pikiran polos, lincah dan sinis sang putri. Sesaat James merasa tersesat dan tak nyaman. Ia berdiri dengan tubuh besar atletis yang ditahan begitu kaku. Jelas ia sosok yang keras, tegas dan setajam bilah pisau.
Fatimah mengusap matanya seperti sikap seorang gadis kecil yang gagal mendapatkan boneka incarannya, sayangnya ia tak mengetahui bahwa ada beberapa sikap yang tak pantas ditampilkan ketika seorang pria berusia prima yang sangat-sangat hidup berdiri di hadapannya.
“Jamie,”
Suara sang putri serak dan terlalu lembut. Apalagi nama itu hanya digunakan oleh kakak dan keponakannya. Sudah terlalu lama, tak seorang pun pernah memanggilnya dengan nama kecilnya dan itu melukainya. Mengapa sang putri harus memanggilnya dengan nama itu?
“Apakah bagimu aku ini hanyalah obyek yang berharga?”
Untuk sesaat yang terasa sangat lama, James tidak menjawab. Mulut pria itu mengeras seperti batu granit. Dan tatapannya---seandainya sang putri tidak buta, tentu ia dapat melihat jawaban kuat di mata pria itu. Jawaban yang tidak akan pernah menyakiti sang putri walau pun ia bersikap dingin.
“Aku akan selalu berada disisimu, My Lady.”
Fatimah bersedekap dan cemberut dengan ganas, “Aku yakin kau tidak bodoh. Bukan itu yang kutanyakan, Mayor Brandon!” bentaknya.
James menahan diri untuk tidak mengeluarkan desahan apapun.
“Kau bahkan tidak bisa menjawab hal semudah itu, dasar menyebalkan. Aku tidak mengerti bagaimana bisa seorang wanita mau bertunangan denganmu kecuali kau memiliki wajah yang sedikit tampan.”
Terlalu tampan. Seandainya sang putri dapat melihatnya.
“Aku ulangi, Mayor Brandon. Apakah kau menganggapku seperti perhiasan langka yang harus kau jaga dari orang-orang yang culas, licik, sinting dan berniat mencuriku?” ia bertanya dengan perasaan terluka.
Faktanya, sang mayor tak menganggapnya demikian. Ketegangan muncul di bahu kuat pria itu.
“Mayor,”
Fatimah tak pernah bisa melihat ekspresi seseorang untuk mengetahui isi pikiran mereka. Memahami apakah seseorang sedang mengatakan kejujuran kepadanya atau sekedar melemparkan bualan menghanyutkan. Ia hanya bisa membaui, mendengar dan merasakan. Ya, membaui dan merasakan. Merasakan hembusan nafas hangat di atas bibirnya dan membaui aroma Qishr yang kuat. Sangat dekat.
Sang Putri membeku. Nadinya berdenyut kencang bak genderang di telinganya. Dunianya terlalu gelap untuk melihat bahkan hanya sebuah bayangan. Ia berupaya untuk menstabilkan posisi kakinya. Mungkin sedikit lagi ia akan terjatuh, apakah James sedekat itu? Nadi di leher dan pengelangan tangannya berdenyut kencang dengan was-was. Dari postur tubuhnya yang kaku, jelas sang putri memakai semua pengendalian diri untuk tidak mengulurkan tangannya ke depan.
Nafas hangat itu menghilang bersama dengan aroma Qishr. Dan Fatimah mendengar suara Sang Mayor seolah berasal dari jarak yang jauh, “Waktunya tidur, My Lady.”
Wajah sang mayor rata seperti biasanya, dengan topeng tanpa ekspresi.
Fatimah mendesah, “Kau tidak menjawabku?”
Hening sesaat.
“Kau berharga, My Lady… lebih dari yang kau ketahui.”
Fatimah terkesiap. Ia melihat pada James, tatapannya melenceng beberapa senti. Pipinya merona, “Besok kau harus menggunakan sepatu pantofel, Mayor Brandon.”
***