Fatimah dibangunkan oleh suara alarm di atas nakas. Tangannya terulur, meraba dalam gelap gulita dunianya, menemukan jam alarm dan mematikannya. Ia mengusap wajahnya dua kali dengan kedua telapak tangannya, menggumamkan pujian kepada Rabbnya. Lalu ia tercenung beberapa waktu, berkedip bingung, kemudian menghela nafas.
Masalah ini mulai sedikit rumit.
Ia bangkit, menurunkan kedua kakinya ke lantai, lalu berhenti sejenak. Mengusap gaun tidur sutra tipis yang ia kenakan. Ia tersinggung karena sang mayor membuatnya berada di momen paling memalukan---diurus seorang pria asing.
Ia berdiri dan mulai menghitung langkahnya, setiap hari mengulang instruksi sang mayor dalam benaknya. Hatinya mencelus dan ia mengertakkan gigi, ngeri membayangkan kejadian yang sama setiap hari.
Air hangat dalam bathup.
Dada sang putri sesak. Kejelasan untuknya---ini masalah rumit.
Putus asa, Fatimah membulatkan tekad.
-------------------------------------------------
Fatimah menyandarkan punggungnya di kaki ranjang dan menjulurkan kakinya di lantai, mushaf braile berada dalam dekapannya. Ia memejamkan mata, mengetahui bahwa seorang diri saat ini membuat gelap dunianya terasa berpuluh-puluh kali lebih pekat dan kesunyiaan menjadi berlipat ganda kesenyapannya. Ia menginginkan kehidupan seimbang dalam dunianya yang tidak seimbang. Mengharap untuk menjalani kehidupan normal dalam dunianya yang tidak normal.
Sang putri tersenyum miring, meledek kelemahannya sendiri. Ia tahu ia tak akan memilikinya. Benaknya mungkin bisa menerima, tetapi lain dengan hatinya. Sebongkah daging yang masih saja memendam harapan---ia bisa hidup, menunggangi kuda, mengendarai sepeda, jatuh cinta, dipinang dan menikah.
Pelan mata sang putri terbuka, menatap ke depan tanpa bayangan apapun. Gelap. Kemudian ia mendesah. Terlalu banyak kejutan yang tidak ia sukai, dan tak perlu menjadi jenius untuk mengetahui bahwa ia akan menjalani hal ini setiap saat. Sang putri mengertakkan gigi. Ya---ia sepertinya tak membutuhkan suara sepatu sang mayor.
“Mayor Brandon,”
Keheningan yang kental terentang beberapa waktu, sebelum suara bariton yang serak memecahkan kesunyian sesaat di kamar itu.
“Ya, My Lady.”
Sungguh---ia benar-benar tidak memerlukan suara sepatu bot sang mayor.
“Apakah kamar ini memiliki balkon?”
Karena sang putri dapat merasakannya.
“Ya, My Lady.”
Keheningan yang asing kembali menyelimuti mereka. Fatimah berdiri menegakkan tubuh, meraba pinggiran ranjang untuk menuntunnya ke arah nakas. Meletakkan mushaf dengan sangat hati-hati. “Ke arah mana, Mayor?” Ia mencengkeram lemah tepian nakas.
“Berputarlah, My Lady, dan berjalan tiga belas langkah.”
Apakah pria ini memiliki sisi atraktif atau hanya sekedar ada? Seluruh indera sang putri memperingatkan bahwa pria itu ada dan dekat. Apakah sebelumnya sang mayor merupakan sosok maskulin yang suka bersenang-senang ketika ia kembali dari medan tempur? Sosok yang tampan dengan tubuh besar, tulang pipi tinggi dan tegak, garis rahang yang cukup keras, lekukan bibir yang sempurna dengan sentuhan erotis pada wajahnya yang klasik? Seperti gambaran pria yang selalu membuat para pelayan wanita di istananya berbisik-bisik. Pengasuhnya pernah bercerita tentang seorang pangeran dari negara Dubai yang berada di istananya untuk kunjungan makan malam dan membuat para pelayan nyaris melupakan tugas mereka melayani sang putri.
Fatimah mengenyahkan pikiran itu dan melangkah dengan sedikit limbung.
“Sepertinya kau tersesat, My Lady. Di sini.”
Fatimah terkesiap ketika tangan James menyentuh jemarinya dan menariknya dengan sangat hati-hati, menuntun dirinya ke arah balkon. Ia mengerahkan tekad baja untuk tidak berlari dan menubruk sesuatu. Tak seorang pun pernah menyentuhnya, pelan ia menarik tangannya lepas dari genggaman tangan besar dan hangat sang mayor.
Ini bukan pertama kalinya James menyentuh wanita. Terlalu banyak wanita di dalam hidupnya dengan warna rambut yang berbeda, tetapi memiliki bentuk tubuh yang serupa. Proporsional, layaknya model kelas dunia. Tetapi tepat saat ini, ia merasakan kegelisahan yang tidak masuk akal. Benaknya seakan melambat dan jantungnya berdetak dalam hentakan tanpa aturan, seolah organ penanda bahwa ia masih hidup itu kesulitan menyesuaikan dengan metronom yang masih baru.
Keparat.
James berdeham, “Jadi apa yang kau inginkan berada di balkon dalam keadaan yang masih gelap, My Lady?” detik berikutnya, James menyadari kesalahannya.
“Aku hidup dalam kegelapan, Mayor.” Fatimah menjawab dengan nada yang dirancang sangat tenang.
Umpatan kecil lolos dari mulut James.
“Sopan santun yang umum berlaku adalah kau menawari seorang wanita tempat duduk, Mayor.”
“Maafkan aku, My Lady.”
Fatimah mendengar sesuatu di geser, tepat mengenai bagian belakang gaunnya. “Duduklah, My Lady. Sebuah kursi kayu berlengan. Persis di belakangmu.”
“Terimakasih, Mayor.” Fatimah menjawab sambil duduk. Ia mengusapkan tangan mungilnya pada gaun di bagian paha menuju ke bawah dan memanfaatkan waktu tersebut untuk memikirkan argumennya.
Kesulitan ini harus diredam. Segera.
“Tiga puluh enam hari dan kau baru memberitahukan padaku tempat ini.”
“Kau tidak bertanya, My Lady.”
Fatimah berdecak. “Beritahu aku apa yang kau lihat, Mayor.”
Sebelah alis James bergerak ketika ia melirik sang putri. “Tanaman eksotik lebat dan bunga-bunga terjalin di sekeliling pagar kayu, My Lady. Ada taman kecil dengan bunga delphenium yang tumbuh subur dan juga-----James mendesah berat---mawar eksotik.”
“Itu indah, James,” Fatimah bergumam pelan. “Seperti apa warna langitnya?”
James merasa lega dengan kecepatan sang putri menggeser keingintahuannya terhadap sesuatu. Setidaknya, ia tak perlu berlama-lama memikirkan keterkaitan khusus antara mawar eksotik, sang putri dan dirinya.
“Kuning di awalnya, kemudian memerah ketika matahari mulai mendekati ufuk.”
Fatimah tersenyum dengan minat yang jelas. “Itu pasti sangat indah.”
James diam sejenak, lalu berkata pelan. “Ya, My Lady. Luar biasa indah.”
Dan James mendapati dirinya menatap lurus pada wajah sang putri. Kepolosan yang tercetak di wajah sang putri mengingatkan James pada si Tudung Merah dan ia sendiri adalah serigala yang amat sangat jahat. Ia memalingkan wajah dan mengumpat pelan.
“Berapa usiamu, James?”
James memutar bola mata. “Kau belum menyerah, My Lady.”
“Tentu saja.”
“Tidak setua jembatan brooklyn dan sangat jauh lebih muda dari sungai East.”
Fatimah menundukkan kepala untuk menyembunyikan tawanya. Bahunya bergetar ringan.
James meliriknya. “Aku lima belas tahun lebih tua darimu, My Lady.”
Fatimah mendongakkan wajahnya ke arah suara James dan mengerutkan hidung dengan sangat menggemaskan.
James mendesah diambang putus asa.
“Tiga puluh empat tahun. Dan kau belum menikah.”
“Terimakasih sudah mengingatkanku, My Lady.”
“Di negeriku pria dengan usia sepertimu sudah memiliki tiga sampai lima orang anak.”
“Aku sangat beruntung tinggal di New York.”
Fatimah terkikik.
James melihatnya dengan lirikan mata dan sebelah alis yang bergerak naik. Seandainya sang putri dapat melihatnya, itu adalah ekspresi wajah yang sangat mempesona dan menggoda. Tetapi, setampan apapun pria yang kini akan selalu berada di sisinya, itu tidak penting untuknya. Sebab ia tak bisa melihatnya. Tak akan pernah bisa melihatnya.
“Jamie,”
Bulu kuduk James meremang setiap kali ia mendengar Fatimah memanggilnya dengan nama dan nada yang akrab. Ia bingung, bukan tercengang. Mengapa sang putri selalu melakukannya? Oh, ya ampun---apakah ia harus menjelaskan bahwa tak seorang pun pernah memanggilnya dengan nama itu selain keluarganya? Bahwa ketika nama itu mengalun dari bibir penuh dan ranum sang putri, ia merasa seolah baru saja di sengat puluhan belut listrik.
“Ya, My Lady,” suaranya setengah gemetar ketika ia menoleh dengan gerakan malas ke arah sang putri. Sang putri yang sangat lugu memandang lurus dalam gelap dunianya ditemani seorang pria yang sama sekali tidak lugu. Sungguh sangat tidak lugu.
“Aku akan menikah denganmu.”
Jika James pernah terbangun mendadak dari tidurnya karena dentuman bom dan hujan peluru, itu tidak bisa mengalahkan rasa terkejutnya dengan permintaan sang putri saat ini. Konyol. Ulu hatinya seolah dipuntir.
“Selama ini, setiap kali aku memasuki kamarmu aku tidak pernah menyalakan lampu dan membiarkan dalam keadaan gelap gulita, My Lady. Aku menyalakan alarm dan air hangatmu dengan menggunakan instingku. Seperti yang kau katakan---kegelapan membuat insting bekerja lebih maksimal.” Kernyit terbentuk diantara kedua alis tebal James, nyaris membuat keduanya rapat. Ia mendesah, kembali berbicara dengan hati-hati. “Jika niatku adalah untuk mengintipmu, aku tidak perlu repot-repot menyalakan alarm dan mengatur air mandimu hanya untuk membuatku ketahuan.”
“Aku ingin kau menikah denganku, James.” Fatimah mengulangi perkataannya. Suaranya lantang serta jelas. Nadanya tegas, memerintah. Dagu mungilnya dinaikkan satu tingkat dengan angkuh, khas seorang putri yang memegang kendali. “Kita bisa melakukannya besok. Aku ingin kau melakukan panggilan video dengan ayahku. Aku akan memintanya untuk datang dan menikahkan kita. Tapi sebelumnya kau harus mengubah kepercayaanmu.”
James menatap lekat pada sang putri. Menautkan alis tebalnya dengan ekspresi heran. Apakah bagi sang putri menikahi seseorang sama mudahnya dengan menata sup di dalam mangkuk kristal yang disajikan untuk kunjungan makan malam seorang aristokrat?
“Aku tidak berkata kau menjengkelkan, My Lady,” James tersinggung, “Barangkali kau bisa berpikir bahwa aku setidaknya berhak mendengar satu alasanmu.”
Sang putri adalah wanita yang perseptif.
“Aku melindungi diriku.”
“Dariku?”
“Dari belas kasihanmu, Mayor.”
Kebisuan membungkam dengan tiba-tiba. Dan meskipun James tidak menyukainya, ia terkejut menemukan dirinya tidak berupaya mengalihkan sang putri dari keinginan kekanakannya. “Dengan sikap keras kepala dan sinismu itu, aku yakin tak seorang pun akan tertarik untuk menyisipkan sedikit saja rasa iba padamu, My Lady.”
Fatimah menggulum senyuman manis.
James berpaling ke arah taman. Memiringkan kepalanya dan menatap tajam ke arah kupu-kupu dengan kombinasi warna yang indah yang terbang mengitari kelopak mawar eksotik yang melengkung ceria di atas jalan setapak berkerikil tajam. Bukankah ini masih terlalu pagi? Jalinan ranting-ranting menghalangi jalan. Sebatang pohon tumbang di jalan setapak yang mengarah ke taman. Red dan Smith punya pekerjaan penting pagi ini.
“Aku pria yang sudah berstatus, My Lady.”
“Kau sudah mengatakannya semalam.”
“Tidak ada penjelasan lain?”
“Tidak ada.”
James menghela nafas, “Pernikahan adalah sesuatu yang sangat penting untuk diputuskan dengan akal sehat.”
Fatimah menekan telapak kakinya kuat-kuat ke lantai, menahan diri dari keinginan untuk berlari dan menubruk sesuatu. Ia baru saja melamar pengawalnya sendiri. “Aku tahu. Aku sudah memikirkan hal ini selama beberapa hari.”
James memandang Fatimah dengan muram. Ia dikenal sebagai seseorang yang pandai mengendalikan situasi dan sangat tenang dalam keadaan seperti apapun, bahkan ketika musuh dari arah belakang menodongkan pistol ke kepalanya.
Tapi mengapa kali ini ia merasa tak berdaya?
“Kalau begitu, kau sebaiknya memiliki alasan yang benar-benar bagus hingga bisa mendapatkan persetujuanku mengenai ide konyolmu ini, My Lady,” kata sang mayor dalam nada bariton tenang dan dalam. “Aku menunggu sepanjang hari ini.”
“Aku rasa tunanganmu adalah seseorang yang pandai menyenangkanmu.”
Itu bukan pernyataan yang James inginkan.
Mereka terikat keheningan yang tak nyaman, sementara James menatap ke arah langit dan memikirkan dua tahun hubungannya bersama Blaire. Wanita itu selalu tahu kapan waktu untuk mendorong James pada kesenangan yang panjang, menunjukkan trik baru untuk membangkitkan minat dan melayani gairah James dengan semangat menggelora. Tetapi----hidup bersama tidak hanya mengenai ranjang, bukan?
“Ya,” James menarik minatnya pada sebatang pohon yang tumbang.
“Dan cantik juga.”
“Sangat.”
“Astaga,” Fatimah mengusap keningnya, “Sepertinya kali ini kau kurang beruntung, Mayor.” Suara sang putri seriang kicauan burung di pagi hari di awal musim semi
Bibir James bergerak-gerak saat kembali menatap sang putri. “Aku belum menyepakati permintaanmu, My Lady.”
Fatimah mengernyitkan alis, “Jika aku tidak buta, apakah aku cukup menarik dan sedap dipandang, Mayor Brandon?”
Celaka.
James memalingkan wajah menghindari sang putri, “Kau jelita, My Lady. Masa bodoh dengan kebutaanmu,” gerutunya.
Sepasang bibir penuh dan ranum sang putri tertarik membentuk seringai lebar yang menggemaskan, “Ahhhh,” katanya dengan nada lembut, “Kita tidak perlu menunggu satu hari. Terima kasih, Mayor Brandon.”
“Oh, My Lady.”
***
Panglima perang kerajaan Umm Al Quwain, Ameer Abdullah menyandarkan sebelah bahunya di pilar bagian luar Manhattan Mosque atau terkenal dengan nama Islamic Cultural Center New York, menilai secara visual James yang saat itu mengenakan jubah pengantin dari negeri Umm Al Quwain. “Yang terjadi sekarang adalah apa yang harus kau tanggung selama hidupmu, Mayor.”
James menurunkan ristleting jubahnya dan menarik lepas jubah mewah itu dari arah punggung.
“Antusiasmemu untuk memperingatkanku sangat kuhargai, sir,” gerutunya, menyadari ristleting bagian depan jubah tersebut tersangkut kancing kemeja yang ia kenakan, umpatan kecil lolos dari mulutnya. “Tetapi harus kukatakan padamu bahwa ini tak akan lebih dari tiga bulan.”
“Terima kasih untuk tanggung jawab yang kau pikul saat ini. Mengesampingkan sifatnya yang melodramatis, sinis, pragmatis, angkuh dan suka mengoceh, ‘amirat adalah sosok gadis manis dengan hati yang lembut. Mari kubantu,” Panglima Ameer mendekati James.
“Jubah ini memang sedikit merepotkan untuk seseorang yang tidak terbiasa.” Dengan gerakan tangkas panglima Ameer berhasil melepaskan kaitan ristleting dengan pinggiran bergerigi unik dari kancing kemeja James.
“Terimakasih. Aku yakin aku tidak akan pernah mau memakai jubah kerajaan lagi seumur hidupku,” tegas James, lalu merapikan penampilannya dengan kemeja putih dan celana berbahan jeans. “Kekacauan apapun ini, aku sendiri yang akan menanggungnya.” Paras James mulai memerah, tak habis pikir bagaimana ia bisa terjebak dalam keadaan menjengkelkan ini, tetapi James menguatkan tekad sekuat baja untuk tetap melanjutkan walau wajahnya terasa kaku dan otaknya membeku.
Panglima Ameer tertawa cukup keras sehingga menarik perhatian Red dan Smith yang berdiri di halaman Manhattan Mosque dan tampak berdiskusi. Kedua pria itu berbalik ke arah James.
Panglima Ameer menepuk-nepuk ringan pundak James. “Tidak, Mayor. Tidak. ‘Amirat tidak akan peduli bahkan jika kau tidak tertarik untuk menjadi aktor dalam melodrama kecilnya. Tetapi aku beritahu padamu, terkadang dia bisa membuat banyak orang berdebar-debar menunggu dia memainkan perannya atau lebih buruk lagi, ‘amirat bisa membuat seseorang tertarik untuk mengambil peran sebagai pendamping prianya.”
***
Masjid Islamic Cultural Center (ICC) New York merupakan bangunan pertama yang didirikan sebagai Masjid di New York City. Masjid ini mengandung dua elemen utama yang sudah menjadi simbol universal sebuah tempat ibadah ummat Islam yakni menara dan kubah masjid. Di dalam masjid dilengkapi dengan mihrab, menghadap ke Ka’bah di Mekah sebagai kiblat, menjadikan bangunan masjid ini miring sekitar 29 derajat terhadap poros jalan Manhattan, memberikan halaman luar di depan masjid tempat jemaah bekumpul. Bentuk geometris masjid ini didasarkan pada syariah islam yang melarang bentuk mahluk hidup. Karenanya ornamen masjid kemudian menggunakan kaligrafi asma Allah dalam bentuk bentuk geometris, menghasilkan perpaduan tradisi kuno Islam dengan rancangan dan material masa kini.
“Paman Ameer sudah menyelidiki identitas suamimu, abnati.”
Sang raja bersama Fatimah menikmati udara sore dengan berjalan-jalan kecil di halaman berumput Manhattan Mosque. Menikmati sapuan hangat sinar matahari diatas rumput yang dipangkas rapi dan hembusan angin menjelang sore yang menebarkan aroma harum dari masing-masing bunga yang tumbuh subur di halaman mesjid.
Fatimah menghirup sebanyak mungkin aroma harum yang memikat indera penciumannya, menyegarkan paru-parunya. Ia menggelayut manja dilengan sang raja. “Dan apa yang anda dapatkan, aimtayazik.”
“Seseorang yang sangat luar biasa. Mencintai negaranya, bertanggung jawab, tak pernah gagal dalam menjalankan misi-misinya, jujur dan komitmen.” Sang raja berhenti sebentar untuk menyamakan langkahnya dengan sang putri, “Ahhh… Serigala di medan tempur.”
“Hanya itu?”
Sang Raja menyunggingkan senyuman ketika melirik putrinya, “Dan menawan juga.”
Fatimah memalingkan wajah ke arah sang raja dan mengerutkan hidung, “Aku pikir dia hanya sedikit tampan dengan sifat sinis dan lumayan sombong.”
Sang Raja tertawa, “Lalu mengapa kau ingin menikah dengannya putriku?”
“Karena dia sedikit tampan dengan sifat sinis dan lumayan sombong,” Fatimah mengulangi, memandang lurus dalam kegelapan dunianya. “Aku ingin menyadarkan dirinya bahwa itu tidak cocok untuknya.” Ia kembali memalingkan wajahnya ke arah sang raja dan berbisik. “Aku sedang mengerjakan proyek amalku.”
Sang raja kembali tergelak kencang. Husain sangat mencintai putrinya. Dan ia tak pernah mencegah Ameer menerapkan perlindungan berlebihan terhadap sang putri. Ia terlalu mencintai sang putri, begitu menyayangi dan mengkhawatirkan Fatimah, sehingga sang raja tak memahami bahwa perasaannya itu justru mengekang kebebasan hidup sang putri.
“Tidak pantas bagiku untuk berada di bawah atap yang sama dengan seorang pria tanpa adanya ikatan sakral, ‘aimtayazik,” kata Fatimah, “Dia mengurusku dengan baik.”
Husain mempertimbangkan pernyataan tersebut. “Tetapi dia hanyalah pria biasa, abnati,” katanya sambil menghela nafas. “Dan ini tidak akan lebih dari tiga bulan.”
Fatimah menggulum senyuman manis. Lalu merasa perlu untuk berdeham. “Menawan, ‘aimtayazik?” nadanya kental dengan rasa tertarik. Jika dipikirkan lagi, itu pertanyaan yang tidak tepat untuk dilontarkan, tetapi Fatimah jelas tidak peduli mengenai hal itu. Ia mempertimbangkan standar kehormatan dan etika, memutuskan bahwa disini, hal itu tidak diperlukan.
“Auranya penuh harga diri, tegas dan kompeten.”
Fatimah berdecak. Jelas, itu tidak membuatnya merasa lebih baik. “Dan apa yang kuketahui mengenai tiga hal itu, ‘aimtayazik?”
Sang raja kembali tertawa dengan kesan ramah yang berwibawa. Ia menatap kepada putrinya dan mengusap punggung tangan Fatimah dengan lembut dan penuh kasih sayang. “Matanya biru cerah, berkilat nakal dan misterius.”
Fatimah mengernyitkan alis.
“Bulu matanya panjang dan lebat juga sedikit lentik. Hidungnya tinggi dengan ukuran yang pas, rahangnya kokoh, bibirnya lebar dan sedikit tebal pada bagian bawah, tulang pipi tinggi, bahunya bidang, bentuk tubuhnya seperti seseorang yang suka berolah raga, setiap senti wajah dan bentuk tubuh sang mayor elegan dan sempurna. Aku rasa perwujudan sempurna dari seorang pria yang akan diminati setiap wanita hanya dengan sekali melihat.”
“Itu tak ada gunanya bagiku,” Fatimah menelengkan wajahnya ke samping, benaknya dipenuhi pertanyaan dan argumentasi. “Karena aku tak bisa melihatnya. Apa yang menarik dari itu, aimtayazik?”
Sang raja merasakan rahangnya berkedut. Ia menghentikan langkahnya dan Fatimah pun mengikuti sang raja jika ia tak ingin jatuh tersungkur. “Putriku---dengan murung, Husain menarik tangan Fatimah yang memegang lengannya dan menggenggam kedua tangan putrinya dengan erat---mari kita coba sekali lagi---
“aimtayazik---biarkan aku memperingatkan anda---jangan.”
Tahun-tahun yang berlalu tidak ramah dengan sang putri. Reaksi impulsif Fatimah mendorongnya pada takdirnya saat ini. Ia tak menerimanya dengan mudah, lalu kemudian bersikap filosofis. Pada akhirnya semua akan baik-baik saja. Ia tak melihat banyak hal, dan tentu tak akan mengenang banyak hal. Fatimah tak ingin terlihat tak tahu berterima kasih untuk kasih sayang sang raja, namun ia tak bisa menyambut kemungkinan kembalinya penglihatannya dengan antusias. Sang raja memiliki kebiasaan mengatur kehidupan sang putri secara praktis tanpa mempertimbangkan apakah kehidupan itu menarik untuk ia jalani. Ada luka menganga dalam kehidupannya yang terang benderang dan ia membuat keputusan impulsif dengan menutup cahaya tersebut. Tahun demi tahun berlalu, Fatimah damai mengunci dirinya dalam kegelapan dunianya.
Husain menggeleng dan menghela nafas, bak miniatur wajah yang diliputi kecemasan mengenai kehidupan orang yang dicintainya. “Itu bukan kesalahanmu, abnati,” suaranya terdengar sedih dan gemetar.
“Ya, ‘aimtayazik,” gumam Fatimah, meskipun jelas tidak mempercayai hal itu. Ia menghela nafas dan mulai memikirkan sesuatu, “Setelah sepuluh tahun selibat, kurasa sudah waktunya anda memikirkan seorang wanita, aimtayazik?” Fatimah mengusap lembut punggung tangan sang raja.
Sambil menggeram lelah, sang raja mendongak ke langit. Mermperkirakan waktu. “Hidup selibat cocok untukku saat ini, abnati,” akunya sambil kembali melihat wajah putrinya.
“Tidak,” Fatimah menggelengkan kepalanya, “Menikahlah lagi, ‘aimtayazik. Seorang wanita berparas lembut dengan kapasitas hati yang luas untuk menampung kesulitan rakyatnya harus mengisi kamar anda.”
Fatimah mendesah dan memainkan bola matanya dengan malas.
“Mayor Brandon,”
Ia sudah merasakan kehadiran sang mayor, sebelum ia mendengar suara langkah pria itu. Mengapa sang mayor tidak mau memakai pewangi atau sesuatu yang dapat membuat sang putri mengetahui awal kedatangan sang mayor?
“Ya, My Lady,”
Fatimah menelengkan kepalanya ke arah suara James dan membalas pria itu dengan rengutan kekanak-kanakan. “Aku sudah katakan padamu pakai sepatu ber-hak atau gunakan pewangi,” bentaknya ganas. “Setidaknya aku bisa memperkirakan sejak kapan kau berdiri disana.”
“Sejak dua menit yang lalu, My Lady,” pengalaman mengajarkan James akan lebih mudah menaklukkan seorang wanita yang sedang marah dengan bereaksi tenang. Setidaknya, ia akan tetap berdiri dengan tubuh ditahan kaku sampai ia menemukan senjata yang ampuh untuk membungkam sifat sinis sang putri atau ketika ia mendapatkan gagasan yang efektif untuk melarikan diri---jika ia bisa melepaskan diri---betapapun payahnya hal itu terlihat.
Bibir merah penuh sang putri terbuka marah. “Kau tidak harus menjawabnya, dasar konyol.”
Ya ampun---tiba-tiba saja James menemukan senjata ampuh untuk membuat sang putri bungkam.
Akan kugigit bibir penuhmu, My Lady.
Daging kenyal yang tampak seperti buah beri matang walau sedang mencebik masam. Terlihat begitu lembut. Sangat manis. Dan menggiurkan. Wanita muda yang sangat cantik dengan pipi bersemu halus---
Celaka.
James memalingkan wajah ke arah sang raja. Menarik nafas dengan pola terkendali. Ia meyakinkan diri sudah terbiasa dengan wanita. Sudah sangat terbiasa. Hasratnya menghilang di balik ekspresi sopan tak tercela. Tak sedikitpun menampakkan kekacauan pikirannya saat ini.
Husain mengangkat bahu dan melihat James dengan ekspresi simpati. Tetapi James tidak membutuhkan simpati siapapun. Ia berdiri tegak dan mengatupkan bibir membentuk garis tipis. Ia tak akan mendebat kecerdikan dan kecerdasan sang putri. Dunia tidak berada dalam keadaan normal jika sang putri tidak mengajaknya beradu argumen---satu hari.
“’aimtayazik,” Panglima Ameer berada cukup dekat dengan sang raja ketika ia berkata dengan sikap tubuh yang sopan, hormat dan patuh, “Pesawat kerajaan sudah siap. Kita harus kembali sekarang juga.”
Sang raja mengangguk, lalu menelengkap kepalanya ke arah sang mayor. Pria itu berjalan mendekat, dan berhenti di sebelah Fatimah. Ia melirik sekilas gadis pragmatis dan lumayan pemarah yang telah menjadi istrinya. Tak sengaja ia mengembuskan nafas dengan….lelah.
Ia akan menandaskan gin dalam sekali teguk ketika ia tiba di pondok perlindungan.
“Aku menitipkan putriku padamu. Aku berharap kami tidak menyulitkanmu.”
James merenungkannya sebentar, lalu kemudian berkata tegas. “Tidak pernah menyulitkan, Your Highness.” Ia melirik sekilas ke arah Fatimah ketika ia mendengar suara dengusan yang menyerupai tawa tertahan gadis itu.
Sialan.
“Baiklah, James. Kami percayakan keamanan sang putri padamu,” kata panglima Ameer. “Jangan sampai seseorang menyakitinya.”
James tidak terdengar ragu-ragu ketika ia memilih ucapannya dengan sikap tubuh tegak dan ekspresi tegas serta suara yang lantang khas marinir, “Yes, sir. My Lady akan aman bersamaku. Aku akan menjaganya dengan nyawaku. Memastikan tidak ada hal buruk apapun yang akan menimpa My Lady. Aku Tidak peduli sebanyak apa my lady membenciku atau bahkan menyukaiku selama my lady tetap aman dan selamat sampai kembali ke tangan anda, Your Highness.”
Fatimah mengepalkan kedua tangannya dan mengeram dengan tidak sopan. “Mayor Brandon---itu ucapan paling t***l yang pernah kudengar!”
Sang Raja berlalu dengan tertawa bersama panglima Ameer. “Ya Rabb---aku tidak akan membohongimu, Ameer, aku menyesal pria itu bertunangan dengan putri Liam.”
“Aku bisa melihat anda sangat menyukainya, ‘aimtayazik.”
“Dia mengingatkanku pada diriku di usia muda.”
“Tentu saja. Tentu,” panglima Ameer tertawa.
“Sayang sekali darah aristokrat tidak mengalir di tubuhnya.”
***