Malam sebelum banjir penuh itu adalah malam yang tidak bisa tidur, dan tidak satu pun dari mereka berpura-pura bisa.
Renung menghabiskannya di pusat dengan daftar-daftar terakhir: tas anestesi untuk ketiga kalinya, kandang-kandang cadangan di titik-titik aman yang dicek dengan Sari sampai ke kunci-kuncinya, dan satu pembicaraan panjang dengan Mahmud di telepon yang berjalan melewati semua cabangnya — kalau hujan berhenti di hari kedua, kalau armada bergerak di malam kedua, kalau salah satu tikungan bocor sebelum malamnya. Dan di akhir telepon itu, Mahmud berkata satu hal yang tidak ada di daftar mana pun:
"Ibu Dokter. Besok, kalau semuanya berjalan dengan benar, belasan orang akan ditangkap dan belasan satwa akan keluar dari kandang. Tapi satu hal yang sudah kupelajari dari semua malam seperti ini: malam itu tidak pernah berjalan dengan benar sepenuhnya. Ada yang bocor, ada yang terlambat, ada yang salah membaca air. Maka kupersiapkanmu satu hal, dan ini perintah dari seorang kawan kepada seorang kawan: apa pun yang salah besok malam, jangan kau perbaiki sendirian. Ada dua tikungan penuh orang-orang yang tugasnya memperbaiki yang salah. Tugasmu adalah yang bernapas, dan hanya yang bernapas. Kau sudah setuju dengan ini sejak awal, dan aku menagihnya lagi malam ini, sebelum airnya naik."
"Aku setuju, Mahmud. Yang bernapas, dan hanya yang bernapas."
"Bagus. Sampai besok, di belakang garis. Dan Renung — " suaranya berhenti sebentar, dan ketika kembali, ada sesuatu di dalamnya yang jarang dari Mahmud, "—ayahmu akan berdiri di tikungan itu besok malam, dengan cara yang hanya bisa dibaca orang yang pernah menunggu dua puluh tahun untuk ini. Berdiri untuknya juga."
Setelah telepon itu ditutup, Renung melakukan satu putaran terakhir yang tidak ada di daftar mana pun: ke kandang-kandang, di malam yang sudah turun penuh, dengan lampu kecil yang diselubungi seperti biasa supaya mata-mata yang tidur tidak terganggu.
Item sudah tidur dengan suara beruang yang puas, kaki depannya melipat di bawah dagu. Tunggak tidur di jerami tebalnya dengan satu tangan memegang tepi kandang — kebiasaan yang muncul sejak ia kembali dari gudang itu, tangan yang mencari sesuatu untuk dipegang dalam gelap — dan Renung berdiri di luar jeratinya cukup lama untuk membaca napasnya naik turun dengan rata, tanpa satu kali pun tersentak. Besok malam, di sungai yang gelap, akan ada satwa-satwa lain yang tidurnya tidak seperti ini, di kandang-kandang kayu yang berayun di atas air, dengan tangan-tangan yang tidak punya apa-apa untuk dipegang. Dan tugasnya adalah berdiri di perahu medis itu supaya malam berikutnya mereka tidur seperti Tunggak tidur malam ini.
Ara belum tidur di kandangnya yang besar, dengan belalainya bergerak pelan ke arah suara langkahnya — anak gajah selalu tahu langkahnya dari langkah orang lain — dan Renung mendekat dan membiarkan belalai itu menyentuh lengannya sebentar, membacanya, memastikannya, dengan cara gajah memastikan orang-orangnya masih ada. "Tidurlah," katanya pelan. "Besok malam ramai, dan kau tidak diundang. Pekerjaanmu tetap pekerjaan yang sama: tumbuh besar dengan benar, dan jadilah berita baik untuk kampung ini di pagi-pagi yang akan datang."
Sari tertidur di meja kantor dengan kepala di lengannya, di atas daftar dosis yang sudah selesai diperiksa tiga kali, dan Renung tidak membangunkannya — ia meletakkan jaket di bahunya dan mematikan lampu besar dan membiarkan lampu kecil menyala, karena orang yang akan berdiri di perahu medis besok malam berhak atas tidur yang datang dengan caranya sendiri, walau hanya dua jam di atas meja.
Dan di teras pusat, sebelum melangkah pulang, Renung berdiri sebentar menghadap hutan yang menghitam, ke arah sungai yang tidak kelihatan dari sana tapi terdengar samar kalau malam cukup diam — air yang sedang naik, sedang menghitung mundur dengan caranya sendiri, sama seperti semua orang di kawasan itu malam ini.
Dan Bujang, di malam yang sama, berdiri di jembatan gantung tua itu lama sekali, memandang sungai yang mulai naik, dan Renung menemukannya di sana dalam perjalanan kembali dari pusat, dan mereka berdiri berdua di jembatan itu tanpa banyak kata untuk waktu yang lama.
"Dulu aku memandu mereka di air ini," kata Bujang akhirnya, pelan, dengan tangan di tali jembatan dan mata di air yang menghitam. "Di malam-malam seperti besok, dengan perahu-perahu yang sama, dengan jadwal yang sama. Aku yang menunjukkan dua dari tiga titik sandar itu, Pak. Setiap perahu yang lewat besok malam lewat di jalan yang sebagian kubuka dengan tanganku sendiri." Ia menelan sesuatu, dan melanjutkannya dengan suara yang lebih mantap. "Besok aku memandu kalian di air yang sama, di tikungan yang sama, dengan jadwal yang sama — dan air tidak memihak, Pak. Air tidak pernah memihak. Air cuma ingat. Dan besok, di atas air yang mengingat semua yang kubawa dulu, aku membawa mereka kembali ke tempat yang benar. Itu yang kupikirkan di jembatan ini. Itu yang membuatku bisa tidur nanti malam, kalau tidur itu datang."
"Air tidak memihak," kata Renung. "Tapi orang memilih, Bujang. Dan kau sudah memilih, di depan warung, di depan kampungmu, di depan rumah ibumu yang dijaga dua pemuda yang dulu mengejekmu. Besok malam bukan malammu membayar. Besok malam malammu berdiri di sisi yang sudah kau pilih, dan sisi itu sudah menunggumu lebih lama dari yang mereka tunggu."
Mereka berdiri di jembatan itu sampai hujan mulai turun, dan kemudian berpisah ke persiapan-persiapan terakhir masing-masing, dan malam sebelum pasang penuh itu turun ke kawasan dengan air yang menaiki sungai sedikit demi sedikit, dengan dua tikungan yang menunggu di gelapnya, dengan satu armada di hulu yang menghitungnya dari sisi seberang, dan dengan semua orang di sisi ini yang berdiri di tempatnya masing-masing dengan tugasnya masing-masing — dan tidak satu pun dari mereka tidur nyenyak, dan tidak satu pun dari mereka memerlukan tidur untuk besok malam.