Survei terakhir sebelum malam itu membawa Renung ke tepi sungai di tikungan kedua, dan di sanalah ia menemukannya: denai tua di bawah lumpur, di tanah berlumpur di tepian yang baru saja ditinggalkan air pasang, dengan jejak-jejak yang ditulis lapisan-lapisan waktu di atas satu sama lain.
Ia berlutut di sana dengan senter kecil yang diselubungi, membaca tepian itu dengan mata yang sudah dilatih bertahun-tahun membaca tanah: jejak perahu-perahu baru, tumpuan-tumpuan sepatu dari malam-malam pengamatan, dan di bawah semuanya, di lapisan lumpur yang lebih tua, di tempat yang hanya terlihat saat air surut pada sudut yang tepat — denai satwa yang tua. Tapak-tapak rusa yang sudah lama, jalur kecil babi hutan yang mengalir turun ke air, dan di satu tempat, samar oleh umur tapi tidak terbantahkan, cap kaki besar kucing besar yang sudah lama tidak lewat di sini.
Denai itu berjalan turun ke air, ke titik yang sama yang sekarang dipakai perahu-perahu itu, dan berhenti di sana — berhenti bukan karena selesai, melainkan karena tidak pernah lagi dilanjutkan, karena jalur perahu menutupinya, karena lumpur-lumpur baru dari tumpuan dan tambang dan perahu menulis di atasnya sampai tidak terbaca lagi.
Renung berdiri di sana lama, di tepi sungai itu, dengan malam sebelum malam besar itu di atasnya, dan membaca denai tua di bawah lumpur seperti membaca dakwaan terakhir sebelum pertempuran: hutan sudah lama tidak diizinkan lewat di sini. Rusa-rusa yang menulis tapak-tapak ini berhenti lewat saat perahu-perahu mulai, dan kucing besar yang mencap kakinya di lumpur ini pergi ke tempat yang lebih sunyi, dan jalur-jalur kecil babi hutan itu berbelok ke tempat lain yang tidak mereka kenali lagi. Satu titik di sungai ini, yang dulu ditulis hutan dengan kaki-kaki kecilnya, ditulis ulang oleh perahu-perahu dan orang-orang yang memanen hutan darinya — dan besok malam, di titik yang sama, orang-orang yang berdiri untuk hutan akan berdiri di airnya untuk merebutnya kembali.
Jamil menemuinya di tepian itu tidak lama kemudian, turun dari arah pos pengamatan dengan langkah yang sudah dibaca airnya, dan ia berlutut di samping Renung tanpa ditanya, membaca lumpur yang sama dengan mata yang lebih tua.
"Rusa dua, mungkin tiga, dari musim-musim yang berbeda," katanya, dengan jari melayang di atas tapak-tapak tua itu tanpa menyentuhnya, kebiasaan orang yang tidak pernah merusak apa yang sedang dibacanya. "Babi itu satu kelompok kecil, induk dan anak-anaknya, lewat berturut-turut. Dan kucing besar ini — " jarinya berhenti di cap yang samar itu, dan suaranya turun sedikit, "— ini lebih tua dari semuanya. Lebih tua dari perahu-perahu pertama, mungkin. Ayahmu pernah menunjukkan cap yang seperti ini kepadaku di denai timur, di tahun-tahun pertama aku berjalan bersamanya, dan ia berkata satu hal yang tidak pernah kulupa: cap kucing besar di tepi sungai adalah tanda hutan masih memegang tepiannya. Kalau cap itu berhenti, tepiannya sudah berpindah tangan."
Mereka membaca lapisan-lapisannya bersama, dua orang yang dilatih dua zaman yang berbeda, dan lumpur itu menyerahkan ceritanya dengan runtut: pertama cap-cap satwa berlapis musim demi musim, hutan yang lewat dengan tenang bertahun-tahun; lalu satu lapisan campuran, tapak satwa yang mulai jarang di antara tumpuan sepatu pertama; lalu lapisan-lapisan terakhir yang hampir bersih dari kaki — hanya sepatu, tambang, dan bekas lunas perahu. Hutan berhenti lewat bukan karena dilarang dengan pagar, melainkan karena dibaca sebagai milik orang lain. Denai tidak pernah diputus dengan satu kejadian. Denai diputus dengan pengulangan, hari demi hari, sampai satwa-satwa itu menyerahkan jalurnya seperti orang menyerahkan jalan yang sudah terlalu sering dirampok di tengahnya.
"Dua puluh dua tahun lalu ayahmu membaca lumpur seperti ini di titik lain, dan menuliskannya, dan tulisannya tidak dibaca oleh meja yang benar," kata Jamil, berdiri dengan lutut yang berbunyi pelan. "Besok malam lumpur ini dibaca oleh meja yang benar, dengan dua tikungan penuh orang yang berdiri di atas tulisannya. Itu bedanya satu generasi, Nung. Bukan hutannya yang berubah. Yang membaca lumpurnya yang akhirnya benar."
Renung tidak menjawabnya dengan kata-kata. Ia membaca sekali lagi cap kucing besar yang samar itu, yang lebih tua dari perahu-perahu pertama, yang menunggu di bawah dua puluh tahun lumpur dengan kesabaran yang tidak dimiliki meja mana pun — dan ia mengerti, berlutut di sana, bahwa besok malam bukan hanya operasi. Besok malam adalah jawaban yang tertunda dua puluh dua tahun untuk satu cap kaki di tepi sungai. Jamil sudah berjalan kembali ke pos pengamatannya ketika ia akhirnya berdiri, dengan lumpur di lututnya dan satu kepastian di dadanya yang lebih tua dari dirinya sendiri.
"Besok," katanya pelan, ke denai tua di bawah lumpur itu, ke hutan yang menunggu di seberang, "kita rebut izinmu kembali ke titik ini. Dan biarlah lumpur ini ditulis ulang dengan kaki-kaki yang benar — tapak rusa lagi, jalur babi lagi, cap kucing besar lagi. Tidak dalam semalam. Tapi dimulai besok malam, dengan perahu-perahu mereka yang berhenti di tengah tikungan untuk yang terakhir kalinya."
Ia mengambil satu foto kecil dari denai tua itu — bukan untuk bukti, untuk dirinya — dan berjalan kembali ke posisi akhirnya di perahu medis, dengan satu halaman terakhir di buku catatannya sebelum malam besar itu:
Denai tua di bawah lumpur, dibaca di survei terakhir sebelum malam besar. Hutan sudah lama tidak diizinkan lewat di titik ini, dan besok malam izin itu direbut kembali oleh semua orang yang berdiri di dua tikungan dan satu daratan dan jembatan-jembatan dan satu perahu medis. Dan kalau besok berjalan dengan benar, lumpur ini akan mulai ditulis ulang oleh kaki-kaki yang benar, pelan-pelan, musim demi musim — sampai denai tua ini bukan lagi jejak yang terkubur, melainkan jalan yang kembali hidup. Besok malam. Dua puluh tahun jaringan sungai, dan satu denai yang menunggu di bawah lumpur untuk dibaca hidup lagi.