Hujan itu turun tiga hari berturut-turut seperti yang sudah dihitung langit dan dibaca semua orang di dua sisi sungai, dan pada hari ketiga, sungai itu bukan lagi sungai.
Renung menyaksikannya naik dari perahu medis yang tertambat tersembunyi di anak sungai kecil di hilir tikungan kedua: air yang menghitam dan berbusa dan bergerak dengan bunyi yang sudah berubah dari bunyi sungai menjadi bunyi sesuatu yang lebih besar — pohon-pohon utuh lewat di arusnya seperti kayu bakar, dan tepian yang kemarin tanah sudah menjadi air, dan dua tikungan itu, yang selama ini dibaca sebagai tempat antrean, sekarang berdiri sebagai satu-satunya tempat di mana air yang mengamuk itu harus melambat, harus berbaris, harus melewati lehernya satu per satu.
Pasang penuh. Jalan tol tanpa lampu, kata Jamil, dan malam ketiganya adalah malam mereka.
Radio-radio hidup dengan kode satu kata. Di tikungan pertama, dua perahu polisi hutan menunggu dalam gelap tanpa lampu di kedua sisinya. Di hilirnya, dua perahu lagi menutup ekornya. Di daratan, balai berdiri di titik-titik yang sudah dihitung, dan di jembatan-jembatan, warga Talang Rambai berdiri dengan lampu yang ditutup dan kode yang sudah dihafal. Dan di perahu medis di anak sungai kecil itu, Renung dan Sari dan Jamil menunggu dengan kandang-kandang kosong yang disusun di geladak dan tas anestesi yang terbuka dan tidak satu pun dari mereka bicara lebih dari yang diperlukan.
Tiga hari hujan itu mereka lewati dengan cara masing-masing yang sudah diatur oleh latihan dua minggu: Sari menghitung dan menghitung ulang isi tas anestesi dengan telunjuk yang bergerak dari ampul ke ampul seperti orang berdoa dengan jari — dosis untuk owa, dosis untuk kukang, dosis darurat untuk satwa besar, semuanya ditata dalam kotak-kotak kecil yang sudah diberi label dengan tulisannya sendiri, karena di malam tanpa lampu tidak ada waktu untuk membaca dua kali. Jamil berdiri di haluan dengan telinga yang lebih bekerja dari matanya, membaca bunyi air yang berubah dari jam ke jam, dan sesekali turun ke geladak untuk memeriksa tambatan dan kandang-kandang kosong yang disusun rapat supaya tidak bergeser di guncangan. Dan Renung duduk di antara kandang-kandang itu dengan buku catatan ayahnya di pangkuan — bukan untuk dibaca, karena halaman-halaman itu sudah dihafalnya, melainkan untuk dipegang, seperti orang memegang tangan seseorang sebelum melangkah ke tempat yang gelap.
Di halaman belakang buku itu, dengan pensil yang sudah dua puluh dua tahun umurnya, Pak Anjani menulis satu kalimat tentang banjir yang pernah dibaca Renung berulang-ulang sejak kamera itu ditemukan di balik balok: air yang naik menutup semua jejak, tapi juga menyingkapkan semua jalan — jerat yang terendam tidak bisa memotong, dan orang yang biasa bersembunyi di darat harus turun ke air, dan di air semua orang terlihat.
"Beliau menulis itu di musim banjir seperti musim ini, dua puluh dua tahun yang lalu," kata Renung pelan, lebih ke air daripada ke siapa pun. "Dan malam ini kalimatnya bekerja."
Sari mengangguk tanpa mengangkat kepala dari kotak-kotak dosisnya. "Kalau begitu kita pastikan yang disingkapkan air malam ini tidak ada satu pun yang tenggelam. Kandang kosong kusiapkan enam belas di geladak. Kalau datang lebih dari itu, kita pasang cadangan yang di bawah."
"Akan datang lebih dari itu," kata Jamil dari haluan, tanpa berbalik. "Aku sudah membaca bunyi mesinnya sejak sore, jauh di hulu, masih di atas pendengaran kalian. Armada besar, Nung. Mereka membaca banjir yang sama dengan yang kita baca — dan mereka tidak pernah membaca bahwa di banjir yang sama ada orang-orang lain yang sudah dua minggu menghitung tikungannya."
Di radio, satu kali bunyi klik dari arah jembatan — kode warga Talang Rambai: semua posisi terisi. Satu kali klik dari daratan — balai di titik-titiknya. Dan keheningan dari dua perahu polisi di tikungan pertama, yang artinya paling meyakinkan dari semuanya: sudah di tempat, sudah dalam gelap, sudah menunggu dengan lampu yang mati dan mesin yang mati dan kesabaran yang hidup.
Renung menyimpan buku ayahnya ke dalam tas tahan airnya, mengencangkan talinya, dan berdiri di samping kandang-kandang kosong itu dengan tas anestesi di bahunya.
Dan kemudian, dari hulu, dari arah air yang mengamuk itu, bunyi yang sudah dua puluh tahun ditunggu jaringan itu dengan cara yang salah dan ditunggu semua orang ini dengan cara yang benar: mesin-mesin perahu, banyak, di kejauhan, di tengah deru air.
Mereka datang.
Bukan satu dua perahu — armada. Enam perahu besar bermuatan berat di barisan pertama, terbaca dari bunyi mesinnya yang dalam oleh Jamil sebelum terlihat oleh siapa pun, dan di belakangnya lebih banyak lagi, bergerak turun dengan arus banjir dengan muatan yang membuat lambung-lambung mereka duduk dalam di air. Perahu-perahu besar yang hanya bisa bergerak di air banjir, penuh, dengan kandang-kandang di bawah terpal-terpal yang basah — stok satu musim, mungkin lebih, dibawa turun dalam satu malam ke muara.
Dan armada itu masuk ke tikungan pertama.
Renung menyaksikannya dari jauh, dari anak sungai kecil di hilir tikungan kedua, dengan tangan di radio dan jantung yang berdetak mengikuti bunyi mesin-mesin itu: perahu pertama melambat di leher tikungan, dan perahu kedua menumpuk di belakangnya, dan perahu ketiga, dan barisan itu berhenti menjadi armada dan menjadi antrean — persis seperti yang dibaca Jamil berminggu-minggu — dan antrean itu mengisi leher tikungan pertama sampai ke tengahnya, sampai seluruh barisannya berada di dalam, sampai tidak ada satu pun perahu di ujungnya yang bisa melihat ekornya.
Dan radio itu berbunyi satu kata, dari Mahmud di tikungan pertama, satu kata yang sudah disiapkan dua minggu untuk satu detik ini:
"Tutup."
Dan malam itu, dua puluh tahun setelah jaringan itu membangun jalannya di atas air, dua tikungan di sungai banjir itu menutup di kedua ujungnya dengan seluruh armada di tengahnya.