Rumah panggung itu lebih besar dari yang lain, dan di dalamnya remang oleh cahaya lampu minyak. Lelaki yang membawanya masuk—Yoga belum tahu namanya—mendudukkannya di lantai papan yang dingin, lalu menutup pintu dan jendela rapat-rapat.
Baru setelah itu lelaki itu tampak sedikit lebih tenang.
Di dalam rumah ada beberapa orang lagi. Seorang perempuan paruh baya yang sedang menjahit, seorang anak laki-laki sekitar sepuluh tahun yang memeluk lutut di sudut, dan seorang kakek yang duduk di dekat tungku dengan mata terpejam, seolah tidur, atau mendengarkan. Mereka semua menoleh ke arah Yoga ketika ia masuk, dan di setiap wajah ada ketakutan yang sama—ketakutan terhadapnya, terhadap orang asing yang membawa suara. Cara perempuan itu menatap si anak—setengah cemas, setengah memiliki—membuat Yoga mengira ia ibu bocah itu, meski nanti ia akan tahu kebenarannya tidak sesederhana itu.
Lelaki itu berlutut di hadapan Yoga. Ia mengambil sepotong arang dari tungku dan selembar papan kayu kecil, lalu menulis dengan tangan yang cepat dan terampil.
*JANGAN BICARA. JANGAN BERSUARA KERAS. KALAU MAU BICARA, TULIS.*
Yoga membaca, lalu menatap lelaki itu. Ada begitu banyak pertanyaan yang ingin ia teriakkan. Tapi ada sesuatu dalam mata semua orang di ruangan itu—keseriusan yang melampaui keanehan—yang membuatnya mengangguk pelan.
Ia mengeluarkan buku catatan dan pena dari tasnya. Dengan tangan yang sedikit gemetar, ia menulis: *Nama saya Yoga. Jurnalis. Saya dapat surat. Ada apa di sini?*
Lelaki itu membaca, dan sesuatu seperti keterkejutan melintas di wajahnya saat melihat kata "surat". Ia menengok ke arah perempuan yang menjahit. Mereka bertukar pandang yang panjang, penuh arti. Lalu lelaki itu menulis lagi di papannya.
*Aku Darto. Surat itu—dari istriku. Sebelum.*
*Sebelum apa?* tulis Yoga.
Darto menatapnya lama. Lalu ia menulis satu kata, dan tangannya gemetar saat menulisnya.
*Sebelum Ia datang.*
Yoga merasa tengkuknya kembali dingin. *Siapa Ia?* tulisnya cepat.
Tapi Darto menggeleng. Ia menghapus papannya dengan telapak tangan dan menulis lagi, kali ini lebih tegas.
*Tidak di sini. Tidak sekarang. Dengarkan dulu. Tiga aturan. Kalau kau mau hidup.*
Yoga menelan ludah, lalu mengangguk.
Darto mengangkat satu jari. *Satu: jangan bersuara saat malam. Sama sekali.*
Dua jari. *Dua: jangan keluar rumah setelah gelap. Apa pun yang kau dengar di luar, jangan menjawab.*
Tiga jari. Dan di sini tangan Darto berhenti sejenak, seakan menulis aturan ketiga ini menyakitinya. *Tiga: kalau kau mendengar suara seseorang memanggil namamu dari kabut—jangan menjawab. Walaupun kau mengenali suaranya. Terutama kalau kau mengenalinya.*
Yoga membaca ketiga aturan itu berulang kali, mencoba mencernanya. Pikiran jurnalisnya berontak—ini takhayul, ini desa terisolasi yang terjebak dalam ketakutan kolektif, ini cerita tentang psikologi massa, bukan tentang hantu. Tapi tangannya tetap menulis dengan sopan.
*Kenapa? Apa yang terjadi kalau bersuara?*
Darto menatapnya, dan untuk waktu yang lama ia tidak menulis apa-apa. Lalu, sangat pelan, ia menulis:
*Ia mendengar. Dan Ia datang menjemput suara itu. Bersama orang yang mengeluarkannya.*
Anak laki-laki di sudut ruangan tiba-tiba bergerak. Ia merangkak mendekat, dan dengan mata besar yang penuh ketakutan, ia menarik lengan baju Yoga. Lalu ia mengangkat tangannya sendiri dan menunjuk ke tenggorokannya, lalu menggeleng. Mulutnya terbuka, dan Yoga menyadari dengan ngeri bahwa anak itu sedang mencoba berbicara—tapi tidak ada suara yang keluar. Sama sekali tidak ada. Hanya embusan udara kosong.
Perempuan yang menjahit meletakkan jahitannya dan mendekat. Ia mengelus kepala anak itu dengan lembut, dengan kelembutan seorang yang merawat tapi bukan yang melahirkan, lalu menatap Yoga, dan dengan jarinya ia menulis di debu lantai papan:
*Aku yang menjaganya. Ibunya sudah tiada—malam Ia pertama datang. Anak ini masih bayi waktu itu. Sejak malam itu ia tak pernah bersuara. Bukan karena ada yang merenggutnya. Karena ketakutan mengunci suaranya di dalam, terlalu dalam untuk keluar.*
Yoga menatap anak yang bisu itu, menatap mulutnya yang membuka-menutup tanpa bunyi, dan untuk pertama kalinya, sesuatu di dalam dirinya mulai percaya. Bukan dengan akalnya—akalnya masih menolak. Tapi dengan bagian yang lebih tua, lebih purba, bagian yang tahu kapan harus takut.
Di luar, kabut menebal, dan senja mulai turun di Lembah Sunyaruri.