Bilik empat berbau berbeda. Lebih tajam, lebih panik. Seorang perempuan muda terbaring dengan bibir membiru, dadanya naik turun terlalu cepat, terlalu dangkal. Di sampingnya, seorang laki-laki seusianya berdiri dengan wajah pucat pasi, tangannya gemetar memegang botol obat kosong.
"Dia—dia tiba-tiba sesak, terus gatal seluruh badan, terus pingsan," kata laki-laki itu tergagap. "Tadi cuma makan seafood di luar."
Galih menatap leher pasien yang mulai membengkak, bentol-bentol merah menyebar di lengannya seperti peta yang melebar. Anafilaksis. Otaknya menyebut kata itu sebelum mulutnya sempat. Reaksi alergi berat. Saluran napas bisa menutup total dalam hitungan menit, mungkin detik.
"Adrenalin, intramuskular, sekarang," kata Galih. Tidak ada gemetar kali ini. Tubuhnya tahu sesak napas tidak menunggu siapa pun merasa siap. "Sister Yuni, oksigen non-rebreathing, sepuluh liter. Pasang infus, siapkan cairan."
Yuni sudah bergerak sebelum kalimat Galih selesai. Jarum adrenalin masuk ke paha pasien. Galih menghitung dalam hati, detik demi detik, mengamati dada yang naik turun. Saturasi oksigen di monitor menunjukkan delapan puluh dua persen. Terlalu rendah. Bibir itu makin gelap.
"Saturasi turun, Dok," kata Yuni pelan, hanya untuknya.
"Saya lihat." Galih menelan ludah. Kalau adrenalin tidak bekerja cukup cepat, ia harus mengamankan jalan napas. Intubasi. Memasukkan selang ke tenggorokan yang mungkin sudah bengkak, dalam kondisi terburuk. Ia baru melakukannya beberapa kali, semuanya dengan supervisi. Sekarang tidak ada yang mengawasi. Hanya ada dirinya, Yuni, dan seorang perempuan yang nyawanya menyusut di depan matanya.
Lalu sesuatu terjadi. Dada pasien mulai bergerak lebih lega. Angka di monitor merangkak naik—delapan tujuh, sembilan puluh, sembilan empat. Warna merah marun di bibirnya memudar, digantikan merah muda yang samar. Bengkak di lehernya berhenti memburuk.
Galih tidak sadar ia menahan napas sampai ia mengembuskannya. "Ulangi tensi."
"Seratus per tujuh puluh, Dok. Membaik."
Laki-laki di sudut ruangan menangis tanpa suara, menutup mulutnya dengan tangan. "Dia... dia bakal selamat, Dok?"
Galih menatapnya. Ia ingin sekali berkata ya, pasti, jangan khawatir. Tapi ia tahu IGD mengajarkan satu hal lebih dulu daripada keberanian: kejujuran yang berhati-hati. "Sekarang dia stabil. Kita akan pantau ketat beberapa jam ke depan. Reaksi seperti ini kadang datang lagi. Tapi yang paling berbahaya sudah lewat."
Lelaki itu mengangguk berkali-kali, seolah anggukan bisa mengunci keberuntungan agar tidak kabur.
Saat Galih keluar dari bilik, kakinya terasa lunak. Bukan karena lelah—karena adrenalinnya sendiri baru turun. Ia bersandar di dinding, dan untuk pertama kalinya malam ini, ia merasakan sesuatu yang asing dan kuat sekaligus: ia tadi memegang nyawa di tangannya, dan nyawa itu tidak terlepas.
"Lumayan," kata suara perempuan dari belakangnya. Dingin, datar, tapi kali ini Galih bisa melihat pemiliknya. Seorang dokter perempuan berusia akhir tiga puluhan, rambut diikat ketat, jas putih tanpa satu lipatan pun yang salah. Name tag-nya: dr. Maharani. "Tapi 'lumayan' di IGD itu jarak setipis kertas dari 'pasien meninggal'. Kamu tadi nyaris kelamaan ambil keputusan intubasi. Untung adrenalinnya jalan."
Galih membuka mulut untuk membela diri, lalu menutupnya. Sebagian dari dirinya tahu Maharani benar.
"Malam masih panjang, Dokter Galih," kata Maharani, membaca name tag-nya sekilas. "Dan saya nggak suka mengubur pasien karena dokternya ragu." Ia berbalik dan pergi, langkahnya tegas, tanpa menoleh.
Yuni muncul di samping Galih, menyodorkan rekam medis. "Jangan diambil hati, Dok. dr. Maharani galak ke semua orang."
"Dia benar, kok," gumam Galih, menatap punggung Maharani yang menghilang di tikungan. Hatinya berdebar—campuran bangga karena pasiennya selamat, dan gentar karena baru saja menyadari betapa tipis jarak antara selamat dan tidak.