Tiga hari berikutnya, Galih belajar bahwa dr. Maharani punya mata yang seperti tidak pernah berkedip. Di mana pun Galih berdiri, kapan pun ia mengambil keputusan, seolah-olah selalu ada Maharani di sudut, mengamati, mencatat, menunggu.
"Kamu kasih antibiotik apa untuk pasien bilik tujuh?" tanya Maharani suatu sore, menghadang Galih di depan ruang obat.
"Ceftriaxone, Dok. Dugaan saya infeksi saluran kemih dengan—"
"Dugaan." Maharani memotong, mengulang kata itu seolah sedang menjepitnya dengan pinset. "Kamu sudah lihat hasil urinnya? Sudah tanya alergi obat? Atau kamu kasih antibiotik karena itu yang pertama muncul di kepala kamu?"
Wajah Galih memanas. "Saya sudah tanya alergi, Dok. Hasil urin masih ditunggu."
"Lalu kenapa kamu sudah suntik sebelum hasilnya keluar?"
"Karena pasiennya demam tinggi dan tampak toksik, saya pikir menunda justru—"
"'Saya pikir'." Maharani menyilangkan tangan. "Dengar, Galih. Di IGD, kamu memang sering harus bertindak sebelum semua data lengkap. Itu benar. Tapi ada bedanya antara keputusan cepat yang berdasar dan keputusan cepat yang asal. Yang satu menyelamatkan, yang satu membunuh pelan-pelan. Kamu harus tahu kamu di sisi yang mana, setiap kali."
Galih menelan kalimat-kalimat pembelaan yang sudah siap di lidahnya. Sebagian dari dirinya ingin marah—ia sudah bekerja keras, ia tidak tidur, ia merawat dua belas pasien dalam satu shift. Tapi sebagian lain, yang lebih jujur, tahu bahwa Maharani tidak pernah salah dalam hal teknis. Menyebalkan, tapi benar.
Malam itu, di ruang istirahat sempit yang baunya seperti kopi basi, Galih duduk dengan kepala di tangan. Yuni masuk membawa dua gelas teh, meletakkan satu di depannya.
"Saya kayak nggak pernah bisa benar di mata dia, Sister," kata Galih. "Apa pun yang saya lakukan, selalu kurang."
Yuni duduk di kursi seberang. "Dok, saya kerja sama dr. Maharani sudah delapan tahun. Mau tahu satu hal?" Ia menyeruput tehnya. "Dia paling galak ke dokter muda yang dia anggap punya potensi. Yang dia anggap nggak ada harapan, dia diamkan. Dibiarkan jadi dokter biasa-biasa saja. Kalau dia repot-repot ngomelin Dokter sampai segitunya, artinya dia lihat sesuatu di Dokter."
Galih mengangkat kepala. "Atau dia memang benci saya."
Yuni tertawa kecil. "Bisa dua-duanya. dr. Maharani itu kompleks." Lalu nada suaranya melembut. "Dia dulu juga dokter muda di sini, Dok. Saya masih ingat. Sepuluh tahun lalu, ada kejadian. Dia kehilangan pasien yang sebenarnya bisa diselamatkan, gara-gara dia ragu, gara-gara dia nggak berani membantah seniornya yang salah. Anak kecil. Sejak itu dia berubah. Jadi keras. Ke semua orang, tapi paling keras ke dirinya sendiri."
Galih terdiam. Ia menatap teh yang mengepul di depannya, lalu ke arah pintu, ke arah IGD yang masih meraung di balik dinding. Untuk pertama kalinya, ia melihat dr. Maharani bukan sebagai dinding yang menghalanginya, tapi sebagai seseorang yang juga pernah patah, dan memilih menempa diri dari pecahannya.
"Minum tehnya, Dok," kata Yuni. "Lima belas menit lagi shift mulai. Dan dr. Maharani benci dokter yang datang dengan mata setengah merem."
Galih meneguk tehnya, hangat dan terlalu manis. Di luar, lampu triase menyala merah lagi. Ia berdiri, merapikan jas putihnya, dan berjalan menembus pintu. Tatapan Maharani sudah menunggunya di seberang ruangan. Kali ini, anehnya, Galih membalas tatapan itu tanpa menunduk.