Kesalahan itu datang pada malam Selasa yang basah, ketika hujan menderas di luar dan IGD penuh sampai ke koridor. Galih sudah bekerja sebelas jam tanpa benar-benar duduk. Otaknya berkabut, tapi pasien terus berdatangan, dan tidak ada yang bertanya apakah ia masih sanggup.
Seorang lelaki paruh baya datang dengan keluhan nyeri ulu hati. Wajahnya pucat, berkeringat, sedikit mual. Di tengah kekacauan, di antara pasien kecelakaan dan anak demam tinggi, Galih memeriksanya cepat. Maag, pikirnya. Klasik. Nyeri ulu hati, mual, riwayat sering telat makan. Ia memberi obat lambung, menyarankan istirahat, dan menyuruhnya pulang dengan kontrol bila tidak membaik.
Ia tidak merekam EKG. Ia tidak menggalinya lebih dalam. Ada terlalu banyak pasien, terlalu sedikit waktu, dan lelaki itu terlihat tidak segawat yang lain.
Dua jam kemudian, lelaki yang sama kembali. Kali ini dengan brankar, kali ini tidak sadarkan diri, kali ini dadanya. Henti jantung. Galih ikut dalam resusitasi, menekan dada sekuat tenaga, menghitung kompresi dengan suara yang makin lama makin parau. Adrenalin, kejut listrik, kompresi lagi. Lima belas menit. Dua puluh menit. Monitor tetap garis lurus.
Pukul dua pagi, dr. Maharani menghentikannya dengan satu kalimat datar. "Cukup, Galih. Waktu kematian, pukul dua lewat tujuh."
Ruangan mendadak hening, kecuali bunyi monitor yang akhirnya dimatikan. Galih berdiri dengan tangan masih di dada lelaki itu, napasnya tersengal, keringat menetes dari dagunya ke seprai. Ia tidak bisa melepaskan tangannya. Seolah kalau ia menekan sekali lagi, semuanya bisa diputar ulang.
Maharani menatap rekam medis yang Galih tulis dua jam lalu. Matanya bergerak ke kolom yang kosong—tidak ada EKG, tidak ada catatan tentang nyeri yang menjalar ke lengan, tidak ada penilaian risiko jantung. Ia tidak berkata apa-apa. Justru diamnya itu yang paling menghantam.
Di luar, keluarga lelaki itu menangis. Seorang perempuan—istrinya—terduduk di lantai koridor. Galih mendengar suaranya menembus dinding. "Tadi sore dia masih ngomel saya kebanyakan masak. Katanya cuma masuk angin..."
Galih keluar dari bilik dan berjalan ke kamar mandi staf. Ia mengunci pintu, menyalakan keran, dan menatap pantulan dirinya di cermin. Wajahnya asing. Mata cekung, jas penuh keringat, dan di balik itu semua, sebuah pertanyaan yang menggerogoti: kalau aku rekam EKG tadi, apa dia masih hidup?
Ia tahu jawabannya mungkin ya. Serangan jantung sering menyamar sebagai sakit maag. Itu hal pertama yang diajarkan tentang nyeri dada. Dan ia, dr. Galih, dokter idealis yang ingin menyelamatkan dunia, melewatkannya karena lelah, karena buru-buru, karena ia pikir ia sudah tahu jawabannya.
Pintu kamar mandi diketuk. "Galih." Suara Maharani. "Buka."
Galih membuka pintu. Ia menyangka akan mendapat omelan paling pedas dalam hidupnya. Tapi Maharani hanya berdiri di sana, menatapnya lama.
"Kamu lewatkan EKG," kata Maharani akhirnya. Bukan pertanyaan.
"Iya, Dok." Suara Galih hampir tidak terdengar.
Maharani tidak meledak. Ia hanya mengangguk pelan. "Sekarang kamu nggak akan pernah lupa lagi. Untuk selamanya, setiap pasien nyeri ulu hati di atas empat puluh tahun, kamu akan merekam EKG. Karena malam ini akan ikut kamu seumur hidup." Ia menatap Galih lurus. "Itu harga yang kita bayar di sini. Dan dia"—Maharani menunjuk ke arah bilik—"yang membayar paling mahal. Jangan sia-siakan."
Maharani pergi. Galih berdiri sendirian di koridor, dan untuk pertama kalinya sejak masuk IGD, ia menangis.