Galih tidak tidur selama dua hari setelahnya. Bukan karena shift—karena setiap kali ia memejamkan mata, ia melihat garis lurus di monitor, dan mendengar tangis perempuan di koridor.
Pada hari ketiga, ia melakukan sesuatu yang tidak ada dalam tuntutan pekerjaannya. Ia mendatangi ruang arsip, meminta salinan rekam medis lelaki yang meninggal itu, dan mempelajarinya baris demi baris. Ia ingin tahu persis di mana ia salah, bukan untuk menghukum dirinya lagi—ia sudah cukup melakukan itu—tapi untuk memastikan ia tidak pernah salah dengan cara yang sama.
Ia juga mulai melakukan kebiasaan baru. Setiap akhir shift, ia menuliskan satu kasus yang membuatnya ragu, dan menelaahnya di rumah. Buku catatan kecil bersampul hitam itu cepat penuh. Nyeri dada yang menyamar. Sesak napas yang ternyata jantung, bukan paru. Sakit perut kanan bawah yang ternyata bukan usus buntu biasa. Ia mengubah rasa bersalahnya menjadi bahan bakar.
Suatu malam, seorang perempuan muda datang dengan keluhan yang nyaris sama dengan lelaki yang meninggal itu: nyeri ulu hati, mual, keringat dingin. Usianya baru tiga puluh dua. Secara statistik, risiko jantungnya rendah. Galih merasakan godaan lama itu—ah, ini pasti cuma lambung, masih muda begini.
Ia menolak godaan itu.
"Rekam EKG," katanya pada Yuni. "Dan cek enzim jantung."
Yuni mengangkat alis. "Yakin, Dok? Dia muda banget."
"Yakin." Galih menatap pasien itu, mengingat satu nama yang tidak akan pernah ia lupa. "Saya nggak mau menebak lagi."
Sambil menunggu alat dipasang, perempuan itu meraih lengan Galih dengan tangan yang lembap oleh keringat dingin. "Dok," suaranya tercekat di antara napas, "tolong... saya nggak boleh kenapa-kenapa. Anak saya masih balita, di rumah sama adik saya. Dia belum tidur kalau bukan saya yang nemenin." Matanya basah, takut. "Nama saya Sari, Dok. Tolong saya."
"Bu Sari, saya di sini," kata Galih, menahan tangannya sebentar agar perempuan itu merasa ada yang berpegang. "Bapaknya anak juga butuh Ibu pulang. Makanya kita periksa sekarang, biar nggak ada yang kelewat. Ibu napas pelan-pelan ikut saya, ya."
Bu Sari mengangguk, dan untuk sesaat tarikan napasnya melambat sedikit. Galih menyimpan wajah itu—dan kalimat tentang anaknya yang belum mau tidur—di suatu sudut kepalanya yang tidak akan ia biarkan kosong lagi.
EKG keluar. Galih membaca garis-garisnya pelan, teliti, persis seperti yang seharusnya ia lakukan malam itu. Dan di sana, di sadapan yang seharusnya rata, ada elevasi yang tidak seharusnya ada. Serangan jantung. Pada perempuan tiga puluh dua tahun yang seharusnya tidak masuk akal.
"Aktifkan kode jantung," kata Galih, suaranya stabil. "Hubungi kardiologi. Siapkan untuk kateterisasi."
Semuanya bergerak cepat. Aspirin, pengencer darah, monitor jantung. Sebelum brankarnya didorong keluar, Bu Sari masih sempat menggenggam jari Galih. "Anak saya, Dok," bisiknya. "Bilang ke dia mamanya pulang." Galih mengangguk, dan menelan sesuatu yang menyumbat tenggorokannya. Perempuan itu dibawa ke laboratorium kateterisasi dalam waktu kurang dari empat puluh menit—jendela emas yang menentukan apakah otot jantungnya selamat atau mati. Belakangan, dokter jantung memberitahu Galih bahwa pembuluh darahnya tersumbat hampir total. Kalau terlambat satu jam saja, ceritanya bisa berbeda.
Galih berdiri di koridor yang sama tempat ia menangis beberapa hari lalu. Kali ini ia tidak menangis. Ia hanya menarik napas panjang, merasakan sesuatu yang berat perlahan bergeser di dadanya. Ia tidak bisa menghidupkan kembali lelaki yang meninggal itu. Tapi malam ini, pelajaran dari kematian itu menyelamatkan seseorang—dan seorang balita yang belum tahu betapa dekat ia tadi kehilangan ibunya.
dr. Maharani lewat, melihat papan kasus, lalu menatap Galih. Ia tidak memuji—Maharani tidak pernah memuji. Tapi ia berhenti sejenak, dan berkata, "EKG-nya kamu yang minta?"
"Iya, Dok."
Maharani mengangguk satu kali. Dan di matanya yang biasanya sedingin baja, Galih melihat sesuatu yang berkelebat sangat singkat. Sesuatu yang mirip persetujuan. Mungkin bahkan kebanggaan, meski Maharani lebih baik mati daripada mengakuinya.
"Bagus," kata Maharani. Hanya satu kata. Lalu ia pergi.
Galih tersenyum tipis pada koridor yang kosong. Satu kata dari dr. Maharani, ia mulai paham, lebih berharga dari seratus pujian orang lain.