Detak jantungku adalah satu-satunya suara yang kudengar saat lift itu naik ke lantai empat puluh dua.
Pintu lift terbuka dengan bunyi ding yang lembut, dan dunia di hadapanku berubah seketika. Lobi Diamond Corporation terbentang luas dengan lantai marmer hitam yang mengilap, dinding kaca setinggi langit-langit, dan meja resepsionis yang lebih menyerupai altar—putih bersih, diterangi lampu tersembunyi.
"Selamat pagi, ada yang bisa dibantu?" Resepsionis itu tersenyum. Senyum profesional yang tidak mencapai mata.
Aku membalas dengan senyum yang sama persis. "Saya Clara. Ada janji wawancara pukul sembilan dengan Bapak Dante Morano."
Nama itu meluncur dari lidahku seperti racun yang sudah kukenal rasanya.
"Silakan tunggu di ruang tunggu VIP. Bapak Morano akan segera menemui Anda."
Aku mengangguk dan berjalan ke arah yang ditunjuk. Sepatu hak tinggiku berbunyi teratur di lantai marmer—klik, klik, klik—seperti detik-detik bom yang menghitung mundur.
Ruang tunggu VIP ternyata lebih mirip sangkar kaca. Dinding transparan di tiga sisi, memperlihatkan kota Jakarta dari ketinggian yang menyesakkan. Aku duduk di sofa kulit abu-abu, memangku tas kecilku, dan mengatur napas.
Tenang, Valeria. Tenang.
Ya, Valeria. Bukan Clara.
Clara tidak pernah ada. Clara adalah hantu yang kuciptakan dalam lima tahun terakhir. Kertas identitas palsu, ijazah palsu, referensi kerja palsu—semuanya dibangun dengan satu tujuan.
Untuk duduk di ruangan ini. Untuk bertemu pria itu lagi.
Aku merogoh tas dan mengeluarkan ponsel. Tanganku bergetar sedikit saat membuka folder tersembunyi. Di sana, sebuah foto usang hasil pindaian koran digital.
"PEMBANTAIAN KELUARGA DI JAKARTA SELATAN—TIGA TEWAS"
Aku menatap foto itu selama tiga detik. Cukup untuk mengingatkan diriku sendiri kenapa aku di sini. Lalu kumatikan layar dan menyimpan ponsel kembali.
Tepat saat pintu di belakangku terbuka.
"Clara."
Suara itu.
Suara yang sama yang membisikkan "jangan takut, kau aman bersamaku" saat aku menangis di bagasi mobil lima belas tahun lalu. Suara yang sama yang mengucapkan "selamat ulang tahun, adik kecil" sambil memberikan boneka beruang yang sekarang kusimpan di dasar lemari—bersama kebencian yang tak pernah padam.
Aku berdiri dan berbalik.
Dante Morano.
Ia berdiri di ambang pintu, mengenakan setelan jas hitam yang pasti berharga lebih dari biaya kuliahku dulu. Rambut hitamnya disisir ke belakang rapi, menyisakan beberapa helai yang jatuh di dahi. Rahang tegas, tulang pipi tinggi, dan mata cokelat gelap yang terlalu tenang untuk seorang manusia.
Ia lebih tua. Garis-garis halus di sudut matanya tak ada dulu. Tapi sorot itu—sorot dingin yang selalu membuat bulu kudukku berdiri—sorot itu tidak berubah sama sekali.
"Bapak Morano." Aku membungkuk sopan. "Terima kasih sudah meluangkan waktu."
Ia tidak segera menjawab. Matanya menyapu seluruh diriku—dari ujung rambut yang kucat cokelat pirang (dulu hitam pekat), ke blazer krem sederhana, ke sepatu hak yang kubeli di pasar loak lalu kuperbaiki sendiri.
Aku sudah berubah. Aku tidak lagi gadis kurus berusia delapan belas dengan rambut dikepang dua dan mata sembab. Aku Clara sekarang. Sekretaris profesional berusia dua puluh tiga tahun yang hanya ingin bekerja.
"Kita di dalam saja," katanya akhirnya, memberi isyarat ke ruang kerjanya.
Ruang kerja Dante Morano adalah definisi kekuasaan yang bisa diraba.
Meja kayu gelap sebesar tempat tidur. Kursi kulit yang menjulang tinggi. Rak buku penuh jilid-jilid tebal yang mungkin tidak pernah dibacanya, hanya pajangan untuk tamu bisnis yang perlu diintimidasi. Di dinding belakang mejanya, sebuah lukisan abstrak merah dan hitam yang selalu mengingatkanku pada darah yang mengering.
"Silakan duduk."
Aku memilih kursi yang disediakan—dua kursi tamu berhadapan dengan mejanya. Posisi yang membuatku lebih rendah, menatapnya dengan sedikit mendongak. Pilihan psikologis yang disengaja untuk membuat tamu merasa kecil.
Aku sudah memperhitungkan itu.
Dante duduk di kursinya, menyandarkan punggung, dan menatapku tanpa bicara. Detik-detik berlalu. Lima detik. Sepuluh. Lima belas.
Dia sedang membaca, pikirku. Mencari sesuatu.
Aku menatap balik dengan ekspresi gugup yang sudah kulatih di depan cermin: sedikit mengerjap, bibir sedikit terkatup, tangan yang memegang tas memangku terlalu erat.
"Pengalaman terakhir Anda sebagai sekretaris di perusahaan konstruksi," katanya akhirnya, membuka folder di hadapannya CV-ku. "Tiga tahun. Bisa diceritakan kenapa berhenti?"
"Perusahaan merger. Ada pengurangan karyawan." Jawaban standar yang sudah kusiapkan. Cukup membosankan untuk tidak menimbulkan pertanyaan lanjutan.
"Dan sebelum itu?"
"Administrasi di sebuah klinik kecil." Juga palsu. Juga aman.
Dante mengangguk pelan. Jarinya membalik halaman CV, jari-jari panjang yang kuingat pernah menggenggam tengkukku dan membisikkan, "Jangan coba-coba kabur lagi, Valeria. Lain kali, aku tidak akan selembut ini."
Aku menelan ludah.
"Clara." Ia mengucapkan nama palsuku dengan pelan, seperti mencicipi makanan baru. Matanya tidak lagi menatap CV. Matanya menatapku.
Aku hampir lupa bagaimana rasanya ditatap seperti itu. Seperti dipreteli pakaian, kulit, daging. Seperti setiap lapisan diriku transparan di bawah sinar-X matanya.
"Ada yang... familiar dari Anda," katanya.
Jantungku berhenti.
"Apa?" Aku berhasil mengeluarkan suara yang cukup terkejut.
Dante memiringkan kepala sedikit. "Saya tidak tahu. Mungkin cara Anda berbicara. Atau mungkin..." Ia berhenti, menggeleng tipis. "Sudahlah. Ceritakan kenapa Anda ingin bekerja di Diamond Corporation spesifik. Bukan perusahaan lain."
Pertanyaan berbahaya. Pertanyaan yang sudah kuantisipasi.
"Saya ingin belajar dari yang terbaik," kataku, dengan nada semangat yang tepat. "Diamond Corp adalah pemimpin di industri ini. Bekerja di sini adalah mimpi saya sejak kuliah."
Jawaban template. Membosankan. Aman.
Tapi Dante tidak terlihat puas. Ia menyandarkan siku di meja, menautkan jari-jarinya, dan bersandar lebih dekat.
"Satu lagi," katanya, suaranya lebih rendah. "Apa ketakutan terbesar Anda, Clara?"
Aku menatap matanya.
Kamu, pikirku. Ketakutan terbesarku adalah kamu.
"Kehilangan orang yang saya sayangi," kataku. Dan itu bukan kebohongan sepenuhnya.
Wawancara berakhir tanpa kejadian berarti. Dante mengantarku ke pintu, memberi tahu bahwa HRD akan menghubungiku dalam tiga hari. Aku mengucapkan terima kasih dengan senyum lega yang palsu, dan berjalan ke lift.
Pintu lift tertutup. Aku menghitung.
Satu. Dua. Tiga.
Begitu lift mulai turun, lututku gemetar. Aku bersandar ke dinding lift dan mengembuskan napas yang sejak tadi kutahan.
Aku berhasil melewati ronde pertama.
Malamnya, di apartemen kecilku yang kusewa pakai nama palsu, aku duduk di lantai kamar menghadap papan investigasi yang kupasang di balik pintu lemari.
Foto Dante Morano yang diambil diam-diam dari berbagai sudut, terpaku di tengah. Garis merah menghubungkannya ke foto-foto lain: gedung Diamond Corp, denah lantai yang kudapat dari mantan karyawan, kliping berita tentang pembantaian lima belas tahun lalu, dan daftar nama-nama yang terhubung ke jaringan mafianya.
Aku menatap foto itu lama.
"Kamu tidak mengenaliku," bisikku pada foto itu. "Bagus."
Jemariku menyentuh foto usang di sudut papan, satu-satunya foto yang kutempel terbalik, sehingga gambar di baliknya hanya kulihat saat aku sengaja membaliknya. Foto seorang pria dan wanita tersenyum, menggendong gadis kecil berusia tujuh tahun dengan gaun merah.
Orang tua angkatku.
Orang yang dibunuh oleh monster yang sama yang hari ini duduk satu ruangan denganku dan tidak mengenaliku.
Aku membalik foto itu kembali, menyembunyikan wajah mereka.
"Aku janji," bisikku pada ruangan kosong. "Aku akan menghancurkannya. Sampai tidak ada yang tersisa."
Ponselku bergetar.
Sebuah email dari alamat yang tidak dikenal. Aku membukanya dengan alis berkerut.
"Clara yang terhormat,
Terima kasih telah meluangkan waktu untuk wawancara hari ini. Saya dengan senang hati menginformasikan bahwa Anda diterima untuk posisi sekretaris pribadi di Diamond Corporation.
Dimohon untuk hadir Senin depan pukul 08.00.
Salam,
Dante Morano"
Aku membaca email itu tiga kali.
Diterima. Aku diterima.
Seharusnya aku senang. Ini yang kuinginkan. Ini yang kurencanakan. Tapi mengapa kalimat terakhir di email itu ditandatangani langsung oleh namanya, bukan oleh HRD membuat darahku terasa lebih dingin dari malam itu?
Aku menatap ponselku, lalu menatap papan investigasi.
Dia tidak mengenaliku, ulangku dalam hati. Aku sudah berubah. Aku aman.
Tapi saat aku memejamkan mata malam itu, yang kuingat adalah caranya menatapku dan berkata, "Ada yang familiar dari Anda."
Aku tahu, aku sangat tahu bahwa seekor ular selalu mengenali ular lain.