Senin pagi datang lebih cepat dari yang kuinginkan.
Aku berdiri di depan gedung Diamond Corporation pukul 07.45, menatap menara kaca yang menjulang ke langit Jakarta yang kelabu. Lima belas menit lebih awal cukup untuk menunjukkan antusiasme, tidak cukup untuk terlihat putus asa.
Semua adalah pertunjukan, kuingatkan diriku sendiri. Setiap detik, setiap gerakan.
Aku melangkah masuk melewati pintu putar kaca. Lobi yang sama, marmer yang sama, resepsionis yang sama. Tapi kali ini aku bukan tamu. Aku karyawan.
Resepsionis itu, papan namanya bertuliskan "Mira", menatapku dengan pengakuan samar. "Selamat pagi, Mbak Clara. Bapak Morano sudah menunggu. Silakan langsung ke lantai empat puluh dua."
Langsung ke lantai empat puluh dua. Bukan ke HRD, bukan ke ruang orientasi. Langsung ke sarangnya.
Aku tersenyum. "Terima kasih, Mbak Mira."
Lift kembali membawaku naik. Kali ini aku tidak sendirian. Ada dua pria berjas hitam yang naik di lantai dua puluh. Mereka tidak berbicara, hanya berdiri dengan tangan terlipat di depan, kacamata hitam meskipun di dalam ruangan.
Bodyguard, pikirku. Atau algojo yang kebetulan sedang tidak bertugas. Mereka turun di lantai empat puluh. Aku melanjutkan ke lantai empat puluh dua sendirian.
Ding.
Pintu lift terbuka. Dan pemandangan yang menyambutku benar-benar berbeda dari tiga hari lalu.
Ruangan luas itu kini ramai. Bukan dengan karyawan biasa melainkan dengan pria-pria berjas gelap yang berdiri di sudut-sudut strategis. Mereka tidak berpura-pura bekerja. Mereka tidak memegang kertas atau mengetik di ponsel. Mereka hanya... menonton.
Lorong menuju ruang kerja Dante terasa lebih panjang dari yang kuingat.
"Clara."
Aku menoleh. Seorang wanita seusia akhir tiga puluhan berjalan ke arahku. Rambut hitam dicepol rapi, blazer navy, senyum tipis yang ramah tapi efisien.
"Saya Rina, asisten senior Bapak Morano. Saya yang akan mengorientasikan Anda hari ini."
Jadi Dante tidak langsung menemuiku? Entah kenapa itu membuatku lega sekaligus waspada.
"Senang bertemu dengan Anda, Mbak Rina."
Rina mengangguk. "Mari saya tunjukkan meja Anda."
---
Mejaku.
Aku menghabiskan lima tahun merencanakan penyusupan ini. Tapi tidak ada yang mempersiapkanku untuk kenyataan bahwa mejaku berada empat meter dari pintu ruang kerja Dante.
Bukan di lantai berbeda. Bukan di ruang administrasi terpisah. Tapi di sini, di lorong eksekutif yang hanya memiliki dua meja: meja Rina di sisi kiri, dan mejaku di sisi kanan—persis berhadapan dengan pintu kayu gelap bertuliskan Dante Morano, CEO.
"Bapak Morano lebih suka sekretaris pribadinya dekat," jelas Rina, seolah membaca pikiranku. "Beliau sering butuh dokumen mendadak, atau kopi, atau janji temu yang berubah di menit terakhir. Anda harus selalu siap."
"Tentu," kataku, menaruh tas di meja. "Saya mengerti."
Rina memberiku tur singkat: di mana pantry, di mana toilet, di mana ruang arsip, di mana ruang rapat utama. Semua di lantai yang sama. Semua dalam radius dua puluh meter dari ruang kerja Dante.
"Ini komputer Anda. Sudah terhubung ke server internal. Password sementara ada di sticky note. Tolong diganti setelah login pertama."
Aku menyalakan komputer. Layar menyala dengan logo Diamond Corporation—berlian hitam dengan latar merah gelap.
"Dan ini..." Rina membuka laci tengah meja dan mengeluarkan sebuah ponsel. Bukan ponsel biasa. Ponsel hitam tipis dengan logo Diamond di belakangnya. "Ponsel kantor. Semua komunikasi internal lewat sini. Bapak Morano akan menghubungi Anda langsung lewat nomor ini."
Aku mengambil ponsel itu. Rasanya dingin di tanganku.
"Satu lagi," Rina menambahkan, suaranya lebih rendah. "Jangan pernah membawa ponsel pribadi ke lantai ini. Kamera tidak diizinkan di area eksekutif."
Aku mengangguk. Tentu saja. Bos mafia tidak akan suka ada yang memotret.
Rina tersenyum lagi—senyum profesional yang sama—lalu kembali ke mejanya.
Aku duduk di kursiku dan menatap layar komputer yang baru menyala.
Baiklah, pikirku. Permainan dimulai.
---
Tiga jam pertama adalah rutinitas yang menenangkan. Email. Jadwal. Dokumen yang harus di-print dan di-staples. Rina memberiku tumpukan pekerjaan administrasi yang cukup untuk membuat sekretaris baru mana pun kewalahan—tapi aku sudah menyiapkan diri. Semua kukerjakan dengan efisien, cukup cepat untuk terlihat kompeten, cukup lambat untuk tidak mencurigakan.
Pukul sebelas, Rina meninggalkan mejanya untuk rapat di lantai tiga. "Saya dua jam. Jaga pos, ya."
Begitu ia menghilang di balik lift, aku menghela napas panjang.
Akhirnya. Sendiri.
Aku menatap pintu ruang kerja Dante. Masih tertutup. Dari balik kayu tebal itu, aku mendengar suara samar—Dante sedang menelepon seseorang. Suaranya rendah, kata-katanya tak tertangkap.
Mataku beralih ke komputernya. Bukan komputer di mejaku. Komputer di dalam sana. Komputer yang pasti menyimpan semua yang kubutuhkan.
Sabar, bisik sebuah suara di kepalaku. Ini baru hari pertama.
Aku kembali mengetik di komputernya. Tapi bukannya menyelesaikan email undangan rapat, jariku malah membuka dokumen kosong. Aku mengetik cepat, lalu menghapusnya. Mengetik lagi, menghapus lagi.
Bukan karena gugup. Tapi karena aku sedang menguji sesuatu.
Komputer ini terhubung ke server internal. Dari sini, seharusnya aku bisa mengakses drive bersama, mungkin bahkan folder-folder eksekutif. Yang kubutuhkan adalah...
Tidak sekarang, potongku pada diriku sendiri. Jangan terburu-buru.
Aku menyelesaikan email undangan rapat. Tepat saat tombol "send" aku klik—
Pintu ruang kerja Dante terbuka.
"Clara."
Aku mendongak. Dante berdiri di ambang pintu, lengannya bersandar di kusen, dasinya sedikit longgar. Mata cokelat gelapnya menatapku dengan ekspresi yang tidak bisa k****a.
"Ya, Pak?"
"Kopi. Hitam. Tanpa gula." Ia berbalik masuk sebelum aku sempat menjawab.
Aku bangkit dan berjalan ke pantry. Tanganku stabil saat mengambil cangkir, menuang kopi dari mesin mahal yang hampir seukuran kulkas kecil, dan membawanya ke ruang kerjanya.
"Taruh di meja."
Aku melangkah masuk. Ruangan ini sama persis seperti tiga hari lalu—kecuali kali ini ada lebih banyak dokumen berserakan di mejanya. Kontrak. Tabel keuangan. Dan sebuah amplop cokelat polos tanpa alamat.
Aku menaruh cangkir di sudut meja, jauh dari tumpukan kertas, sebagaimana sekretaris yang baik seharusnya.
"Ada yang lain, Pak?"
Dante tidak menjawab. Ia duduk di kursinya, mengambil cangkir, menyesap kopi. Matanya tidak meninggalkanku.
Aku berdiri di sana, menunggu.
"Rina sudah memberi Anda ponsel kantor?" tanyanya akhirnya.
"Sudah, Pak."
"Bagus." Tarikan napas panjang. "Nomor Anda sudah saya simpan. Jika saya menelepon, angkat. Tidak peduli jam berapa."
"Dimengerti, Pak."
"Dan Clara?"
"Ya?"
Ia meletakkan cangkirnya perlahan. "Besok malam ada jamuan klien di Hotel Mulia. Jam tujuh. Anda ikut."
Itu bukan pertanyaan.
"Rina biasanya yang—"
"Rina ada urusan keluarga," potong Dante. "Dan saya ingin sekretaris baru saya... belajar langsung."
Ada sesuatu dalam caranya mengucapkan "belajar langsung" yang membuat perutku menegang.
"Baik, Pak. Saya akan siap."
Dante mengangguk sekali, lalu kembali menatap dokumen di mejanya. Isyarat bahwa aku sudah boleh pergi.
Aku berjalan keluar. Tapi tepat saat tanganku menyentuh gagang pintu—
"Clara."
Aku berhenti.
"Satu hal lagi."
Aku berbalik. Dante masih menatap dokumen di mejanya, tidak melihatku.
"Parfum Anda," katanya, suaranya rendah. "Saya kenal aroma itu."
Jantungku berhenti untuk kedua kalinya dalam minggu ini.
"Itu... parfum murah, Pak," kataku, berusaha menjaga suaraku tetap ringan. "Mungkin banyak yang pakai."
Dante akhirnya mendongak. Dan untuk pertama kalinya hari itu, ia tersenyum.
Senyum yang tidak mencapai matanya.
"Mungkin," katanya. "Kamu boleh pergi sekarang."
Aku keluar dari ruangan itu dengan langkah yang kupaksakan tetap tenang. Aku duduk di mejaku. Aku menatap layar komputer.
Tapi pikiranku berputar liar.
Aroma itu. Parfum murahanku. Dulu, saat aku tinggal di rumahnya, Dante pernah memberiku parfum mahal sebagai hadiah ulang tahun keenam belas. Dan aku menolaknya. Aku bilang aku lebih suka parfum murahanku—parfum melati yang kubeli di toko kelontong dekat panti asuhan.
Parfum yang sama yang kupakai hari ini.
Apakah ini kebetulan? Apakah Dante benar-benar mengingat aroma parfum yang dipakai gadis culikannya delapan tahun lalu?
Atau ini hanya permainan psikologis?
Atau—suara paling menyeramkan dalam kepalaku—dia sudah tahu sejak awal?
Aku mengusap pelipisku yang berdenyut.
Tidak. Kalau dia tahu, aku pasti sudah mati sekarang. Atau lebih buruk—dikurung di ruangan yang sama seperti dulu, dengan jendela berjeruji dan pintu yang hanya bisa dibuka dari luar.
Dia tidak tahu, tegasku pada diriku sendiri. Dia hanya mencurigai. Mencurigai bisa diatasi. Mencurigai bisa dimanipulasi.
Tapi saat Rina kembali dari rapatnya dan bertanya apa ada masalah, aku hanya menggeleng dan tersenyum.
"Tidak ada. Semua baik-baik saja."
Satu kebohongan lagi. Satu saja di antara ribuan yang akan kuucapkan.
---
Sore itu, saat aku meninggalkan gedung Diamond Corp, ponsel kantor di tasku bergetar.
Pesan singkat dari nomor yang belum kusimpan.
Besok. Jam tujuh. Jangan terlambat.
Aku menatap layar itu di tengah trotoar, di antara orang-orang yang lalu-lalang tidak peduli.
Lalu aku mengetik balasan:
Siap, Pak. Saya akan tepat waktu.
Klik. Terkirim.
Aku memasukkan ponsel ke tas dan berjalan menuju halte bus. Di kepalaku, otakku sudah menyusun rencana untuk jamuan besok malam.
Kesempatan untuk melihat sisi lain Diamond Corp. untuk lebih dekat dengan targetku. kesempatan untuk membuat satu langkah lebih maju dalam permainan berbahaya ini.