Kenya sampai di kamar kosnya saat waktu menunjukkan pukul sembilan malam. Selama satu minggu ini dia selalu bekerja lembur karena pekerjaan yang di tanganinya begitu banyak. Dia sudah merasakan perbedaan bekerja di kantornya dulu dengan kantor sekarang. Meskipun bernaung dalam perusahaan yang sama, tapi perbedaan itu kentara sekali terasa.
Jika dulu, Kenya masih bisa bekerja dengan bercanda atau bahkan membicarakan tentang gossip di televisi, sekarang tidak. Mereka akan fokus pada pekerjaan mereka tanpa ada yang membuka bibirnya untuk berbicara jika memang tak penting.
Deringan ponsel membuka kembali matanya yang hampir terpejam. 'Ibu' begitu tulisan yang tertulis di ponsel miliknya. Dengan pelan, Kenya langsung mengangkat panggilan tersebut.
"Iya, Bu." Sapanya.
"Gimana kabar kamu Key? Kok udah lama nggak pernah telpon rumah?" Kenya merasa bersalah mendapatkan pertanyaan semacam itu dari ibunya. Terakhir menelpon ibunya adalah ketika dia baru sampai di tempat kosnya saat pertama kali tiba di Jakarta.
"Maaf, Bu, bebepa hari ini Kenya lembur terus. Jadi kalau udah sampai kos udah ngantuk." jawab Kenya menjelaskan. Tentu merasa tak enak hati. “Kenya sehat kok, Bu. Ibu Bapak sehat juga kan di rumah?”
"Alhamdulillah, kami juga sehat." Kemudian ibu dan anak itu mengobrolkan hal-hal yang memang perlu mereka bicarakan. Tentang kantor Kenya, pekerjaan, teman-temannya, dan juga Angga. Sejujurnya Kenya tidak ingin menceritakan masalah Angga kepada ibunya, karena beliau memang sangat tidak menyukai lelaki itu.
“Kamu harus bisa tegas sama dia, Key. Ibu nggak mau dia deketin kamu lagi.” Bahkan ketika Kenya baru saja menceritakan jika Angga datang menemuinya saja, ibu gadis itu langsung berapi-api.
“Iya, Bu. Aku paham. Aku juga nggak sudi rasanya ketemu dia lagi. Kedepaannya, aku akan menghidar kalau tahu dia mau nemui aku lagi.”
“Iya. Pokoknya jangan mau kamu sama dia. Ibu nggak akan kasih restu untuk kamu sama dia.” Kenya hanya geleng-geleng kepala mendengar ibunya seperti itu.
Namun sepertinya sang bunda belum ingin mengakhiri pembahasan masalah Angga. "Gara-gara dia kamu harus jauh dari ibu sekarang." suara ibunya melemah mengatakan kalimat tersebut. Dan Kenya tahu, meskipun sedikit, Karena lelaki itu juga Kenya menerima penawaran untuk pindah. Tapi hanya sedikit.
"Udah, Ibu nggak usah khawatir, aku bisa jaga diri. Ibu tenang aja. Aku pasti akan jauhin dia." Kenya berusaha menenangkan ibunya. "Aku capek banget Bu, udah dulu ya." Kenya menguap karena matanya terasa berat. Besok dia harus berkutat dengan pekerjaannya kembali.
"Iya. Ya udah kalau gitu, kamu istirahat. Jangan lupa pesen Ibu. Ibu tutup dulu ya. Assalamualaikum."
"Waalaikum salam." Kenya tidak lagi berbasa-basi dengan rasa kantuknya, karena dalam hitungan detik dia langsung terbang ke alam mimpi.
*-*-*-*
Suara keyboard memenuhi ruangan kantor. Hening, fokus, dan tak bersuara. Hanya berkonsentrasi dengan apa yang ada di depannya, yaitu dengan benda kotak bernama computer dan tumpukan map di meja mereka. Sesekali juga terdengar suara print yang mencetak sebuh dokumen.
"Saudari Kenya Listya." panggilan itu memenuhi ruangan. Bukan hanya Kenya saja yang mendongak dari komputer, beberapa yang tengah konsentrasi penuh dengan pekerjaan mereka pun ikut menghentikan jarinya dari atas keyboard.
"Saya, Pak." Kenya berdiri dari duduknya dan menatap orang yang memanggilnya.
"Anda ditunggu di ruangan, Pak bos. Sekarang." detakan jantung Kenya langsung terpacu begitu mendengar kata pak bos. Dia melihat sekelilingnya. Teman satu divisinya juga sedang melihatnya. Nala bahkan mengepalkan tangan kanannya tanda memberi semangat dengan suara pelan.
Meskipun agak ragu, tapi Kenya tetap harus berdiri dan mengikuti langkah lebar lelaki yang tadi memanggilnya. Seolah tak ingin membuang waktu berharganya hanya untuk berjalan lelaki itu berjalan dengan cepat, bahkan Kenya sedikit kualahan mengimbangi langkah lelaki tersebut.
Inilah saatnya, Kenya. Saat dimana kamu akan bertemu dengan lelali itu, lelaki dengan julukan Black Devil yang sesekali menjadi bahan perbincangan oleh karyawan di kantor lamanya. Begitu katanya dalam hati.
Ketika mereka tiba di depan ruangan besar dengan pintu yang terlihat kokoh, jantung Kenya terasa tak bisa berdetak dengan cara biasa. Kegaduhan di dalam sana seolah dia akan dijatuhi hukuman mati. Dalam perjalanan ke ruangan ini tadi, dia sudah merapalkan doa agar ketegangannya tidak membuatnya membuat kesalahan.
"Mari silahkan masuk, Pak bos sudah menunggu di dalam." Lelaki itu menyadarkan Kenya dari melamun sesaatnya. Pintu kokoh itu di buka oleh asisten Daka dari luar dan memberi isyarat agar Kenya segera masuk.
Mengucapkan terima kasih, Kenya masuk ke dalam ruangan besar itu, dan menatap dari jauh seorang lelaki yang sedang menunduk di kursi kebesarannya.
“Permisi, Pak!” katanya.
Daka mendongak dan matanya langsung bisa menatap Kenya yang masih berdiri di depan pintu. “Bapak memanggil saya?” ruangan ber AC ini seolah tak berdampak pada suhu tubuh Kenya. Karena kedua telapak tangannya sudah basah dengan keringat dingin.
“Ya.” Dengan jawaban itu, Kenya mendekat ke meja kerja Daka. Rasa gugupnya tak membuat Kenya ragu melangkah.
“Duduklah.” Perintah Daka ketika Kenya sudah berada di depannya. Berusaha tenang, Kenya menarik kursi di depan meja Daka dan duduk di sana. Menatap Daka sebentar dan terenyum sopan kepada lelaki itu.
Daka sama sekali tak merespon apalagi membalas senyuman gadis itu. Dengan santai, dia melipat tangannya di atas meja dan memfokuskan netranya kearah Kenya. Tentu saja Kenya merasa gugup di tatap seperti itu oleh bosnya. Perasaan campur aduk yang dirasakannya, membuatnya ingin segera pergi dari sana.
Menunggu satu menit saja terasa lama sekali, membuatnya terus meremas tangannya untuk melampiaskan rasa gugupnya. Tapi kemudian otaknya memerintahkan untuknya bersuara lebih dulu. Dia tak mau menunggu terlalu lama dan meninggalkan pekerjaan yang masih menumpuk di atas meja kerjanya.
Berdehem, kemudian dia bersuara. “Maaf Pak, kalau boleh saya tahu, kenapa saya dipanggil ke ruangan Bapak?" begitu katanya.
Sebelum menjawab, Daka lebih dulu menarik napas panjang. “Saya melakukan ini agar saya bisa lebih mengenal karyawan saya.” Kenya menganggukkan kepalanya. Dia berusaha setenang mungkin meskipun dadanya terasa bertalu.
“Sebelumnya saya ucapkan selamat datang.” Lanjutnya.
“Terima kasih.”
“Tujuan saya memanggil anda ke ruangan ini adalah untuk memastikan satu hal, jika anda tidak akan pernah melanggar peraturan perusahaan.” Kenya meneguk ludahnya pelan. “Setiap karyawan di kantor ini, hanya memiliki satu saja kesempatan untuk melakukan kesalahan dan satu kali kesempatan memperbaikinya. Dan tidak ada yang kedua apalagi yang ketiga kali. Berani melanggar aturan kantor, artinya sudah siap untuk angkat kaki dari perusahaan ini.”
GN grup adalah perusahaan pertama yang menerima Kenya bekerja setelah dia baru saja lulus dari strata satunya. Kenya tidak berniat dan berminat untuk resign apalagi pindah ke perusahaan lain. Meskipun begitu ketatnya peraturan perusahaan, Kenya tahu jika semuamya sepadan.
Kenya lagi-lagi mengangguk, meskipun rasa takutnya tiba-tiba memeluk hatinya tanpa ampun. “Saya mengerti, Pak. Saya tidak akan mengambil kesempatan untuk membuat kesalahan tersebut.” Ucap Kenya dengan pasti tanpa ada rasa ragu sedikitpun.
"Bagus.” Tatapan Daka benar-benar mengarah tepat di mata Kenya. Tatapan tegas dan seolah penuh ancaman. "Saya akan pegang kata-kata anda. Dan saya bukan orang yang akan mengabaikan janji seseorang begitu saja. Saya akan mengingatnya dan anda harus bisa menepatinya." lagi-lagi, tatapannya mengitimidasi. Berusaha meruntuhkan lawan bicaranya.
"Saya pantang mengingkari janji yang saya buat, Pak." Kata-kata itu tak kalah tegas dari peringatan yang Daka ucapan kepada Kenya. Hal itu membuat Daka tersenyum kecil. Sangat kecil. Sampai semut pun tak akan tahu jika lelaki itu sedang tersenyum.
"Baiklah. Perkenalan kita cukup sampai di sini. Anda boleh kembali bekerja." Daka berdiri dan menyodorkan tangan kanannya untuk berjabat tangan dengan Kenya. Dan Kenya menerima sodoran tangan Daka dengan mantap.
"Selamat datang di GN grup.”
"Terima kasih." Ketika Kenya menerima uluran tangan Daka dan matanya menatap mata lelaki itu, dia merasakan hal asing yang masuk ke dalam hatinya. Dingin, dan tak tersentuh. Itulah yang mampu Kenya gambarkan di mata lelaki itu. Tampan, namun auranya seoalah memerangkap seseorang dalam kegelapan.
Dan Kenya tahu kenapa lelaki itu mendapatkan julukan Black Devil selama ini. Karena memang dia pantas mendapatkan julukan tersebut.
Ketika jabatan tangan mereka terlepas, Kenya tak lagi membuang waktu untuk segera pergi dari ruangan Daka. Berjalan cepat untuk kembali ke ruangannya untuk melanjutkan pekerjaannya.
*-*-*-*
"Guys, makan di rumah makan depan kantor yuk." Suara Nala mengiterupsi seisi devisi dengan suara yang bersemangat.
"Yuk. Gue juga pengen makan di sana." Rian menjawab. Salah satu gerombolan di devisi tersebut.
"Key, elo mau kan?" Nala mendekat ke kubikel Kenya dan berdiri di sana sambil menatap gadis itu.
Kenya mengangguk. "Boleh." Kemudian merapikan meja kerjanya dan mengikuti teman-temannya dari belakang.
Rumah makan 'Bu Monah' hari ini sedikit lebih lengang dari biasanya. Rumah makan ini memang sangat di gandrungi banyak orang. Selain enak, porsinya juga banyak.
"Key, gimana tadi ketemu sama, Pak bos? Cerita cerita, gue penasaran." Nala langsung menodong Kenya dengan pertanyaan setelah mereka duduk dengan tenang untuk melepaskan rasa penasarannya.
Kenya sontak saja langsung mengingat bagaimana Daka menatapnya dan aura yang seolah menghitam seketika ketika lelaki itu menjabat tangannya. Dengan gelengan kepala, gadis itu menjawab. "Lumayan, merinding sih.” Jawaban itu agak ragu di ucapkan olehnya.
"Dan ganteng, itu yang nggak bisa disangkal. Haish, k*****t bener lo. " Nala melotot kepada Rian karena mendapatkan cubitan kecil di tangannya.
"Mata lo kelihatan ijo tuh." begitu kata Rian dengan enteng. “Gue juga ganteng. Lo nggak segitunya lihat gue.” Lirikan Rian seperti akan melemparkan Nala ke padang pasir.
"Karena gantengnya Aldaka Ganedra itu beda. Lo ganteng tapi nggak seganteng dia." Nala mempertahankan argumennya dan menatap Rian dalam. “Tapi kok lo PD betul bilang diri lo ganteng?”
“Tapinya lagi, lo ngakuin kalau gue ganteng kan barusan?” Rian menatap mencemooh kearah Nala dan membuat gadis itu sebal luar biasa.
Tak menjawan Rian, Nala kembali kepada Kenya untuk mengintograsi. "Tapi Key, elo tadi nggak salah fokus kan? Soalnya pas gue dulu dapet panggilan kayak elo itu, gue salah fokus sekaligus gagal paham. Gila aja, dia itu nggak bisa lah dibandingin sama cowok-cowok lainnya. Gantengnya itu loh, pas banget. Udah gitu auranya nggak bisa diabaikan gitu aja. Pokoknya bos itu nggak bisa dideskripsikan lah." Nala mengungkapkan kekagumannya terhadap Daka kepada teman-temannya dengan wajah berseri.
Kenya hanya tersenyum dan tidak berniat untuk menjawab. Semua yang Nala katakan memang benar, aura Daka tak bisa diabaikan begitu saja. Sampai-sampai dia merasa begidik ngeri di dekat lelaki itu.
Lagi pula tujuannya adalah untuk bekerja dan fokus pada pekerjaannya. Hal lain tidak perlu lagi dia pikirkan. Dan kalau pun dia nanti harus menyukai seseorang, adalah lelaki yang memang ‘sejajar’ dengannya, atau yang memang bisa dia gapai. Bukan lelaki yang berada di atas gunung, sedangkan dia berada di kaki gunung. Satu kata, susah. Sangat.
“Key!’’ Panggilan itu dari Rian.
“Ya?”
“Lo nggak perlu dengerin Nala, eror dia itu.” Dan dengan berakhirnya kalimat itu, tendangan kaki dari Nala terasa sakit dirasakan di kaki Rian. Meskipun begitu, keduanya langsung tertawa.
Hubungan persahabatan antara Nala, Rian, dan Awan memang sudah sangat dekat. Mereka bersahabat sejak mereka sama-sama menjadi karyawan baru di GN grup beberapa tahun yang lalu. Sayangnya memang hari ini Jofan tak berada di kantor karena tugas di luar kantor. Jadi lelaki itu tidak bisa berkumpul dengan dengan kedua sahabatnya.
“Kalau lo perlu bantuan, jangan sungkan untuk minta bantuan kepada kita. Lo udah menjadi bagian dari persahabatan kita sekarang.” Rian mendapatkan angukan persetujuan dari Nala mendengar ucapan lelaki itu. Kemudian, Nala menceritakan tentang bagaimana kedua teman prianya itu menjaganya dari mantan pacarnya. Pria yang mengatakan cinta kepada Nala, tapi juga mengatakan cinta kepada gadis lain. Dan ternyata Nala hanya dijadikan ATM untuk pria itu. Saat itu teman-temannya tidak terima dan membalaskan sakit hati Nala.
Di devisi Kenya sekarang ini memang bukan hanya ada empat orang tersebut, tapi masih ada beberapa karyawan lain. Tapi hanya mereka lah yang memang menjalin hubungan lebih dekat sebagai sahabat. Dan Kenya bersyukur karena mendapatkan teman-teman baik seperti mereka.
*-*-*-*
Akhirnya, hari ini Kenya tak lagi lembur di kantor. Pekerjaan sudah terselesaikan sesuai waktu yang sudah ditentukan, dan dia bisa menikmati waktu pulang bekerja dengan bersantai di tempat kosnya. Biasanya yang gadis itu lakukan di waktu senggangnya adalah dengan menonton film di laptopnya, atau bahkan memutar music penyanyi idolanya.
Di suasana sore ini langit Jakarta begitu cerah. Kenya berjalan santai untuk pulang ke kosnya tapi sebelumnya dia mampir ke minimarket terlebih dahulu untuk membeli beberapa makanan ringan. Dia memang sering menstok makanan ringan untuk berjaga-jaga jika dia lapar saat tengah malam. Sekeluarnya dia dari minimarket tersebut, netranya menemukan pria yang sangat dihindarinya.
Pura-pura tak mengenal lelaki itu, Kenya berjalan begitu saja. Sayangnya, berbeda dengan lelaki tersebut. Karena dengan langkah lebarnya, lekaki itu berdiri di depan Kenya untuk menghalangi langkah gadis itu.
Awalnya Kenya hanya menarik napas panjang Karena kelakukan lelaki di depannya.
"Key!" panggil Angga kepada Kenya yang diabaikan begitu saja oleh si pemilik nama. “Key, aku tahu aku salah. Tapi please, kasih aku kesempatan untuk memperbaikinya. Aku janji aku nggak akan setia sama kamu.”
Kenya tak ambil pusing dengan omong kosong Angga dan memilih untuk meninggalkan lelaki itu. Jelas saja melihat itu Angga tak membiarkannya begitu saja, karena lelaki itu sudah mencekal tangannya. “Aku akan jelasin semuanya. Semuanya, Key.” Desaknya.
"Lepas." Tolak Kenya pelan. Tatapan gadis itu muak sekali.
"Aku nggak akan lepasin kamu sebelum kamu mau denger penjelasan aku." menekan kesabarannya, Kenya menutup matanya agar bisa lebih waras menghadapi lelaki di depannya itu.
Kemudian dia bersuara. "Kamu kayaknya udah nggak waras, Mas." ucapnya dengan sinis. Tubuhnya terlalu lelah hanya untuk mendengar basa-basi lelaki itu.
"Iya, aku memang udah nggak waras karena kamu. Kamu yang buat aku kayak gini Key. Kamu." Kenya melepaskan lengannya dari cengkraman Angga dengan kasar . Dengan wajah serius, dia menatap lekat wajah pria itu.
“Aku?” tunjukkan kepada dirinya sendiri. "Kalau begitu jelaskan, apa yang aku lakukan sama kamu sampai membuat kamu jadi nggak waras?" Kenya menunggu Angga membuka suara, namun lelaki itu hanya mampu membuka dan kembali menutup mulutnya. Bingung akan mengatakan apa.
"Nggak bisa jawab?" Kenya menyeringai. "Karena bukan aku yang buat kamu nggak waras, tapi semua ini karena kelakuan kamu sendiri. Jadi makan tuh penyesalan.”
“Aku minta maaf.” Angga menatap Kenya dengan mata sayu. “Aku benar-benar minta maaaf untuk semuanya.”
“Udah aku maafin.” Tak sempat Angga kembali bersuara, Kenya melanjutkan. “Tapi jangan pernah lagi muncul di hadapanku, aku muak lihat wajahmu. Dan ini, yang terakhir kalinya kita bertemu, jangan ada lagi besok, lusa, atau bahkan selamanya.” Kemudian dengan langkah lebar, gadis itu pergi meninggalkan Angga meskipun lelaki itu memanggilnya dengan suara yang terdengar sekali frustasi.
Sedangkan di sana dengan tak sengaja, ada seorang pria yang lagi-lagi menyaksikan pertengkaran mereka. Menatap dalam diam tanpa mengerti kenapa kejadian ini kembali terulang.
*.*