Daka gelisah dalam tidurnya. Kedua matanya yang terpejam bergerak gelisah seolah ingin terbuka tapi tak bisa. Dia sedang tak bermimpi buruk tentu saja, karena mimpi seperti inilah yang membuatnya tak ingin terbangun. Ya, kedua orang tuanya sedang menemuinya di alam mimpinya. Dalam ketidak sadaran, remang-remang dia mendengar ibunya mengatakan sesuatu.
"Berbahagialah Nak, carilah kebahagiaanmu. Kalau memang kamu menginginkan sesuatu, maka kejarlah. Dan segeralah menikah, bangunlah sebuah keluarga." Itu terdengar nyata sekali di telinga Daka. Matanya tak berkedip, bibirnya tak bicara. Alam bawah sadarnya mengingatkan jika itu hanyalah sebuah mimpi, namun perasaannya mengatakan jika itu adalah sebuah kode jika ucapan ibunya adalah sebuah perintah.
Tapi sayangnya, hanya itu kalimat yang sang bunda ucapkan. Karena dalam hitungan detik, sebuah cahaya seolah menariknya dalam kesadaran yang membuatnya terbangun dalam keadaan jantung yang berdetak cepat, dan tubuhnya pun bergetar.
Dia memang sering menjumpai ibunya di dalam dunia mimpi. Tapi sayangnya, kali ini mimpi itu terasa berbeda. Jika biasanya, dia hanya bisa melihat sang bunda tersenyum di kejauhan, kini dia benar-benar bertemu dengan beliau dari dekat. Daka tak bisa mengerti apakah ini sebuah tanda, atau memang hanya bunga tidur.
Napasnya masih sedikit terengah, dengan pandangan mata tak fokus. Menunduk, berusaha untuk menenangkan dirinya. Dan dadanya masih bertalu ketika dia memutuskan untuk beridiri dari ranjangnya. Menatap ke arah nakas di samping kanannya, dia bisa melihat, jika jarum jam menunjukkan pukul sebelas malam. Dia yakin setelah ini dia tidak akan bisa kembali tidur dengan nyenyak.
Dengan mata yang masih sayu, Daka mengambil jaket dan memakai celana jeansnya. Menyambar kunci motor dan keluar dari kamarnya. Entah dia akan kemana malam ini. Yang penting, dia bisa menenangkan pikirannya.
Dalam perjalanan mencari tempat, Daka berusaha untuk tidak memikirkan apapun yang baru saja terjadi. Keyakinannya adalah jika semua itu hanyalah bunga tidur. Tidak lebih. Berhenti di sebuah minimarket 24 jam, lelaki itu membeli sesuatu yang bisa mengisi perutnya. Beberapa roti isi, kopi, dan beberapa cemilan. Setelah membayar, dia keluar dan duduk di kursi di depan minimarket yang sudah di sediakan di sana. Matanya menatap kearah jalan yang masih banyak kendaraan berlalu-lalang meskipun hari sudah begitu malam.
Mulutnya berhenti mengunyah saat matanya melihat sesosok gadis yang kerap kali dia dapati berdebat dengan seorang lelaki. Gadis itu terlihat tidak peduli dengan sekitanya dan sibuk dengan kegiatannya sendiri. Daka menatap gadis itu di tempat duduknya dalam diam.
"Ya, Bu." Tak bermaksud untuk terus memperhatikan gadis itu, apalagi – lagi-lagi, mendengarkan pembicaraan gadis itu, tapi nyatanya Daka sama sekali tak mengalihkan pandangannya darinya.
"Iya, aku masih di luar, aku laper tadi. Lupa belum beli persediaan makanan di kos, jadi...."
"Iya, Yah, habis ini pulang kok, minimarketnya nggak jauh dari kos Kenya."
"Iya, Yah, Bu. Waalaikum salam." Kenya mengakhiri panggilannya dan beranjak dari kursi yang di dudukinya. Aldaka masih menatap kemana Kenya pergi sampai hilang dari pandangannya. Malam-malam begini gadis itu masih berani keluar seorang diri. Dan apa tadi alasannya, lapar? Benar-benar konyol.
Daka masih santai menikmati makanan yang dibelinya. Lebih tepatnya berusaha menikmati. Tapi gadis yang tadi dilihatnya berlari kearahnya. Bukan, lebih tepatnya kearah minimarket di belakangnya. Wajahnya panik, titik-titik keringat keluar dari pori-porinya.
"Duh di mana sih? Kok nggak ada. Alamat nggak bisa masuk dong."
Kenya mengangkat kursi plastik yang tadi didudukinya. Bahkan tanpa malu berjongkok dan menggunakan lututnya untuk berjalan. Tak lama, gadis itu berdiri dan masuk ke dalam mini market tersebut. Daka tak tahu apa yang Kenya bicarakan dengan kasir mini market tersebut, namun setelanya dia keluar ladi dan mengacak rambutnya dengan wajah yang kebingungan. Semua itu tidak lepas dari mata tajam Daka.
Tak tahan dengan pemandangan tersebut, Daka berdiri dan mendekati gadis itu untuk menanyakan apa yang terjadi, dia berpikir mungkin saja dia bisa menolong karyawannya itu.
"Ehem." mendengar deheman dari sampingnya membuat Kenya melarikan matanya kearah kanan. Dalam hitungan detik saat matanya menangkap sosok lelaki yang dijuluki black devil dan berada di sampingnya membuatnya melotot dan sedikit kaget.
"Pak Bos." Entah itu sebuah sapaan atau karena kekagetan, Daka tak paham. Tapi ekspresi Kenya benar-benar aneh sekali. Terlihat gugup.
"Saya lihat kamu sedang bingung, apa ada masalah?" mengakhiri kekonyolan Kenya, Daka berinisiatif bertanya.
"Em.. Em, nggak papa kok, Pak." Kenya berbohong, sambil tersenyum bodoh.
"Begitu? Lalu apa yang kamu cari sampai jongkok-jongkok kaya tadi? Nggak mungkin kamu cari jangkrik kan?" s****n bosnya ini. Berarti dari tadi Daka melihat tingkah anehnya kan.
Ah, Kenya bingung harus menjawab apa.
"Mungkin saya bisa bantu kamu. Selagi saya di sini." Kenya masih tak menjawab. Entah apa yang dipikirkan di dalam kepalanya ini. Padahal, malam sudah semakin larut yang seharusnya dia harus segera tidur karena besok dia harus kembali kerja.
"Ok, saya pikir kamu bisa mengatasi masalah kamu sendiri." Daka bukan tipe orang yang akan menunggu hal yang tak pasti seperti ini. Kalau memang gadis itu tak memerlukan bantuan, maka dia akan meninggalkan gadis itu di sana dengan segala hal yang dihadapi. Namun sayangnya ketika Daka melangkahkan kakinya, sebuah tangan mencekalnya.
"Kunci kamar kos saya hilang, Pak." Kenya berujar pelan sambil menunduk. Daka tidak apa kenapa, tapi ketika tangan kecil yang menahan langkahnya, ada sebuah getaran kecil. Rasa hangat itu hadir. Padahal, kulit mereka tak bersentuhan secara langsung, dan tebatas oleh jaket yang dipakainya.
"Maaf." Kenya melepaskan cekalannya dari tangan Daka saat pandangan lelaki itu mengarah ke sana. Berusaha tak peduli dengan itu, Daka berucap,
"Tukang kunci jam segini pasti sudah tutup.” Gumamnya. “Saya akan bantu kamu dengan coba cara lain." Daka bukan orang yang akan berbasa-basi dengan menanyakan 'kamu nggak hubungi ibu kos kamu dan meminta kunci cadangannya?' karena itu percuma, pasti ibu kosnya juga sudah terlelap semalam ini.
*.*
"Ayo naik." Daka sudah berada di atas motornya untuk segera bisa membantu Kenya yang masih sangat canggung terlihat bagaimana gadis itu berdiri tak tenang.
"Nggak usah Pak, saya jalan kaki aja." Kenya tentu saja menolak ditawari membonceng di atas motor sport itu.
"Lalu?" Daka menatap Kenya dengan kening mengernyit.
"Lalu?" Kenya mengulang pertanyaan Daka dengan wajah bingung. Dan itu membuat Daka menarik napas panjang.
"Kalau kamu jalan kaki dan saya naik motor, lalu apa? Saya nggak tahu kos kamu dan saya harus buang waktu untuk tunggu kamu? Begitu? Ini sudah malam, Nona." Kenya hanya sanggup melongo sesaat setelah mengetahui alasan Daka memintanya duduk di boncengan motornya.
Apa sih yang lo pikir Key. Begitu jeritnya dalam hati. Mungkin Kenya memang sudah berpikir yang tidak-tidak.
"Ayo naik." Daka kembali bersuara. Meskipun Kenya masih berpikir ulang, tapi dia akhirnya naik ke boncengan motor Daka. Karena memang tidak ada pilihan lain.
'Ya Tuhan, motornya kenapa macem prosotan TK begini sih?' batin Kenya ketika dia sudah berada di atas motor. Khas motor sport, bagian belakang motor sedikit lebih tinggi disbanding bagian depan.
'Terus, gue harus pegangan apa?' Kenya masih membatin saat motor yang dinaikinya berjalan pelan. Otomatis tubuh depan Kenya harus menempel di punggung Daka. Bahkan kedua tangan Kenya tak sengaja memeluk pinggang lelaki itu.
‘Astaga’ jerit Kenya dalam hati merasa tak tahu adat dengan melakukan itu meskipun dia tak sengaja sama sekali.
Meskipun terlihat biasa saja, tapi Daka pun merasa tegang juga. Tapi jangan tanyakan bagaimana nasib hati Kenya sekarang. Karena rasanya dia seperti jantungan mendadak karena detakannya teramat kencang di dalam sana.
"Maaf." itu suara Kenya. Dia pun merasa malu karena hilang fokus. Tak ada jawaban dari Daka. Pria itu masih menjalankan motornya dengan pelan. Otaknya sudah mencerna jika pasti saja kos Kenya tak jauh dari sana.
"Kiri, Pak." Kenya menepuk bahu Daka pelan.
'Ya Tuhan, kenapa Daka seperti sopir angkut saja.' batin Kenya. Lagi pula Kenya juga bingung akan mengatakan kalimat apa untuk memberi tahu jika arah kosnya berbelok ke kiri.
Daka membelokkan motornya ke arah perumahan kos Kenya berada. Dan berhenti tepat di depan rumah bercat putih. Terlihat bersih dan tenang. Ada dua bangunan di rumah itu, di sebelah kiri kos putra dan sebelah kanan kos putri. Kenya turun dari motor tersebut dan menunggu Daka mengunci motornya.
"Neng Kenya!" panggilan dari arah pos satpam membuat Kenya kaget.
"Pak Maman. Tadi saya cariin kemana?" Kenya langsung menodong satpam kosnya itu karena tidak ada di pos saat Kenya mencarinya.
"Aduh, maaf, Neng. Pak Maman tadi ngopi sebentar di depan komplek. Kenapa, Neng?"
"Kunci saya hilang, Pak. Ada kunci cadangannya nggak?" Kenya langsung bertanya tak sabar, bahkan melupakan Daka yang sedari tadi berdiri di belakangnya.
"Aduh maaf, Neng, semua duplikat kunci kamar dibawa ibu kos."
"Terus gimana dong, Pak? Saya tidur di mana malam ini?" kenya terlihat bingung sendiri membuat Daka menghembuskan nafas kasar.
"Ehem, bukannya saya berada di sini karena akan bantu kamu? Saya pikir, tawaran saya masih berlaku." ucapan Daka menyadarkan Kenya dari kelupaannya sesaat. Lelaki itu benar-benar tidak tahan dengan kebodohan Kenya.
Ampun, dari tadi kan ada bos gue! Batin Kenya lagi. Entah sudah berapa kali dia mendumel di dalam hati selama beberapa menit ini.
"Eh iya, Pak. Maaf.” Jawabnya tak enak hati. “Pak Maman bisa ikut bantu kan?" Pak Maman mengangguk dan mereka berjalan dengan Kenya berada di depan.
*.*
Daka mengamati bagian dalam rumah kos yang juga bercat putih. Kamar Kenya ada di lantai dua. Jika dihitung dari pintunya, ada 12 kamar yang saling berhadapan. Naik ke lantai dua, mereka sampai di kamar nomor lima, yaitu kamar milik Kenya.
"Bapak mau buka pakai apa?" Kenya menatap Daka dengan mata sayu. Terlihat sekali dia sudah mulai mengantuk.
"Biasanya kalau di film-film itu pakek kawat kecil gitu loh, Neng." Pak Maman yang menjawab.
"Itu mah film, Pak. Aslinya nggak segampang itu." ya, memang kalau kita menonton di adegan film, hal tersebut mudah sekali dilakukan. Tapi ini kehidupan nyata, pasti tak akan mudah melakukannya.
"Kita coba. Bapak punya kawat?" Daka adalah lelaki yang optimis. Dia akan mencoba terlebih dahulu dengan cara seperti di film seperti yang dikatakan Pak Maman. Lagi pula, dia ngin segera menyelesaikan urusannya dengan 'kunci'.
"Ada, Mas, saya ambil dulu di bawah." Tanpa lagi berbasa-basi, Pak Maman pergi menyisakan dua anak manusia yang sedang berdiri canggung. Tidak ada yang berinisiatif membuka suara, mereka sibuk dengan pikiran mereka masing-masing.
Daka melirik kearah Kenya, gadis itu tengah memainkan kakinya membuat pola-pola abstrak di atas lantai. Dia tidak pernah terjebak dengan situasi kaku seperti ini sebelumnya. Hidupnya terlalu datar dan aman.
"Nih, Mas." Pak Maman datang menyerahkan kawat yang berukuran kecil.
"Terima kasih, Pak." Daka berjalan kearah pintu dan memasukkan kawat itu kelubang kunci dengan pelan. Berusaha membuka pintu yang terkunci rapat. Tidak mudah memang. Bahkan sudah berkali-kali Daka mencoba, tapi hasilnya nihil. Peluh sudah keluar dari dahinya. Tapi Daka berusaha berkonsentrasi dan terus mencoba.
Kenya menatap bosnya dengan wajah yang tak bisa di deskripsikan. Sexy. Itulah kata yang cocok untuk seorang Aldaka. Peluh itu bahkan menambah kadar ketampanannya.
Uhh, sepertinya pikiran Kenya sudah melantur kemana-mana. Dengan fokus, dia melihat ‘aksi’ Daka dan sesekali melirik wajah lelaki itu.
Takk.
Suara kunci terbuka membuat Kenya seketika menganga. Pintu yang tadinya terkunci rapat, sudah terbuka dan tentu saja semua itu karena Daka berhasil menyelesaikan 'misinya'. Bukankah tak ada usaha yang sia-sia. Kenya tanpa sadar melonjak senang.
"Room sweet room. Terima kasih, Pak. Akhirnya bisa tidur di kamar juga." Kenya bahkan mengganti kata home menjadi room. Sedangkan Pak Maman tersenyum dan pamit keluar.
"Lain kali hati-hati kalau bawa kunci." Kenya menganggukkan kepalanya sambil tersenyum, membuat hati Daka menghangat melihat senyuman itu. Dia seperti melihat ibunya. Tapi otaknya menampik itu.
"Baiklah, saya pulang dulu."
"Saya antar sampai depan." Kenya berjalan di belakang Daka dengan langkah pelan. Mengamati punggung yang tadi 'dicicipinya' dia yakin seandainya Nala tahu, dia akan diintograsi habis-habisan.
"Saya pulang dulu." Daka pamit saat sudah naik ke atas motornya. Memakai helm full facenya dan bersiap untuk pergi.
"Sekali lagi terima kasih, Pak." Kenya berucap tulus. Daka mengangguk dan menjalankan motornya dengan pelan setelah menyapa Kenya dengan membunyikan klakson motornya. Kenya menatap punggung Daka yang semakin menjauh dengan hati yang hangat. Kenya kembali ke kamarnya dengan hati lega, entah karena apa.
•°•