Fajar belum menyingsing sepenuhnya saat ketukan pintu terdengar.
Dua ketukan. Keras. Tak sabar.
Pintu terbuka sebelum Fan Zheng sempat berdiri. Dua penjaga keluarga melangkah masuk, wajah mereka datar, tak ada secercah simpati. Di belakang mereka, berdiri pemuda yang kemarin memukulinya — Lin Hao, anak kepala cabang keluarga, senyum meremehkan tak pernah lepas dari wajahnya.
"Waktunya, sampah," ucap Lin Hao, menunjuk pintu dengan dagunya. "Jangan bikin kami menunggu. Kalau kau lambat, aku bawa kau pakai rantai."
Fan Zheng berdiri perlahan, menepis debu dari jubah lusuh yang membalut tubuh kurusnya. Ia tidak membawa apa-apa. Tidak ada tas, tidak ada bekal, tidak ada senjata. Tangan kosong. Matanya tenang, menatap lurus ke arah Lin Hao seakan pemuda itu bukan ancaman, melainkan sekadar batu di jalan yang bisa dilewati.
"Siap?" tanya Fan Zheng pelan.
Lin Hao tertawa sinis. "Siap? Kau seakan ini perjalanan ke pesta. Ini Hutan Kabut, bodoh. Kau takkan bertahan tiga hari di sana."
"Kita lihat," jawab Fan Zheng singkat.
Ia melangkah keluar, melewati Lin Hao yang mundur spontan sedikit — seakan ada sesuatu yang tak terlihat yang mendorongnya mundur. Sesuatu di aura pemuda yang dianggap sampah ini berubah semalam. Tapi ia tak peduli. Segera, orang ini akan hilang selamanya.
Perjalanan ke perbatasan memakan waktu nyaris seharian. Jalanan berdebu, melewati ladang gandum yang mulai menguning, sungai yang jernih, sampai akhirnya pemandangan di depan mata berubah total. Kabut tebal bergulung di batas hutan, seakan dinding abu-abu yang tak berujung. Udara mendadak terasa lebih dingin, baunya lembap dan berbau daun busuk.
"Ini batasnya," ucap salah satu penjaga, suaranya agak bergetar. Ia tak berani melangkah lebih jauh dari tanda batu yang tertulis 'DILARANG MASUK'. "Kau lanjut sendiri."
Lin Hao melangkah maju, mengeluarkan sepasang mata uang tembaga, melemparkannya ke tanah di depan kaki Fan Zheng. "Bekal untuk perjalanan. Kalau beruntung, bisa beli kuburan sendiri kalau kau mati di pinggir hutan."
Fan Zheng menatap uang itu jatuh ke tanah, lalu menatap Lin Hao. Ia tidak membungkuk mengambilnya.
"Uangmu takkan cukup untuk membeli apa yang akan kutemukan di sana," ucapnya tenang. "Dan kuburan... aku tak butuh itu. Karena aku akan keluar dari hutan ini, bukan mati di dalamnya."
Lin Hao tertawa keras, menunjuk ke arah kabut yang menyelimuti pepohonan raksasa. "Keluar? Banyak yang masuk ke sini dengan kekuatan di tingkat Qi Warrior pun tak pernah kembali. Kau? Yang bahkan belum mencapai Pemurnian tingkat pertama? Jangan bermimpi!"
"Kekuatan bukan segalanya," jawab Fan Zheng. "Dan mimpi... itulah yang membedakan aku dengan kalian."
Ia berbalik, dan tanpa menoleh lagi, melangkah masuk ke dalam kabut tebal itu.
Lin Hao meludah ke tanah. "Sampah! Biar dimakan binatang buas!"
Tapi Fan Zheng sudah tak mendengar. Kabut mulai menelan sosoknya, memisahkannya dari dunia yang ia kenal. Suara langkah kaki penjaga yang pergi perlahan menghilang, dan yang tersisa hanyalah keheningan yang berat, diselingi suara dedaunan berdesir dan kicauan burung yang terdengar aneh dan serak.
Hutan Kabut... pikirnya, matanya meneliti sekeliling dengan hati-hati. Kabut ini bukan sekadar uap air. Ada energi yang mempengaruhi pandangan dan pendengaran. Jalan yang terlihat lurus bisa jadi jebakan. Suara yang terdengar dekat bisa jadi berasal dari jauh.
Ia berhenti sejenak, mencoba merasakan aliran energi di sekitarnya. Tubuhnya masih lemah — belum menyelesaikan Pemurnian Tulang, tingkat terendah sekaligus fondasi dari sembilan ranah. Tanpa Qi, tanpa Akar Spiritual, ia nyaris sama dengan orang biasa. Tapi ia punya sesuatu yang tidak dimiliki orang biasa: ingatan tentang cara kerja dunia ini dari tingkat tertinggi.
Pemurnian Tulang... pikirnya. Biasanya dilakukan dengan menarik Qi dari luar dan memaksanya membersihkan kotoran tulang. Tapi kalau tidak ada Qi yang bisa ditarik, cari sumber lain.
Ia menunduk, melihat tanah yang lembap, melihat lumut yang menempel di batang pohon, melihat tetesan air yang jatuh dari daun. Setiap benda di dunia ini mengandung energi — tidak sama, tidak sepadat Qi langit, tapi ada.
"Kalau aku tidak bisa menarik Qi secara langsung, aku akan menyerap energi dari lingkungan ini sedikit demi sedikit," gumamnya pelan. "Lambat, tapi pasti. Dan yang paling penting... tidak ada yang tahu cara ini selain aku."
Ia mulai berjalan lagi, pelan dan hati-hati. Setiap langkah diperhitungkan. Ia tidak menabrak semak belukar, tidak menginjak ranting kering. Di hutan seperti ini, suara yang tidak perlu bisa memanggil hal-hal yang sebaiknya tidak ditemui.
Belum berjalan sejauh satu li, suara geraman terdengar dari kanan.
Fan Zheng berhenti mendadak, tubuhnya menekuk di balik pohon besar. Kabut agak menipis di sana, dan ia melihat sepasang mata hijau bercahaya menatapnya dari balik semak. Tubuh makhluk itu sebesar sapi, bulu abu-abu, taring menonjol keluar dari mulut yang berbusa.
Serigala Kabut... kenali Fan Zheng dari ingatan pemuda yang dulu mendiami tubuh ini. Biasanya setara dengan tingkat akhir Pemurnian Tubuh. Bisa mengeluarkan Qi lemah dari mulut. Berbahaya untuk tubuh yang belum mencapai tingkat pertama.
Serigala itu melompat keluar, cakarnya memancarkan cahaya pucat — gelombang energi rendah yang mematikan bagi orang biasa.
Fan Zheng tidak berlari. Lari hanya akan memicu naluri berburu makhluk itu. Ia juga tidak berdiri diam menunggu diserang. Ia melangkah ke samping tepat saat serigala itu melompat, menghindari gigitan mematikan hanya dengan hitungan milimeter. Taring serigala itu mengoyak udara di samping telinganya.
Tanpa Qi, ia tidak bisa melawan dengan kekuatan. Tapi ia bisa memanfaatkan kekuatan lawan.
Saat serigala itu mendarat dan berbalik untuk menyerang lagi, Fan Zheng tidak mundur. Ia maju, menunduk, dan menepis sisi leher serigala itu dengan tangan terbuka — bukan untuk melukai, tapi untuk mengarahkan momentum serangan ke arah pohon besar di dekatnya.
Serigala itu kehilangan keseimbangan dan menabrak batang pohon dengan suara duar! yang keras. Ia meringis, linglung sejenak.
Itu cukup.
Fan Zheng tidak menyerang. Ia tahu pukulan tangan kosongnya takkan melukai kulit tebal makhluk itu. Ia justru berbalik dan berlari masuk lebih dalam ke kabut, sebelum serigala itu sadar kembali.
"Berlari bukan tanda kalah," bisiknya pada diri sendiri sambil melompat melewati akar pohon besar. "Ini taktik untuk memilih medan pertempuran yang lebih menguntungkan."
Ia terus berlari sampai napasnya memburu, berhenti hanya saat ia yakin sudah keluar dari jangkauan pendengaran serigala itu. Punggungnya bersandar pada batang pohon yang tertutup lumut, napasnya diatur pelan-pelan. Tubuh ini memang lemah, belum terbiasa dengan aktivitas berat. Tapi kemampuan berpikirnya masih setajam dulu.
Aku butuh cara untuk memurnikan tubuh ini tanpa bergantung pada Akar Spiritual, pikirnya. Kalau aku menemukan sumber energi alami yang cukup murni... mata air panas, lokasi pertemuan dua aliran energi, atau sisa-sisa tempat yang pernah dihuni makhluk kuat.
Ia melihat ke sekeliling. Kabut di depannya tampak sedikit lebih terang, seakan ada cahaya samar di kejauhan. Tapi di sampingnya, tanah terlihat retak, dan ada jejak bekas pertarungan — bekas api yang membakar semak belukar, dan bekas cakar yang dalam di batang pohon.
Ada yang pernah lewat sini... atau masih di sini, batinnya.
Ia berjalan hati-hati mengikuti arah retakan tanah itu, sampai akhirnya ia melihat sesuatu yang membuatnya berhenti mendadak.
Di sebuah celah berbatu yang terlindung dari pandangan, terdapat mata air kecil. Airnya jernih, memantulkan cahaya yang aneh — bukan cahaya matahari, tapi pendar lembut berwarna putih kebiruan. Dan di tepi mata air itu, terbaring seekor macan tutul dengan sayap tipis di punggungnya, napasnya tersengal-sengal. Sebelah sayapnya terluka parah, darah berwarna merah keemasan merembes ke tanah di sekitarnya.
Macan Sayap... Fan Zheng mengenali jenis binatang ini. Biasanya berada di tingkat Qi Gathering. Darahnya mengandung energi murni. Kalau bisa didapatkan dengan benar, bisa mempercepat Pemurnian Tulang berkali-kali lipat.
Makhluk itu mengangkat kepala saat merasakan kehadiran Fan Zheng, menggeram lemah, matanya menatap waspada. Ia tidak bisa terbang, tidak bisa melompat jauh. Luka di sayapnya terlihat sangat dalam.
Fan Zheng tidak melangkah maju. Ia berhenti di jarak aman, menatap makhluk itu dengan tenang.
"Aku tidak bermaksud melukaimu," ucapnya pelan, suaranya lembut tapi jelas menembus keheningan. "Kita sama. Sama-sama terluka. Sama-sama terjebak di tempat yang berbahaya."
Macan Sayap itu menurunkan kepalanya perlahan, geramannya mereda. Seakan bisa merasakan tidak ada niat jahat dari manusia di hadapannya.
Fan Zheng mendekat perlahan, dengan gerakan sangat lambat. "Lukamu dalam. Kalau dibiarkan, infeksi akan menyebar. Dan di hutan ini, makhluk lemah tak bertahan lama. Biar aku bantu."
Ia merobek bagian bawah jubahnya, lalu dengan hati-hati mendekati sayap yang terluka. Makhluk itu gemetar, tapi tidak menyerang. Fan Zheng mengikat luka itu sekuat tenaga tanpa menyakiti lebih lanjut.
"Selesai," ucapnya pelan. "Sekarang kau istirahat."
Ia berbalik untuk pergi ke tepi mata air, berniat meminum sedikit air untuk menyegarkan tubuh. Tapi tepat saat ia menunduk...
Pandangannya menangkap sesuatu di permukaan air. Bukan bayangannya sendiri. Bukan bayangan makhluk itu.
Bayangan sembilan sosok, berdiri melingkar di atas cermin air itu.
Dan suara, bukan dari luar, tapi dari dalam kepalanya sendiri — suara yang ia kenal sangat baik. Suara yang ia dengar ribuan tahun.
"Dia menemukan Mata Air Jiwa... lebih cepat dari yang kami duga."
"Kalau dia menyerapnya, dia akan melompat ke Qi Gathering dalam hitungan hari. Kita tidak bisa membiarkan itu terjadi."
"Kirimkan utusan. Pastikan dia tidak keluar dari hutan ini hidup-hidup. Kali ini... habis."
Air itu beriak hebat, dan bayangan itu lenyap.
Fan Zheng berdiri kaku, tangannya mengepal erat di sisi tubuh.
Mereka mengawasinya. Sembilan Dewa itu tidak cukup hanya merampas kekuatannya. Mereka ingin memastikan dia tidak pernah bangkit lagi. Dan sekarang... mereka mengirim seseorang untuk menyelesaikan apa yang belum selesai ribuan tahun lalu.
Ia menoleh ke arah kedalaman hutan, ke arah jalan yang harus ia tempuh. Kabut di sana kini terasa lebih gelap, lebih berat.
"Jadi permainan ini bukan cuma soal bertahan hidup," gumamnya pelan, senyum tipis terukir di bibirnya. "Ini permainan taktik. Dan kalian lupa... aku yang menulis buku tentang taktik itu."
Tiba-tiba, suara siulan tajam membelah udara dari arah belakang.
Fan Zheng menoleh cepat — dan melihat anak panah meluncur cepat ke arah dadanya...