Anak panah meluncur cepat, membelah kabut dengan suara siulan tajam.
Fan Zheng tidak punya waktu untuk berpikir. Tubuhnya bereaksi sebelum kesadarannya sepenuhnya memproses bahaya — insting ribuan tahun bertarung melawan makhluk kuat, dewa, dan bencana. Ia memiringkan kepala ke kanan, membiarkan anak panah itu melesat hanya sejengkal dari pipinya, menancap ke batang pohon di belakangnya dengan suara thuk! yang dalam.
Bulu ekor panah itu masih bergetar.
"Reaksi yang lumayan cepat," suara dingin terdengar dari balik pepohonan. "Tapi kau tidak bisa menghindari selamanya."
Fan Zheng berdiri tegak, menatap arah suara itu. Kabut perlahan menipis, dan sosok seseorang melangkah keluar — pria muda dengan jubah hitam ketat, wajahnya tertutup kain, hanya sepasang mata tajam yang terlihat. Di tangannya, busur kayu hitam sudah ditarik kembali, anak panah kedua terpasang, ujungnya menunjuk tepat ke arah d**a Fan Zheng.
"Siapa kau?" tanya Fan Zheng tenang, tidak mundur selangkah pun.
"Pemburu bayaran," jawab pria itu datar. "Ada yang membayar mahal untuk kepalamu. Katanya kau ancaman besar. Tapi melihat kondisimu... sepertinya klienku terlalu khawatir."
"Klienmu?" Fan Zheng mengerutkan kening. "Siapa?"
"Rahasia klien tidak boleh dibocorkan," pria itu mengangkat busur lebih tinggi. "Tapi kalau kau mati, aku boleh kasih tahu di neraka. Mereka bilang kau Dewa Kesepuluh. Sang Langit. Lucu, kan? Dewa yang jatuh sampai ke tingkat Pemurnian belum selesai."
Fan Zheng merasakan dingin menjalar di tulangnya. Mereka tahu. Sembilan Dewa itu tahu dia masih hidup. Dan mereka mengirim pemburu untuk memastikan dia mati di sini, di hutan ini, tanpa ada yang tahu.
"Jadi mereka takut," gumamnya pelan. "Takut kalau aku bangkit. Takut kalau aku kembali."
"Bangkit?" Pemburu itu tertawa sinis. "Dengan tubuh yang bahkan belum bisa mengumpulkan Qi? Jangan bermimpi. Sekarang... mati saja dengan tenang."
Ia melepaskan busur.
Anak panah kedua meluncur — lebih cepat, lebih tajam, ujungnya berpendar cahaya hijau pucat. Qi Transformation. Pemburu ini setidaknya di tingkat Qi Warrior atau bahkan Qi Transformation. Panahnya tidak cuma kayu dan besi — ia membawa energi yang bisa merobek kulit dan daging dengan mudah.
Fan Zheng melompat ke samping, panah itu menancap ke tanah tempat kakinya berdiri sesaat lalu — meledak kecil, memercikkan tanah dan rumput ke segala arah.
"Gerakan yang bagus," pemburu itu mengangguk, menarik panah ketiga. "Tapi berapa lama kau bisa bertahan tanpa Qi? Tanpa kekuatan? Tanpa apa-apa?"
"Selama aku masih bisa berpikir," jawab Fan Zheng, matanya meneliti sekeliling dengan cepat.
Ia tidak bisa mel frontal. Tanpa Qi, tanpa senjata, tanpa persiapan — melawan seseorang di tingkat Qi Transformation adalah bunuh diri. Tapi ia tidak perlu menang dengan kekuatan. Ia hanya perlu bertahan hidup. Dan untuk itu, ia punya satu keunggulan yang tidak dimiliki pemburu itu: pengetahuan tentang cara kerja dunia ini.
Panah itu mengandung Qi beracun, pikirnya, melihat percikan hijau yang tertinggal di tanah. Zatnya bereaksi dengan tanah lembap ini... mematikan bagi organisme kecil, tapi untuk manusia... efeknya akan melumpuhkan dalam hitungan menit kalau terkena.
"Berhenti menghindar!" Pemburu itu mulai kesal. Ia tidak menyangka sasaran yang dianggap "sampah" ini bisa menghindari dua panah berturut-turut. Ia melangkah maju, busur di tangan, siap menembak lagi. "Berlutut! akan aku kasih kau mati dengan cepat!"
Fan Zheng tidak berlutut. Ia justru bergerak — bukan menjauh, tapi mendekat.
"Gila," gumam pemburu itu, melepaskan panah ketiga.
Fan Zheng menunduk, panah itu melesat di atas kepalanya. Ia terus berlari, melompat melewati akar pohon besar, mendekati mata air tempat Macan Sayap terbaring.
Kau mau main dekat? Pemburu itu tersenyum miring, meletakkan busur di punggung dan menarik pedang pendek yang terselip di pinggang. Baik. Aku akan potong kau jadi potongan-potongan.
Ia mengejar, langkahnya cepat, Qi mengalir di kakinya membuatnya melesat seperti bayangan.
Fan Zheng mencapai tepi mata air, berbalik, dan berhenti.
"Berhenti di sana," ucapnya tenang.
Pemburu itu tertawa, berhenti sepuluh langkah di depannya, pedang berkilauan hijau di tangannya. "Kau mau melawanku? Dengan tangan kosong?"
"Kau punya tiga pilihan," kata Fan Zheng pelan tapi jelas. "Pertama: mundur sekarang. Kedua: serang dan mati. Ketiga: terus berdiri di sana dan menyesal."
Pemburu itu mengerutkan kening, lalu tertawa keras. "Pilihan yang lucu. Kau pikir kau siapa? Dewa? Kau cuma sampah tanpa kekuatan!"
Ia melangkah maju, pedang diangkat tinggi, siap menebas.
"Kau benar," kata Fan Zheng. "Aku memang sampah tanpa kekuatan sekarang. Tapi kau lupa satu hal."
"Apa?"
"Kau berdiri di atas tanah yang sudah kusiapkan."
Pemburu itu terdiam sesaat, lalu melihat ke bawah.
Tanah di kakinya berubah. Rumput di sekitarnya mulai layu dengan cepat, mata air yang merembes dari tanah berubah warna jadi kehijauan. Panah-panah yang ditembakkan pemburu itu tadi — semuanya mengandung racun Qi yang perlahan meresap ke tanah, bercampur dengan mata air, dan menciptakan zona beracun yang tak terlihat.
"Apa..." Pemburu itu mencoba melangkah mundur, tapi kakinya terasa berat. Racun itu tidak mematikan langsung, tapi efeknya melumpuhkan otot, memperlambat gerakan, mengaburkan pandangan. "Kau..."
"Aku tidak menciptakan racun itu," kata Fan Zheng tenang. "Kau sendiri yang menembakkannya ke sini. Aku cuma memanfaatkan apa yang sudah ada."
Pemburu itu gemetar, pedang di tangannya hampir terjatuh. "Kau... kau licik!"
"Survival bukan soal jujur atau curang," jawab Fan Zheng. "Ini soal siapa yang tetap berdiri di akhir."
Ia berjalan mendekat, mengambil sebatang ranting kayu yang cukup keras dari tanah. "Dan sekarang... giliranmu untuk berlari."
Pemburu itu menatapnya dengan mata penuh kebencian dan ketakutan. Ia tahu ia tidak bisa menang sekarang. Tubuhnya mulai lumpuh. "Kau... kau tidak akan lolos! Mereka akan kirim lebih banyak! Mereka tidak akan berhenti sampai kau mati!"
"Biarkan mereka datang," kata Fan Zheng dingin. "Aku akan tunggu mereka. Satu per satu."
Pemburu itu merangkak mundur, lalu dengan sisa tenaganya, berbalik dan berlari — atau lebih tepatnya merangkak — masuk ke dalam kabut, menghilang di antara pepohonan.
Fan Zheng tidak mengejar. Ia tahu racun itu akan menghabisi pemburu itu dalam beberapa jam. Membiarkannya pergi adalah pesan yang lebih jelas untuk sembilan dewa. "Kirim siapa pun, aku akan tetap bertahan".
Ia berbalik ke arah mata air. Macan Sayap masih terbaring di sana, tapi kepalanya terangkat, matanya menatap Fan Zheng dengan tatapan yang berbeda sekarang. Bukan lagi tatapan waspada. Tapi tatapan hormat.
"Kau melihat semuanya ya?" tanya Fan Zheng pada makhluk itu.
Macan Sayap itu mengangguk pelan.
"Aku tidak sekuat yang kau pikir," Fan Zheng duduk di tepi mata air, membasahi tangannya dengan air jernih. "Tapi aku tidak akan menyerah."
Ia melihat ke permukaan air. Kali ini tidak ada bayangan. Tidak ada suara. Tidak ada sembilan sosok. Tapi ia tahu mereka sedang menonton. Mereka sedang menunggu.
Kalian bisa mengirim siapa pun, pikirnya, menatap pantulan dirinya sendiri di air. Kalian bisa mencoba membunuhku berkali-kali. Tapi kalian lupa satu hal penting.
Ia menutup mata, mulai merasakan energi mata air itu — murni, lembut, dan kaya.
Dewa Kesepuluh tidak akan mati begitu mudah.
Tiba-tiba, suara gemuruh terdengar dari kejauhan — bukan gemuruh petir, bukan gemuruh gunung.
Gemuruh ribuan langkah kaki.
Fan Zheng membuka mata, menatap ke arah kedalaman hutan. Kabut di sana mulai berguncang, seakan ada pasukan besar yang bergerak masuk.
Dan di antara suara langkah kaki itu, satu suara terdengar jelas — suara yang tidak asing.
"Fan Zheng... kami tahu kau di sini. Serahkan diri... atau hutan ini akan jadi kuburanmu."
Fan Zheng berdiri perlahan, ranting kayu di tangannya diremas sampai patah.
Mereka tidak cuma mengirim satu pemburu. Mereka mengirim pasukan.
Dan kali ini... tidak ada tempat untuk bersembunyi.