Di atas langit, di aula megah yang terbuat dari cahaya dan permata, sembilan sosok duduk di singgasana masing-masing. Suasana hening, tegang. Di tengah ruangan, cermin raksasa memantulkan pemandangan Hutan Kabut — tempat Fan Zheng berdiri sendirian, menunggu kedatangan pasukan.
Lei Ting, Dewa Petir dan Hukum, memukul lengan kursi dengan geram. "Sia-sia! Pemburu itu gagal! Kalau begitu, kenapa kita tidak turun sendiri? Langsung tuntaskan di tempat! Satu sambaran petir dari tanganku, selesai urusan ini!"
Xuan Wu, Dewa Keseimbangan, menggeleng pelan. "Kau lupa aturan langit, Lei Ting? Kita terikat Hukum Keseimbangan. Kekuatan kita terlalu besar untuk dunia di bawah ini. Kalau kita turun secara langsung, aura kita saja bisa mengubah iklim, memicu gempa, menghancurkan kota-kota di bawah tanpa sengaja. Kerusakannya bisa lebih besar daripada tujuannya."
"Belum lagi soal citra kita," tambah Chi Yan, Dewa Api. "Kalau sembilan Dewa turun bareng cuma buat membunuh satu orang yang belum punya kekuatan sama sekali... dunia akan bertanya-tanya. Kenapa begitu takut? Apa yang disembunyikan? Itu sama saja mengakui kalau dia masih ancaman. Dan kalau dunia tahu dia masih hidup... bisa muncul pertanyaan tentang keadilan kita."
Jin Feng, Dewa Perang, menyela dengan nada dingin. "Belum tentu dia lemah. Kalau dia bisa mengalahkan pemburu yang sudah di tingkat Qi Transformation, berarti dia punya cara yang tidak kita duga. Kalau kita turun dan gagal... malu kita seabad."
Han Yue, Dewa Air, menatap cermin dengan tatapan sulit dibaca. "Dan ada satu hal lagi. Kekuatan yang kita ambil darinya... belum sepenuhnya menyatu dengan kita. Setiap dari kita cuma memegang sebagian. Kalau kita turun dan bertarung di dunia fana, kekuatan itu bisa tidak stabil. Bisa bocor. Bisa terdeteksi. Bahkan... bisa ditarik balik olehnya kalau dia menemukan caranya."
"Mustahil!" potong Lei Ting. "Kita sudah segel sumbernya!"
"Segel bisa retak," ucap Yao Mo, Dewa Bayangan, pelan tapi pasti. "Terutama kalau yang dicari tahu cara memecahkannya adalah orang yang membuat segel itu sejak awal."
Tu Kun, Dewa Tanah, menghela napas berat. "Dan bukan kita semua sepakat membunuhnya secara langsung. Beberapa dari kita masih ragu. Mengirim pasukan... kalau berhasil, tujuan tercapai. Kalau gagal, kita bisa bilang itu inisiatif bawahan. Kita tetap bersih di mata dunia."
Shi Ming, Dewa Waktu dan Takdir, yang sejak tadi diam, akhirnya bersuara pelan. "Kita bermain api. Kalau dia bertahan hidup dari pasukan ini, orang-orang akan mulai membicarakannya. Legenda akan tumbuh. Dan legenda adalah awal dari kekuatan."
"Kalau begitu kita kirim pasukan yang lebih besar!" tegas Lei Ting. "Pasukan elit! Yang pasti selesai!"
"Kirim pasukan memang mudah," kata Yin Hua, Dewa Kehidupan, suaranya lembut tapi tegas. "Tapi semakin banyak orang yang terlibat, semakin besar kemungkinan rahasia ini bocor. Kita harus pintar. Gunakan orang yang punya alasan pribadi untuk membencinya. Biar mereka yang melakukannya, kita yang untung."
Xuan Wu mengangguk. "Benar. Biarkan dunia yang menyelesaikan urusan dunia. Kita tetap di sini, menjaga keseimbangan. Seolah-olah kita tidak tahu apa-apa."
Lei Ting masih tidak puas, tapi ia tahu mereka semua benar. Aturan, kekuatan yang belum stabil, citra, kerahasiaan... semuanya melarang mereka turun langsung.
"Baiklah," geramnya. "Tapi kalau pasukan ini juga gagal... kita cari cara lain. Apapun risikonya."
Di cermin, bayangan mereka perlahan memudar. Tapi suara terakhir yang terdengar sebelum hilang adalah bisikan Yao Mo:
"Perhatikan matanya. Kalian akan mengerti kenapa kita takut. Bukan karena kekuatannya yang dulu... tapi karena cara dia berpikir sekarang."
Kembali ke Hutan Kabut.
Fan Zheng berdiri tegak di tepi mata air. Suara langkah kaki makin dekat, makin keras. Kabut terbelah, dan barisan orang melangkah keluar — sekitar dua puluh orang, semua berseragam, membawa senjata, aura mereka rata-rata di tingkat Qi Gathering hingga Qi Warrior. Di depan memimpin mereka, seorang pria paruh baya dengan aura yang lebih padat — setidaknya di tingkat Qi Transformation.
Fan Zheng mengenali seragam itu. Pasukan penjaga wilayah keluarga Fan. Tapi kenapa mereka datang sejauh ini?
Pemimpin pasukan itu melangkah maju, matanya menatap tajam ke arah Fan Zheng.
"Fan Zheng," suaranya berat. "Kau dituduh mencuri benda pusaka keluarga dan membunuh penjaga gerbang. Kami datang untuk menangkapmu hidup atau mati."
Fan Zheng mengerutkan kening. Tuduhan itu tidak masuk akal. Tapi ia paham — ini alasan yang dibuat-buat. Biar terlihat sah. Biar mereka punya alasan untuk membunuhnya tanpa terlihat curiga.
"Aku tidak mencuri apa-apa dan tidak membunuh siapa pun," jawabnya tenang. "Kalian tahu itu. Dan kalian tahu kenapa kalian benar-benar dikirim ke sini."
Pemimpin itu terdiam sesaat, lalu melambaikan tangan. "Tangkap dia! Kalau melawan, boleh habisi!"
Pasukan itu bergerak serentak, mengelilingi Fan Zheng. Qi mulai menyala di tangan dan senjata mereka.
Tiba-tiba, geraman rendah terdengar dari samping.
Macan Sayap yang tadi terbaring, kini berdiri. Sayapnya yang diperban masih menahan sakit, tapi tubuhnya berdiri tegak di samping Fan Zheng. Matanya menatap tajam ke arah pasukan, cakarnya menggores tanah.
Pemimpin pasukan terkejut. "Binatang itu... mau melindunginya? Serang keduanya!"
Tiga orang di barisan depan melompat maju, senjata berkilau. Fan Zheng tidak mundur. Ia tidak punya kekuatan, tapi ia punya pengalaman ribuan tahun membaca gerakan lawan. Ia tahu kapan mereka mengayun, ke mana arah serangan, di mana celah keseimbangan mereka.
Ia menunduk, menghindari tebasan pedang, lalu menendang pergelangan kaki lawan yang lain. Prajurit itu terjatuh, serangannya melesat ke arah temannya sendiri. Kekacauan kecil terjadi. Tapi hanya sesaat. Pasukan itu terlatih. Mereka segera menutup celah, mendesak makin dekat.
Fan Zheng terpaksa mundur, punggungnya hampir menyentuh tepi mata air. Macan Sayap melompat, menepis dua orang dengan pukulan sayapnya, tapi ia juga terluka — pedang lawan mengiris sisi kanan sayapnya, darah kembali mengalir.
"Kau tidak bisa menang, Fan Zheng!" teriak pemimpin pasukan. "Menyerah saja! Kami janji tidak akan menyiksamu!"
"Menyerah?" Fan Zheng tertawa pelan, matanya menyapu sekeliling. "Kalian bilang aku mencuri dan membunuh. Kalau aku menyerah, apa yang akan terjadi? Aku akan dihukum mati tanpa sidang. Tanpa pembelaan. Dan itu sudah direncanakan sejak awal."
Ia melihat ke atas, ke arah celah di antara dedaunan tempat langit terlihat samar.
"Kalian yang di atas sana," batinnya. "Kalian pikir mengirim orang-orang ini akan menyelesaikan semuanya? Kalian pikir dengan menyembunyikan diri di balik aturan dan bawahan, kalian aman?"
Ia kembali menatap pasukan yang semakin mendekat.
"Maaf," ucapnya pelan pada Macan Sayap di sampingnya. "Kau terlibat karena menolongku."
Macan Sayap menggeram pelan, seakan menjawab: ini pilihanku.
Fan Zheng menarik napas dalam. Ia tidak bisa melawan dua puluh orang sekaligus dengan tangan kosong. Tapi ia tidak perlu menang. Ia cuma perlu bertahan hidup cukup lama untuk menemukan jalan keluar.
"Siap!" teriak pemimpin pasukan, mengangkat pedang tinggi. "Serang bersama-sama!"
Saat mereka melangkah maju serentak, Fan Zheng melirik ke permukaan mata air di belakangnya. Cahaya pendarnya makin terang, seakan merespons ketegangan yang memuncak. Dan di bawah permukaan air yang tenang... sesuatu mulai bergerak.
Sesuatu yang besar. Sesuatu yang sudah lama tertidur di dasar mata air itu....