"Seraaaaang..!". Pedang pemimpin pasukan turun. Dua puluh prajurit melangkah maju serentak, senjata terangkat, Qi menyala di ujung bilah — seakan dinding baja bergerak menutup jalan keluar.
Fan Zheng tidak mundur lagi. Kakinya sudah di tepi mata air. Di belakangnya air berkilau samar, dan di dalamnya... pergerakan itu makin jelas. Bukan ikan. Bukan arus biasa. Sesuatu yang jauh lebih besar, jauh lebih kuat, dan sepertinya... sedang terbangun.
Macan Sayap di sampingnya menggeram keras, suaranya bergema menembus kabut. Ia melangkah satu langkah ke depan, sayap yang diperban terentang sekuat tenaga, menutupi sebagian tubuh Fan Zheng. Bukan melarikan diri — ia siap bertarung sampai mati.
"Tahan!" teriak Fan Zheng, bukan ke arah pasukan, tapi ke arah makhluk itu. Tapi sudah terlambat. Tiga prajurit di barisan depan melompat serentak, pedang menyambar ke arah mereka berdua.
Fan Zheng tidak punya senjata. Tapi ia punya pengalaman ribuan tahun membaca gerakan. Ia tidak menangkis — ia memutar tubuh, menekan bahu Macan Sayap ke bawah, dan membiarkan ketiga pedang itu melesat di atas kepala mereka, menancap ke tanah di tepi air.
Dan saat itulah — mata air itu meledak ke atas.
Bukan karena serangan mereka. Tapi karena sesuatu yang ada di dasar itu akhirnya bangun.
Pilar air setinggi sepuluh meter menyembur ke udara, membasahi semua orang di dekatnya. Kabut di sekeliling mendadak berputar kencang, seakan ada pusaran tak kasat mata yang terbentuk tepat di atas mata air. Dari dalam air yang jatuh kembali, terdengar suara — bukan suara gemuruh air, tapi suara nyanyian rendah, kuno, dan memilukan.
Prajurit yang tadi melompat mundur terhuyung, wajah mereka pucat. Pedang di tangan mereka gemetar.
"Apa... apa ini?!" seru salah seorang, matanya melotot menatap air yang kini tenang kembali, tapi memancarkan cahaya biru yang jauh lebih terang dari sebelumnya.
Pemimpin pasukan juga berhenti melangkah. Wajahnya tegang, matanya menatap permukaan air dengan takut. "Mata Air Jiwa..." gumamnya pelan. "Katanya ada roh yang menjaga tempat ini. Legenda lama... aku kira itu cuma cerita untuk menakuti anak-anak."
"Legenda itu nyata," suara Fan Zheng terdengar tenang di tengah keheningan yang mendadak. "Dan kalian baru saja membangunkannya."
Ia melangkah maju selangkah, bukan ke arah pasukan, tapi ke tepi air. Cahaya biru itu menyentuh wajahnya, dan untuk sesaat, bayangan di permukaan air bukan lagi tubuh pemuda yang lemah itu — melainkan sosok tinggi dengan jubah mengalir, mata yang memancarkan cahaya bintang.
Pemimpin pasukan menyipitkan mata. "Apa yang kau lakukan?!"
"Aku tidak melakukan apa-apa," jawab Fan Zheng pelan. "Aku cuma berdiri di sini. Kalian yang memaksa masuk ke tempat suci ini. Kalian yang membawa senjata dan niat membunuh ke gerbangnya."
"Omong kosong!" Pemimpin itu memberi isyarat. "Kita semua maju sekaligus! Jangan pedulikan air itu! Dia cuma satu orang dan satu binatang! Kita pasti menang!"
Pasukan itu melangkah maju lagi, ragu-ragu tapi tetap bergerak. Tapi sebelum mereka bisa melangkah ketiga kalinya, permukaan air terbelah.
Sesosok makhluk keluar perlahan. Tubuhnya seperti ular raksasa tapi bersisik berwarna biru permata, sepasang tanduk pendek melengkung di kepalanya, dan sepasang mata yang besar dan lembut — seperti dua bulan purnama. Naga Air. Tapi bukan naga yang bisa terbang tinggi ke langit. Ini naga yang hidup di air, pelindung mata air ini sejak ribuan tahun lalu.
Ia tidak menyerang. Ia hanya mengangkat kepalanya tinggi-tinggi, dan mengeluarkan suara rendah yang membuat tanah di sekitarnya bergetar pelan.
Prajurit-prajurit itu mundur spontan. Bukan karena takut — tapi karena tekanan yang dipancarkan makhluk itu. Aura yang setidaknya setara dengan Soul Mastery.
"Naga... itu Naga Air, sang penjaga Mata Air..." bisik salah satu prajurit dengan suara bergetar. "Katanya siapa yang mengganggu kedamaian di sini... tidak akan bisa keluar hidup-hidup."
Pemimpin pasukan menelan ludah. Ia tahu mereka tidak siap menghadapi makhluk setingkat itu. Tapi ia juga tahu kalau pulang tanpa membawa kepala Fan Zheng, nasibnya tidak akan lebih baik.
"Jangan percaya takhayul!" teriaknya, berusaha menyembunyikan ketakutannya. "Itu cuma binatang biasa! Serang! Serang dari jarak jauh dengan panah dan tombak!"
Beberapa prajurit di belakang mengangkat busur dan melepas anak panah ke arah Fan Zheng dan Naga Air sekaligus.
Tapi sebelum panah bisa sampai, Naga Air menggerakkan kepalanya pelan. Dinding air memancar dari mata air, menangkis semua panah seakan mereka cuma butiran debu. Air itu jatuh kembali ke kolam, tenang seakan tidak terjadi apa-apa.
Fan Zheng menatap Naga Air itu. Ia tidak mengerti kenapa makhluk itu melindunginya. Tapi ia merasa ada hubungan — entah karena ia menolong Macan Sayap, entah karena sesuatu yang lebih dalam, sesuatu yang terhubung dengan siapa dirinya dulu.
"Kau bisa bantu kami?" tanyanya pelan, seakan makhluk itu bisa mengerti kata-katanya.
Naga Air menatapnya dengan mata besarnya. Lalu perlahan mengangguk.
Dan saat itu juga, ia menggerakkan ekornya yang raksasa, menciptakan gelombang air yang menyapu tepi mata air. Pasukan yang berdiri terlalu dekat terlempar ke belakang, jatuh ke tanah berlumpur, senjata terlepas dari tangan.
"Mundur!" teriak pemimpin pasukan, akhirnya menyerah. "Mundur dulu! Kita tunggu di luar kabut! Kita blokir jalan keluar! Kalau dia tidak bisa keluar, dia akan mati di dalam sendiri!"
Pasukan itu mundur perlahan, masih menatap takut ke arah Naga Air, sampai akhirnya mereka menghilang di balik kabut. Suara langkah kaki mereka menjauh, dan keheningan kembali menyelimuti tempat itu.
Fan Zheng menghela napas panjang, lalu menoleh ke Naga Air. Makhluk itu menatapnya sebentar, lalu menundukkan kepalanya rendah — seakan memberi hormat.
"Terima kasih," ucap Fan Zheng tulus.
Naga Air mengeluarkan suara lembut, lalu melirik ke arah air kolam, seakan menyuruhnya mendekat.
Fan Zheng berjalan pelan ke tepi air. Di permukaan yang tenang, ia melihat sesuatu yang belum pernah dilihat sebelumnya. Di dasar kolam, ada cahaya yang menyala terang — sebuah benda yang tertanam di batu dasar, sebagian tertutup lumut.
Ia melirik Naga Air. Makhluk itu mengangguk lagi.
Fan Zheng menurunkan tubuhnya, membasahi tangan, dan meraih benda itu. Berat. Dingin. Saat ia menariknya ke permukaan, air di sekelilingnya seakan bergerak menyesuaikan bentuknya.
Itu bukan benda biasa. Itu sebuah jimat berbentuk seperti peta — tapi bukan peta daratan. Garis-garis di atasnya seperti aliran Qi, seperti meridian tubuh, seperti jalur energi langit dan bumi.
Dan di tengah jimat itu, ada satu tulisan kuno yang perlahan menyala saat dipegangnya:
"Jalan pulang tidak pernah hilang. Ia hanya menunggu orang yang tahu cara membacanya."
Fan Zheng menatap tulisan itu, jantungnya berdebar kencang.
Tiba-tiba, suara samar terdengar dari kejauhan — bukan suara pasukan, bukan suara binatang. Suara seseorang memanggil namanya, tapi bukan dari luar. Dari dalam kabut, dari arah yang seharusnya tidak ada jalan keluar.
"Fan Zheng... kau di sana?"
Suara wanita. Lembut, tapi tegas. Dan terdengar sangat familiar.
Fan Zheng menegakkan tubuh, menatap ke arah kabut yang mulai bergerak perlahan seakan ada yang berjalan mendekat.
"Siapa kau?" tanyanya.
Kabut terbelah. Dan sesosok bayangan muncul perlahan, berjalan tenang menuju tepi mata air.
"Kau tidak mengenaliku?" suara itu terdengar semakin dekat. "Padahal dulu... kaulah yang mengajariku cara membaca langit."