Kabut itu perlahan terbelah, seakan ada tangan tak kasat mata yang menyibakkannya. Sosok yang muncul berjalan tenang, langkahnya ringan, seakan beratnya tubuh ini tidak terasa di tanah hutan yang berlumpur dan berakar menjulang.
Wanita itu tampak muda, mungkin sekitar usia dua puluh lima tahun. Ia mengenakan jubah berwarna biru laut, dihiasi sulaman motif gelombang yang berkilau pelan setiap kali bergerak. Rambut hitamnya terurai panjang, diikat sederhana di bagian atas kepala dengan peniti giok berbentuk tetesan air. Wajahnya cantik, bukan cantik yang memikat sekilas — melainkan cantik yang tenang, mendalam, seperti permukaan danau yang tak terganggu angin.
Tapi yang paling membuat Fan Zheng terhenti adalah matanya.
Mata itu berwarna biru kelabu, jernih dan tajam, dengan sorot yang seakan sudah melihat ribuan musim berlalu. Dan di dalam tatapan itu... ada sesuatu yang sangat familiar. Sesuatu yang mengingatkannya pada masa yang sudah lama terkubur oleh waktu dan pengkhianatan.
"Kau tidak mengenaliku?" suaranya lembut, namun menembus keheningan dengan kejelasan yang mengejutkan. "Padahal dulu... kaulah yang mengajariku cara membaca langit."
Fan Zheng berdiri mematung. Jimat berbentuk peta energi di tangannya terasa semakin hangat, seakan merespons kehadiran wanita ini. Di sampingnya, Macan Sayap merendahkan kepalanya, dan Naga Air di kolam menundukkan kepala raksasanya — seakan mereka menghormati seseorang yang kedudukannya tidak kalah tinggi dari Fan Zheng sendiri.
"Siapa kau?" tanyanya lagi, meskipun di lubuk hatinya, sebuah nama mulai muncul dari balik kabut ingatan ribuan tahun silam.
Wanita itu berhenti berjalan beberapa langkah di depannya. Ia menatap Fan Zheng lama sekali, seakan sedang membandingkan sosok pemuda yang berdiri di hadapannya dengan sosok agung yang dulu pernah berdiri di puncak tertinggi langit. Mata itu menyiratkan kesedihan, harapan, dan kehati-hatian yang mendalam.
"Namaku Han Ling," jawabnya pelan. "Adik kandung Han Yue, Dewa Air Abadi."
Fan Zheng menahan napas. Nama itu memang terngiang di telinganya. Han Ling — jenius yang diakui seantero langit, yang memiliki bakat luar biasa dalam memahami aliran energi dan keseimbangan alam. Tapi ia menghilang ribuan tahun yang lalu, tanpa kabar, tanpa jejak. Banyak yang mengira ia sudah tewas dalam sebuah bencana alam kuno. Bahkan kakaknya sendiri, Han Yue, seakan sengaja melupakan keberadaannya.
"Han Ling..." Fan Zheng mengulangi nama itu pelan. "Kau seharusnya sudah tidak ada di dunia ini. Ribuan tahun lalu..."
"Ribuan tahun yang lalu, aku tidak mati," potong Han Ling lembut, namun tegas. "Aku hanya pergi. Menjauh dari langit yang mulai berubah warna. Menjauh dari permainan kekuasaan yang tidak lagi aku pahami."
Ia melirik ke arah Naga Air di kolam, lalu kembali menatap Fan Zheng.
"Aku tahu kau pasti akan datang ke sini suatu hari," ucapnya. "Bukan karena aku meramalnya. Tapi karena aku tahu, kalau kau jatuh, tempat pertama yang akan kau cari adalah tempat di mana energi paling murni dan paling sedikit terganggu oleh campur tangan sembilan dewa."
Fan Zheng menatapnya tajam. "Kau mengawasiku?"
"Aku menunggumu," koreksinya tenang. "Dan bukan aku saja. Tapi mari kita tidak bicara di sini dulu. Pasukan di luar kabut belum pergi. Mereka sedang menunggu. Dan semakin lama kita berdiri di tempat terbuka ini, semakin besar kemungkinan mereka mengirim bantuan."
Ia memberi isyarat dengan tangan. "Ikut aku. Ada tempat di dekat sini — gua yang tersembunyi di balik dinding air terjun. Aman dari pandangan dan pendengaran."
Fan Zheng melirik Naga Air dan Macan Sayap. Naga Air menggerakkan kepalanya pelan, seakan menyetujui. Macan Sayap juga menggerakkan telinga, lalu mundur selangkah ke arah Han Ling.
"Baik," kata Fan Zheng. "Tapi kau harus menjelaskan banyak hal."
"Nanti," jawab Han Ling sambil berbalik arah, melangkah masuk ke jalur yang lebih dalam dan sempit di antara pepohonan. "Sekarang bertahan hidup dulu. Penjelasan bisa menunggu."
Mereka berjalan dalam diam. Kabut semakin tebal semakin jauh mereka menjauhi mata air. Tanah di bawah kaki menjadi lebih berbatu, dan suara gemuruh air mulai terdengar semakin nyaring di kejauhan. Han Ling berjalan di depan, langkahnya yakin, seakan ia sudah hafal setiap jengkal jalan di dalam hutan ini.
"Berapa lama kau di sini?" tanya Fan Zheng sambil menyeberangi batang pohon tumbang.
"Lama," jawabnya singkat. "Cukup lama untuk melihat perubahan yang terjadi di permukaan tanah maupun di langit. Cukup lama untuk menyadari bahwa ketakutan akan kekuasaan bisa mengubah orang-orang yang dulu kita percaya menjadi sesuatu yang sama sekali berbeda."
"Termasuk kakakmu?" tanya Fan Zheng hati-hati.
Han Ling berhenti sejenak, punggungnya tegak. "Termasuk kakakku," akui ia pelan. "Aku tidak tahu kapan tepatnya dia mulai berubah. Mungkin sejak kekuasaan terasa terlalu nyaman. Mungkin sejak keinginan untuk berada di atas segalanya mengalahkan pertimbangan lainnya. Yang aku tahu... dia bukan lagi orang yang dulu aku kenal."
Ia melanjutkan langkah. "Dan sembilan dewa lainnya juga. Mereka semua terjebak dalam satu ketakutan yang sama — takut kalah, takut digantikan, takut tidak lagi dihormati. Dan ketakutan itu membuat mereka melakukan hal-hal yang sebenarnya tidak mereka inginkan."
"Termasuk mengkhianati?" tanya Fan Zheng dingin.
Han Ling terdiam sejenak. "Ketakutan bisa membuat orang melakukan hal yang tidak masuk akal. Dan ada satu hal yang harus kau pahami, Fan Zheng..."
Ia berhenti di depan tirai air yang jatuh dari tebing setinggi dua puluh meter. Air terjun itu memblokir pandangan ke belakang, menciptakan dinding air yang konstan dan berisik.
"Masuk," katanya sambil menyibakkan tirai air dengan gerakan tangan yang halus, seakan air itu sendiri menyingkir memberi jalan.
Di balik air terjun itu terdapat gua yang cukup luas, kering, dan diterangi cahaya samar yang memancar dari kristal-kristal kecil yang menempel di langit-langit. Di sudut gua, ada tumpukan kayu kering dan bekas api unggun yang sudah lama padam.
Han Ling menyalakan api dengan satu gerakan tangan — tidak dengan nyala api yang kasar, melainkan dengan mengarahkan aliran Qi dari udara ke kayu kering. Api muncul pelan, stabil, dan hangat.
"Duduk," katanya, lalu duduk di seberang Fan Zheng. Macan Sayap berbaring di mulut gua, menutup jalan masuk, sementara Naga Air tetap tinggal di mata air untuk menjaga dari kejauhan.
Fan Zheng meletakkan jimat berbentuk peta energi di tanah di antara mereka.
"Jelaskan," katanya singkat.
Han Ling menatap jimat itu, lalu menatap Fan Zheng.
"Pertama," mulainya pelan namun tegas, "mengapa sembilan dewa tidak turun sendiri untuk membunuhmu? Bukan karena mereka tidak mau. Tapi karena mereka tidak bisa — setidaknya tidak dengan mudah."
Ia menunjuk ke arah langit-langit gua, seakan menembus batu menunjuk ke arah langit di atas hutan.
"Ada aturan yang mengikat semua dewa — Hukum Keseimbangan. Kekuatan yang diperlukan untuk mempertahankan keseimbangan dunia sekaligus mencegah keruntuhan struktur alam semesta ini juga menjadi rantai yang mengikat mereka. Kalau mereka turun ke dunia fana dengan kekuatan penuh, tekanan yang dihasilkan bisa merusak fondasi dunia ini. Bisa memicu bencana yang menelan jutaan nyawa. Dan kalau itu terjadi, seluruh dunia akan tahu ada yang salah di langit. Pertanyaan akan muncul. Keraguan akan tumbuh. Dan kekuasaan mereka bisa runtuh dari dalam."
Han Ling berhenti sejenak, membiarkan kata-katanya meresap.
"Kedua," lanjutnya, "kekuatan yang mereka rampas darimu belum sepenuhnya menyatu dengan mereka. Mereka membagi kekuatanmu menjadi sembilan bagian. Tapi kekuatanmu bukan sekadar energi — itu juga pemahaman, keteraturan, koneksi mendalam dengan prinsip-prinsip alam semesta. Bagian-bagian itu tidak mau diam saja di dalam tubuh mereka. Kadang tidak stabil. Kadang bocor. Kalau mereka bertarung di dunia fana, risikonya terlalu besar — kekuatan itu bisa lepas kendali, dan dunia akan tahu apa yang sebenarnya terjadi."
"Dan ketiga..." Han Ling menatap mata Fan Zheng dengan tatapan yang tulus. "Tidak semua dari mereka sepenuhnya setuju. Ada yang ragu. Ada yang merasa bersalah. Tapi tidak ada yang berani menentang mayoritas. Takut dikucilkan. Takut dianggap pengkhianat. Takut dibuang juga."
Fan Zheng mendengarkan dalam diam. Kata-kata itu masuk akal. Terlalu masuk akal. Tapi itu tidak mengubah fakta bahwa mereka tetap melakukannya.
"Alasan yang masuk akal tidak mengubah kenyataan bahwa mereka menjatuhkanku," katanya pelan namun tegas.
"Aku tidak meminta kau memaafkan mereka," ucap Han Ling lembut. "Aku hanya memintamu memahami posisi mereka. Supaya kau bisa memanfaatkan kelemahan mereka. Karena keraguan adalah celah terbesar yang bisa kau gunakan untuk kembali naik."
Ia menunjuk jimat di tanah.
"Dan soal ini... ini Peta Aliran Jiwa. Bukan peta daratan, melainkan peta jalur energi yang bisa membantumu membangun kembali fondasi kultivasi tanpa bergantung pada Akar Spiritual. Banyak yang mengira tanpa Akar berarti tanpa jalan. Itu salah. Akar Spiritual hanyalah salah satu pintu masuk. Tapi pintu masuk bukan satu-satunya jalan."
Fan Zheng menatap jimat itu. Garis-garis di atasnya tampak berdenyut lembut.
"Siapa yang membuatnya?" tanyanya.
"Kau," jawab Han Ling tenang. "Ribuan tahun yang lalu, saat kau masih berdiri di puncak kekuasaan, kau menyusun peta ini sebagai alternatif bagi mereka yang tidak memiliki Akar Spiritual. Tapi sebelum kau sempat menyebarkannya... peristiwa pengkhianatan itu terjadi. Peta ini disembunyikan di sini, di Mata Air Jiwa, menunggu orang yang tepat untuk menemukannya."
Fan Zheng terdiam. Ribuan tahun lalu... ia memang pernah berpikir soal itu. Soal ketidakadilan di mana seseorang ditentukan nasibnya sejak lahir hanya dengan ada atau tidaknya sebutir Akar di dalam tubuh. Tapi ia tidak menyangka idenya itu akan disimpan dan dijaga sampai ribuan tahun kemudian.
"Kenapa kau?" tanyanya. "Kenapa kau yang menyimpannya?"
"Karena aku percaya pada idemu," jawabnya tulus. "Dan karena aku tahu... kalau kau jatuh, dunia kehilangan lebih dari sekadar seorang dewa terkuat. Dunia kehilangan satu-satunya orang yang berani memikirkan cara untuk mengubah aturan yang tidak adil."
Suara langkah kaki terdengar dari luar gua, diiringi suara teriakan samar.
"Cepat!" seru seseorang di luar. "Mereka pasti bersembunyi di dekat air terjun ini!"
Han Ling segera berdiri, wajahnya serius. "Mereka datang. Lebih banyak dari sebelumnya."
"Berapa?" tanya Fan Zheng sambil berdiri juga.
"Kalau suara langkah kaki itu benar... setidaknya lima puluh orang. Dan ada satu aura yang jauh lebih kuat dari yang lain. Setidaknya di tingkat Soul Mastery."
Fan Zheng meremas jimat di tangannya. Lima puluh orang plus satu ahli di tingkat Soul Mastery. Sementara dia belum melewati tingkat pertama sekalipun.
"Kita tidak bisa melawan di sini," katanya.
"Kita tidak perlu melawan," koreksi Han Ling sambil bergerak ke arah dinding belakang gua. "Kita bisa pergi."
Ia menyentuh bagian tertentu di dinding batu, dan celah sempit terbuka.
"Terowongan ini keluar ke sisi lain bukit, di seberang sungai," katanya. "Tapi jalannya sempit dan gelap. Dan belum tentu aman di ujung sana."
Fan Zheng menoleh ke arah mulut gua. Macan Sayap masih di sana, menunggu.
"Dan dia?" tanyanya.
"Dia bisa ikut," jawab Han Ling. "Tapi kita harus cepat. Sekarang juga."
Suara teriakan makin dekat. Batu-batu di mulut gua mulai bergetar seakan ada yang memukulnya dari luar.
Fan Zheng melangkah ke arah celah di dinding belakang, lalu berhenti dan menoleh ke arah Han Ling.
"Kau belum selesai menjelaskan semuanya," katanya.
"Aku tahu," jawab Han Ling sambil menyusul masuk ke terowongan. "Dan aku akan menjelaskan semuanya. Tapi bukan sekarang."
Celah di dinding batu perlahan menutup kembali tepat saat suara teriakan prajurit terdengar di mulut gua.
"Periksa di dalam! Mereka pasti bersembunyi di sini!"
Di dalam kegelapan terowongan yang sempit, cahaya samar dari jimat di tangan Fan Zheng menjadi satu-satunya penerangan. Di depannya, Han Ling berjalan di depan, memandu langkah dengan tenang. Di belakangnya, suara teriakan dan langkah kaki di gua perlahan menjauh, berganti dengan suara aliran air di bawah tanah.
"Ke mana terowongan ini menuju?" tanyanya pelan.
Han Ling berhenti sejenak di kegelapan, menoleh ke arah cahaya jimat.
"Ke tempat di mana kau akan menemukan cara untuk kembali," jawabnya. "Tapi juga ke tempat di mana rahasia terbesar sembilan dewa tersembunyi."
Ia melangkah maju lagi.
"Dan kita tidak sendirian di sini..."
Dari kegelapan di depan mereka, terdengar suara geraman rendah. Bukan suara binatang biasa. Suara yang berat, tua, dan penuh ancaman.
Fan Zheng mengangkat jimat itu lebih tinggi. Cahaya biru menyebar ke depan, menerangi terowongan yang tadi gelap gulita.
Dan di sana, memblokir jalan keluar, berdiri makhluk yang seharusnya tidak ada di dunia ini.