Cahaya biru dari jimat di tangan Fan Zheng menyebar perlahan, menerangi dinding terowongan yang basah dan berlumut. Suara geraman itu makin keras, bergetar di sepanjang lorong sempit itu, membuat napas terasa berat dan tertekan.
Di hadapan mereka, memblokir seluruh jalan keluar, berdiri makhluk raksasa setinggi hampir tiga meter. Tubuhnya seperti beruang, tapi kulitnya bukan bulu — melainkan sisik keras berwarna hitam keabu-abuan, seakan terbuat dari batu vulkanik. Di punggungnya tumbuh deretan duri tajam, dan dari mulutnya yang menganga keluar uap panas yang berbau belerang. Matanya sepasang cahaya merah menyala, menatap tajam ke arah mereka berdua.
"Beruang Batu Api..." bisik Han Ling di sampingnya, suaranya rendah namun tenang. "Makhluk purba yang hidup di dalam terowongan ini sejak ratusan tahun lalu. Biasanya tidak mengganggu, tapi kalau jalannya diblokir... dia tidak akan membiarkan siapa pun lewat tanpa perlawanan."
Fan Zheng menatap makhluk itu dengan saksama. Ia tidak langsung menyerang. Ia mengamati cara makhluk itu berdiri, cara napasnya naik turun, bagaimana berat badannya bergeser dari satu kaki ke kaki lain.
"Kita tidak perlu bertarung dulu," kata Fan Zheng pelan. "Tapi sebelum kita memutuskan apa yang harus dilakukan... mungkin ini saatnya aku jelaskan sesuatu yang mendasar tentang dunia ini."
Ia menatap Han Ling, lalu menatap ke arah makhluk itu seakan sedang berbicara pada siapa pun yang mendengar — termasuk pembaca yang mengikuti perjalanannya.
"Di dunia ini, ada 9 ranah kultivasi yang menentukan seberapa jauh seseorang bisa melangkah dalam menguasai kekuatan langit dan bumi. Setiap ranah adalah fondasi untuk naik ke tingkat berikutnya. Tidak ada jalan pintas.
1. Pemurnian — Membersihkan tubuh dari kotoran, memperkuat fondasi fisik. Terbagi menjadi 3 gerbang: Pemurnian Tulang → Pemurnian Tubuh → Pemurnian Indra.
2. Qi Gathering — Menarik energi dari alam dan menyimpannya di dalam tubuh, membentuk Kolam Qi di dalam meridian.
3. Qi Warrior — Qi sudah bisa disalurkan ke seluruh tubuh atau ke senjata untuk bertarung. Bisa memukul lebih keras, bergerak lebih cepat, lebih tangguh dari orang biasa.
4. Qi Transformation — Qi tidak lagi hanya mengalir di dalam tubuh, tapi bisa dibentuk sesuka hati. Bisa jadi pedang energi, perisai, serangan jarak jauh, tergantung kemampuan dan jurus penggunanya.
5. Soul Mastery — Menguasai jiwa sepenuhnya. Bisa melumpuhkan lawan yang di bawahnya hanya dengan aura pembunuh. Bisa juga mewujudkan jiwa menjadi wujud makhluk — Jiwa Naga, Jiwa Harimau, dan lain-lain — yang menyatu dengan tubuh fisik untuk meningkatkan kekuatan secara drastis.
6. Transcendence — Melampaui batas manusia biasa. Umur makin panjang, tubuh makin tangguh, tidak lagi terikat kebutuhan dasar manusia sepenuhnya.
7. Law Mastery — Mulai memahami dan mengendalikan hukum alam: api, air, angin, tanah, ruang, waktu. Bisa memanipulasi elemen dan aturan dunia secara langsung.
8. Law Manifestation — Bukan lagi mengikuti hukum, tapi menjadi hukum itu sendiri. Kehendak seseorang bisa mengubah kenyataan di sekitarnya.
9. True God — Puncak mutlak kekuatan di dunia fana. Keberadaan setara dengan kekuatan alam semesta itu sendiri.
Dan setelah mencapai puncak ranah ke-9 inilah, seseorang bisa naik ke Langit dan menjadi Dewa.
Fan Zheng menatap makhluk itu lagi.
"Beruang Batu Api ini... kekuatannya setara dengan Qi Transformation tingkat menengah," ucapnya. "Dan kita berdua... tidak ada yang bisa mengeluarkan Qi untuk melawannya secara langsung."
"Kita bisa mencoba memintanya menyingkir," kata Han Ling, tapi nadanya ragu. "Aku pernah mendengar makhluk ini bisa berkomunikasi kalau kita tahu caranya."
"Atau kita bisa mencari jalan lain," kata Fan Zheng, matanya meneliti sekeliling terowongan. "Tapi kalau tidak ada jalan lain... kita harus mencari kelemahannya."
Makhluk itu menggeram lebih keras, kakinya menghentak ke tanah. Debu dan kerikil jatuh dari langit-langit gua. Ia melangkah maju selangkah, mengisi hampir seluruh lebar lorong.
"Kita tidak bisa lewat di sampingnya," kata Han Ling, mundur selangkah. "Terlalu sempit."
Fan Zheng tidak mundur. Ia justru melangkah maju selangkah.
"Kau tidak perlu takut," katanya pada makhluk itu, suaranya tenang dan dalam, tidak bergetar sedikit pun. "Kita tidak bermaksud menyakitimu. Kita cuma ingin lewat."
Makhluk itu menggeram lagi, kepalanya menunduk, tanduk di dahinya mengarah ke d**a Fan Zheng.
"Kalau kau memaksa kita bertarung..." lanjut Fan Zheng, matanya menatap lurus ke mata merah makhluk itu, "...mungkin kau menang. Tapi kau juga akan terluka. Dan tidak ada yang mau terluka tanpa alasan yang kuat."
Ia berhenti sejenak, membiarkan kata-katanya meresap.
"Kita bisa mencari jalan lain. Tapi kalau tidak ada jalan lain... kita harus bekerja sama. Bukan bertarung."
Makhluk itu berhenti menggeram. Ia menatap Fan Zheng lama sekali. Napasnya yang berat terdengar memburu, tapi tanduknya perlahan turun sedikit.
Han Ling menatap Fan Zheng dengan takjub. "Kau berkomunikasi dengannya?"
"Bukan berkomunikasi," jawab Fan Zheng pelan, tidak mengalihkan pandangan dari makhluk itu. "Aku cuma memberinya pilihan. Makhluk sekuat ini tidak hidup cuma untuk menakuti orang. Dia menjaga sesuatu di ujung lorong ini."
Ia melangkah maju lagi, makhluk itu tidak mundur, tapi juga tidak menyerang.
"Apa yang kau jaga di sana?" tanya Fan Zheng lembut.
Makhluk itu menoleh sedikit ke samping, seakan menunjuk ke arah dinding di sisi kanan lorong. Di sana, di celah batu yang tertutup lumut tebal, terlihat samar-samar ada lekukan berbentuk tangan.
Fan Zheng melirik Han Ling. "Bantu aku."
Mereka berdua mendekati celah batu itu. Makhluk itu tidak menghalangi, malah seakan mengawasi dengan penuh harap. Lekukan itu ternyata adalah pegangan untuk menggeser batu besar yang menutupi lorong samping yang lebih kecil.
Batu itu berat, tapi dengan usaha bersama, mereka berhasil menggesernya sedikit demi sedikit. Lorong samping itu lebih sempit, tapi cukup untuk dilewati satu orang.
"Ini jalan alternatif," kata Han Ling, melihat ke dalam kegelapan lorong baru itu. "Tapi ke mana ini menuju?"
Fan Zheng menoleh ke arah Beruang Batu Api. Makhluk itu mengangguk pelan, seakan mengonfirmasi bahwa jalan ini aman.
"Terima kasih," kata Fan Zheng tulus pada makhluk itu.
Makhluk itu menggeram pelan, lalu mundur ke posisi semula, kembali duduk memblokir jalan utama — seakan tidak ada yang terjadi.
Mereka masuk ke lorong samping itu, Han Ling di depan, Fan Zheng di belakang. Cahaya dari jimat masih menerangi jalan mereka, meski semakin jauh, cahayanya semakin redup.
"Kau hebat," kata Han Ling pelan sambil berjalan. "Hampir tidak ada yang berani mendekati makhluk itu, apalagi berbicara dengannya."
"Aku tidak melakukan hal hebat," jawab Fan Zheng. "Aku cuma tidak langsung menganggapnya musuh. Setiap makhluk punya alasan untuk bertindak seperti yang dilakukannya. Kalau kita tahu alasannya, kita bisa menemukan solusi tanpa pertumpahan darah."
"Kadang tidak ada solusi tanpa pertumpahan darah," kata Han Ling pelan. "Terutama di langit."
"Mungkin di langit memang begitu," jawab Fan Zheng. "Tapi di bumi... kita masih punya pilihan."
Lorong itu berbelok tajam ke kanan, lalu menurun perlahan. Suara air mengalir terdengar semakin jelas, dan udara terasa lebih segar, tidak lagi pengap seperti di lorong utama.
"Kita hampir sampai," kata Han Ling. "Aku ingat jalannya sekarang. Di ujung sana ada sebuah gua besar yang terhubung dengan permukaan lewat celah di atap batu."
Beberapa langkah lagi, dan mereka keluar dari lorong sempit itu ke ruangan yang jauh lebih besar. Cahaya matahari masuk lewat celah di atap batu yang tinggi, menyinari permukaan danau bawah tanah yang jernih. Di tengah danau itu, ada pulau kecil tempat berdiri reruntuhan bangunan kuno yang terbuat dari batu putih yang masih bersih meski sudah berumur ratusan tahun.
"Ini..." Fan Zheng tertegun melihat pemandangan itu.
"Pusat energi Hutan Kabut," kata Han Ling pelan. "Dan di bangunan itu... tersimpan rahasia terbesar yang disembunyikan dari dunia ini."
Mereka berjalan mendekati tepi danau. Airnya jernih sekali, sampai dasar danau terlihat jelas. Tapi saat Fan Zheng menatap ke permukaan air, ia tidak melihat bayangannya sendiri.
Yang ia lihat adalah bayangan sembilan sosok dewa yang sedang berkumpul di aula di langit. Wajah mereka tampak khawatir.
"Kita kehilangan jejaknya di Hutan Kabut," kata salah satu dari mereka — suara terdengar samar dari pantulan air. "Naga Air dan makhluk penjaga di sana... mereka seakan melindunginya."
"Maka kita tidak bisa lagi mengandalkan anak buah," jawab yang lain. "Kita harus cari cara lain. Lebih langsung."
"Kalau dia sampai ke reruntuhan itu..." suara ketiga terdengar gemetar, "...dia akan tahu segalanya. Termasuk siapa yang sebenarnya menciptakan sembilan dewa itu."
Air danau beriak hebat, dan bayangan itu lenyap.
Fan Zheng berdiri mematung.
"Siapa yang menciptakan sembilan dewa?" tanyanya pelan, lebih kepada dirinya sendiri.
Han Ling menatapnya dengan tatapan sedih namun tegas.
"Itulah rahasia yang disembunyikan semua orang," katanya. "Dan kau... Fan Zheng... kaulah yang menciptakan mereka....