Kata-kata Han Ling menggantung di udara yang hening. Fan Zheng berdiri mematung di tepi danau bawah tanah, matanya menatap permukaan air yang tenang, seakan jawaban bisa muncul dari sana.
"Aku... menciptakan mereka?" ulangnya pelan, suaranya terdengar asing di telinganya sendiri. "Sembilan Dewa? Orang-orang yang merampas kekuatanku, menjatuhkanku, dan mencoba membunuhku ribuan tahun lalu... aku yang menjadikan mereka dewa?"
Han Ling mengangguk pelan, wajahnya serius namun penuh empati.
"Ribuan tahun yang lalu, kau bukan hanya Dewa terkuat," ucapnya lembut namun tegas. "Kau adalah satu-satunya penguasa langit yang memegang kunci keseimbangan seluruh alam semesta. Saat itu belum ada sembilan dewa. Hanya kau sendiri. Tapi beban memikul seluruh tanggung jawab terlalu berat, bahkan untuk seseorang sekuat kau."
Ia berjalan mendekat ke tepi danau, menatap pantulan cahaya matahari yang menyinari reruntuhan di tengah danau.
"Dunia fana makin berkembang, makin ramai, makin kompleks. Bencana alam makin sering terjadi. Konflik antar sekte makin memanas. Kau menyadari bahwa satu orang saja tidak bisa mengawasi semuanya dengan adil dan cepat. Maka kau membagi kekuatanmu — bukan untuk dilepaskan, tapi untuk dibagi tugas."
Han Ling menoleh menatap Fan Zheng.
"Kau mencari sembilan orang yang menurutmu paling jujur, paling berbakat, dan paling berpotensi untuk memegang tanggung jawab besar. Kau mengangkat mereka ke langit, memberikannya bagian dari kekuatanmu, dan menetapkan masing-masing bidang pengawasan: petir, api, air, tanah, perang, waktu, hukum, bayangan, kehidupan. Kau beri mereka gelar Dewa, dan kau beri mereka wewenang untuk mengatur dunia di bawah bimbinganmu."
Fan Zheng mengepalkan tangannya erat-erat, buku jarinya memutih. Ingatan-ingatan lama mulai muncul — potongan-potongan adegan yang dulu tidak masuk akal, kini mulai tersusun menjadi satu gambaran yang utuh.
"Aku memberi mereka kekuatan..." gumamnya. "Aku mempercayai mereka..."
"Dan kepercayaan itulah yang akhirnya menjadi celahmu," lanjut Han Ling pelan. "Seiring berjalannya waktu, kekuatan yang kau berikan itu menyatu dengan mereka. Mereka mulai merasa itu milik mereka sepenuhnya. Mereka mulai merasa tidak butuh bimbinganmu. Mereka mulai merasa kau justru penghalang di antara mereka dan kekuasaan mutlak."
"Dan ketakutan..." tambah Fan Zheng pelan. "Mereka takut kalau aku mengambil kembali kekuatan itu kapan saja."
"Benar," kata Han Ling. "Itulah alasan utama mereka bersatu melawanmu. Bukan karena kau jahat. Bukan karena kau tidak adil. Tapi karena mereka tidak mau lagi menjadi bagian dari sesuatu. Mereka ingin menjadi keseluruhan itu sendiri."
Keheningan kembali menyelimuti gua bawah tanah itu. Hanya terdengar suara air yang menetes dari stalaktit di atap batu, berirama pelan seakan detak jantung waktu itu sendiri.
Fan Zheng berjalan perlahan menuju batu putih di tepi danau, lalu duduk. Ia menatap ke arah reruntuhan di tengah pulau kecil itu.
"Dan di sana..." tanyanya pelan. "Apa yang tersimpan di bangunan itu?"
"Catatan aslinya," jawab Han Ling. "Segala sesuatu yang terjadi ribuan tahun lalu tertulis di sana. Bukan versi yang mereka sebarkan ke dunia. Tapi versi yang sebenarnya — ditulis oleh seseorang yang menyaksikan semuanya dari dekat dan menyembunyikan kebenaran sebelum sempat dihapus."
Fan Zheng berdiri kembali. "Kita harus ke sana."
"Danau itu dalam," kata Han Ling. "Tapi ada jembatan batu yang terendam sebagian. Kalau kita berhati-hati, kita bisa menyeberanginya tanpa harus berenang."
Mereka menemukan jembatan itu tidak jauh dari tempat mereka berdiri. Bagian atasnya muncul di permukaan air, licin dan berlumut, tapi cukup lebar untuk dilewati satu orang. Fan Zheng berjalan di depan, matanya meneliti setiap langkah, sementara Han Ling mengikuti di belakang, menjaga keseimbangan.
Sesampainya di pulau kecil itu, mereka berdiri di depan bangunan berbentuk persegi yang dindingnya masih berdiri tegak meski atapnya sudah runtuh sebagian. Di dinding depan terukir satu kalimat dalam bahasa kuno yang masih bisa dibaca:
"Kebenaran tidak akan mati, meski terkubur seribu tahun."
Mereka melangkah masuk. Di tengah ruangan, di atas altar batu yang masih utuh, terdapat sebuah lempengan batu datar yang terukir tulisan dari atas ke bawah. Fan Zheng mendekat, membaca perlahan.
Isinya bukan catatan perang atau kekuasaan. Isinya adalah catatan tentang keseimbangan. Tentang bagaimana kekuatan seharusnya digunakan. Tentang bagaimana seseorang yang memegang kekuasaan sebesar itu harus tetap rendah hati.
Dan di bagian paling bawah, tertulis pesan yang ditujukan kepadanya secara langsung:
"Kalau kau membaca ini, berarti kau sudah jatuh. Tapi ingatlah: kekuatan yang kau berikan itu tetap sebagian dari dirimu. Ia tidak pernah benar-benar hilang. Ia hanya terpisah sementara. Dan saat kau kembali, bukan dengan kekuatan yang sama, tapi dengan pengalaman yang jauh lebih dalam... itulah saat kau akan menjadi lebih kuat dari sebelumnya."
Fan Zheng menatap tulisan itu lama sekali. Ia tidak merasa sedih. Ia tidak merasa marah. Yang ia rasakan justru kelegaan yang aneh — seakan beban berat yang dipikulnya sejak terbangun di tubuh pemuda lemah itu perlahan mulai terangkat.
"Jadi ini bukan akhir," gumamnya pelan. "Ini cuma permulaan yang lain."
Han Ling tersenyum tipis di belakangnya. "Kau selalu berkata begitu dulu. Setiap kali ada masalah, kau bilang: kalau kita tidak bisa mengubah arah angin, kita atur layarnya."
Fan Zheng tersenyum juga, senyum tipis yang mulai terasa tulus. "Dulu aku memang optimis ya."
"Dan kau harus tetap begitu sekarang," kata Han Ling. "Karena mereka belum selesai. Selama mereka tahu kau masih hidup, mereka tidak akan berhenti mencarimu."
Tepat saat kata-kata itu terucap, suara bergema dari arah jembatan batu yang baru saja mereka lewati.
"Kita tahu kau di sini, Fan Zheng!"
Suara itu berat, berwibawa, dan sangat tidak asing. Fan Zheng menoleh cepat ke arah pintu masuk bangunan itu. Di seberang danau, berdiri sosok yang mengenakan jubah putih bermotif gelombang air — Han Yue, Dewa Air Abadi. Di sampingnya berdiri dua orang lagi dengan aura yang tak kalah kuat.
"Kakakku..." bisik Han Ling, suaranya bergetar.
Han Yue tidak menyeberang. Ia berdiri di tepi danau, menatap lurus ke arah mereka, matanya bertemu dengan tatapan adiknya.
"Han Ling..." suaranya terdengar sedih. "Kau seharusnya tidak ada di sana. Kau seharusnya tidak terlibat dalam urusan ini."
"Aku tidak akan membiarkan kebenaran ditutup-tutupi selamanya," jawab Han Ling tegas. "Dan aku tidak akan membiarkan kau melakukan kesalahan yang sama lagi."
"Kau tidak mengerti situasinya," kata Han Yue. "Kalau dia kembali, keseimbangan akan hancur. Banyak orang akan menderita."
"Keseimbangan sudah hancur sejak kalian mengkhianatinya," potong Fan Zheng. "Dan kalian tahu itu."
Han Yue menatap Fan Zheng lama sekali. Tidak ada kemarahan di matanya. Yang ada hanya kesedihan yang mendalam.
"Maafkan aku," ucapnya pelan. "Tapi aku tidak bisa membiarkan kau pergi dari tempat ini dengan kebenaran itu."
Ia mengangkat tangannya perlahan. Permukaan danau yang tenang tiba-tiba mulai bergejolak. Air naik ke atas, membentuk pilar-pilar air yang berputar cepat.
"Pergilah, Han Ling," kata Han Yue tanpa menoleh ke adiknya. "Aku tidak akan menyakitimu. Tapi kalau kau melindunginya... aku tidak punya pilihan."
"Pilihan selalu ada, Kak," jawab Han Ling. "Kau hanya tidak berani mengambilnya."
Pilar air itu makin tinggi, makin deras, dan mulai bergerak menuju pulau kecil tempat mereka berdiri.
Fan Zheng melangkah ke depan, berdiri di samping Han Ling. Ia tidak punya kekuatan untuk melawan seorang Dewa. Tapi ia tidak akan mundur begitu saja.
"Kau bisa menghentikan air ini," kata Fan Zheng lantang ke arah seberang danau. "Atau kau bisa membiarkannya menghancurkan juga tempat yang menyimpan kebenaran ini. Pilihan ada di tanganmu."
Han Yue ragu sejenak. Pilar air itu terhenti di udara, berputar di tempat. Tapi keraguan itu hanya sesaat.
"Maaf," ucapnya sekali lagi.
Dan dengan satu gerakan tangan ke bawah... pilar-pilar air itu menghantam pulau kecil itu dengan kekuatan yang menghancurkan segalanya...