Pilar air setinggi puluhan meter menghantam pulau kecil itu dengan kekuatan yang seakan ingin menghapuskan jejak keberadaannya dari muka bumi. Air berputar liar, memukul dinding bangunan batu putih, menciptakan suara gemuruh yang memekakkan telinga. Fan Zheng menarik tangan Han Ling ke belakang, berlindung di balik pilar batu yang tebal di pintu masuk.
"Jangan keluar!" teriaknya di tengah deru air.
Han Ling mengangguk, wajahnya pucat namun tenang. Ia menatap ke arah seberang danau, di mana sosok kakaknya berdiri tegak di tepi air.
"Itu bukan tubuh aslinya," teriak Han Ling, suaranya nyaris tertelan suara gemuruh air. "Itu cuma bayangan — proyeksi yang dibentuk dari elemen air di danau ini! Dia tidak benar-benar turun ke bumi!"
Fan Zheng mengamati sosok Han Yue di seberang sana dengan saksama. Benar. Meski auranya kuat, ada sesuatu yang samar, seakan ada lapisan tipis yang memisahkan wujud itu dari dunia nyata. Kakinya tidak benar-benar menginjak tanah — melainkan melayang sedikit di atas permukaan air.
"Kenapa dia tidak turun sendiri?" tanyanya lantang.
"Karena dia tidak boleh!" jawab Han Ling. "Hukum Keseimbangan mengikat semua Dewa yang memegang pilar kekuasaan! Kalau dia turun sepenuhnya ke dunia fana, kekuatan aslinya akan merusak struktur alam sekitarnya — memicu banjir, gempa, bahkan bisa mengubah iklim di wilayah ini! Dan kalau itu terjadi, semua orang akan tahu ada Dewa yang turun sembarangan! Itu alasan kenapa mereka cuma mengandalkan proyeksi atau mengutus orang lain!"
Pilar air yang kedua menghantam sisi bangunan, membuat dinding batu retak hebat. Batu-batu kecil jatuh dari langit-langit runtuh.
"Kalau begitu, serangannya terbatas!" kata Fan Zheng, matanya meneliti gerakan air yang berputar di sekitar sosok Han Yue. "Dia menarik kekuatan dari danau ini! Kalau kita bisa mengganggu aliran air..."
"Bagaimana caranya?" tanya Han Ling. "Kita tidak punya kekuatan untuk mengendalikan air sekuat dia!"
"Kita tidak perlu mengendalikannya," kata Fan Zheng sambil menatap lempengan batu catatan kuno yang masih terbaring di altar di tengah ruangan. "Kita cuma perlu mengubah arahnya."
Ia berlari menuju altar, mengangkat lempengan batu yang berat itu di kedua tangannya.
"Apa yang mau kau lakukan?" tanya Han Ling kaget.
"Menutup sumber!" jawab Fan Zheng. "Di bawah altar ini biasanya ada saluran air yang menghubungkan danau dengan sungai di permukaan! Kalau aku tutup alirannya, tekanan air akan berubah!"
Ia mengangkat lempengan itu setinggi d**a, lalu dengan sekuat tenaga, mendorongnya menutupi lubang di dasar altar yang tersembunyi di bawah lapisan tanah.
Seketika itu juga, aliran air yang deras di danau berubah. Arus yang tadinya berputar ke arah pulau tiba-tiba terbalik, seakan ada yang menarik air ke bawah. Pilar air yang sedang diangkat Han Yue terguncang, bentuknya tidak lagi stabil.
Sosok Dewa Air di seberang sana tampak terkejut. Wujudnya bergetar, transparan sejenak sebelum kembali memadat.
"Kau berani mengganggu keseimbangan air?" suaranya menggelegar, bergema di seluruh gua.
"Kau sendiri yang mengganggunya!" balas Fan Zheng lantang. "Air seharusnya mengalir memberi kehidupan, bukan untuk menghancurkan!"
Han Yue mengangkat kedua tangannya, dan kali ini bukan satu, melainkan tiga pilar air raksasa muncul sekaligus di tiga sisi pulau, menutup semua jalan keluar.
"Kau memaksaku," ucapnya dingin.
"Tidak ada paksaan di sini!" kata Fan Zheng. "Hanya pilihan! Dan kau yang memilih jalan ini!"
Ia menoleh ke arah Han Ling. "Cari jalan keluar lain! Cepat!"
Han Ling berlari ke dinding belakang bangunan, meneliti setiap celah batu. "Di sini! Ada lorong kecil di belakang altar! Tapi sempit dan belum tahu ke mana arahnya!"
"Kita lewat sana!" kata Fan Zheng.
Tapi sebelum mereka bisa bergerak, pilar air pertama menghantam lantai di depan pintu keluar, memblokir jalan kembali ke jembatan batu. Air menyembur ke dalam ruangan, naik dengan cepat.
"Air makin naik!" kata Han Ling, kakinya sudah terendam. "Kita harus cepat!"
Fan Zheng melirik ke arah sosok Han Yue yang masih berdiri di seberang. Wujudnya makin samar, tapi auranya makin menekan. Dia tahu proyeksi ini tidak bisa bertahan lama — energi yang dibutuhkan terlalu besar. Tapi selama masih ada, dia tetap berbahaya.
"Kau tidak bisa lari selamanya, Fan Zheng!" suara Han Yue terdengar di tengah deru air. "Dan kau, Han Ling... pulanglah. Sebelum kau terjebak terlalu dalam."
"Aku sudah terlalu dalam, Kak!" jawab Han Ling sambil membantu Fan Zheng menggeser altar batu untuk membuka lorong di belakangnya. "Dan aku tidak akan kembali ke langit yang sudah tidak adil lagi!"
Lorong di belakang altar terbuka — gelap, sempit, dan terasa berangin.
"Masuk dulu!" kata Fan Zheng. "Aku akan menahan sebentar!"
"Kau tidak punya kekuatan untuk menahan serangannya!" kata Han Ling tidak setuju.
"Aku tidak akan menahan dengan kekuatan," jawab Fan Zheng sambil mengambil sebatang kayu yang tebal dan memasukkannya ke celah lempengan batu penutup saluran air. "Aku cuma akan menahan dengan cara yang mereka lupakan — akal sehat."
Ia menatap ke arah Han Yue di seberang danau.
"Han Yue! Kau bisa menghancurkan pulau ini! Kau bisa menghancurkan catatan ini! Tapi kau tidak bisa menghancurkan kebenaran yang sudah mulai menyebar! Kalau kau membunuhku di sini, di tempat suci ini... dunia akan bertanya! Dan sembilan dewa tidak akan bisa menutup mulut semua orang selamanya!"
Han Yue terdiam. Pilar air yang ketiga berhenti bergerak di udara, tergantung tak turun.
"Kau tidak mengerti bahaya yang kau hadapi," kata Han Yue pelan.
"Mungkin tidak semua," jawab Fan Zheng. "Tapi aku mengerti satu hal: takut tidak akan pernah menjadi alasan yang cukup untuk menyakiti orang yang pernah kau sebut saudara."
Keheningan menyelimuti danau sejenak. Air yang naik perlahan berhenti. Pilar air di udara perlahan turun, menyatu kembali dengan permukaan danau yang tenang.
Sosok Han Yue mulai memudar, menjadi kabut air yang tipis. Sebelum hilang sepenuhnya, ia menatap Han Ling untuk terakhir kalinya.
"Hati-hati, Adikku," suaranya lembut dan sedih. "Karena kalau kau tetap di pihaknya... kau akan menjadi musuh langit juga."
Dan dengan itu, wujudnya lenyap sepenuhnya. Danau kembali tenang, seakan tidak pernah terjadi apa-apa.
Fan Zheng menghela napas panjang, merosot duduk di tepi altar. Keringat dingin membasahi punggungnya.
"Dia pergi..." gumam Han Ling, masih menatap ke seberang danau. "Tapi dia tidak menyerah."
"Betul," kata Fan Zheng sambil berdiri kembali. "Dia cuma menunda. Dan kalau dia sudah siap dengan cara lain... dia akan kembali."
Ia menatap lorong gelap di belakang altar.
"Kita tidak bisa tinggal di sini. Dan kita tidak bisa kembali lewat jalan yang sama. Pasukan pasti masih menunggu di luar."
Han Ling mengangguk, lalu mengangkat sepotong batu yang menyalakan cahaya samar di dinding lorong.
"Jalan ini menanjak ke atas," katanya sambil melangkah masuk lebih dulu. "Aku rasa ia keluar di sisi lain pegunungan, jauh dari Hutan Kabut."
Fan Zheng mengikuti di belakangnya, melirik sekali lagi ke arah lempengan batu catatan kuno yang masih utuh di atas altar.
"Suatu hari nanti..." batinnya, "...aku akan kembali ke sini. Dan saat itu, aku tidak akan lari lagi."
Lorong itu berkelok-kelok, menanjak terus. Udara makin segar, dan di kejauhan, cahaya alami mulai terlihat di ujung terowongan.
"Kita hampir sampai," kata Han Ling.
Tapi saat mereka mendekati cahaya di ujung lorong, suara samar terdengar dari luar — bukan suara angin, bukan suara binatang. Suara percakapan, dan suara langkah kaki yang banyak.
Fan Zheng memberi isyarat berhenti. Mereka bersembunyi di balik dinding batu, mengintip dari celah tempat cahaya masuk.
Di luar, di lereng bukit yang menghadap ke lembah hijau, berdiri rombongan sekitar sepuluh orang berseragam hitam dengan lambang matahari terbit di d**a. Mereka tidak seperti pasukan keluarga Fan. Mereka terlihat lebih terlatih, lebih tenang, dan aura mereka rata-rata di tingkat Soul Mastery ke atas.
Dan di tengah kelompok itu, menunggangi binatang buas sebesar gajah, berdiri sosok yang membuat darah Fan Zheng mendidih.
Seorang pemuda dengan wajah yang sangat ia kenal — wajah yang dulu pernah ia ajarkan, pernah ia bantu, dan pernah ia percayai.
"Lin Tian..." bisik Fan Zheng pelan, tak percaya.
Pemuda itu menoleh tepat ke arah celah tempat mereka mengintip. Matanya menyipit, seakan ia tahu mereka sedang di sana.
"Kau sudah lama sekali tidak pulang, Guru..." ucapnya pelan, tapi terdengar jelas di telinga Fan Zheng. "Dan aku sudah menunggu cukup lama."
Ia melambaikan tangan perlahan, dan sepuluh orang di sekelilingnya melangkah maju serentak, menutup jalan keluar sepenuhnya...