Hari Senin, awal dari kesibukan setiap manusia. Namun, bagi Okvi Almira, hari Senin adalah hari dimana ia pertama kali merasakan jatuh cinta. Sayangnya, cinta itu berlabuh pada hati yang salah.
Mira mencintai hantu yang tinggal di sebuah taman. Saat Mira hendak ke kantornya, matanya tak sengaja menangkap sosok pria yang tengah duduk di ayunan. Baru saja ia merasakan bunga bermekaran di hatinya, setelahnya ia merasakan sakitnya tertampar kenyataan bahwa pria itu adalah hantu. Mira tidak langsung galau. Ia masih sering ke taman untuk melihat hantu itu.
"Padahal dia sangat tampan, sayang sekali." Gumam Mira sambil menatap wajah tampan hantu itu.
Tak sengaja, matanya bertemu dengan hantu itu. Mira tersentak, ia langsung mengalihkan pandangannya ke anak-anak yang sedang bermain.
Semoga aku tidak ketahuan. Batin Mira.
Mira ingin melihatnya lagi, namun ia takut kalau hantu itu nanti tahu Mira bisa melihatnya. Walaupun jatuh cinta, ia juga takut dengan yang namanya hantu. Sangat tidak lucu jika ia harus terciduk oleh hantu.
"Permisi, kamu menjatuhkan dompetmu," sahut seseorang dari belakang.
Mira langsung menoleh, "Sepertinya itu buk-" Ucapan Mira terpotong, kala melihat pemilik suara itu.
Mira membeku, sedangkan hantu itu tersenyum menatap Mira.
"Kau bisa melihatku, kan?" Tanya hantu itu.
Mira menurunkan pandangannya, jantungnya berdegup kencang. Kepalanya sedang bekerja keras mencari alibi. Setelah dapat, ia langsung memalingkan wajahnya.
"Hm? A-apa aku salah dengar, ya? Ha ha ha, sebaiknya aku pulang," setelah mengucapkan itu, Mira langsung berlari pulang ke rumahnya tanpa menengok kebelakang.
Setelah sampai di rumahnya, Mira segera merebahkan tubuhnya di atas kasur. Ia merutuki matanya yang terlalu liar akibat pria tampan. Dalam hati, ia berdoa agar hantu itu tertipu dengan alibinya. Setelah tenang, Mira beranjak menuju kamar mandi. Akibat kejadian tadi, tubuhnya mandi keringat.
***
Pagi yang melelahkan, kantor yang sumpek dan bos yang menjengkelkan. Seperti itulah kehidupan Mira di kantornya. Ia hanyalah karyawan biasa, di sebuah perusahaan kecil. Gajinya juga tak banyak, namun hanya perusahaan itulah yang mau menerima dirinya. Mungkin sebenarnya masih ada yang Mau menerimanya, hanya saja Mira tidak ingin repot mencari perusahaan lain.
Brukk
Suara yang sangat tidak disukai oleh Mira. Suara pekerjaan menumpuk.
"Kau tahu apa yang harus kau lakukan, kan, Almira?" Tanya seorang wanita yang berdiri di sebelah meja kerja Mira.
Wanita itu adalah atasan Mira, wanita sombong yang menyalahgunakan kekuasaannya. Hanya karena dia manager, ia melimpahkan pekerjaannya pada bawahannya.
"Iya, saya tahu, bu Anna." Balas Mira seadanya.
Bu Anna tersenyum licik, lalu pergi kembali ke ruangannya. Mira menatap malas tumpukan berkas di sebelah komputernya.
Pukk
Sebuah tepukan lemah terasa di pundaknya, Mira menoleh, ternyata itu adalah temannya, Fikri.
"Semangat, Mir. Kamu pasti bisa!" Kata teman Mira.
Mira tersenyum, "Besok adalah giliranmu, Fik. Jangan lupa itu."
Pria disebelahnya langsung memasang wajah lelah, "haaah ... Ingin rasanya ku adukan dia pada bos," kata Fikri.
"Adukan saja, kalau kau tidak sayang pada gajimu," balas Mira terkekeh.
"Kita terlalu takut padanya, bodoh memang."
Mira hanya memutar matanya malas, lalu kembali mengerjakan tugasnya. Hingga akhirnya siang berganti malam. Jam sudah menunjukkan pukul 9, dan Mira masih menempel di tempat duduknya dengan komputer yang masih menyala. Ya, dia lembur.
"Huft ... Sedikit lagi. Cepatlah, komputer. Jangan membuatku marah lalu membantingmu," ucap Mira yang tak sabar ingin pulang.
Setelah yang di tunggu selesai, Mira buru-buru membereskan barangnya dan langsung pulang. Tak lupa ia mematikan komputer tersebut. Di halte bus, terlihat Mira masih menunggu, sesekali ia menengok jam yang melingkar indah di tangannya.
"Apa sudah tidak ada ya?" Gumam Mira.
Kakinya mulai bergerak, matanya menatap jalanan yang tidak banyak dilalui kendaraan. Taksi pun sudah tak terlihat lagi. Tak mau menunggu lama, Mira memutuskan untuk jalan hingga sampai di rumahnya.
"Walaupun jalan ini sering ku lalui, tetap saja berbeda jika sudah gelap," gumam Mira mengedarkan pandangannya.
Angin malam menghantam kulit mulusnya, Mira memeluk dirinya sendiri, guna mengusir sedikit rasa dingin.
Tap ... Tap
"Siapa itu?" Tanya Mira sambil menengok kebelakang.
Nihil. Tidak ada siapapun di sana. Mira menghilangkan pikiran negatif dari kepalanya. Mungkin ia salah dengar. Namun, saat ia melanjutkan kembali langkah kakinya, ia kembali mendengar sesuatu. Tak ingin lagi menengok kebelakang, Mira lebih memilih mempercepat langkahnya.
Preman? Atau hantu? Semoga bukan keduanya. Batin Mira.
Rumahnya masih jauh, tapi langkah kaki yang mengikutinya belum juga berhenti. Jalan yang kini ia lewati sangat sepi. Dan, sebentar lagi ia akan melewati taman tempat hantu tampan itu tinggal. Anehnya, setelah sampai didepan taman, langkah itu tak lagi terdengar. Mira menengok kebelakang, masih sama, tidak ada seseorang. Tak menunggu lama, Mira segera berlari pulang dengan kecepatan maksimalnya.
"Hossh ... Hoshh ... Jantungku ... Jantungku rasanya mau meledak," kata Mira yang bersandar dibalik pintu.
"Apa kau mau minum?"
Mira mengibaskan tangannya, "Tidak us- hm? KYAAAAA ...."
TBC